The first 200 lines.
"Episode 58"
Pak Min banyak pekerjaan hari ini.
Dia akan lembur.
"Kantor Hukum Min Ji Seok"
Kira-kira siapa yang datang pukul sebegini?
Aku juga penasaran.
Aku datang untuk menemui Ji Seok. Aku di lobi.
Dia pasti gila.
Siapa?
Entahlah. Tidak ada siapa pun.
Astaga.
Kamu juga di sini?
- Tidak bisa kupercaya. - Tunggu.
Beraninya kamu datang ke sini!
Astaga. Ayo ikut aku.
Sedang apa kamu di sini?
Kenapa masih bertanya? Kamu sudah membaca pesanku?
Aku kemari untuk menemui Ji Seok.
Itulah maksudku. Untuk apa?
- Untuk meminta uang. - Apa?
Kamu gila?
Aku bisa apa?
Aku tidak punya uang untuk makan malam
setelah kamu mengusirku seperti itu.
Aku tidak bisa meminta bantuan keluarga mantan istriku.
Kamu akan bilang apa kepadanya?
Kamu kemari untuk pamer
bahwa bisnismu gagal total
dan bilang telah membelikanku cincin palsu,
lalu diusir dari rumah karena itu?
Pikirmu kenapa aku harus membeli cincin itu?
Kamu amat pemilih soal hal ini.
Kamu orang yang pemilih.
Kamu hanya puas dengan merek mahal.
Itu benar.
Aku terbiasa dengan merek mahal.
Kukira kamu juga pria kaya.
Berhenti meremehkanku.
Tidak semua singa itu garang.
Singa baik pun tetaplah singa.
Jangan meremehkanku karena keadaanku.
Aku masih punya potensi.
Tetap saja, seharusnya kamu tidak kemari.
Aku hanya hendak memintanya mentraktirku makan malam.
Sudah seharusnya dia membantu
saat pamannya dalam kesulitan.
Selain itu, dia sudah menganggapmu ibunya.
Diam.
Aku tidak menikahimu
karena ingin muncul di hadapan Ji Seok seperti ini.
Pelankan suaramu.
Meski berpapasan dengan Ji Seok, jangan pernah ke kantornya.
Jika kamu lakukan, aku tidak mau menemuimu lagi.
Lantas biarkan aku pulang.
Aku kelaparan.
Astaga.
Ini.
Ambil ini dan pergilah.
Jangan begitu. Biarkan aku pulang denganmu.
Astaga.
Lantas carilah cara untuk menghasilkan uang.
Mungkin kamu ingin pulang ke rumah itu,
tapi aku sudah tidak tahan ingin keluar dari sana.
Mana bisa aku menghasilkan uang di usiaku ini?
Pria seusiaku biasanya pensiun dan menjaga cucu mereka.
Ucapanku sudah jelas.
Sayang.
Aku tidak bisa bilang telah gagal mendapatkan investor
dalam situasi seperti ini.
Bagaimana aku bisa menghasilkan uang di usiaku ini?
Aku harus ke mana?
Di mana...
Ada apa?
Tidak ada apa-apa. Ayo.
Ada apa? Kamu melihat seseorang?
Kurasa aku melihat pria yang tinggal bersama bibiku.
Suami baru bibimu?
Ya.
Aku kesal setiap melihatnya.
Tapi aku tidak mau siapa pun merusak suasana hatiku saat bersamamu.
Bagimu, dia pasti seperti wanita itu bagiku.
- Maksudku, selingkuhan ayahku. - Benar sekali.
- Ayo. - Baik.
Aku pamit dahulu.
Baik, sampai jumpa.
Dia siapa?
Dia melamar menjadi pegawai paruh waktu.
Kamu belum mempekerjakan pegawai?
Kamu bilang sudah ada orang yang kamu sukai.
Seharusnya dia mulai hari ini,
tapi tidak datang dan tidak bisa dihubungi.
Orang-orang zaman sekarang amat tidak bertanggung jawab.
Astaga.
Hari ini ada banyak pelanggan.
Aku tidak bisa beristirahat.
Sayang sekali. Kakak harap kamu segera mempekerjakan seseorang.
- Kamu akan sakit jika terus begini. - Aku tahu.
Sulit sekali mencari pekerja paruh waktu.
