The first 200 lines.
Aku merasa kasihan
kepada ibuku.
Aku menyayangimu, Hyeonjae.
Tapi tak bisa kubiarkan ibuku berkorban
hanya agar aku bisa jatuh cinta.
Seumur hidup, dia menahan keinginannya.
Setelah dia menemukan ayah kandungnya,
aku ingin menghormati keinginannya
dan pilihan yang dia buat.
Tak kubiarkan dia mengorbankan diri untukku.
Dia tak boleh dipaksa menjalin hubungan
dengan siapa pun.
Bagaimana denganku?
Apa yang harus kulakukan?
Maafkan aku.
Baiklah.
Aku mengerti.
Kita lakukan itu dan berpisah
sampai tahu ke mana arah semua ini.
Tapi
jangan dahulu akhiri hubungan kita.
Itu bukan sesuatu yang bisa kuterima sekarang.
Kenapa kita di sini?
Di sinilah
aku menebarkan abunya.
Bahkan sampai hari kematiannya,
dia tidak bisa hidup tenang untukmu.
Dia meninggalkan anak berusia satu tahun,
kau bisa membayangkan betapa sedihnya dia.
Aku berjanji sesuatu sambil menebar abunya.
Bahwa aku akan mengorbankan
semua yang kumiliki agar putri kita
bisa menjadi versi terbaik dari dirinya.
Tapi semua uang tabungan kami habis
untuk biaya rumah sakitnya.
Hanya kau yang kumiliki dan membesarkanmu
dengan baik menjadi satu-satunya tujuanku.
Tap aku tidak meninggalkanmu.
Tidak ada jaminan
aku akan sembuh dari tuberkulosis.
Bagaimana jika kau tertular dariku?
Bagaimana aku hidup jika tahu aku menularimu?
Aku meninggalkanmu di panti asuhan
percaya tuberkulosis bisa mengakhiri hidupku.
Kukira aku tak bisa bertemu denganmu lagi.
Itu sebabnya aku meninggalkan
tanda yang sama di tubuhmu.
Itu bukan alasan untuk melakukan hal seperti itu.
Siapa yang mengecap anak kecil seperti itu?
Aku putus asa.
Itu agar aku bisa mengenalimu
bahkan di akhirat jika terpaksa.
Menghapusnya sangat menyakitkan.
Kukira itu pertanda bahwa aku disiksa.
Orang tuaku yang sudah tiada.
Terutama ibuku.
Aku kesulitan membuka diri kepadanya.
Dia mengaku bahwa aku anak kandungnya.
Ini yang kupikirkan sebelum menikah.
"Apakah mengakui dia ibu kandungku"
"satu-satunya cara dia bisa mencintaiku?"
"Kenapa dia berbohong soal mengadopsiku?"
Aku tidak ingin berbohong,
dan aku tidak malu diadopsi.
Ibuku mungkin tidak melahirkanku,
tapi aku mencintainya lebih dari siapa pun.
Itu alasan aku merasa ada jarak di antara kami.
Tapi aku salah karena berpikir begitu
karena aku harus bersyukur mereka menerimaku.
Maafkan aku.
Maafkan aku.
Karena aku,
kau harus melalui kesulitan.
Tapi ini tidak mengubah apa pun.
Masa lalu tidak bisa diperbaiki.
Tapi menemukan kedamaian dengan itu
adalah caramu melepaskan kemarahan.
Lantas setelah itu?
Apa rasa sakit yang kurasakan saat itu
seperti tidak pernah ada?
Seharusnya kau bersikap baik padaku.
Maafkan aku.
Miskin dan tidak berpendidikan
adalah alasanku tak bisa memikirkan cara lain.
Maafkan aku.
Semua rasa sakitmu saat tumbuh dewasa.
Katakan kepadaku.
Seperti yang kau lakukan sekarang,
akan kudengar semua yang ingin kau katakan.
Kau tahu
betapa kau menyayangiku saat masih kecil?
Kau tidak ingin jauh dariku sedetik pun.
Aku bahkan menggendongmu ke kantor.
Aku tidak ingat itu.
Aku di tempat ibumu beristirahat.
Aku tidak berani berbohong kepadamu.
