The first 200 lines.
Ya, Ibu. Kenapa jam segini meneleponku?
Apa? Serius?
Kau sudah datang?/ Belum lahir?
Dingin 'kan cuacanya?
Belum lama tadi, dia sudah masuk.
Sebentar lagi lahir anaknya.
Bayi NY. Lee Eun Sol sudah lahir.
Senang bertemu denganmu.
Senang sekali aku bertemu kau.
Kau rupanya.
Pasti susah datang ke dunia ini.
Laki-laki. Dia laki-laki.
Ayah, matamu...
Kenapa.../ Apaan ini?
Kau menangis?
Bicara apa kau?
Siapa yang menangis?
Dasar.
Ibuku sudah jadi nenek sekarang.
Ya. Ibu sudah jadi nenek
Sungguh hal baik...
...bisa punya anggota keluarga baru.
Memang hal baik.
Inilah hadiah terbesar yang bisa kau dapatkan dalam hidup.
Ibu.
Kami akan bercerai.
Kami rasa keputusan kami ini, hadiah yang tak sebanding dengan ini.
Kenapa Ibu tak bilang apa-apa?
Apa Ibu harus bilang sesuatu?
Kalau kau sudah membulatkan tekad, kau mana pernah mengubah keputusanmu.
Kau juga pasti bergumul berkeputusan seperti ini...,
...dan keputusan itu pun akan menyulitkanmu sesudahnya.
Jadi Ibu bisa bilang apa lagi?
Ibu.
Ibu...
...kenapa tidak menceraikan Ayah saat itu?
Waktu itu aku umur 10 tahun.
Ibu membawa Ji Seok dan aku ke rumah Kakek Nenek dan meninggalkan Ayah.
Kau masih ingat itu?
Kau tidak tahu 'kan kalau Ayah dan Ibu...
...menikah meski orang tua kami sangat menentangnya?
Kami ini bagaikan Romeo dan Juliet.
Apa? Serius?
Kami sangat dimabuk cinta.
Ayahmu dan Ibu...
...berjanji kami akan mati kalau kami tak bisa bersatu.
Saat itu, menikah, berat rasanya.
Tapi setelah beberapa saat...,
...kami bahkan mempertimbangkan untuk berpisah.
Tapi kenapa tidak jadi?
Ibu awalnya berencana menceraikannya...
...tapi Ibu tiba-tiba melihat ayahmu yang sedang tertidur.
Lalu Ibu tiba-tiba teringat akan hari pacaran kami.
Jika Ibu berpisah dengannya...,
...Ibu pasti merindukannya seumur hidup.
Dia pasti akan selamanya bersemayam dalam hati Ibu...,
...dan Ibu pasti sangat merindukannya.
Pria itu.
Begitu Ibu mulai berpikir seperti itu...,
...Ibu putuskan Ibu harus tinggal bersamanya.
Ji Ho.
Semua orang hidup dengan cara yang sama.
Tak ada bedanya.
Namun...,
...menyimpan baik baik saku bintangmu itu hal terpenting.
Itulah yang terpenting.
"Saku bintang"?
Meskipun hidup kita hampir sama...,
...terkadang ada momen yang berkilauan.
Kapan pun itu terjadi, jangan kausia-siakan.
Simpan momen itu di saku bintangmu.
Dengan begitu, bila keadaan menjadi berat, atau kau mulai jenuh...,
...kau bisa mengambil satu bintang dari saku bintang itu...,
...dan mendapatkan kekuatan untuk bertahan.
Karena itulah.
Aku akan bercerai...
...agar aku tidak akan kehilangan bintang itu.
Karena aku ingin saku bintangku dipenuhi oleh bintang yang bersinar.
Kau sudah mulai bicara omong kosong.
Hei, kau sebaiknya jangan kasih tahu ayahmu soal perceraianmu.
Bisa-bisa dia akan menggundulimu...
...dan melemparmu ke ruang bayi yang baru lahir.
Jadi kapan aku bisa memberitahunya?
Mana Ibu tahu?
Kaulah yang urus sendiri.
Dasar bocah. Cerai, katanya?
Sungguh sakit.
Perkataan indah Ibu isinya kalau keluarga itu hadiah.
Tapi rasanya aku malah dimarahi.
Pernikahan itu...
...suatu hal yang bersinar.
Ayo.
Apa?/ Bangunlah. Ayo pergi.
Kau sudah disini?/ Ayo.
Sebentar dulu. Aku masih mengantuk.
Sedang apa kau?
Pernikahan itu...
Padahal tadi sudah kusuruh kau tidur di mobil.
...suatu hal yang membuatmu mengingat lagi kenanganmu walau kau benci pernikahan.
Kami terlalu gampang memutuskan untuk menikah.
