Release info

60일, 지정생존자 Designated Survivor 60 Days E02 190702-NEXT-NF
A Commentary by RuoXi
Ep. 2 [Netflix Ver.] "Hari Ke-60: Panglima Tertinggi". Synced for NEXT. Runtime > 01:22:02. Enjoy.... ;). Check out My IG @ruo_xi_ss for subtitles updates ^^. Note : E02 720p NEXT 1.74GB Gdrive Sharer download link > http://idsly.bid/ds60d02

Tags

other
Published on: 2019-07-02
Downloads: 17
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

SEMUA TOKOH, ORGANISASI, TEMPAT, DAN KEJADIAN ADALAH FIKSI.

Ada bom! Aku menemukan peledak!

Evakuasi! Ada bom!

Mundur! Sebuah bom ditemukan!

- Evakuasi! - Evakuasi area ini!

- Lewat sini. - Evakuasi.

- Cepat. - Evakuasi semua orang di sini!

Kami khawatir ada ledakan kedua. Ya, Pak.

Berdasarkan Pasal 26, Ayat 1, UU Tata Acara Pemerintahan,

Anda dipercayakan

memangku kekuasaan dan tanggung jawab sebagai Presiden Republik Korea.

Apa?

Mulai saat ini, Anda menjadi Presiden Interim.

Masa jabatan Anda sudah dimulai, Presiden Park.

Itu claymore .

Apa? Kelihatannya seperti claymore standar dari luar,

tapi itu bukan claymore biasa.

Peledak jenis ini sering ditemukan di serangan teroris Aljazair dan Suriah.

Semua orang menunggu kedatangan Anda.

Tak ada waktu untuk membicarakan tindakan yang harus diambil sekarang!

Ini perang! Kau tidak tahu artinya?

STATUS TERKINI DI YEOUIDO

TEMPAT KEJADIAN

Kita tak boleh bereaksi emosional.

Cari tahu apa yang terjadi dahulu.

Terlalu dini menyatakan perang dan bertindak gegabah.

Siapa yang akan memutuskan itu?

Panglima Tertinggi tidak ada.

Aku akan menjinakkan peledak ini.

Ini Wantannas, Dewan Ketahanan Nasional.

Keputusan akhir masalah keamanan nasional,

unifikasi, dan diplomasi dibuat di sini.

Anda, Pak, Presiden Interim,

adalah kepala Wantannas saat ini.

Jika pecah perang di Semenanjung Korea, akan jadi Perang Dunia Ketiga!

Meski Perang Dunia Keempat, kita tetap harus bertindak!

- Itu tak bertanggung jawab! - Lalu diam saja?

- Jangan emosional... - Presiden Interim sudah tiba!

Kita harus memikirkan rakyat!

Bersikap bebal bukanlah solusi.

Siapa yang kau bilang bebal?

Pak.

Presiden Interim Park Mu-jin.

PANGLIMA TERTINGGI EPISODE 2

Bomnya sudah dijinakkan.

Kami yakin para pengebom memakai teknik peledakan eksplosif

untuk meledakkan Gedung Majelis Nasional.

- "Peledakan eksplosif"? - Benar.

Peledaknya diletakkan di pilar atau di tembok sejak awal.

Dengan memakai beban bangunan,

peledaknya meletus.

Dalam 5 sampai 15 detik, peledak ini bisa menghancurkan gedung besar.

Lebih penting lagi, jumlah peledak berjumlah kecil saja sudah cukup.

- Bisa saja sulit menemukan... - Berikutnya.

Karena itu, jumlah peledak yang dipakai...

Cukup dengan itu. Berikutnya.

Pak?

Katakan informasi paling pentingnya.

Kalian tak tahu yang mau kutahu?

Jadi, itu ulah Korea Utara atau bukan?

Kami belum pasti, Pak.

Jika benar, militer akan ambil alih.

Jika tidak, ini ditangani polisi.

Ini mestinya prioritas utama kalian, 'kan?

Deputi Komisaris Jenderal kita sangat berterus terang.

Kau benar-benar luar biasa.

Presiden, Perdana Menteri, para menteri, dan anggota majelis.

Lebih dari 100 pejabat tinggi pemerintahan

kehilangan nyawa sekaligus dalam satu serangan.

Apa ini waktu yang tepat membahas yurisdiksi?

Benar. Lebih dari 100 pejabat tinggi telah dibantai.

Di tengah Seoul, ibu kota negara.

Masyarakat mungkin akan mempertanyakan siapa pelakunya.

Mereka juga akan bertanya siapa yang akan bertanggung jawab atas ini.

Tahu kenapa? Karena mereka gelisah.

Komisaris Jenderal butuh sesuatu untuk menyelamatkan wajahnya di publik.

Kau. Katamu kau berasal dari Satgas Terorisme?

Apa pendapatmu?

Siapa pelakunya?

Siapa yang memasukkan peledak ini di Gedung Majelis Nasional?

Ini digunakan di serangan teroris sebelumnya.

Sama dengan peledak yang diekspor Korea Utara ke sekutunya.

Mereka pelakunya.

Mereka serius akan memicu perang?

Mereka ingin memicu perang!

Ini bukan serangan teroris! Ini pernyataan perang!

