The first 200 lines.
Pak Gu, akhir-akhir ini kau begitu memperhatikan Shuangjiao.
Tidak.
Tapi belakangan ini kau sering membicarakan dia.
Di acara, Nona Wang juga mengatakan,
"Jika kau menyukai seseorang, di matamu hanya ada dia."
Kurasa kau menyukai Shi Shuangjiao.
Yang benar saja?
Siapa yang percaya?
- Tepat sasaran. - Apanya?
Menurut Nona Wang kemarin, "Semakin kau terburu-buru menyangkal,
artinya kau sudah jatuh ke dalamnya."
Aku gila kalau sampai menyukainya.
Apa kelebihan Shi Shuangjiao? Katakan padaku.
Tanyakan dirimu sendiri. Kau yang memperhatikan dia.
Kurasa dia kerja di sini dengan tujuan lain.
Aku mengawasinya setiap hari untuk melihat kesalahannya.
Agar aku bisa memecatnya.
Begitukah?
Ya.
Kau begitu ingin memecatku?
Aku sangat miskin,
juga cinta uang.
Mungkin bagimu, aku tak suka kebersihan
dan ceroboh.
Aku juga ingin hidup bermartabat seperti kalian.
Aku bekerja keras dengan caraku sendiri.
Kenapa kau tetap ingin memecatku dan mencari masalah denganku?
Maaf.
Aku permisi.
Shuangjiao,
aku tak sungguh ingin memecatmu.
Shuangjiao?
Kenapa pulang cepat hari ini?
- Kami hanya siapkan tiga. - Benar.
Tak bisa digunakan lagi ketika Junjie pulang.
Kalian sedang apa?
Merayakan selesainya ujian masuk Junjie.
Aku membantu Paman dulu.
Shuangjiao.
Matamu kenapa?
Tidak apa-apa.
Mungkin tadi kemasukan konfeti.
Apa sudah baikan?
Sudah, terima kasih.
- Shuangjiao. - Ya?
Cepat kemari membantu.
- Baik. - Ambil mangkuk dan sumpit.
Maaf.
Aku pulang.
- Junjie pulang. - Sudah pulang.
Junjie, pinjam jas dari mana?
Cocok sekali denganmu.
Lihatlah.
Dalam sekejap Junjie sudah menjadi orang dewasa.
Aku memang sudah dewasa.
Lihat betapa tampannya Junjie.
- Bersulang. - Bersulang.
Dunia orang dewasa yang indah, akhirnya terbuka untukmu.
Ambillah kesempatan yang ada.
- Ayo makan. - Pasti.
Junjie.
- Ayo, makanlah. - Makan ayam ini.
Ini.
- Terima kasih. - Makan banyak telur.
Zhu Yan, terima kasih sudah mengajariku.
Aku gila kalau sampai menyukainya.
Apa kelebihan Shi Shuangjiao? Katakan padaku.
Aku mengawasinya setiap hari untuk melihat kesalahannya.
Agar aku bisa memecatnya.
Ayah, aku boleh minum hari ini?
- Boleh. - Hei.
- Sungguh? - Memikirkan apa?
- Tentu boleh. - Tidak ada.
Aku tak ada masalah.
- Ayo. - Makanlah.
Aku sangat miskin,
juga cinta uang.
Mungkin bagimu, aku tak suka kebersihan
dan ceroboh.
Namun, aku mencari nafkah dengan usaha sendiri.
Aku juga ingin hidup bermartabat seperti kalian.
Aku bekerja keras dengan caraku sendiri.
Kenapa kau tetap ingin memecatku dan mencari masalah denganku?
Pak Gu.
Sudah malam.
Aku antar kau pulang.
DIVISI PEMBERSIHAN MANUAL
Shuangjiao sudah pulang.
Sebenarnya, aku ingin tanya.
Kau serius soal omonganmu kepadanya tadi?
Serius atau tidak, tak penting, 'kan?
- Aku masih bisa minum. - Hati-hati.
- Hati-hati. - Aku tak pernah mabuk.
- Letakkan di sana, aku saja. - Bisa?
