The first 200 lines.
Acara ini berisi konten yang tak cocok untuk anak di bawah 15 tahun dan membutuhkan bimbingan orang tua
Drama ini berdasarkan fakta sejarah. Beberapa tokoh, kelompok, dan insiden hanyalah fiksi sebagai pelengkap cerita.
Bossam - Steal the Fate Episode 1 Takarir Indonesia
Sudahi saja dan pergilah tidur.
Maafkan aku.
Saat orang makin tua, tidurnya lebih cepat di malam hari.
Sepertinya aku udah tua.
Aku juga makin tua.
Omong-omong, kamu gambar apa sampai berusaha keras begitu?
Aku teringat ucapanmu tadi siang jadi aku berusaha menggambarnya.
Kalau yang aku ucapkan tadi siang...
Apa maksudmu ini soal Bossam?
Bossam: Nyulik janda biar bisa kawin lagi di jaman Joseon,
Digendong di punggung seperti ini, 'kan?
Ada begitu banyak topik di dunia dan—
Aduh. Ngeri, deh.
Emang apa salahnya?
Wajahmu yang memerah bahkan lebih menakutkan.
Maksudku ada bunga dan burung.
Ada banyak hal yang bisa kamu gambar.
Tapi kenapa kamu harus menggambar sesuatu seperti ini?
Apa wanita yang dikarungin itu tersenyum?
Atau menangis?
Permisi.
Permisi sebentar.
Lucu sekali. Aku melihatmu mandi dan sangat menantikan ini.
- T-tunggu. - Kenapa?
Bundo!
Kata yang diteriakkan saat ngeronda untuk mengusir pencuri
- Sembunyi! - Apa?
- Sembunyi! - Bundo!
Bundo!
Apa orang-orang itu udah gila?
Ada yang patroli tapi gak melakukan satu inspeksi pun.
Sepertinya ada rumah yang kemalingan tadi malam.
Bundo!
Susah lolos, nih. Kita gak beruntung.
Kita harus apa?
Bu. Kamu tahu jika kami tertangkap sekarang,
kami akan terlihat bodoh dan kamu akan malu.
Bundo!
Pastikan tutup mulutmu.
Apa rencanamu?
Tetaplah disini.
Hyung-nim! Hyung-nim!
Kamu kenal dia?
Kamu gak kenal aku? Aku... Apa kamu udah lupa?
Kamu orangnya gampang pikun, ya?
Sudah kubilang perhatikan baik-baik.
Kamu bahkan gak kenal ayahmu?
HEI! TANGKAP DIA!
Aduh, berat anjir.
DASAR DJINGAN! TANGKAP DIA!
Berhenti!
WOI, MALING!
Beres.
Tuanku!
Sayangku.
Tuanku.
Bagaimana bisa kalian langsung bergairah begitu kalian bertemu?
Tak peduli seburu-buru apapun, kau harus bayar dulu.
- Sesuai janji, 10 nyang. - Hehey~
12 nyang.
Apa?
- Lupakan saja. - Tuanku.
Baiklah. Mari kita ke jalan lagi.
B-baiklah!
- Udah? - Ya.
Terima kasih. Aku pamit dulu.
Oh iya! Adikku yang datang bareng nyuruh aku menyampaikan pesan ini.
Kalau kamu kasarin dia karena ini pernikahan keduanya,
kami bakal datang dan membawanya lagi,
jadi, tolong hidup samawa, ya.
Silahkan masuk.
Aku pamit.
- Silahkan. - Pergilah.
Aku merindukanmu sayangku.
Tuanku.
Ngagetin aja! Kenapa lama banget?
Kupikir kamu ketangkep.
- Kalau kamu? - Nih.
Kenapa? 10 nyang bagi 2 samadengan 5.
Lupakan. Kamu menyampaikan pesanku, 'kan?
Tentu saja.
Jika kita mendengar dia melakukan hal aneh, kami akan datang dan membawanya lagi
jadi, mereka harus hidup samawa.
5 nyang.
Dua pembawa tandu Namsangol!
Ini! Ini!
Ikuti aku.
Aku sempat menjadi orang tolol dan sekarang menjadi gila.
Ayo lihat.
Baiklah. Haruskah kita memeriksanya?
Sial. Aku kalah lagi.
Kenapa nasibku buruk sekali hari ini?
Aku lebih baik setidaknya merasakan
kekalahan Hyang Dan. Aigoo.
Maafkeun. Maafkeun.
Okeh, aku menang.
Tunggu sebentar.
Ttang. Ttang lagi.
