The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
"Episode 3"
Aku bertanya-tanya kenapa mereka bercerai.
Kenapa kita bercerai?
Karena aku makan kue Nagasaki itu.
Kamu pikir
kita berpisah karena itu?
Ada pasangan yang pernah kukenal.
Wanita itu lebih tua dan prianya lebih muda.
Wanita itu baik,
setia, dan perhatian.
Dia wanita yang baik.
Si pria biasanya selalu menerima.
Tapi suatu hari, mereka berpisah.
Si pria ingin putus lebih dahulu.
Aku bertanya kenapa mereka berpisah.
Mereka pergi ke sebuah pertunjukan.
Tapi si pria mengidap flu yang membuatnya diare.
Jadi, dia terus-menerus pergi ke kamar kecil.
Si wanita terus menanyakan apakah dia baik-baik saja.
Kondisinya kacau, tapi mereka menonton pertunjukan itu.
Hari itu, si pria memutuskan mereka harus putus.
Kamu tahu kenapa mereka putus?
Karena si pria dipermalukan?
Apakah kamu hanya tahu tentang bahagia dan dipermalukan?
Lalu apa?
Sudah kuduga.
Kamu tidak bisa merasakannya.
Bagaimana aku harus menjelaskannya kepadamu?
Seperti itulah putus.
Sulit dijelaskan,
tapi kamu merasakannya.
Dia buang air besar dan memutuskan untuk berpisah.
Bagaimana aku harus merasakan itu?
Sungguh.
"Walaupun jantung berhenti berdetak"
"Tentu itu tidak akan menyakitkan seperti ini"
"Lakukanlah sesuatu"
"Tolong sembuhkan aku"
"Atau jantungku akan hancur"
"Seakan-akan aku ditembak pistol"
- "Jantungku sakit" - Apa yang dia katakan?
Permen karet? Pistol?
"Seakan-akan aku ditembak pistol"
Aku pernah merasa seperti ini sebelumnya.
Suatu kali, aku tidak bisa buang air besar
selama dua pekan.
Aku merasa tertekan dan jijik.
Sekeras apa pun upayaku, tidak ada yang keluar.
Aku memutuskan untuk melupakan dan mengabaikannya,
tapi kemudian aku mencobanya lagi.
Itu bisa membuat orang menjadi gila secara perlahan.
Lalu ketika akhirnya berhasil...
Jadi...
Rasa pencapaian! Ya, itu dia!
Begitulah perasaanku saat meninggalkan pengadilan.
Terima kasih.
Jika bercerai karena marah,
mungkin kamu akan menyesal nanti.
Mungkin dia tidak bisa memahami situasinya lewat pesan teks.
Pesan teks itu?
Bisakah kamu pulang lebih awal hari ini?
Kita kedatangan tamu...
"Bisakah kamu pulang lebih awal hari ini? Kita kedatangan tamu..."
Maaf, apakah kamu punya lipstik merah?
Ada apa?
Maaf.
- Maaf. - Tidak.
Tidak. Maaf.
Bukan itu.
Aku baik-baik saja.
Aku hanya takut.
Apakah tanaman di balkon baik-baik saja?
Bawa masuk.
Aku yang membahas tentang perceraian lebih dahulu.
Aku yakin dia setuju karena tidak punya pilihan.
Tapi saat aku pulang,
dia mungkin menanyakannya,
seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Dia pakarnya bimbang.
Mungkin dia menangis.
Ini sangat menyedihkan.
Kamu akan bercerai?
Dia menceraikanmu?
Begini...
Ya.
"Ya"
Matahari bersinar dengan cerah dan indah di luar.
Tapi begitu kamu membawanya pulang,
semua bunga dan tanaman mati.
Menurutmu apa arti keluarga?
Aku memahami perasaan ini.
Aku bersinar dengan cerah dan indah di luar,
tapi begitu pulang, aku menjadi penyihir yang jahat.
Tidak. Aku tidak marah.
