The first 188 lines.
♔ Follow @skysoultan on Instagram ♔
Aku sangat mengagumimu.
Aku ingin menjodohkan anakku denganmu.
Aku ingin mendengar pendapatmu.
- Dijodohkan denganku? - Maksudmu...
Tidak bisa. Tuan Han...
Apa menurutmu, anakku tidak layak untukmu?
Bukan begitu, Tuan Han. Justru aku yang tidak layak.
Tuan Han, tiba-tiba aku ingat ada yang harus dikerjakan hari ini.
Maaf mengganggu, aku pamit dulu. Maaf kalau menyinggungmu.
Murid Shen...
Benar dia orangnya.
Yang Mulia, akhirnya aku menemukannya
Dieyi? Sedang apa?
Tadi aku sedang memikirkan sesuatu, jadi tidak melihatmu.
Memikirkan apa sampai serius begitu?
Aku sebesar ini masa tidak kelihatan di depanmu.
Ini gara-gara Tuan Han.
Barusan dia mengundangku makan, dia mau menjodohkanku dengan putrinya.
Coba katakan, otaknya apa tidak...
Kau mau dijodohkan dengan iblis wanita katamu?
Dieyi, ikut aku.
Tang Jiuhua.
Tang Jiuhua! Kau mau apa?
Dieyi, cepat ceritakan. Hari ini, Tuan Han sebenarnya bilang apa?
Bukannya barusan sudah kubilang?
Hari ini dia mengundangku makan.
Dia bilang dia mengagumiku dan bermaksud menjodohkan putrinya.
- Lalu apa jawabanmu? - Tentu aku cari alasan untuk pergi.
Jika dia tahu aku ini perempuan,
dia pasti berubah pikiran dan batal menikahkan putrinya.
- Lagipula mana bisa aku menikahinya? - Dieyi!
Aneh. Setahuku,
Menteri Pertahanan selalu berselera tinggi.
Mana mungkin dia rela menikahkan putrinya,
denganmu yang tanpa jabatan, dan bukan anak pedagang kaya?
Mungkin saja aku terlalu sempurna untuk disalahkan.
Shen Dieyi! Aku ini serius!
Hal ini tidak sesederhana itu.
Dieyi, kau harus waspada.
Tuan Han ini orang tua yang licik.
Di hatinya pasti ada rencana yang tak kita ketahui.
Aku kebanyakan mengobrol denganmu, jadi lupa harus pulang.
- Belum libur kenapa pulang? - Nenek mencariku. Pikirkan baik-baik.
Yang Tang Tang katakan ada benarnya juga.
Baguslah ketemu.
Untung ada di sini.
Bukankah kau Murid Shen dari Akademi Shangyi?
Tuan Han.
Jelas-jelas waktu itu Giok Sinan-nya masih ada.
Kapan benda itu menghilang?
Tuan Han?
Tidak mungkin.
Jangan-jangan...
Kau mau apa? Mengagetkan saja!
Harusnya aku yang tanya, sedang apa kau berpikir begitu serius?
Aku sudah di sini lama sekali dan kau baru sadar.
Jelas-jelas kau yang berjalan tanpa suara sedikit pun.
Aku jarang melihatmu fokus memikirkan sesuatu.
Ini semua salah Tang Tang.
Dia berkata rencana jahat apalah,
sampai-sampai hatiku jadi tak tenang sekarang.
Tang Tang? Dia bilang apa?
Apa Tuan Han tahu tentang identitasmu, jadi dia sengaja bertanya?
Tidak mungkin. Penyamaranku sangat bagus.
Kalau penyamaranmu bagus, kenapa bisa kubongkar?
Itu karena aku sengaja membiarkanmu tahu.
Lagipula kalau kau tak tahu, mana mungkin kau bilang suka padaku?
- Itu... - Itu...
- Itu karena... - Sebenarnya...
Aku terus memikirkan satu pertanyaan,
sejak kapan kau mulai menyukaiku?
Saat itu,
seharusnya kau belum tahu jika aku wanita.
- Apa kau jangan-jangan... - Sembarangan!
Baiklah, kalau begitu katakan.
Sejak kapan kau mulai suka padaku?
Otakmu setiap hari memikirkan apa sebenarnya?
Jika senggang, baiknya pikirkan tentang Tuan Han.
Dia begitu aneh, tiba-tiba mencarimu. Pasti ada yang salah.
Murid Yang, jangan coba mengganti topik.
Masa aku begitu?
Tapi tetap saja, keselamatan lebih penting.
Kalau Tuan Han memang sudah tahu tentang diriku, lalu bagaimana?
Kurasa tidak. Kalau tahu kau perempuan,
dia tak akan menjodohkan putrinya.
Seandainya dari penyelidikan?
Tuan Han terkenal memanjakan putrinya.
Dalam keluarga militer, ada banyak gadis yang bisa diajukan ke pernikahan
kenapa dia malah mengajukan putrinya sendiri?
Masuk akal juga.
Kau bahkan tahu soal gadis-gadis itu. Apa kau punya maksud tertentu?
- Aku bilang apa? Otakmu ini selalu... - Jangan sentuh aku!
Kugigit kau!
Yang penting, aku memikirkan keselamatanmu.
Jangan pergi terlalu jauh.
