The first 200 lines.
Shen Yue sebagai Dong Shan-cai
Dylan Wang sebagai Dao Ming-si
Darren Chen sebagai Hua Ze-lei
Liang Jing-kang sebagai Feng Mei-zuo
Wu Xi-ze sebagai Xi-men Yan
Pagi, Nona./ Pagi, Paman Lu.
Kamu.../ Aku buru-buru mau ke perpustakaan kampus untuk persiapan wisuda.
Aku pergi.
Paman Lu, ada yang ingin aku tanyakan padamu./ Tanyalah.
Semalam saat aku pulang, apakah terjadi sesuatu yang tak benar?
Semalam kamu pulang dengan digotong 2 orang.
Kamu terlihat sangat gembira sampai jingkrak-jingkrak.
Kubawakan handuk untuk lap wajahmu. Tapi kamu ambil handuknya dan joget kembali.
Aku sudah tua, tak tahu jogetmu semalam itu yang sedang populer sekarang bukan.
Sudah…hentikan. Aku sudah tahu, Paman Lu. Aku pergi.
Halo, Mei-zuo.
Aku ingin tanya padamu, apa kamu tahu apa yang terjadi semalam?
Dia pacarku di suatu liburan? Sungguh aku bilang begitu?
Ya. Kamu juga bilang kamu dan Terrence itu saling menyukai, kalian.../ Berhenti.
Ini pun kuceritakan?
Di depannya lagi?
Aku sungguh memalukan. Gila aku.
Kenapa? Kamu sangat peduli pada hal ini?
Sebenarnya biasa saja.
Kamu juga bilang bahwa setelah itu kamu menyesal.
Hari berikutnya segera menyuruhnya pergi.
Kakak Cai-na, siapa paman yang bernama Terrence itu?
Namanya saja aku tak tahu.
Dia teman yang kukenal saat wisata ke Yunnan.
Jika kamu hanya sebatas teman dengannya berarti aku masih boleh menaksirnya, benar?
Kamu bahkan tak tanya namanya? Berarti pertanda kamu tak tertarik padanya.
Tentu. Aku hanya merasa mengasyikkan.
Kenapa kamu tertawa?
Aku serius tanya padamu.
Semalam kamu dan dia bersama-sama mengantarku pulang?
Mengapa paginya aku bangun, lihat. Wajah jadi memar. Seluruh badan sakit.
Apa yang terjadi semalam?/ Ini...
Minum. Tak mau pulang...
Paman, aku yang mengajak Cai-na. Harusnya aku yang mengantarnya pulang.
Kamu tahu rumahnya?/ Dia akan memberitahuku.
Dia sudah mabuk seperti ini, mana bisa memberitahumu.
Aku yang membawanya kemari./ Lalu kenapa?
Kamu bisa memapahnya dengan baik tidak?/ Kamu yang duluan lepas tangan.
Kamu./ Jelas-jelas kamu.
Jangan ribut. Ayo cepat./ Sebenarnya kamu tahu tidak di mana rumahnya.
Tak tahu./ Lalu kamu mau bawa dia ke mana?
Karena semalam kamu ribut tak mau pulang. Aku seorang diri juga tak mampu menarikmu.
Berhenti. Jangan bicara lagi. Masih adakah hal bodoh lainnya yang kuperbuat?
Kujamin, aku yang bodoh sudah menceritakan semuanya.
Sudah kubilang, aku tak boleh minum bir.
Lihat pagi ini aku bangun, seluruh badanku masih bau bir.
Ya Tuhan, setiap saat kamu bawa parfum Chanel.
Ini kupersiapkan untuk Kakak Cai-na.
Mulai sekarang kamu harus ingatkan aku jangan minum bir.
Sebenarnya kejadian semalam menyenangkan juga.
Lihat.
Kakak Zhang, kamu baik-baik saja?/ Ya.
Aku pilek, sedikit parah. Aku takut kamu tertular.
Wajahmu terlihat tidak fit.
Lekas istirahat. Yang di sini serahkan padaku./ Mana boleh? Kamu punya tugasmu sendiri.
Dan hari ini kamu harus ke kampus./ Tak apa, kelasku mulai jam 9. Masih sempat.
Tapi kamu belum sarapan./ Belakangan ini aku sedang diet.
Sudah, jangan khawatir. Kesehatan lebih penting. Pergilah.
Shan-cai, kamu sungguh baik.
Kamu jelas pacarnya Dao Ming-si, tapi bersiteguh mengerjakan ini.
