The first 200 lines.
- Bu, biar kubantu. - Aku hampir sampai.
- Hati-hati. - Terima kasih.
- Hati-hati. - Terima kasih.
- Sampai jumpa. - Ya.
Pengacara Min, ini tentang kasus Bu Lee.
Kamu hanya membutuhkan daftar panggilan istrinya
dan pernyataan dari pihak asuransi yang baru dia daftarkan?
Kamu memerlukan hal lain?
Pengacara Min.
Pengacara Min?
Ya?
Beri tahu aku jika kamu membutuhkan berkas lain, ya.
Ya, terima kasih.
Sama-sama.
Pikiranku tidak boleh terkontaminasi.
Seharusnya aku hanya memikirkan orang-orang cantik.
Jika dipikirkan, anak sulunglah yang biasanya
membesarkan adik-adik mereka, bukan orang tuanya.
Haruskah kamu memandang rendah dia
hanya karena kamu membayar sedikit biaya kuliahnya?
Haruskah kamu menunjukkannya?
Tidak bisa diam-diam saja?
Untuk apa aku menutupi hal yang kulakukan?
Tidak, aku akan memberi tahu semua orang.
Semua orang harus mendengarnya.
Baiklah, bukan hanya kamu yang bisa memandang rendah orang.
Kamu tahu siapa yang membesarkanmu sampai sekarang?
Jika memikirkan semua jasa ibu,
kamu tidak berhak bilang apa-apa setelah memberi sedikit nafkah.
Beraninya kamu memandang rendah dia!
Astaga.
Kenapa Ibu membuangnya?
Aku bekerja di toserba, toko roti,
sebagai pelayan, memotong daging, dan menyajikan makanan pendamping
agar bisa menyiapkan makanan itu. Kenapa Ibu membuangnya?
Berandal.
Beraninya dia melawanku tanpa mengalah.
Dia tidak menyadari pengorbananku untuk membesarkannya?
Kakak tidak membuka toko. Kakak sedang apa?
Kepala kakak pening.
Astaga, aneh jika Kakak tidak sakit.
Kakak berteriak kencang sepagi itu.
Kenapa Kakak melakukan itu?
Kakak tidak akan menemukan gadis seperti Go Ya di mana pun.
Hentikan.
Setidaknya Kakak harus bersikap baik kepadanya karena dia berusaha keras
menafkahi Go Bong yang kekanak-kanakan
dan Go Woon yang sakit.
Kini Kakak sudah keterlaluan.
Hentikan.
Sejujurnya, belum setahun
sejak Kakak mulai bekerja lagi.
Kakak tidak sadar siapa yang menafkahi keluarga ini
selama 10 tahun terakhir saat kondisi Kakak buruk?
Apakah Go Bong? Go Woon?
- Bukan, tapi putri Kakak, Go Ya. - Kakak bilang hentikan.
Aku hendak berhenti.
Astaga.
Astaga, lihat sikapnya.
Pak Bang dan teman-temanku
mungkin sedang bersenang-senang sambil menyanyi sekarang.
Astaga, aku sungguh ingin menghadiri kelas menyanyiku.
Ini semua karena dia.
Choi Go Bong ada di sini?
Siapa?
Maksudku Choi Mi Mi. Dia di mana?
Pelatih Mi Mi?
Dia menghadiri lokakarya selama dua hari.
- Lokakarya? - Ya.
Go Bong sungguh menghadiri lokakarya.
Sungguh? Kamu yakin?
Ya, aku menanyakannya berkali-kali.
Baiklah, maaf kamu harus jauh-jauh ke sana.
Seharusnya aku pergi sendiri, tapi ada pekerjaan.
Omong-omong, Go Bong membuat masalah lagi?
- Kamu baik-baik saja? - Apa?
- Ya. - Baiklah kalau begitu.
Bukan apa-apa.
Jantungku kenapa?
Berdebar begitu cepat.
Permisi... Astaga.
Ini.
Aku mengukir nama kita di sini.
Berikan tanganmu.
Hai, Hye Eun.
Eun Seok, aku harus bagaimana?
- Ada apa? - Kakiku lemas.
Aku tidak bisa berjalan.
Apa?
"Kelas Memasak Jang Ok Ja"
Seperti adegan dalam film.
Di malam hari. Seorang wanita sedang berjalan.
Sebuah motor akan menabraknya,
lalu seorang pria menarik lengannya dan menjauhkannya dari bahaya.
Wanita itu berakhir di pelukannya.
"Astaga." Jantungnya berhenti berdetak.
Tentu saja kakiku lemas.
Jantungku berdebar cepat. Kupikir dadaku mau meledak.
Tidak, bukan hanya jantungku.
Hatiku, perutku, otakku, paru-paruku juga mau meledak.
