The first 200 lines.
Apa yang kau lakukan?
Beraninya kau menodong kamera ke wajahku tanpa persetujuanku?
Apa kau tak punya etika?
Apa yang kau rekam? Berikan padaku.
Itu serratula coronata.
Apa kau tahu makna bunga itu dalam bahasa?
"Kenangan"
Kau tak mengenalku?
Hei!
Oh, kamera!
Hapus semuanya,
Duh.
Permisi, Tn. Gong Ma Sung!
Apa kau barusan sebut namaku?
Ya,
Kau tak ingat padaku?
Apa kau sepenting itu yang harus kuingat?
Segera bersihkan, sekarang juga.
Hei, apa yang terjadi?
Kau sudah gila?
Maaf, sutradara.
Kau tahu betapa mahalnya ini?
Duh!
Kenapa kau selalu menyebabkan masalah?
Sheesh!
Ada apa dengan wanita itu?
Wah, pria yang kau temui di Hainan?
Pria yang mencampakkanmu?
Ya.
Tapi, dia tak mengingatku.
Tentu saja, dia begitu. / Apa maksudmu?
Apa itu masuk akal dia tak ingat padaku padahal sudah menciumku?
Itu bukan Ia tak ingat, Ia cuma tak ingin mengingatmu.
Kau benar-benar sudah berbeda dari dulu.
Hidupmu sudah kacau.
Benar.
Lagipula itu sudah 3 tahun lalu,
Sudahlah.
Kau membantuku menyusun tokoku sebagus ini.
Tapi, aku bahkan tak sanggup bayar sewanya.
Jadi, terima ini, kawan.
Mari anggap ini impas.
Aku akan jual banyak pakaian dan beri kau banyak uang.
Itu tak masalah.
Ambilah.
Sudah kubilang aku tak suka ikan.
Aku kasih banyak lho.
Bukan itu maksudku.
Selamat menikmati.
Dia pasti malu aku ingat padanya.
[Lemari Gi Bbeum: Penjualan Luar Biasa]
[Lemari Gi Bbeum: Penjualan Luar Biasa]
Whoa.
Bukankah dia Gi Bbeum? / Bukankah dia Gi Bbeum?
Wow.
Dia tak sukses seperti dulu lagi.
Benar, menyedihkan.
Ugh!
Kau harus berangkat 10 menit lebih awal beseok.
Ada apa dengan sepatumu?
Aku membuangnya./ Kenapa?
Hei.
Jangan bertanya atau berdebat denganku.
Belikan yang sama persis supaya besok aku tak kebingungan.
Sudah, itu saja.
Baik.
Selamat malam.
Aku ingin tahu kenapa Ia seperti itu lagi.
Ada apa dengan gasnya?
Putus.
Ah.
Apa hari ini kau berlayar?/ Ya.
Kita tak perlu khawatirkan lauk pauk untuk sebulan.
Kau tak takut air lagi?
Aku lebih takut kalau tak menangkap ikan sekarang.
Dimana Sa Rang?
Kurasa Ia pergi menjemput Ayah.
Ah. / Keluar bantu aku.
Apa yang kalian lihat?
Cepat tarik.
Wah, hari ini Ia minum banyak.
Cepat tarik kataku.
Hari ini siapa yang mengantarnya balik?
Entahlah, pria.
1, 2, 3.
Waktunya mendengar puisi.
Hari ini puisi apa?
Uh, aku lagi tak kepingin dengar itu.
Puisi di malam hari.
Kita perlu puisi malam.
Sebelum aku memanggil namamu...
...kau bukanlah siapa-siapa selain sampah.
Di momen aku memanggil namamu...
...aku menginginkan "kegembiraan"
"Kebanggan"
Dan "cinta."
Aku ingin kau berarti bagiku, dan aku berarti bagimu.
Sebuah bintang biru...
...yang menjadi sumber kehidupan.
Seperti itulah.
Seperti itulah, paham?
Duh.
Hei, Joo Sa Rang./ Ow.
Apa ini?
Lepas bajunya sekarang.
Biarkan saja, itu seragam kelas.
Lepaskan sekarang juga.
