The first 183 lines.
[Drama ini murni karya fiksi dan tidak berhubungan dengan]
[orang, organisasi, lokasi, atau kejadian nyata]
Teman-teman, musim festival!
Tersisa 15 hari lagi hingga festival.
- Tetap waspada. - Baiklah.
Aku akan memeriksa singkat.
- Periksa apa ada yang terlewatkan. - Baiklah.
Hui-su dan Jin-guk, minta daftar tim penampil dari OSIS.
- Susun timnya dahulu. - Baiklah.
Seong-jun dan Eun-ha, Beri tahu tim yang tampil
- untuk membawa musik dalam diska lepas. - Baiklah.
Hee-won dan Young-jae, cari tempat di auditorium
- untuk memasang kamera kedua. - Baiklah.
So-hyun dan Ho-rang, terus periksa cerita untuk segmen.
Pilih yang bagus dan beri aku kabar terbaru.
- Baiklah. - Ya.
Kalau begitu, sekian.
Hanya itu untuk segmen?
Segmen?
Dari masukan kali terakhir, tema kita adalah konfrontasi.
Ada tambahan untuk tema itu?
Karena ini festival, lebih baik jika murid bisa terlibat.
Kenapa kita tidak memberikan hadiah yang lebih baik?
Atau bagaimana jika membagikan kuesioner ke setiap kelas?
Tidak ada hadiah yang lebih baik karena anggaran kita.
Pasti sulit menjawab jujur dengan kuesioner.
Begitukah?
Bagaimana dengan siaran langsung?
- Siaran langsung? - Ya. Bisa siaran langsung di YouTube.
Jika kita bisa berkomunikasi melalui komentar,
pemirsa mungkin menyukainya.
Ya, aku menyukainya. Ini seperti menyiarkan acara radio.
- Kedengarannya seru. - Ya.
Kalau begitu, kita akan sukses tahun ini?
Kita dapat peringkat pertama.
Kalau begitu, mari ikuti saran Ho-rang dan melakukan siaran langsung.
- Baiklah. - Ide bagus.
Mulai besok, kita akan mulai menyiapkan festival.
- Datanglah ke sini pukul 08.00. - Baiklah.
Sekian rapat hari ini. Kerja bagus.
- Bagus. - Kerja bagus.
- Kerja bagus. - Bagus.
Ho-rang.
Ya? Apa?
Ho-rang.
Kau baik-baik saja?
Aku baik-baik saja.
Bukan apa-apa.
Aku pergi lebih awal hari itu karena tidak enak badan.
Aku serius. Bukan apa-apa.
Baiklah. Kerja bagus hari ini.
- Aku permisi. - Baiklah.
Eun-taek.
Terima kasih atas hadiahnya. Aku akan memakainya dengan baik.
Sampai jumpa.
Terserah.
Menyebalkan sekali. Kenapa kau tidak memberitahuku?
Kenapa kau mengikutiku belakangan ini?
Kau tidak pernah menempel.
Apa kegiatan kelasmu tahun ini?
Kelas kami? Arkade kecil. Kalau kalian?
Kudengar kami membuat semacam camilan.
Begitu rupanya. Tidak.
Berhentilah mengalihkan pertanyaanku. Apa terjadi sesuatu?
Hei, bagaimana menurutmu?
Aku tidak dapat apa pun saat ingin belanja.
Aku ingin membeli semuanya saat tidak punya uang.
Kau putus lagi dengan Woo-jae, bukan?
Rupanya benar.
Itu sebabnya matamu cekung.
Apa maksudmu? Aku baik-baik saja sekarang.
Hanya orang baru berpacaran yang menangis setelah putus.
Aku sangat berpengalaman dalam berpacaran.
Woo-jae berengsek.
Kau berengsek, Woo-jae!
[Aku yakin kau menangis sambil memutar lagu sedih.]
Baiklah. Kau akan menyesal, Woo-jae.
Aku merindukannya.
[Saat merindukannya, kau pasti terus menangis.]
Terserah. Jangan membahasnya. Aku kesal sekali.
Aku tidak akan pernah kembali kepadanya.
- Sudah berapa kali, ya? - Apa?
