The first 200 lines.
Pada kesempatan tertentu, antara th. 1750 dan 1930, jika anda meminta orang-orang terpelajar
untuk menjelaskan tujuan puisi, karya seni atau musik
mereka akan menjawab: "keindahan".
Dan jika anda meminta alasannya,
anda akan pelajari bahwa keindahan adalah semacam nilai
yang sama pentingnya dengan kebenaran dan kebaikan.
Dan lalu, pada abad 20 keindahan tidak lagi menjadi penting.
Seni, meningkat menjadi "pengganggu" dan menjebol tabu-tabu moral.
Bukan lagi pada "keindahan", tapi keorisinilan.
Diwujudkan dengan cara apapun dan dengan mengorbankan nilai-nilai moral,
untuk meraihnya.
Tidak hanya seni rupa yang memuja "keburukan",
tetapi juga seni arsitektur menjadi seperti tak berjiwa dan steril.
Dan hal itu bukan hanya terjadi di lingkungan fisik kita yg lalu menjadi buruk,
bahasa, musik dan kelakuan kita, menjadi semakin kasar,
mementingkan diri sendiri serta ofensif,
Sepertinya "keindahan" dan "selera bagus", tidak lagi punya tempat dalam hidup kita.
Sebuah kata telah ditulis dalam huruf besar bagi semua keburukan ini, dan kata itu adalah: AKU.
"Keuntungan-KU", "Keinginan-KU" "Suka-suka AKU",
Dan kesenian tak punya kata-kata dalam menanggapi hal ini, selain: "Ya, ayo lakukan saja!"
Saya pikir kita mulai kehilangan "keindahan"
dan bahayanya adalah, dengan itu, kita kehilangan makna hidup.
MENGAPA KEINDAHAN PENTING? Oleh Roger Scruton
Saya Roger Scruton, seorang filsuf dan penulis.
Pekerjaan saya adalah bertanya.
dan tahun-tahun akhir ini, Saya mempertanyakan "keindahan".
Keindahan menjadi hal yang esensial bagi peradaban kita selama lebih dari 2.000 tahun.
Mula-mula pada jaman Yunani kuno,
Falsafah tercermin pada kesenian, puisi, musik, arsitektur,
dan pada kehidupan sehari-hari.
Para filsuf berpendapat bahwa melalui keindahan,
kita membentuk dunia ini selayaknya "rumah".
Kita juga memahami keadaan alaminya, esensi spiritualnya.
Tapi dunia kita berbalik meninggalkan keindahan.
dan, dengan kenyataan ini, kita dikepung "keburukan" dan "keterasingan".
Saya ingin mengajak anda untuk memahami bahwa keindahan itu penting,
ini bukan sesuatu yang subyektif,
tapi kebutuhan manusia secara menyeluruh.
Jika kita mengabaikan kebutuhan ini, kita akani berada dalam "gurun spiritual".
Saya ingin menunjukkan jalan untuk lolos diri dari "gurun" ini,
ini jalan yang membimbing kita pulang ke "rumah".
Para seniman besar pada masa lalu sadar bahwa kehidupan manusia penuh dengan kekacauan
dan penderitaan.
Tapi mereka memiliki penebusan untuk semua ini,
dan penebusan ini adalah "keindahan".
Sebuah karya seni yang indah membawa "penghiburan dalam kedukaan",
dan "penguatan dalam sukacita".
Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia berharga.
Banyak seniman modern yang melupakan tugas suci ini.
Kekacauan kehidupan modern, mereka pikir, tidak dapat ditebus oleh kesenian.
Sebaliknya, hal itu justru harus ditelanjangi.
Panutan ini diciptakan hampir satu abad yang lalu oleh seniman Perancis: Marcel Duchamp,
yang menandatangani pispot dengan tanda tangan palsu "R.Mutt"
dan menaruhnya di ruang pamer.
Sebuah laku satiristik untuk mengolok-olok dunia seni
dan arogansi yang dikandungnya.
Tapi ini ditafsirkan secara berbeda,
bahwa "apa pun bisa menjadi seni",
seperti lampu yang menyala dan mati ...
sekaleng tinja ...
bahkan setumpuk batu bata.
Mereka tak lagi memiliki keangkeran sebuah karya seni;
Tidak lagi ada "pembangkitan bara" moral dan spiritual,
Hanya tingkah laku manusia satu dengan lainnya,
tidak lagi penting: tawa atau tangis.
Saya pikir mereka sedang mengolok-olok kita! Ini hanya setumpuk batu bata!
Ada suatu masa ketika seni memuja "keindahan".
Kini kita mengagungkan "keburukan", sebagai gantinya.
Berada di dunia yang kacau, kacaulah juga dengan seni rupanya.
Mereka yang mencari "keindahan" dalam seni hanya akan ada di luar jangkauan kenyataan modern.
