The first 200 lines.
Lari!
Benar begitu!
EPISODE 1
Lagi!
Tendangan macam apa itu?
Hei, apa jenis ponselmu?
- Aku tak punya. - Tak punya?
Astaga!
Hei! Apa ponsel kalian? Ada yang punya ponsel Go A-ra?
Bukan yang itu. Ponsel yang diiklankan Go A-ra!
Hei, jangan marah-marah.
Maaf.
Hei, ponsel Go A-ra!
- Halo, Pak. - Hei, Seo-jun. Kau di mana?
Kami dalam perjalanan ke acara radio.
Pastikan Ran-joo mempromosikan kontes video penggemar setibanya di sana.
Dia akan lupa jika tak diingatkan.
YOON GABUNG SIAPA?
Baik, Pak, tapi…
Lalu, saat suasana hatinya sedang baik,
tanyakan kapan dia akan memperbarui kontrak.
Ya. Aku mengerti, Pak.
Kau punya ponsel Go A-ra?
Tidak punya?
- Ayolah! - Kau punya ponsel Go A-ra?
Apa?
Tidak.
Sudah mati, Young-ju.
Bagaimana ini?
Tidak apa-apa.
Kita masih punya tiga menit.
Ada yang menggunakan ponsel Go A-ra?
Tiga menit lagi. Di mana Yoon Ran-joo?
Baik.
Dia baru keluar dari lift.
Aku minum obat darah tinggi karena dia…
Astaga, halo.
Halo.
Hei, Anak Baru. Kau punya ponsel Go A-ra.
Pinjamkan bateraimu. Tak akan lama.
- Seribu won. - Ayolah.
Kami hanya perlu sebentar.
Aku menunggu telepon,
tapi bateraiku habis.
Boleh aku pinjam sebentar? Kumohon?
Dua ribu won.
Astaga.
Sudah kubilang ini darurat.
Hidupku sedang dipertaruhkan!
- Tiga ribu won. - Kau sangat menjengkelkan.
Meski dibutakan uang, kau tak peduli pada temanmu?
Tidak.
Aku tak peduli dan kau tidak sopan.
- Puas? - Dasar berengsek.
Astaga. Hei.
Apa kau menangis?
Itu karena aku sangat menyedihkan.
Aku pecundang.
Kenapa aku bisa lupa
mengisi dayanya pada hari penting ini?
Ini sungguh kacau!
Aku yang terburuk.
Kau tidak buruk. Kau yang terbaik, paham?
Terima kasih banyak.
Telepon penting apa?
Gunakan aksen Seoul.
Kau orang Seoul mulai sekarang!
Benar. Aku orang Seoul.
Halo?
Dia meneleponmu?
Tak mungkin.
Kak Ran-joo?
Ini benar-benar kau, Kak?
TANTANGAN MUSIK SIANG
Ya, benar. Ini Yoon Ran-joo.
Kak Ran-joo.
Kak Ran-joo!
Kau benar-benar Kak Ran-joo!
Kak Ran-joo, aku benar-benar mencintaimu!
Aku sangat mencintaimu!
- Ya, ampun. - Astaga. Nona Seo Mok-ha.
Jangan menangis dahulu. Sebentar.
Ini Karaoke Bersama Bintang.
Bintang tamu hari ini memuncaki semua tangga lagu.
Dia diva nomor satu Korea. Sang Ratu K-pop.
Bukan, dia seorang dewi.
Aku di sini bersama Yoon Ran-joo.
Kami bertelepon dengan pendengar yang akan bernyanyi bersamanya.
Nona Seo Mok-ha?
Ya. Halo…
Apa kabar?
Apa ka…
Kak Ran-joo!
Kak Ran-joo, di telepon,
suaramu sangat indah.
Dia menggemaskan.
Aku suka aksenmu, Nona Seo Mok-ha.
Kak Ran-joo.
Bolehkah…
Boleh ucapkan namaku lagi?
Nona Seo Mok-ha.
Kau tahu?
Aku bisa mati dengan damai sekarang.
Kak Ran-joo…
Kau…
Apa yang telah kau lakukan?
Apa yang kau lakukan?
Katamu sudah damai.
Terima kasih.
Mok-ha, kau tak apa-apa?
Hei, Jung Ki-ho!
Dia hanya penggemar bodoh.
Dia hanya mata duitan.
Kami pikir kami tak punya kesamaan sama sekali waktu itu.
Namun, kami tak tahu,
pada musim panas 2007 itu,
kami berada
dalam musim berbeda.
DI DALAM AKUARIUM VERSUS DI LUAR AKUARIUM
Si berengsek itu pantas mati.
Kenapa dia merebut ponselku pada saat itu?
Benar.
Sikapnya seperti anak kabur dari rumah.
Namun, sekarang, dia berubah menjadi rentenir.
Jika bajingan itu tak mengganggu teleponku,
Kak Ran-joo sudah mendengarku menyanyi.
- Begitu dia mendengar suaraku… - Dia hebat.
Ayo. Akan kujadikan kau bintang sepertiku.
Dalam jalanku menjadi diva,
jangkarku baru saja kutarik.
Ketika aku siap berlayar, tiba-tiba…
Anak gila tak berguna itu.
Dia membuat kapalmu terbalik.
Namun, jika aku menyerah sekarang…
- Itu bukan sifatmu! - Benar!
Jadi, kau akan merekam video musik sendiri
dan ikut kontes video penggemar?
Benar.
Namun, hadiahnya tak seberapa.
Kacang siber? Sungguh?
Yang benar saja.
Siapa yang peduli soal hadiahnya?
Kak Ran-joo akan menilai videonya sendiri.
Itu yang penting.
Itu benar.
Yang terpenting adalah membuat Ran-joo terkesan.
Benar.
Kau punya kamera digital?
Kau butuh itu jika ingin merekam video.
Apa kau punya?
Aku bahkan tak punya ponsel.
Dae-woong, kau punya kamera digital?
Tidak punya.
Namun, aku tahu orang yang punya.
Siapa?
Ayolah, Ki-ho.
Jung Ki-ho.
Pelan-pelan saja. Kenapa kau bekerja begitu keras?
Punggung bawah pria harus dijaga.
Astaga.
Kau menyuruhnya menyekop esnya? Kau sebut dirimu dewasa?
Aku sudah menyekop. Lihat keringatku.
Ki-ho.
Pegang kantongnya saja.
Tidak apa-apa.
Namun, tetap izinkan aku bekerja di sini.
Apa? Kenapa anak sepertimu sangat ingin menghasilkan uang?
Omong-omong,
apa ayahmu tahu kau bekerja di sini?
Tidak.
Pak, tolong rahasiakan ini
dari ayahku.
Rahasiakan?
Kenapa?
Aku…
Aku berencana memberinya hadiah.
Ultahnya sebentar lagi.
Astaga.
Dia beruntung sekali.
Astaga.
- Astaga. - Kau tahu?
Seandainya aku dan ayahmu bisa bertukar anak.
Pak.
Tolong jangan beri tahu ayahku.
- Kumohon. - Baik.
Jangan khawatir.
Mulai sekarang,
mulutku tertutup rapat.
Astaga.
- Ki-ho bilang begitu? - Benar.
Dia sangat ingin menghasilkan uang.
Dia ingin memberimu kejutan ulang tahun.
Benar, ulang tahunku.
Ki-ho sungguh luar biasa.
Dahulu dia selalu kabur dari rumah,
sekarang tiba-tiba dia dewasa.
Kau benar.
Pura-pura tidak tahu saja.
Jangan bilang kau tahu.
Tentu saja.
No comments yet. Be the first to leave one.