Lepas itu dan pakai ini.
Tidak mau, baju darimu jelek.
Tapi... lauknya ikan lagi?
Ceritanya panjang.
Apa ini?
Beraninya orang lakukan ini?
Bukan seperti yang kau kira.
Ada pasangan kakek-nenek mengelola toko itu, sepertinya tokonya segera terjual...
...jadi mereka mengobral isi toko mereka.
Toh bukan salah mereka, tak perlu kesal.
Ugh.
Tak perlu kesal.
Apa kau baik-baik saja?
Aku baik-baik saja.
Aku akan mengikatnya disana...
Jadi, mari kita daur ulang.
Ingat mantra ayah? "Mari selamatkan dunia."
Aku ingin tahu apa ayah sudah makan.
[Makan malam: Ikan Gurnard merah panggang]
Kenapa aku harus makan ini malam ini?
[5 September, pukul 8 pagi: Rapat terkait RS Rehabilitasi Anak]
[Pukul 1 siang: Konsultasi dengan Dr. Yoon]
[Sistem limbik sepertinya tak merespon terapinya]
Segera bersihkan semuanya.
Sekarang juga.
Sungguh anugerah bisa melupakan kejadian seperti itu.
[Pukul 5 sore: Selesai kerja dengan damai dan pulang kerumah]
Memakai riasan ditengah malam hanya akan membuat wajahmu membusuk.
Bohong.
Semua artis melakukannya.
Kau akan berakhir sepertiku, bukan seperti mereka.
Ugh!
Dasar.
Apa kau sepenting itu yang pantas diingat?
Siapa wanita itu?
Rapat di pagi hari.
Lalu konsultasi dan hipnoterapi.
Kemudian aku selesai kerja dan pulang kerumah.
Tidak ada sesuatu yang istimewa.
Kau tak mengingatku?
Apaan itu?
Kemari secepatnya, cepat.
Ini dia, sepatumu.
Apa ini?
Yah, ini lukisan.
Apa kau lagi bercanda?
Saat aku membuka mata pagi ini, aku mengingat itu.
Apa kau mimpi buruk tadi malam?
Kau tahu aku tak bermimpi sejak tiga tahun lalu.
Yah, kalau ini bukan mimpi, jadi apa?
Meski itu mimpi, gambarannya terlalu jelas.
Jelas?
Kau mengingat? Jadi, kau mengingat sesuatu?
Lihat baik-baik. Ini siapa?
Aku yang bertanya padamu, Sekretaris Yang.
Benar.
Pemandangannya cukup sesuatu.
Ia tak tampak seperti seseorang yang patut diingat.
Siapa Ia sebenarnya?
Sutradara.
Sutradara? Sutradara?
Jangan mendekat! Jangan mendekat!
Jangan kemari! Ngomong disana saja.
Bagaimana kabarmu, sutradara?
Bagaimana kelihatannya?
Apa aku baik-baik saja?
Ya, kau tak tampak baik-baik saja.
Itulah kenapa aku membawa ini.
Jangan mendekat!
Apa itu? Tinggalkan disana.
Anu, aku mengelola toko kecil namanya "Fantastic"
Dan ini ada pakaian untuk putramu.
Ini untuk putrimu.
Dan yang paling besar.
Untuk istrimu.
Maaf soal yang terjadi dengan lensa kameramu.
Lensanya saja harganya 2,567,800 won.
Kau tahu itu?
Aku akan beli yang sama persis.
Maafkan aku, kali ini beri aku kesempatan, sutradara.
Aku cuma minta ganti rugi lensanya saja karena kita sudah kerja lama.
Ya, terima kasih.
Deposit uangnya ke rekening disana.
Apa?
Jumlahnya ada dibalik kertasnya, jadi kirim segitu.
Sutradara.
Jumlah yang tertulis disini 2,572,800 won.
Harganya berbeda dengan yang kau bilang.
Apa aku yang harus bayar ongkos kirimnya?
Tentu saja aku yang harus bayar.
Juga, cari tim lain./ Apa?
Apa? Tapi, sutradara!
Tiapkali bersamamu, aku selalu apes.
No comments yet. Be the first to leave one.