Sering kali karya dimaksudkan untuk membuat kita terkejut,
tapi apa yang mengejutkan pada awalnya, menjadi membosankan dan kosong, bila diulang-ulang.
Ini membuat seni menjadi semacam lelucon,
yang pernah dianggap lucu,
jika kritikus terus-menerus mendorong hal ini,
Saya khawatir, "sang raja betul-betul tidak berpakaian."
Seni kreatif tidak diciptakan begitu saja, tidak hanya karena punya gagasan thok.
Tentu, gagasan bisa bisa menjadi menarik dan menyenangkan
tapi hal ini tidak lalu merampas peran dari seni itu sendiri.
Jika sebuah karya seni, tidak lebih dari hanya sebuah gagasan,
siapa pun bisa menjadi seniman dan setiap objek bisa jadi karya seni ...
Tidak lagi dibutuhkan keterampilan, citarasa atau pun kreativitas.
Apa yang anda coba lakukan, dalam pandangan saya, adalah untuk mendevaluasi seni,
Gampangnya, "jika saya mengatakan ini adalah karya seni, maka itu menjadi karya seni! "
Ya, tapi Istilah "karya seni" tidaklah penting bagiku!
Saya tidak keberatan dengan kata "seni" karena sudah terlanjur menjadi seperti...
mendiskreditkan, katakanlah begitu.
Tapi anda benar-benar ikut berkontribusi mendiskreditkan, secara sengaja.
Ya, dengan sengaja,
sebagai cara untuk menyingkirkannya.
hal yang sama dilakukan orang-orang terhadap agama.
Orang-orang menerima Duchamp, dengan penilaian mereka sendiri-sendiri.
Menurut saya dia tidak sedang menyingkirkankan seni, namun mengesampingkan kreativitas.
Bagaimana pun, karya Duchamp masih memengaruhi karya seni hingga saat ini.
Seniman Michael Craig-Martin,
Dia adalah guru dari beberapa personil 'Young British Artists',
yang saat ini, karya-karya mereka mendominasi dunia seni rupa,
mengikuti contoh Duchamp dengan karyanya
sendiri yang berjudul, "An Oak Tree".
yang berupa segelas air di atas rak,
dan sebuah teks yang menjelaskan mengapa benda itu disebut "Oak Tree".
Ketika saya pertama kali saya menyaksikan "Pieta" ...
bagi saya itu adalah Pengalaman yang selau terbawa,
Hal itu mengubah hidup saya.
percayakah anda bahwa seseorang mungkin memiliki pengalaman yang sama ketika menyaksikan 'Pispot' karya Marcel Duchamp,
atau "Oak Tree" yang saya anggap rada-rada mirip?
Ketika saya remaja dan menonton karya Duchamp
Saya benar-benar terpesona dalam kekaguman.
Saya tidak berpikir bahwa orang diliputi oleh rasa "keindahan"
ketika mereka mengatakan "Pispot" tidak dimaksudkan untuk menjadi indah.
Tapi tidak berarti bahwa... ada sesuatu pada diri Duchamp yang sedang "menangkap imajinasi",
dan saya pikir "menangkap imajinasi" adalah kata kunci seni modern yang anda maksudkan.
Duchamp mengatakan seni menjadi terlalu memedulikan teknik,
terlalu peduli optik.
Dia percaya dalam seni telah terjadi korupsi intelektualitas yang tak bermoral
dan alasannya membuat karya seni yang tidak cocok dalam sistem, bukanlah sinisisme,
Bisa dikatakan:
"Saya mencoba untuk membuat karya seni yang menyangkal segala hal
Seperti yang orang katakan bahwa setiap karya seni harus memilikinya
karena saya sedang mencoba untuk mengatakan bahwa seni berada di tempat lain. "
Saya mengerti apa yang anda maksud,
Segala sesuatu berubah dan Duchamp berusaha mengubahnya.
tapi untuk apa lagi selain usaha untuk mengubahnya?
Tidak, itu ... dia tidak akan pernah bisa membayangkan
apa yang akan terjadi, dia sendiri, saya yakin,
tidak tahu ?... Sebuah perbandingan yang akan dia ambil;
pada dasarnya itu adalah sebuah karya seni sebuah karya seni, karena mereka pikir begitu.
Saya pikir ini penting diungkapkan juga bahwa gagasan tentang seni bisa diperluas
untuk memasukkan hal-hal yang tidak terpikiran.
Ini bagian dari fungsi seni: membuatnya indah, memperlihatkan seseorang sesuatu yang indah,
sesuatu yang sebelumnya tak seorang pun bisa melihat keindahnya.
Ya, seperti "Sekaleng Tinja"?
Wah, eh, saya tidak yakin apakah itu sesuatu yang indah,
tetapi jika anda mengambil contoh karya yang tidak berusaha untuk menjadi indah,
Ambil contoh Jeff Koons ...