Ini serangan awal!

"Pernyataan perang"?

Dengar. Tak ada pergerakan yang tampak di kamp mereka.

Semua peluncur rudal mereka tidak bergerak.

Apa itu seperti menyiapkan perang?

Korea Utara telah membuat pengumuman.

Ini dia.

Sebuah bencana terjadi di Korea Selatan

dengan penghancuran Gedung Majelis Nasional.

Amerika Serikat dan pasukan keji

merencanakan suatu kejahatan

dengan menuduh Korea Utara.

Rencana itu...

Mereka tegas menyatakan tak ada hubungannya dengan ini.

Ini kali pertama mereka merespons cepat

terhadap sentimen publik Korea Selatan.

Mereka akan menjalin relasi diplomatik dengan kita.

Mereka bertekad untuk diakui sebagai negara normal.

Tidak dengar mereka?

Mereka menyiapkan pakta perdamaian.

Pikirkan ini dengan logis.

"Logis"? Logikaku mengatakan

seekor anjing gila harus dipukul

dan provokasi harus dihukum.

"Negara normal", katamu?

Korea Utara akhirnya menunjukkan belangnya.

Karena AS tak mendengar mereka,

kita dijadikan korban!

Mereka bilang, "Lihat! Kami bisa apa saja!"

Kita harus ambil keputusan!

Kita harus serang Istana Kumsusan

atau melintasi garis demarkasi!

Bahkan kita harus menghancurkan fasilitas nuklir mereka.

Dengan begitu, mereka takkan bisa memicu perang dengan kita

karena kita lebih kuat!

Bolehkah memutuskan itu?

Entah itu menyerang Istana Kumsusan atau melintasi garis demarkasi,

kita tidak punya kendali masa perang.

Negara kita dilindungi

karena bersekutu dengan AS.

Itu kebanggaan militer kita.

Jika tak menunjukkan tekad dan niat melawan secepatnya,

serta kekuatan militer kita, yang lebih kuat dari Korea Utara,

kita bisa mengalami serangan yang lebih besar.

Dalam serangan 9/11,

target kedua para teroris adalah Pentagon.

Kalian sudah lupa?

Minta Komandan Pasukan Gabungan Korea-AS mendeklarasikan DEFCON Tiga.

Kemudian, militer kita harus bersiap untuk perang.

Kau bersikeras berperang di Semenanjung Korea?

Sangat gegabah menyimpulkan

Korea Utara bertanggung jawab hanya dari bom saja!

Lantas siapa?

Kita negara yang terbagi.

Musuh utama kita ada di atas kita.

Jika bukan mereka, siapa?

Apa kau baru akan percaya

jika tertulis "Buatan Korea Utara"?

Korea Utara? Apa itu masuk akal?

Tunggu. Beraninya kau membela mereka dalam situasi seperti ini?

Pasti ada yang tak beres dengan Wantannas!

Apa? Kau sudah selesai?

- Bagaimana aku bisa memahami... - Sudahlah.

- reaksimu itu? - Lancang!

Apa aku salah bicara?

Kalau begitu, kita terima saja?

- Pikirkan rakyat! - Aku sudah jelaskan.

Kenapa kau begitu bebal?

- Takut apa? - Keamanan kita

dan nyawa rakyat terancam! Aku hanya minta kau lebih hati-hati!

Kau bisa mengunyah dengan gusi meskipun ompong,

ada Presiden Interim saat tak ada presiden,

tetapi jika tak ada tisu toilet,

kau dalam masalah.

Kau melalui banyak hal hari ini.

Mestinya kau senang.

Mulai besok, kita punya Presiden Interim.

Bukan cuma Gedung Majelis,

Gedung Biru juga kena serang.

Julukan Presiden Interim itu Cinderella. Jelas sekali.

Mungkin dia politikus penjilat yang diangkat karena nepotisme.

Hanya karena cukup beruntung selamat dari serangan,

dia menjadi pimpinan Korea.

Pengalaman politiknya cuma enam bulan,

dan hanya mengurus debu halus.

Bisa apa dia melawan Korea Utara?

Aku lebih takut dia berbuat sesuatu. Bukan begitu?

Orang-orang bilang Anda sangat beruntung.

Intinya, aku mau bilang

bahwa Anda sangat beruntung dalam karier.

Maaf, Pak.

Jujur, aku agak khawatir setelah membaca riwayat hidup Anda.

Maaf.

Tidak.

Kau hanya membuat penilaian cepat dengan data yang diberikan.

Itu naluri bertahan yang bisa dipahami.

Lagi pula, ini situasi darurat.

Aku menunggu panggilanmu.

Permisi.

Apa Kepala Staf Kepresidenan masih di dalam?

Bagaimana kalau aku mundur dari Presiden Interim?

Aku tidak memenuhi syarat.

Dengar.

Jika bicara soal kompetensi,

cuma satu orang yang memenuhi syarat.

Hari ini,

kita kehilangan dia.

Namun...

Aku yakin kau juga tahu.

Ini karena kejadian hari ini?

Pemecatanmu belum resmi secara hukum.

MENTERI PARK MU-JIN

Tak ada waktu memprosesnya.

Jika kau mengundurkan diri,

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left