Untuk pertama kalinya...,
...aku merasa malu karenanya.
Haruskah kita berjabat tangan?
Semoga berhasil.
Untuk kita berdua.
Karena ini perceraian pertama kita.
Ya.
Semoga berhasil...
...untuk kau juga, Ji Ho-ssi.
Karena hubungan kami bermula dari jabat tangan...,
...maka kurasa untuk mengakhirinya juga harus dengan jabat tangan.
Bagian pertama dari hubungan kami memang pernikahan...,
...tapi aku ingin bagian kedua kami adalah cinta.
[Episode terakhir: Karena ini Kehidupan Pertamaku]
Terima kasih./ Sampai jumpa
Bateraiku sudah habis. Kau ada pengisi daya?
Ada di ruanganku. Nanti kupinjami ke kau.
Asisten Park.
CEO Ma. Lama tak jumpa.
Kabarmu baik?/ Tentu saja.
Astaga. Hidungmu kenapa?
Ini? Aku jatuh waktu mau pulang karena habis minum-minum.
Aigoo.
Oh, sudah datang lift-nya. Ayo.
Oh, iya. Katanya kau sudah dapat dana.
Selamat, ya, CEO Ma.
Ya. Terima kasih.
Tapi...
Aku tidak lihat Asisten Woo.
Asisten Woo?/ Ya.
Dia mengundurkan diri. Kau belum tahu?
Begitu, ya.
Ya. Makanya aku benci kerja sama wanita.
Mereka hanya bekerja sampai mereka menikah.
Mereka tidak tahu tanggung jawab untuk menopang keluarga.
Dinginnya.
Asisten Park. Kita sudah lama tak bertemu...,
...jadi kenapa kita tidak merokok saja?
Haruskah?/ Ya./ Kalian duluan saja.
Kau tidak merokok?/ Ya, aku sudah berhenti.
Aku juga tidak pernah suka merokok sejak awal.
Oh, begitu?
Tetap saja, itu mungkin tidak menguntungkan dalam kehidupan kerjamu.
Percakapan dan sebagainya 'kan lewat merokok.
Percakapan dan kerugian apa?
Maksudmu aku tidak akan menjadi bagian dari...
...percakapan konyolmu selama waktu merokokmu?
Aku juga tahu.
Kau mungkin merasa seolah kau dikenali...
...jika kau bertingkah sok hebat dan membuat lelucon seksual ke orang lain.
Tapi bukankah hal seperti itu harusnya sudah tak dilakukan lagi sedari SMP?
Tidak. Anak SMP zaman sekarang sudah tak begitu lagi...
...karena mereka cukup pintar bisa membedakan mana perbuatan baik dan buruk.
Apa maksudmu?
Sudah datang?
Dia pacarku. Kau mau menyapanya?
Kau keluar lebih cepat rupanya./ Ya.
Aku tadi bicara penting sama Jin Ho ini.
Ya, 'kan?
Oh, begitu? Lama tak jumpa, Jin Ho.
Kau jadi gemukan./ Yang tepat dia kurusan.
Jin Ho, aku ini tiga tahun lebih tua darimu.
Jaga dirimu. Sampai jumpa lagi.
Jaga diri, ya.
Sampai jumpa.
Ini bukan bra berkawat, 'kan?
Ya, tak berkawat.
Boleh kucoba?
Boleh. Lewat sini.
Selamat mencoba.
Cuacanya dingin sekali, kau pasti kedinginan.
Aku Ma Sang Goo. Senang bertemu denganmu.
Kau pasti sering olahraga.
Fighting buatmu, ya.
Akhirnya kita sudah selesai penelitian pemasaran.
Kau sudah bekerja keras.
Tapi masih banyak yang harus kulakukan.
Aku harus mempersiapkan website...
...dan mendiskusikan sampel-nya dengan desainer.
Sampai jumpa./ Ya.
Kau sudah bekerja keras. Oh, dan juga...
...kau jangan lupa makan.
Freelancer itu harus banyak makan.
Oppa.
Kenapa?
Kau mau makan ramyeon di rumahku?
Aku tidak akan mudah tertipu lagi.
Serius?
Assa!
Tidak ada orang yang datang buat melihat-lihat kamar ini.
Nanti kukabari kau kalau ada orang yang mau menyewa kamar ini.
Ya, Ahjummeoni.
Kau kenapa selama beberapa bulan terakhir ini? Mukamu capek sekali.
Pulanglah ke rumah orang tuamu dan makanlah makanan ibumu.
Cepat sembuh, dan kembalilah, ya.
Dah./ Ya. Sampai jumpa.
Kerja bagus.
Anda sudah tinggal di sini selama sekitar tiga tahun, bukan?
Ya.
Rumah Anda bersih sekali.
No comments yet. Be the first to leave one.