The first 103 lines.
Halo, siapa kau? Menerobos masuk seperti ini memakai lungi?
Kau menyukaiku? Atau menyukai ibumu?
Jawab aku.
Aku? Atau ibumu?
Hei! Beri aku 300 rupee.
Sepertinya kau mabuk. Apa lagi sekarang?
Sialan. Berikan saja padaku.
Ini. Hanya ini yang kupunya.
Ayo.
- Apa bus jam 10.30 sudah berangkat? - Belum, Nak.
Berikan aku botol itu.
Butuh sesuatu, Nak?
Ambilkan aku bidi dan korek api.
Lepaskan tas itu.
Simpan di sini. Aku akan mengambilnya saat aku kembali.
Apa yang kau lakukan, Nak?
Untuk apa itu?
Untuk adik.
Terserah!
Tiket?
Kemana?
Idaiiyapatti.
Tolong angkat pot ini.
- Tiket! - Etimangalam.
Tiket? Untuk pot kecil ini?
Kecil atau besar! Itu termasuk ongkosnya.
Hei, keparat! Kau bodoh? Merokok di bus?
Sialan kau! Kau memukul kepalaku?
Kau mau berpelukan? Merokok saat ada perempuan?
Teruskan, aku akan menghajar wajahmu.
Jangan macam-macam denganku.
Aku tak akan mengganggumu jika kau berperilaku baik?
Kau membuatku marah. Kau tidak tahu dengan siapa kau bermain-main.
Selalu saja begitu, orang-orang ini.
Sial! Sopanlah. Bus ini apa milik mertuamu?
Kau sampah.
A L I H B A H A S A K U D A L U M P I N G
Kakek, tiuplah dengan keras! Belum ada asapnya.
Tangkap, Bu.
Katakan padanya.
Tunggu!
Apa yang akan kau katakan?
Ayah menyuruh ibu pulang. Jika tidak, dia akan menikah dengan orang lain.
Pergilah! Katakan persis seperti itu.
Ya Tuhan! Kenapa dia datang ke sini sendirian?
Dalam panas terik ini. Kau tidak ke sekolah?
Ayah mengirimku untuk menjemput ibu.
Dia berangkat pagi ini karena dia ingin bertemu denganmu.
Oke, ayo.
Ayahmu menunggu di sana?
- Hmm. - Selvi! Kemari.
Dia menyeret seorang anak sekolah miskin ke sini.
Hei, Selvi.
Aku datang.
Apa yang dia katakan?
Jika ibu tidak kembali, dia bilang dia akan menikah dengan orang lain.
Sudah kubilang padamu, bukan?
Seharusnya aku membunuhnya. Aku menghindarkannya demi kakakku.
Ini salahmu, bu.
Aku tidak ingin dia menikah dengannya karena aku tahu tentangnya.
Kau ingin kita menjaga ikatan keluarga. Sekarang tuai apa yang kau tabur.
Selvi! Bawakan dia makanan.
Pegang dia.
Ibumu membuatmu kelaparan dan terus meratapimu sepanjang malam.
Orang-orang ini sering datang ke sini karena perempuan tua itu!
Ini semua takdirku.
Apa aku di sini hanya untuk memasak dan memberi makan mereka?
Para Dewa membutakanku saat itu.
Kalau tidak, kenapa aku membiarkan anakku menikah dengan seorang pemabuk?
Ini, makanlah.
Nak, jangan malu seperti ibumu. Makanlah!
Paandi! Bicaralah padanya dan bawa dia ke sini.
Orang-orang akan bergosip, jika melihatnya di sana seperti itu.
Kenapa harus aku? Dia datang jauh-jauh hanya untuk menunggu di pojok?
Jika dia bisa punya sikap itu, aku juga bisa...
Terserah! Kita keluarga mempelai perempuan. Kita harus bersabar.
Kau terus mengatakan itu sementara dia terus mempermainkan kita.
Jika aku bertemu dengannya lagi, aku akan mencabik-cabiknya.
Semua manusia mempunyai kegagalan.
Kami perempuan harus menyesuaikan diri.
Aku, misalnya.
Kenapa kau mengungkit ceritamu? Masuk saja ke dalam.
Hei, Selvi?
Teriak apaan sih? Kau tidak ke pasar?
Bagaimana aku bisa ke pasar? Duluan saja.
Kenapa kau meringis seperti itu?
Kapan anak laki-laki itu datang? Kau baik-baik saja, Nak?
Ah, perempuan tua itu mulai mengeluh lagi.
Aku tidak mau mendengarkannya.
Sial, dia mulai menggerutu.
Hey! Meena?
Ya
Kau siap?
Sebentar.
Apa tugasku menjemput semua orang untuk pergi ke pasar?
Aku akan pergi sendiri mulai minggu depan.
Aku sudah di sini.
Selvi tidak ikut...?
Tidak, tidak.
Aku melihat Shanthi pagi ini. Sepertinya dia kembali ke desanya.
Sekarang putranya ada di sini.
Ada apa? Masalah baru?
Gosip baru apa? Ini bukan pertama kalinya terjadi.
No comments yet. Be the first to leave one.