Jeff Koons membuat beberapa karya yang benar-benar indah.
Bagi saya itu lebih berupa "kitsch", tapi semua "Kitsch" selalu terlihat manis ...
Ini adalah subjek matter-ya, esensi dari karyanya.
Apa manfaat seni seperti ini?,
dalam hal membantu orang?
Saya pikir ... Saya harap bahwa ini akan membantu orang melihat dunia di mana mereka hidup,
ingin... memberikan lebih banyak makna kepada mereka.
Dan dunia ini bukanlah dunia yang ideal, bukan dari dunia asing atau satu tempat yang lebih baik,
tapi di sini sekarang, di bumi dan mereka yang berusaha untuk hidup
lebih mudah bagi mereka atas hidup yang diberikan.
Jadi seni saat ini memperlihatkan pada kita, dunia seperti apa adanya
di sini sekarang dan dengan semua ketidaksempurnaannya.
Tapi, apa hasilnya adalah betul-betul seni?
Tentu, sesuatu itu tak serta merta disebut karya seni hanya karena dia menyodorkan sebuah "potongan" kenyataan,
termasuk didalamnya segala keburukan, dan menyebut diri sebagai seni.
Seni membutuhkan kreativitas, dan kreativitas, adalah tentang berbagi,
mengajak orang lain untuk melihat dunia sebagaimana seniman melihatnya.
Itulah sebabnya mengapa kita selalu melihat keindahan seni pada karya anak-anak yang lugu.
Anak-anak tidak menawarkan kita ide-ide ataupun gambaran kreatif,
tidak pula tenggelam dalam keburukan.
Mereka berusaha untuk menyatakan dunia seperti apa yang mereka lihat, dan berbagi apa yang mereka rasakan.
Sesuatu yang ada pada kenikmatan kreatif murni anak-anak,
hidup dalam setiap karya seni sejati.
Tapi kreativitas tidaklah cukup, dan keterampilan sejati dari sang seniman adalah
memperlihatkan kenyataan dibawah terang "sang ideal", dan kemudian mewujudkannya.
Inilah pencapaian Michelangelo dalam karya agungnya "David".
Tapi ketika kita menyaksikan salinan cetak beton "David",
mungkin sebagai bagian dari penataan taman,
mereka sama sekali tidak terlihat indah
karena tidak memiliki unsur penting dari kreativitas.
Diskusi yang saya lakukan kini tiba pada sesuatu yang berbahaya.
Dalam budaya demokratik kita, Orang berpikir hal ini bersifat mengancam,
mengadili selera orang.
Beberapa bahkan "menyerang" dengan bujukan
beda, antara selera yang baik dan selera buruk,
atau seberapa pentingkah apa yang anda lihat, baca atau dengarkan.
Tapi semua itu tidak membantu siapa pun.
Ada takaran keindahan, yang mengakar kuat di dalam diri manusia
kita perlu mecarinya dan membangunya dalam kehidupan kita.
Barangkali orang kehilangan kepercayaan terhadap "keindahan",
sebab mereka kehilangan kepercayaan terhadap "sang ideal",
atau dengan pasrahnya manusia pada keinginan naluri.
Tak ada nilai-nilai di luar segala yang "berguna" ?,
sesuatu yang bernilai, selalu memiliki "kegunaan".
Lalu apa gunanya "keindahan"?
"Semua seni pada umumnya tidak berguna" tulis Oscar Wilde ,
ia menunjukkan hal itu sebagai pujian.
Bagi Wilde, "keindahan" memiliki nilai lebih tinggi dari "kegunaan".
Orang membutuhkan hal-hal yang tak berguna,
sebanyak atau lebih, mereka membutuhkan hal-hal yang berguna.
Coba pikirkan: apa gunanya cinta?
Persahabatan? Pengabdian?
Nyatanya, Tidak ada.
Sama juga dengan keindahan.
Masyarakat konsumeristik kita berpikir tentang kegunaan sebagai yang utama,
dan "keindahan" tidak lebih dari efek samping.
Ketika "keindahan" menjadi tak berguna, tidaklah peting apa yang kita baca, lihat, dan apa yang kita dengar.
Kita dibanjiri pesan-pesan dari segala penjuru,
keinginan naluriah digoda, tanpa pandang bulu.
Dan ini salah satu penyebab "keindahan" lenyap dari dunia kita.
Raih dan hamburkan, kita hidup dalam kesia-siaan
membuang-buang energi kita.
Dalam budaya kita kini, propaganda lebih penting daripada karya seni itu sendiri,
dan karya seni selalu berusaha menarik perhatian kita persis seperti yang dilakukan iklan,
dengan jadi kasar atau memalukan, seperti tengkorak platina bertatahkan batu berlian,
No comments yet. Be the first to leave one.