Kurasa aku sudah dengar lebih dari sepuluh kali pada semester pertama.
Kami benar-benar putus kali ini.
Aku akan berhenti ulangi kesalahan dan melupakan dia sepenuhnya.
Kau ingin memakai itu dengan seragammu?
Tidak. Aku akan memakainya sekarang.
Kau belanja untuk festival, bukan?
Apa yang terjadi? Kau mau ke mana?
Kim Jae-jun.
- Kang Jae-yi. - Hadir.
- Kim Joo-ho. - Hadir.
Na Sol-mi.
- Halo. - Cha Dong-woo.
Do Woo-jae.
Do Woo-jae?
Halo?
Halo?
Rupanya Ibu berganti nomor telepon.
Semua baik-baik saja?
Karena ada urusan mendadak, ibu kembali ke Korea.
ada waktu besok?
Sudah lama kita tidak makan bersama.
Aku sibuk untuk sementara waktu.
Atau Ibu ada waktu pekan depan?
Tentu saja.
Aku akan periksa jadwalku dan beri tahu Ibu.
Pastikan kau tetap sehat dan makan lahap sampai saat itu.
Baiklah.
Aku akan tutup teleponnya.
Dia merelakan hak asuhnya demi hidupnya sendiri.
Memalukan jika dia ingin jadi ibu...
Ayah tidak bosan?
Ayah tidak bosan selalu mengatakan hal yang sama?
Permisi.
Bisakah menulis film yang ingin kau tonton selama festival?
Lalu,
kau cukup menggantungnya di pohon permohonan.
Baiklah.
Kau datang lebih awal.
Kau akan ribut jika aku terlambat lagi.
Kau pintar.
Kau mampir ke kelas?
Ya, kau juga?
Ya. Ayo pergi bersama.
Baiklah.
Pukul berapa kau pulang kemarin?
Sekitar pukul 23.00.
Penyuntingan butuh waktu lama berkat seseorang.
- Siapa? - Seseorang.
Seseorang yang pandai menyanyi.
Kalian putus?
Astaga. Sudah berapa kali?
Empat kali.
Astaga. Bukan satu atau dua kali.
Aku menghormatimu dan Do Woo-jae.
Tetap saja. Kalian akan berbaikan
dalam sepekan. Benar?
Aku juga berpikir begitu,
tapi tidak. Kali ini berbeda.
Karena itu aku ingin bertanya.
Bagaimana keadaan Do Woo-jae belakangan ini?
Do Woo-jae?
Entahlah. Aku juga jarang bertemu dengannya belakangan ini.
Dia selalu pulang larut karena bersiap untuk festival.
Kenapa? Jika kau penasaran, mau meneleponnya?
Tidak, terima kasih.
Lupakan saja. Apa bedanya?
Do Woo-jae bahkan belum mengubah foto profilnya.
Kalau begitu, sudah jelas.
Benar. Dia belum mengubah foto profilnya.
Aku yakin dia hanya kesal.
Kau tahu dia selalu sok keren,
padahal hanya anak-anak.
Masuk akal. Kau benar, dia seperti itu.
Itulah maksudku.
Woo-sol. Ayo.
Jae-yi, aku permisi. Nanti kita mengobrol di Face.
Baiklah. Hubungi aku. Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Kerja bagus.
Ini. Masing-masing ambil satu.
Seong-jun dan Eun-ha, pastikan membawa diska lepas
dari tim penampilan ke auditorium dengan aman.
- Baiklah. - Baik.
Hui-su dan Hee-won, pastikan memeriksa ulang urutan lampunya.
- Baiklah. - Baik.
Untuk yang lain, jangan lupa terus memeriksa suara dan mikrofon.
- Baiklah. - Baik.
Eun-taek, kita harus melakukan itu.
Melakukan ini.
Astaga.
Kenapa tidak?
- Siap? - Baiklah.
Astaga.
Waktu kita sempit.
- Tim Penyiaran. - Semangat!
Jin-guk, bisa geser kamera ketiga sedikit?
Baik.
- Young-jae. - Ya?
- Lampunya sudah siap? - Ya, sudah.
Baiklah.
- Seong-jun. - Ya?
No comments yet. Be the first to leave one.