The first 200 lines.
Itu tidur siang yang nyenyak.
Kau habis menangis?
Tidak.
Ya, kau menangis.
Pipimu basah.
Hei, bagaimana kau bisa tertidur...
Padahal itu film yang kau pilih?
Kau harus tidur sebentar saat menonton film seperti ini.
Aku tahu pria itu.
Siapa dia?
Dia selalu datang ke sini.
Selalu berpakaian sama.
Orang aneh.
Bukankah itu berarti kau juga selalu di sini?
Kau juga selalu berpakaian sama.
Tunggu.
Jadi, bagaimana filmnya berakhir?
Di mana kau tertidur?
Saat karakter utama tiba-tiba mati.
Itu terjadi tepat pada awalnya.
Anak Laki-laki Dan Matahari Hijau
Ini dia.
Ibu akan pergi.
Astaga...
Bo-hee, taruh ini di dapur. Ibu pergi.
— Di mana kau? — Di rumah.
Apa ibumu sedang keluar?
— Baru saja. — Aku akan tiba lima menit lagi.
Kalau begitu, sampai jumpa dalam sepuluh menit.
Kau meneleponku dari toilet lagi?
Dokter Moon, M.D. OBGYN
Di hari yang panas, seorang anak perempuan yang sehat...
Dengan berat 4,4 kg lahir di Seoul.
Mungkin karena ukuran kepalanya...
Ibunya meninggal dalam persalinan.
Dalam perjalanan pulang, ayahnya melihat...
Matahari yang cerah dan daun hijau...
Dan menamakannya Nok-yang.
Aku lahir di sini.
Jangan main-main.
Aku tidak main-main.
Hei, cepat!
Astaga. Dia manis!
Pada hari yang sama, di bangsal sebelah...
Seorang anak laki-laki lahir dan ditempatkan di inkubator.
Kau mau ke mana?
Dia sensitif dan juga rapuh.
Lee Bo-hee, tunggu!
Kenapa kau masuk ke sana?
Karena alasan sendiri...
Ibunya menamakannya Bo-hee...
Dan tidak bisa dihindari bahwa dia akan berakhir...
Dengan julukan yang sangat disayangkan.
Hei, Lee Bo-ji.
— Kembalikan! — Aku akan menghapusnya.
Baiklah. Itu hanya salinan.
Cabut kata itu.
Kata apa?
Yang baru saja kau katakan.
Bo-ji?
Tidak, kata itu terlalu penting.
Apa maksudmu?
Tidak ada yang memanggilku begitu.
Lee Bo-ji.
Berhentilah bermesraan.
Jadi, selanjutnya apa?
Aku belum tahu.
Tapi aku berencana merekammu lebih dahulu.
Tidak, terima kasih.
Jangan merengek!
Apa yang akan kau lakukan dengan itu?
Kenapa aku harus melakukan sesuatu dengan itu?
Untuk saat ini, aku akan merekam banyak hal.
Saat aku lulus, aku akan membuat film.
Kau tahu aku tidak pandai dalam belajar.
Bagaimana jika film ini merajai pasaran...
Dan aku diundang ke Cannes?
Aku bahkan tidak mampu membeli tiket pesawat!
Bo-hee, ada apa?
Kau baik-baik saja?
Tunggu sebentar.
Aku tidak mau pulang.
Kenapa tidak?
Karena Nenek selalu mengomel.
Andai aku punya nenek.
Aku lapar.
Kau harus segera pulang?
Mau makan?
Tidak. Aku tidak mau tanganku kotor.
Kenapa kau sangat menyukai ini?
Aku hanya menyukainya.
Apa?
Tetaplah menunduk.
— Tapi wajahmu memerah. — Tidak.
Siapa pria itu?
— Kalau begitu... — Ayo.
— Ke mana? — Aku tahu tempat.
Perhatikan langkahmu.
Pacarnya?
— Tidak. — Hei. Mari ikuti mereka.