Kita harus pulang.
Kau sudah makan?
Bagaimana
jika kita makan bersama sebelum berpisah?
Aku sangat bahagia.
Hingga tidak bisa mencerna makanan ini.
Hei, selamat siang.
Selamat siang.
Sepertinya dia sangat kesulitan.
Tapi aku tak boleh ikut campur.
Ini juga sulit bagiku, Hyeonjae.
Ini.
Tunggu, apa Hyeonjae ada di sini?
Ya. Dia baru saja tiba.
Bagaimana keadaannya?
Dia tak biasa mengekspresikan perasaannya,
tapi dia berbeda hari ini.
Apa terjadi sesuatu lagi?
Bu Sim, kau tahu anak-anakku akan datang
untuk tur hari ini, bukan?
Tentu saja.
Apa mereka datang bersama Sora?
Klinik Yunjae tutup hari ini.
Ya. Sora-ku akan membawa mereka kemari.
Yunjae juga akan datang ke sini nanti.
Benarkah? / - Ya.
Bisakah kita rapat sebentar sekarang?
Masuklah.
Kau mampir ke suatu tempat?
Kenapa kau ingin tahu aku di mana?
Rapat apa ini?
Kau bersikap agresif.
Itu artinya kau tersudut.
Kau merasa nyaman di dekatku, aku paham.
Tapi
aku ingin lebih memahamimu.
Apa Mirae sudah tahu?
Ya.
Apa katanya?
Dia ingin berpisah sementara
dan melihat perkembangannya.
Itu artinya kami harus
berhenti bertemu untuk sementara.
Meski begitu, itu tidak akan mengubah apa pun.
Karena kau tidak bisa langsung putus,
kalian akan berpisah sementara
dan bersiap untuk hal yang tidak terelakkan?
Kubilang bahwa aku tidak mau putus.
Hyeonjae.
Kurasa Mirae mengatakan hal seperti itu
bukan karena dia tidak cukup mencintaimu.
Kau tahu Mirae dan ibunya punya ikatan khusus.
Kurasa dia berempati dengan ibunya,
dan karena itu dia kesulitan.
Aku mengerti.
Tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuknya.
Itu membuatku merasa tersesat dan frustrasi.
Seharusnya Gyeongcheol sudah pulang.
Dia akan pulang sebentar lagi.
Omong-omong,
kenapa ibu Mirae pergi dengan Paman?
Dia terdengar cukup enggan sebelumnya.
Aku juga penasaran.
Tempo hari,
Gyeongcheol meminta alamat Jeongja kepadaku.
Astaga.
Paman pergi ke rumahnya dan menemuinya?
Kau tahu soal itu? / - Entahlah.
Aku mengerti.
Dia tahu kau tidak akan suka jika kau tahu.
Jadi, dia pergi ke sana tanpa memberitahumu.
Apa?
Kenapa aku tidak menyukainya?
Kau tahu keadaannya.
Jika dia senang menemukan anak kandungnya,
itu mungkin membuatmu dan suamimu kesal.
Kenapa kami harus kesal?
Minho dan aku
selalu ingin dia menemukan putrinya.
Kau mau ke mana?
Aku akan ke kamarku.
Kenapa kau membuatnya marah?
Apa yang kulakukan hingga membuatnya marah?
Astaga.
Di keluarga ini tidak ada yang berkata jujur
selain aku.
Astaga.
Dia sangat menyebalkan.
Aku tidak bisa akrab dengan Hyeyeong.
Kenapa dia mencampuri urusan keluarga kita?
Gyeongcheol, kau sudah pulang.
Hei. / - Halo, Paman Gyeongcheol.
Gyeongcheol, bagaimana dengan Jungeun?
Astaga, bisakah kau berhenti menggangguku?
Ayah tidak lelah?
Apa? Aku baik-baik saja.
Apa pertemuan dengan Jungeun lancar?
Ya.
Paman Gyeongcheol sepertinya sedang senang.
Kami makan bersama.
Astaga. / - Aku makan bersama Jungeun.
Astaga, itu sangat berarti.
Aku yakin semua akan berjalan lancar.
Aku turut bahagia untuk Ayah.
No comments yet. Be the first to leave one.