Aku pulang duluan.
- Aku masih harus rapat besok pagi. - Hubungi aku setibanya di rumah.
Tenanglah.
- Dah. - Aku pergi.
Hei.
Cepat bantu dia.
Zhu Yan, biar aku antar.
- Tidak perlu. - Ayo, aku antar.
Kami pergi.
Hati-hati.
Aku saja.
Tidak perlu, aku bisa selesaikan sendiri.
Kau tetaplah tamu.
Aku baru makan, mau olahraga.
- Aku buang sampah saja. - Baik.
Cepat. Aku hampir tertinggal bus terakhir.
Lihat, apa itu?
Zhu Yan, kau penakut sekali.
Beraninya menakutiku!
Dasar nakal.
Kau!
Kau!
Berhenti.
Anak nakal,
sejak kapan kau tumbuh begitu tinggi.
Karena aku sudah dewasa.
Leherku sampai lelah melihatmu.
Aku pergi, tak mau melihatmu lagi.
Hei, lihatlah aku lagi.
- Tidak mau. - Lihatlah lagi.
Begini masih lelah?
Jangan marah.
Usap kepalaku.
Aku…
Aku takkan membuatmu lelah.
Selamanya.
Jangan berisik.
Zhu Yan.
- Sudahlah - Lihatlah aku.
Zhu Yan.
- Sudahlah. - Lihatlah aku.
LAPORAN MINGGUAN
SHI SHUANGJIAO, PERINGKAT TOTAL: 1
Shuangjiao sungguh rajin.
Apa harus kujelaskan kepadanya?
Sudahlah. Masalah ini harus dijelaskan langsung.
Jangan sentuh!
Jangan sentuh.
Kenapa?
Sebelumnya halaman berapa?
Bukan di sini.
Apa buku ini begitu penting?
Ini buku yang belum selesai dibaca ibuku.
Maaf.
Seharusnya aku tak menyentuh barangmu.
Bukan salahmu.
Yang salah adalah aku dan adikku.
Saat kecil, kami berdua sangat nakal.
Di rumah tak bisa tenang, semuanya berantakan.
Jadi, ibuku tak pernah selesai membaca buku.
Buku yang tak selesai dibaca, diletakkan di mana-mana.
Aku bisa membayangkan situasi itu.
Ibuku adalah manusia super.
Membesarkan kami, dua bocah super nakal,
sangatlah sulit.
Lalu aku
tak membiarkannya membaca
satu buku pun sampai selesai dengan tenang.
Pantas saat terjun di masyarakat,
aku selalu ditolak
dan tak disukai.
Rupanya kau murung hari ini
karena pekerjaan.
Shuangjiao.
Dalam pekerjaan, pasti akan menemui kegagalan.
Jangan meremehkan dirimu sendiri.
Jika kau tak berguna,
mana mungkin Junjie lulus ujian?
Kau lihat Paman dan Junjie begitu senang hari ini.
Benar.
Hari ini bahagia sekali.
Tapi aku…
tak pernah ingin menuai tanpa menabur.
Aku ingin dapat uang dengan usahaku sendiri.
Lalu merawat keluargaku.
Apa begini juga salah?
Tidak salah.
Lalu kenapa dia ingin memecatku?
Ini bukan kesalahanmu.
Jika kau masih berpikir begitu,
ibumu pasti akan sedih.
Dia pasti berharap kau bahagia setiap hari.
Shuangjiao,
sebenarnya aku…
Kau tak apa-apa, 'kan?
Tapi Lu Xian, kurasa perkataanmu benar.
Kalau ibuku melihatku begini,
dia pasti merasa aku menyedihkan.
Buah jatuh dekat pohonnya.
Gu Renqi, aku bukan tokoh yang bisa ditindas.
Kau berani menghina karakterku?
Akan kubuat kau tahu kehebatanku.
Baiklah, aku bisa kembali untuk tidur.
Selamat malam.
Mulai besok,
aku akan melawan pimpinan kejam itu hingga akhir.
No comments yet. Be the first to leave one.