Akademi Shangyi ini adalah pelindungmu.
Jangan membuatku cemas.
Akhirnya kau mengaku kalau mencemaskanku.
Betul, betul. Aku sangat mencemaskanmu.
Sejak hari pertama di Akademi Shangyi, aku tidak bisa berhenti mencemaskanmu.
Baiklah. Ayahku memanggil pulang. Ada urusan.
Kalau ada apa-apa, langsung beri tahu. Jangan mengacau.
Aku paham. Pergilah.
Cepat kembali.
Aku menunggumu di sini.
Kalian satu per satu pulang ke rumah.
Aku pulang ke mana?
Kenapa mengeluh?
Kenapa kalian seperti kucing? Berjalan tidak ada suaranya.
Bukan aku yang berjalan tanpa suara,
tapi pikiranmu yang ke mana-mana, jadi tidak mendengar.
Dugu, apa kau tidak rindu rumah?
Dunia begitu luas. Di mana pun adalah rumah.
Daripada melamun bersedih di sini, lebih baik bersenang-senang.
Kudengar di Paviliun Ning Xiang ada arak persik terbaru.
Aromanya manis, harum memabukkan.
Barusan aku melihatnya di jalan,
orang mengantri dari Paviliun sampai ujung jalan.
Kalau pergi sekarang, mungkin aromanya tidak akan tercium lagi.
Kau jangan khawatir. Aku tentu ada cara.
- Tunggu di sini. Aku segera kembali. - Dugu!
Cepat sekali.
- Ayah. - Anakku.
Aku menghadap Ayah. Maaf membuat Ayah menunggu.
Tidak apa-apa. Mari. Makanlah.
Ayah, bagaimana perkembangan kasus Inspektur Tu?
Setiap pulang yang kau bicarakan selalu kasus.
Kapan kita ayah dan anak bisa mengobrol dengan nyaman?
Aku sudah lancang. Hanya saja, perkara ini besar, aku jadi resah.
Kasus ini sulit, penyelidikannya jadi ke sana kemari.
Jenderal Li sibuk urusan militer, sepanjang tahun dinas ke luar.
Tuan Tang fokus membantu para pengungsi.
Pejabat lain jarang berkomunikasi dengan Inspektur Tu.
- Tersisa... - Ayah mencurigai Tuan Han?
- Bukankah masih ada Ayah? - Ayah bercanda.
Menurutmu, Tuan Han yang paling mencurigakan?
Sudah rahasia umum dia tidak akur dengan Inspektur Tu.
Tapi jika dia memang terlibat dalam kasus pembunuhan Inspektur Tu,
bagaimana kasus uang palsu dan penjualan anak?
Apa dia juga terlibat di dalamnya?
Dana bantuan militer dan bencana.
Jumlah anggaran dua proyek ini sangat besar.
Lebih dari uang palsu dan perdagangan anak
digabung ratusan kali lipat.
Kalau memang mereka mau korupsi,
tidak perlu repot-repot.
Jangan kabur!
Ayah, kasus-kasus ini sepertinya terhubung dengan suatu tempat.
- Tempat apa? - Paviliun Ning Xiang.
Pada kasus uang palsu, orang-orang itu lebih dulu dibawa ke Paviliun.
Pada kasus perdagangan anak, anak hilang pusatnya ada di Paviliun.
Aku pernah minta petugas untuk memeriksanya, tapi hasilnya nihil.
Kalau dipikir-pikir, jika dalang dua kasus ini pejabat pemerintah,
tidak peduli apakah untuk menekan staf pejabat kabupaten
atau menghapus bukti untuk jaga-jaga,
jika ingin memutus hubungan dua kasus ini dengan Paviliun Ning Xiang,
maka tidak akan semudah itu.
Kata-katamu masuk akal juga.
Paviliun Ning Xiang sangat terkenal di Chang'an.
Tidak terhitung banyaknya pejabat pemerintah yang keluar masuk,
lalu tokoh-tokoh silat datang dan pergi
bak ikan koi melintasi jembatan.
Harus diinvestigasi mulai dari awal.
Ini sama saja mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Kasus ini tidak bisa dipecahkan dalam waktu singkat.
Kau adalah murid Akademi Shangyi.
Belajar dengan baik, adalah fokus utamamu.
Kasus ini serahkan saja pada pihak terkait.
Aku ingin terus menyelidiki, tidak berhenti di tengah jalan.
Cita-citaku ingin menjadi pejabat seperti Ayah.
Anakku, terdapat dua sisi dalam segala hal.
Ambil contoh ikan ini.
Tampak bagus tiada cacat.
Tetapi jika kau balikkan,
sisi satunya mungkin gosong, tak bisa dimakan.
Apa kau bisa salahkan ikan ini?
Ini juga di luar kendalinya.
Ayah.
Ayah ingin mengingatkanmu.
Saat menyelidiki kasus,
jangan hanya melihat dari satu sisi.
Aku akan ingat bimbingan Ayah.
Baiklah. Ayo makan.
Tamu sekalian,
arak persik Paviliun Ning Xiang hanya ada 300 pot per hari.
Hari ini sudah habis. Jika mau lagi, datanglah lebih awal besok.
- Cepat sekali lakunya. - Benar.
No comments yet. Be the first to leave one.