Mari berhenti membicarakan ini. Bagaimana jika kita...
Tentu.
Minumlah.
Kita harus minum setelah hari yang buruk.
Astaga, aku juga suka minum.
Itu sepatuku.
Apa dia melihatku?
- Kakak memandangi apa? - Sepatu itu.
Pelanggan itu belum kembali?
Tidak. Dia mungkin tidak sadar meninggalkannya di sini.
Kakak tidak suka sepatu itu.
- Kenapa? - Kamu tidak ingat?
Dahulu Tae Pyung suka memakai sepatu seperti itu.
Aku juga berpikir itu tampak familier.
Jangan bilang itu miliknya.
- Apa? - Apa selama ini
kamu diam-diam menemuinya?
- Memangnya aku gila? - Apa?
Dahulu kalian amat dekat.
Tetap saja, setelah kejadian itu, mana bisa aku menemuinya?
Aku tidak lagi berhubungan dengannya.
Lantas? Kamu sedih?
Sedih apanya.
Aku sudah menghapusnya dari ingatanku.
Aku tidak akan mau menemuinya lagi seumur hidupku.
Jika merasa ragu, ingatlah
perbuatannya kepada Go Woon yang sakit.
Aku tidak akan bisa melupakannya.
Dia bahkan menuntut kita.
Aku tahu. Bukan hanya itu.
Dia juga menampar Go Ya.
Meski Kakak ingin memaafkannya,
aku tidak akan membiarkan Kakak.
Memangnya kakak gila? Untuk apa kakak memaafkannya?
Saat mati nanti,
kakak akan memastikan dia dan Oh Na Ra mati bersama kakak.
Kakak akan memastikan mereka dihukum.
Astaga.
Entah apa yang akan mereka lakukan jika aku tetap di sini.
Pak Layang-layang.
Kemarilah.
Ada apa?
Maaf, aku harus pergi sekarang. Kita mengobrol lain kali saja.
- Tunggu. - Apa?
Makanlah selagi panas.
- Ini untukku? - Ya.
Kenapa?
Karena aku menyukai Paman.
- Kamu menyukaiku? - Ya.
Aku juga menyukaimu.
Terima kasih. Aku menghargai ini.
Kenapa kamu berdiri di sini?
Aku membeli bakpao untuk Ibu.
Udaranya dingin. Untuk apa kamu keluar?
Kenapa tidak tidur saja?
Dia cemas ibunya kelaparan.
Kamu baik sekali.
Dahulu San Deul sering melakukan ini saat masih kecil.
Dahulu aku bekerja sebagai asisten di salon.
Saat kembali larut malam,
San Deul akan menungguku di pintu
sambil memegang ubi panggang di tangannya.
Dia memberikannya kepadaku dan bilang, "Ibu pasti lapar."
Kamu mulai lagi.
Aku sudah melalui banyak hal.
Aku sering menangis
selama membesarkannya tanpa seorang suami.
Jangan menangis lagi.
Aku yakin Kak San Deul tidak kesepian berkat Bibi.
Aku pun begitu.
Go Woon benar.
Sudah hentikan.
Putramu tumbuh dengan baik pada akhirnya.
Kakak benar. Putraku yang terbaik.
Dia masuk dan lulus dari universitas pendidikan terbaik
di negeri ini dengan nilai terbaik.
"Putraku, Choi San Deul, mengajar murid kelas enam"
"Di SD Kkumnamu"
Kamu benar.
Ayo masuk.
- Ayo. - Ayo, Go Woon.
Tetap saja, sulit bernapas di tempat gelap.
Itu mengingatkanku pada sesuatu.
"Niktofobia"
Kakak sedang apa?
Belajar.
Niktofobia?
Kenapa takut gelap? Kegelapan itu indah.
Semua hal menyenangkan terjadi di malam hari.
Tidurlah.
Omong-omong, kenapa Kakak menyukai dia?
Bermula di lift.
Apa? Apa Kakak...
Bukan begitu.
Dia pernah berbagi payung dengan kakak.
Di lift, kakak melihat
bahwa salah satu bahunya basah kuyup
karena dia memayungi kakak.
Hati kakak mulai berdebar kencang.
Itu saja?
Kakak bocah? Kenapa senang karena hal seperti itu?
Kakak sudah pernah berciuman?
No comments yet. Be the first to leave one.