The first 200 lines.
~ yi yan zhi nian yi nian zhi zhuo ~
~ zhu ding jiu ci fei wo bu huo ~
~ ming zhi shi huo wei he hai bu zhi suo cuo ~
~ zui hao bu jian zui hao bu nian ~
~ ro ci cai ke bu yu ni xiang lian ~
~ duo yi bu de ca jian ~
~ jiu bu bu lun xian ~
~ shi shi jian de guo cuo ~
~ rang wo men zhi neng cuo guo ~
~ wo duo xiang nian ni duo yao yuan ~
~ zao zhi dao shi ku guo ~
~ zhe yi ke ye bu xiang tao tuo ~
~ ke xi zhe zi yan tai ci yan ~
~ liang ge shi jie zhi hou ~
~ bu xiang tao tuo ~
~ shi shi jian de guo cuo ~
~ wo men zhi neng cuo guo ~
~ wo you duo me xiang nian ni you duo yao yuan ~
~ zao zhi dao jie ju shi bu neng kang ju de cuo ~
~ ting liu zai zhe yi ke ~
~ zhi hao qing shen yuan qian ~
Episode 10 Penerjemah: Runi
Meski hamba bersikap lancang...
hamba harus menyampaikan ada yang ada di pikiran hamba.
Bicaralah.
Selama hamba melayani Yang Mulia, hamba telah melihat bagaimana Anda mencintai putra-putra Anda.
Khususnya, saat Pangeran ke-18 tiada, Anda sangat bersedih.
Anda bahkan jatuh sakit karenanya.
Hamba bisa melihat betapa Anda menyayangi putra-putra Anda.
Tapi, Yang Mulia.
Tidak bisakah Anda bersikap lebih lunak pada putra-putra yang masih ada di samping Anda?
- Ayah dan putra-putranya. Kaisar dan bawahan-bawahannya. - Cukup.
Yang Mulia adalah ayah yang baik. Hamba yakin Anda menginginkan keluarga yang sukacita.
Jika seorang ayah bijak, anaknya pasti berbakti.
Keluar!
Yang Mulia.
Ruoxi telah berani melawan Anda.
Makin lama dia makin lancang.
Yang Mulia.
Saat Ruoxi bertindak gegabah,
dia tetap tenang tanpa menghiraukan persetujuan dari orang lain.
Dia berbicara lancang karena prihatin dengan keadaan Anda.
Yang Mulia.
Salam Hormat, Niang Niang.
Ya, berdirilah.
Sudahlah. Berbaring saja.
Apa kau tidak bisa mengerti kondisimu?
Bagaimana? Apa masih sakit?
Er Niang tenang saja.
Tabib sudah melumurinya dengan obat.
Lihat kau ini! Kau membuat Huang Ama-mu kesal...
dan telah melukai perasaan beliau.
Putramu mengerti telah bertindak sembrono.
Tapi, demi menyelamatkan Kakak ke-8,
aku tidak bisa diam saja dan tidak mengatakan apapun.
Daging dan darah seseorang itu adalah milik orang tuanya.
Erniang harus mengatakannya padamu.
Dengan niat menolong Pangeran ke-8, kau tidak memikirkan dirimu sendiri.
Di masa depan, kau harus pikirkan dulu apa yang menjadi prioritasmu baru bertindak.
Kau tidak boleh bertindak sembrono.
Anakmu mengerti.
Aku tidak akan bertindak sembrono lagi.
Pangeran ke-4 tiba!
Anakmu memberi hormat pada Huang Erniang.
Salam hormat, Pangeran ke-4.
Berdirilah.
Adik ke-14.
Aku membawa salep yang bagus untuk menyembuhkan lukamu.
- Cobalah. - Tak perlu.
Lukaku ini tidak ada apa-apanya dibanding luka di hatiku.
Sebagai seorang kakak, kau hanya menonton saat Huang Ama akan membunuhku.
Justru Kakak ke-5 yang mencegah Huang Ama menebaskan pedangnya padaku.
Itu karena Kakak ke-4 ingin melindungi diri sendiri.
Kau tak perlu bersikap baik padaku.
Erniang juga sudah mendengarnya.
Pangeran ke-4.
Apa alasanmu mengenai hal ini?
Jika anakmu ini memohon pada Huang Ama, aku takut hanya akan memperkeruh keadaan.
Itu justru akan membuat Huang Ama semakin murka.
Adik ke-14 dan aku adalah saudara sekandung.
Aku cemas orang lain berpikir aku tidak bersikap objekif.
Agar tidak timbul rumor semacam itu,
kau justru mengesampingkan nyawa adikmu?
Pangeran ke-4.
Kau selalu bertindak hati-hati.
Bagaimanapun sebagai ibumu, Erniang harus menasihatimu.
Kalian berdua lahir dari kandunganku.
Tidak peduli apapun yang terjadi di istana,
kalian berdua harus saling menolong.
Kakak ke-4, aku membawa arak.
Apa kau mau mencobanya?
Kakak ke-4. Hal yang wajar kalau Adik ke-14 marah padamu.
Kau tidak perlu mencemaskannya.
Bagaimana kalau minum arak dan berbincang bersamaku?
Aku juga paham, wajar bagi Huang Erniang dan Adik ke-14 marah padaku.
Aku tidak bisa bilang apa-apa.
Kakak ke-4, kau ini berkepala dingin, tapi tidak berhati dingin.
Aku percaya, kau tidak akan diam saja jika Huang Ama membunuh Adik ke-14.