Maaf. Maafkan aku.
Halo.
Apa?
Halo.
Semalam. Istri.
Kamu tidak ingat. Baiklah.
Permisi.
Aku lupa
- kodenya. - Apa?
Apakah kamu punya cara untuk memotongnya?
Kamu lupa kodenya, atau apakah seseorang
menggantinya?
Entahlah.
Berapa kodenya?
0, 0, 0,
dan 0.
Apa?
Itu kode standar.
Mana mungkin kamu melupakan itu?
- Aku tahu. - Jadi, seseorang menggantinya.
Siapa orangnya?
Mungkin untuk mempermainkanmu.
Apa kamu melakukan sesuatu yang jahat?
Tampaknya seperti pembalasan yang dilakukan wanita.
Biasanya aku tidak menguncinya.
Mungkin seseorang sengaja menguncinya.
Aku bertanya-tanya kenapa?
Mungkin itu berarti jangan pergi ke mana-mana.
Benar.
Aku mengubah digit terakhir
menjadi satu.
Ini.
Bagaimana keadaan ayah Hwi Roo? Dia baik-baik saja?
Kamu tidak pergi menemuinya?
Dia baik-baik saja.
Tapi Nenek tidak bermain curling hari ini?
Apa gunanya tanpa Hwi Roo?
Tidak menyenangkan sendirian.
Ini.
Sudah berapa lama kamu menikah?
Tiga bulan.
Belum lama.
Apakah kalian akur?
Apakah kamu langsung pulang
dan tidak melakukan sesuatu yang buruk?
- Ini lezat. - Apa?
- Kamu ingin mencobanya? - Tidak.
Apakah kamu melakukan sesuatu yang buruk? Bagaimana?
Apa?
Terkadang aku pergi memancing.
Tidak, bukan itu.
Apakah sesuatu yang dilakukan di dalam ruangan?
Ya.
Benar. Kurasa begitu.
Tapi aku tidak suka gim.
Di mana kamu bertemu dengan istrimu?
Itu dia.
- Hei. - Hai.
Coba ini.
- Enak sekali. - Enak, bukan?
Ya.
Ini
kedai neneknya.
- Suk Moo. - Baik.
Sung Moo.
Suk. "Suk", yang berarti "batu".
Bagaimana dengan "Moo"?
Artinya "bukan apa-apa, kekosongan".
Maaf. Aku tidak tahu.
Dahulu, ayahku
terobsesi dengan kesia-siaan hidup.
Dahulu dia berencana menjadi biksu Buddha.
Tapi lalu dia punya aku.
Aku tidak tahu kenapa seseorang yang ingin menjadi biksu
punya anak, tapi...
Dia penganut Katholik, jadi, aku tidak tahu
kenapa dia ingin menjadi biksu Buddha.
Dia bahkan pandai bermain piano.
Kenapa kamu tidak memberitahuku bahwa kamu sudah menikah?
Itu rahasia.
Dia tidak ingin orang-orang tahu.
Apa?
Ada apa dengannya?
Maksudku...
Apakah kamu baik-baik saja waktu itu?
Kamu memperkenalkannya kepadaku sebagai suamimu.
Ya. Aku menguji dia.
Sebenarnya adalah...
- Aku pernah melihat dia... - Bagaimana dengan istrimu?
Perkenalkan dia kepadaku.
Akan menyenangkan menikmati kencan ganda.
Maaf. Kedai kami sudah tutup.
Kamu tidak menjual alkohol di sini?
Haruskah aku menelepon polisi atau kakakku?
Kakakmu tidak ada di rumah.
Dia pulang.
- Kamu tahu? - Tentu saja.
Dia tidak mungkin pergi sejauh itu
karena batu saluran kemih Ayah saja.
Terutama dengan semua barangnya.
Jadi, aku mengomelinya, dan dia mengaku
bahwa dia bercerai.
Begini.. Masalahnya adalah...
Kue Nagasaki?
No comments yet. Be the first to leave one.