Jadi, kamu meminta Kak Eun Seok datang?
- Karena kamu pasti tidak mau. - Benar.
Tapi seharusnya tidak begitu. Dia sibuk bekerja.
Setidaknya aku tidak memintanya menemaniku ke Daejeon.
Selain itu, berkat aku,
Bibi bisa melihat putra Bibi yang amat Bibi rindukan.
Kamu benar.
- Makanlah yang banyak. - Ya.
Eun Seok, kalungmu ke mana?
Maksudku kalung dengan bandul cincin.
Kamu tidak pernah mengizinkanku melihatnya.
Kamu membuangnya?
Tidak. Itu...
Sejujurnya, aku menghilangkannya.
Kamu menghilangkannya?
Ya.
Syukurlah.
Ibu tidak pernah bilang,
tapi ibu benci melihatmu mengenakan kalung berbandul cincin itu.
Untuk apa kamu mengenakannya?
Karena kamu belum melupakannya.
- Itu tidak ada artinya. - Bagaimana denganmu?
Ada apa denganku?
Kamu masih berhubungan dengan pamanmu.
Itu juga tidak ada artinya?
Kenapa Ibu mengungkit itu?
Sama halnya dengan Eun Seok yang tidak bisa membuang cincin itu,
ibu juga benci kamu masih berhubungan dengannya.
- Dia bukan orang asing. - Kenapa bukan?
Bibimu sudah lama menceraikannya.
Kamu juga masih menemui bibimu?
Ibu tidak akan menerimanya. Kamu tahu, bukan?
Jika begitu,
pikirmu ibu menerima semua perbuatanmu?
Tapi ibu bisa apa?
Kita keluarga. Harus berusaha saling memahami.
Sedang apa kalian? Makanlah.
Supnya asin sekali.
Kamu harus memasak dengan tulus.
Jika tidak menyukai masakanku, Ibu bisa memasak sendiri.
Ibu pikir aku menyukai semua perbuatan Ibu?
Kenapa kamu menatap ibu seperti itu?
Apa?
Itu...
Aku berpikir akan memasak lagi jika terlalu asin.
Lupakan saja. Ibu tidak masalah dengan ini.
Baiklah.
Dia baik kepada orang lain,
tapi jahat sekali kepadaku.
Kenapa dia selalu menyiksaku?
Kami tidak pernah akur. Tidak pernah!
Go Woon, kakak pulang!
Kakak!
Kamu belum makan, bukan?
- Tebak kakak membeli apa? - Apa?
Lihat. Ini kesukaanmu. Daging.
Kakak bekerja keras di restoran steik selama dua hari,
jadi, pemiliknya memberi kakak semua daging ini.
Aku senang sekali. Ibu, ayo makan daging.
Ibu tidak mendengar kami?
Apa-apaan kamu? Kembalikan sendok ibu.
Tunggu sebentar.
Aku akan memanggang daging lezat untuk Ibu.
Kakak, Ibu kenapa?
Ibu agak marah kepada kakak.
Jangan khawatir. Dia akan baik-baik saja.
Tunggu sebentar, ya.
Tidak bisakah Kakak menginap? Ibu akan kecewa.
Lain kali saja.
Apa yang akan kamu lakukan?
Kamu bisa menemui Bibi lagi? Ibu amat membencinya.
Tapi kami tidak bisa menjadi orang asing.
Hati-hati, jangan sampai Ibu tahu.
Omong-omong, bagaimana cincinnya bisa hilang?
Saat di bus.
Seorang wanita tiba-tiba jatuh dan menarik kerah baju kakak.
Kakak rasa kalungnya putus saat itu.
Anggap saja sudah hilang.
Tidak, kakak akan membuangnya jika waktunya tepat.
Kakak tidak bisa kehilangannya seperti ini.
Kakak akan mencarinya.
Kakak belum melupakannya?
Tampaknya semua pria berjuang melupakan wanita.
Selera mereka juga buruk.
Setidaknya seleramu bagus. Untung saja.
Tapi tampaknya aku sudah tidak selihai itu.
- Apa? - Kurasa dia bukan mata duitan.
- Wanita yang menyirammu dengan air? - Ya.
Dia membuatku bingung. Sikapnya tidak tampak seperti mata duitan.
Dia tampak terlalu baik
untuk seorang mata duitan.
- Maksudnya wajahnya? - Bukan.
- Matanya. - Matanya?
Kakak ingat Ayah bilang apa saat kita duduk di pangkuannya?
"Seseorang yang tampak baik dari matanya selalu jujur."
Tentu saja.
Kakak ingat.
Matanya tampak seperti itu.
Tetap saja, kamu tidak bisa menilai dia dari matanya.
Itu masuk akal.
No comments yet. Be the first to leave one.