Kau pasti mempunyai alasan kenapa tidak menolongnya saat itu.
Mustahil bagi Huang Ama mengambil nyawa Adik ke-14.
Bahkan, harimau ganas tidak akan membunuh anaknya.
Kalau dipikir, Huang Ama itu ayah yang sangat peduli dengan hubungan keluarga.
Meski beliau ingin melakukannya, beliau tidak akan bisa.
Kakak benar.
Jika Kakak juga memohon pada beliau,
itu justru membuat Huang Ama berpikir tidak ada yang memihaknya,
itu justru membuat situasi semakin rumit.
Jika hal itu terjadi, situasi saat itu pasti akan sangat buruk.
Tidak ada yang paham hal itu selain Adik ke-13.
Kalau begitu, bagaimana jika Kakak ke-4 minum arak bersama adikmu ini?
Berbincang denganmu lebih baik daripada seratus cangkir arak.
Kau juga tahu...
Aku tidak suka menghilangkan kesedihanku dengan minum arak.
Simpan saja arakmu itu untuk kaunikmati.
Sikap tenang Kakak itu...
sering membuat orang salah paham dan mengira kau ini tak berperasaan.
Jika satu orang saja bisa memahamimu,
takkan ada penyesalan dalam hidupmu.
Jika tak ada penyesalan,
kau juga tidak perlu memikirkan mereka yang tidak memahamimu.
Ayo.
Ruolan.
Salam hormat, Bei'le.
Duduklah.
Baik.
Ruolan, kau tidak pernah menanyakan kabar yang terjadi di luar rumah.
Ada hal-hal yang mungkin belum kauketahui.
Huang Ama telah mencabut gelarku.
Semua orang meminta pada beliau agar aku dijadikan Putra Mahkota.
Tapi, yang terjadi sebaliknya.
Ruolan... hatiku sakit.
Tolong katakan sesuatu.
Bei'le ingin saya mengatakan apa?
Kalau begitu, aku tidak akan menganggumu membaca sutra lagi.
Kakak ke-4.
Kenapa kau bisa ada di sini?
Aku sedang berkeliling saja.
Aku tidak menyangka dapat berpapasan dengan Adik ke-8 di sini.
Meski istana ini luas, tetap saja ada dinding di sekelilingnya.
Jika ada yang ingin mencari tempat yang tenang,
tidak banyak pilihan di sini.
Itu benar.
Salam hormat Pangeran ke-4, Salam hormat Pangeran ke-8.
- Lanjutkan tugasmu. - Baik.
Kakak, aku akan menggantikan tugasmu.
Salam hormat Pangeran ke-4, Salam hormat Pangeran ke-8.
Berdirilah.
Adik ke-8.
Kebetulan kita bertemu di sini.
Bagaimana kalau kita meminta Ruoxi menyiapkan teh untuk kita?
Aku setuju dengan saran Kakak ke-4.
Ruoxi, tolong siapkan tehnya.
Baik.
Di sini bukan istana Qianqing.
Ruoxi, kau juga duduklah.
Saya tidak berani.
Kami ini hanya dua bersaudara yang ingin menikmati teh.
Dengan kata lain, kami ini tamumu.
Kaulah sang pemilik kediaman.
Duduklah.
Sungguh jarang mengalami keadaan manis ini dalam situasi sulit.
Adik ke-8.
Huang Ama hanya sedang emosi...
sehingga beliau mencabut gelarmu.
Tunggulah... Beri jeda waktu.
Beliau akan mengerti kemampuan dan kepandaian Adik ke-8.
Huang Ama...
Beliau masih sangat menyayangi Kakak ke-2.
Akulah orang yang tidak paham dengan situasi saat ini.
Aku telah membuat semua menteri dan pangeran yang tidak bersalah ikut terlibat.
Oh, iya.
Apa luka Adik ke-14 cukup parah?
Hukumannya hanya 20 pukulan.
Dia bisa menahannya.
Tapi...
Kesakitannya bukan hanya dari 20 pukulan itu.
Apa Adik ke-14 marah pada Kakak ke-4 karena kau tidak membelanya saat itu?
Selir De sangat menyayangi Adik ke-14.
Kelihatannya, Kakak ke-4 juga dalam situasi sulit.
Ya, bahkan ibu dan adik kandungku sendiri tidak mau memaafkanku.
Aku bisa bilang apa?
Kakak ke-4 masih memiliki Adik ke-13 di sampingmu.
Dia pasti bisa mengerti dirimu.
Sedikit kehangatan bisa mengekspresikan perasaan seseorang.
Aku akan mengingat perkataan Kakak ke-4.
Beri jeda waktu.
Sulit bertemu seseorang untuk menemani minum teh. Hari ini kejadian yang sungguh jarang.
Karena jarang bisa berada di situasi ini...
Ruoxi.
Kau juga minumlah bersama kami.
Baik.
Biar saya tuang lagi tehnya.
Ini.
Kakak Ruoxi, Yutan.
Ada kabar baik.
Di pertemuan hari ini, Kaisar telah mengembalikan gelar Putra Mahkota pada Pangeran ke-2.
Semua memberi selamat. Kaisar menjadi sangat bahagia.
Benar-benar kabar bagus.
Kaisar juga sedang berbaik hati...
beliau memberi gelar pada Pangeran ke-3, ke-4, dan ke-5 sebagai Qin Wang.
No comments yet. Be the first to leave one.