Hei! Tunggu!
Sayang, apa ibu membangunkanmu?
— Ibu. — Ya?
Ibu bersama siapa tadi?
Kau melihat kami?
Kenapa kau tidak menyapa?
Dia pelanggan di toko ibu.
Ibu menyukainya?
Apa maksudmu?
Dia hanya teman.
Kau tidak mau ibu punya pacar?
Hei, apa ibumu sungguh punya pacar?
Jadi, kau akan mendapatkan ayah tiri?
Ayah tiri apa?
Aku akan kabur jika itu terjadi.
Tapi bukankah itu bagus?
Kau mau punya ibu tiri?
Apa kau gila?
Aku tidak butuh orang lain mengomeliku.
Nenekku lebih dari yang bisa kuatasi.
Aku juga tidak mau.
Tapi bagaimana jika mereka mengusirmu lebih dahulu?
Kau tahu seperti apa dalam dongeng.
Ibu tiri kejam kepada anak tiri mereka.
Maka aku pasti akan kabur.
Kau mau ke mana?
Kau bahkan tidak punya nenek.
Aku punya seorang kakak.
Bo-hee, sapalah Nam-hee.
Apa?
Nomor telepon kakakku.
Kakak apa?
Orang yang Ayah bawa pulang.
Dari mana kau dapat nomor itu?
Ponsel ibuku.
Jadi, kau akan memanfaatkannya?
Kami punya ayah yang sama.
Dia pasti akan menerimaku.
Dia mungkin membencimu.
Ayahnya menikah lagi dengan ibumu.
Dia tidak membenciku.
Dia baik.
Bagus sekali.
Hei...
Mari telepon dia dan cari tahu.
Sekarang? Tunggu.
Kau tidak bisa tiba-tiba menelepon...
Halo. Apa ini Nona Lee Nam-hee?
Kami menelepon dari KT untuk memberi tahu...
Bahwa kau pemenang promosi kami yang beruntung.
Sebelum kami mengirimkan hadiah...
Bisa tolong verifikasi alamatmu?
Aku memintamu bergegas...
Tapi kau harus membuatku datang jauh-jauh kemari.
Pakai celanamu! Kau membuatku malu!
Suaramu yang memalukan.
Apa itu kau, Bo-hee?
Siapa dia?
Bo-hee!
Bo-hee, kau baik-baik saja?
Kau baik-baik saja?
Lakukan napas bantuan atau semacamnya! Cepat!
Ayo!
— Ini dia. — Aku baik-baik saja!
Terkadang itu terjadi.
Kau sungguh baik-baik saja?
Bagaimana kau bisa kemari?
Apa ada masalah? Bagaimana kabarmu?
Tidak, hanya saja...
Benar.
Maaf, tapi aku harus mengejar pesawat.
Untuk saat ini, pergilah ke rumah sakit bersamanya.
— Siapa dia? — Tidak penting.
Aku akan memeriksamu nanti.
Bo-hee.
Kau sudah dewasa sekarang.
Pak.
Aku tidak perlu ke rumah sakit.
Maaf sudah merepotkanmu.
Aku akan pergi.
Hei.
— Siapa kau? — Maaf?
Apa hubunganmu dengan Nam-hee?
Benar.
Aku saudara tirinya.
Apa maksudmu?
Orang tuanya meninggal saat dia masih muda.
Ayahku membawanya pulang...
Saat aku masih kecil.
Sebelum dia meninggal.
Apa kau sepupunya?
Dia bilang pernah tinggal dengan pamannya.
Jadi, kami tidak punya ayah yang sama?
Benar.
Namun, Nam-hee tidak pernah bilang pamannya meninggal.
Ayahku meninggal dalam kecelakaan saat aku masih kecil.
— Ibu. — Ya?
Kenapa kita tidak punya foto Ayah?
Dia meninggal saat kau kecil.
Itu sudah lama sekali.
No comments yet. Be the first to leave one.