Kakak Zhang, kita sama. Saling menolong sudah seharusnya. Pergilah.
Lihat.
Anak-anak, kita mulai pelajaran kita.
Aku sudah baca sebagian makalah kalian. Kurang memuaskan.
Sudah satu semester.
Apakah ada yang bisa beritahu aku secara sederhana tentang inti pelajaran ini?
Pak, inti dalam mengelola pemasaran adalah saling menukar.
Saudara Dao Ming-si, bagus./ Memang.
Pak, jika bapak baca habis semua makalah secara serius,
...akan mengetahui bahwa kelas ini penuh dengan siswa unggul.
Baik... Pelajaran kita dimulai.
Aneh, dulu dia jarang berinteraksi dengan pak dosen.
Hari ini kenapa mendadak jadi maju seperti itu?
Ini pertama kalinya.
Si srigala berubah jadi domba yang patuh.
Kekuatan cinta sungguh besar dan mulia.
Aku jadi khawatir untuk Qing-he.
Dilihat dari mimik pak dosen, kemungkinan harapannya tak besar.
Bukan harapan tak besar, tapi tak ada harapan.
Chen Qing-he, jika kamu tidak kuliah dengan baik berarti kamu sedang menyia-nyiakan hidupmu.
Tapi Shan-cai, tadi penampilanmu sangat baik. Kamu menghadapinya dengan baik.
Pasti tak masalah./ Tadi aku tegang sekali. Aku...
Dong Shan-cai, kamu punya pacar hebat, bisa sambil mengajarimu,
...tentu saja kamu cukup persiapan./ Apa maksudmu?
Lihat, Dao Ming-si dan Dong Shan-cai sedang pacaran.
Kenapa kamu pura-pura tak tahu?
Benar, kami memang sedang pacaran, dan berjalan sangat lancar.
Terima kasih atas perhatian kalian./ Kamu...
Ayo./ Tak apa, Shan-cai. Tak usah hiraukan mereka.
Shan-cai! Sungguh kalian sedang pacaran?
Kesal aku./ Shan-cai.
Kenapa hari ini aku sial sekali?
Dao Ming-si, apa maksud dengan postinganmu itu?
Yang mana?/ Yang pacaran itu.
Apa ada masalah? Yang kukatakan itu kenyataan,'kan?
Bisa dikatakan begitu./ Jika iya, kenapa kamu keberatan?
Ini bukan hal yang perlu dihebohkan dan disebarkan.
Kenapa tidak? Aku sudah punya pacar. Sudah lama aku suka padanya.
Kini akhirnya dia rela menerimaku.
Yang terpenting, saat ini belum ada rival.
Sekarang tiap hari aku sangat bahagia baik jasmani maupun rohani.
Peningkatanku sangat jelas. Bahkan tadi pak dosen pun memujiku.
Dosen yang tingkat ketidak lulusannya 60 persen itu? Mana mungkin.
Tak ada yang mustahil. Jika aku senang, tak ada yang mustahil.
Yang agak bodoh itu kamu./ Kamu yang bodoh! Tadi aku ujian juga langsung lulus.
Harusnya itu jasaku. Kamu lupa siapa yang mengorbankan waktu tidur untuk mengajarimu.
Ayo kita pergi dari sini.
Benar... Terima kasih.
Tapi aku juga banyak membantumu dalam teori masyarakat dan pemasaranmu itu.
Aku ingin berterima kasih padamu. Siapa tahu begitu kamu datang,
...langsung menyalahkanku menyebarkan hubungan kita sebagai pacar.
Maaf./ Kalau minta maaf berguna lalu apa gunanya polisi.
Lalu apa maumu?/ Kencan denganku.
Kenapa tertawa? Kalian mau ikut bersama?
Dao Ming-si, setelah lulus, kamu akan ke mana?
Aku kira kamu tak peduli dengan soal ini.
Setelah lulus, mungkin akan balik ke London.
Balik ke London? Liburan?
Tentu bukan. Aku pergi membantu bisnis keluargaku.
Kamu akan pulang lagi?
Jika aku tak pulang lagi, kamu akan sedih?
Tentu aku akan sedih. Akan sulit bertemu denganmu lagi.
Atau memohonlah padaku.
Bisa kupertimbangkan untuk tinggal di Shanghai demi kamu.
Sungguh? Jika aku memohonmu maka kamu akan tinggal?
Kamu mau mohon atau tidak? Memohon kepadaku bisa membuatmu mati?
Tidak mungkin mati. Tapi jika kamu sendiri ingin tinggal, ya tinggal.
Buat apa aku harus memohon kepadamu?/ Dasar gadis tengik.
Kenapa begitu bodoh? Harus aku yang mengatakan semuanya.
Kamu yang bodoh. Memang kamu ingin aku bilang apa?
Kamu bisa bilang, bisakah jangan ke London?
Bisakah kuliah pasca sarjana di sini demi aku?
Tunggulah aku hingga lulus. Bisakah menungguku? Setelah lulus kita tetap bersama.
Kamu tak bisa mengatakan semua ini?
Sungguh? Kamu akan kuliah pasca sarjana di sini demi aku? Mau tunggu aku lulus bersama?
Dao Ming-si./ Kenapa?
Aku bahagia sekali.
Melihatmu tersenyum bahagia, aku juga bahagia sekali.
Dasar bodoh.
Kenapa kamu di sini?
Menunggumu.
Menungguku?/ Kamu tak ada urusan lain,'kan?
Aku...ada. Aku janjian dengan Mei-zuo untuk pergi kencan.
Kencan? Lalu mengapa kamu berjalan ke arah rumah?
Aku sudah di tengah jalan. Tengah jalan baru sadar ada yang ketinggalan.
Jadi aku balik lagi.
Lalu aku bisa pergi lagi.
Aku bukan polisi, juga tak sedang menginterogasi.
Buat apa menjelaskan sebanyak ini?
Aku.../ Ada yang ingin kubicarakan.
Lain kali saja. Aku sedang buru-buru. Mei-zuo sedang menungguku.
Kalau begitu kuantar./ Tapi…
Jangan tapi lagi. Katamu sedang buru-buru. Lagipula aku dan Mei-zuo sudah kenalan.
Halo!/ Halo, Mei-zuo. Kamu di mana?
Aku sedang di rumah teman./ Bisakah kamu kemari sebentar?
Aku membutuhkanmu./ Baik, segera.
Teman-teman, aku ada urusan, pergi dulu.
Kita semua baru sampai. Memang kamu ada urusan apa.
Urusan penting.
Mari makan buah.
Shan-cai masih tinggal di sini?/ Dia tak tinggal di sini, lalu harus tinggal di mana?
Maksudku dia sanggup menahan tekanan dari ibumu?
Dia sungguh pemberani.
Sungguh. Begitu sebut nama ibunya, aku langsung merinding.
Apa ibunya semenakutkan itu?
Berkat dia, sudah banyak saingan bisnisnya yang dibuat bangkrut hingga tak punya tempat tinggal.
Saat dia melihat orang yang tak disukainya, maka dia akan menghabisinya dengan berbagai cara.
Kalian masih bilang.
Kamu masih berani lagi mengatakannya sebagai nenek busuk.
Aku.. Apakah aku berkata demikian?
Kenapa aku tak ingat?
Kami semua mendengarnya.
Jangan karena aku masih muda maka bisa menindasku, nenek busuk.
Kamu bilang apa? Bilang sekali lagi.
Nenek busuk. Aku mengataimu, kenapa?
Duniaku tak menyambutmu. Keluar.
Mohon Anda keluar.
Nanti dia pulang dan mendapatkan orang yang sedang mengumpatnya tinggal di rumahnya,
...bahkan sedang pacaran dengan anaknya. Tebaklah apa yang akan dilakukannya?
A Si, apa rencanamu?/ Dia ibuku. Aku tak bisa berbuat apa-apa padanya.
Tapi jika dia berani mengancam Shan-cai, aku akan melindungi Shan-cai di hadapannya.
Lagipula, ibuku setahun hanya pulang berapa kali.
Sebelum dia pulang, pasti sudah kutemukan solusinya.
Mei-zuo, kenapa lama sekali sampainya?/ Kakak begitu kangen padaku?
Dengar, nanti saat kita ke bar itu, kita harus berpura-pura sangat akrab.
Lalu kamu harus bilang sebelumnya kita sudah janjian tapi tertunda karena ada urusan. Paham?
Bilang ke siapa?/ Paman yang kemarin itu.
Dia lagi? Mengapa?
Sudah, jangan tanya lagi. Ayo cepat kita pergi. Nanti kuceritakan.
Maaf ya tadi ada urusan, jadinya terlambat.
Tak apa.
Kencan juga terlambat. Pacarmu ini sungguh memenuhi syarat.
Siapa bilang? Aku sangat menghargai wanita. Tak pernah terlambat.
Lalu mengapa hari ini pengecualian?/ Hari ini...
Hari ini karena aku...
No comments yet. Be the first to leave one.