Lihat. Itu yang terbaik, 'kan?
Apa ini?
Lah, Kok ada di sini?
Dasar bedebah!
Apa, bedebah hyung-nim?
Dasar bedebah sialan!
Kamu baru saja memukulku? Kamu memukulku?
Ya. Terus kenapa?
Jadi sudah siap, hah?
Dasar bedebah!
Ini.
Kampret.
Apa? Sial.
Aw. Atit beud.
Dasar pelit. Mereka gak ngasih tips.
Ba Wu.
Apa?
Bukan apa-apa.
Yaudah lupakan saja.
Bukan gitu. Ingat wanita tua yang belum menikah yang pernah kuceritakan?
Apa kamu budek? Udah aku bilang kagak mau.
Sudah kubilang 20 nyang.
Jika kamu sangat suka uang maka lakukan sendiri.
Kamu pikir aku ngomong gini hanya untuk aku sendiri?
Jadi, kamu ingin comblangin sama pria tua yang hampir berusia 60 tahun?
Hyung-nim, kalau itu putrimu, apa kamu bakal rela?
Kamu pasti ngelawak.
Kalau kamu banding-bandingin gitu, kapan kamu bisa menabung?
Sampai kapan kamu akan hidup seperti ini?
Biarin aja.
Aku cuma bakal hidup begini, trus mati.
Jangan gitu. Ayo lakukan sekali saja. Ya?
Tuan Ba Wu!
Ada apa?
Ada yang gelud!
Hah? Gelud?
Nie orang beneran pen mati hari ini.
Dimana? Siapa? Ayo pergi.
Para sarjana Sungkyunkwan.
- Apa? - Para sarjana Sungkyunkwan.
Enyah! Pergilah!
Bagaimana kita bisa menghentikan mereka?
Tuan Ba Wu!
Gak kedengeran? Kakek tua ini menolak.
Hukum preferensi harus ditegakkan!
Woi, woi.
Hentikan!
Apa kamu sudah gila?
Omong kosong...
Kuy kobam. Ayo minum lagi.
Ayo minum tanpa henti sembari menghitung jumlah botol dengan memetik bunga.
Setelah tubuh ini mati,
Entah aku dibawa oleh keranda yang dilapisi tikar jerami dan diikat dengan tali,
atau dibawa dengan anggun diiringi tangisan orang-orang,
di mana pun aku dikubur di hutan willow dengan rumput api,
ekor kuda berusia panjang, pohon ek,
di bawah kuningnya sang mentari, pucatnya sang rembulan,
hujan rintik, salju tebal, atau angin puyuh.
siapa yang akan mengundangku untuk minum?
Saat seekor monyet bermain dan meniup peluit di kuburanmu,
Apa gunanya menyesalinya?
Apa pria ini mengejek kita sekarang?
Apa maksudmu "mengejek"? Itu sangat tidak masuk akal.
Dari yang kudengar dari samping,
ada argumen karena penegakan hukum preferensi nasional.
Entah itu untuk sisi pro atau yang kontra,
semua orang di Joseon ini penuh dengan kesetiaan pada raja dan keamanan negara.
Karena kagum dengan resolusi tinggi dan semangat semua orang,
rakyat yang rendah hati ini berharap kalian paham bahwa ini bukan tindakan tidak sopan.
Untuk menebus rasa tidak sopan saya, saya harap kalian akan menerima
miras yang saat ini populer.
- Dul Soe. - Ya.
Silahkan duduk.
Nama miras ini adalah Chaos-ju.
Kenapa dinamai "chaos"?
Ini dicampur dengan makgeolli seperti yin dan yang.
Setelah endapan arak mentah mereda, aku meminumnya
saat makgeolli naik dengan bersih.
Sekarang semuanya, tuangkan sendiri secangkir.
Jadi ini bukan takju atau cheongju.
Mau menerima segelas dariku?
Baiklah.
- Mantul. - Tolong tuangkan segelas lagi.
Tuangkan lagi dan lagi.
Dalam pandanganku, saat kau bilang mabuk, maka kau menjadi pemabuk.
Kupikir itu kekacauan untuk yang asal gosipin orang ini-itu.
Pemikiran bagus.
Terlepas dari kurangnya kemampuan saya, saya akan bermain sebaik mungkin.
Enak, 'kan?
Luar biasa.
Hebatnya ini bukan takju atau cheongju.
Bolehkah saya menuangkan minuman?
Baiklah.
Terima kasih atas penampilanmu.
Juga untuk puisi persembahan anggur yang tadi kamu baca.
Itu seperti puisi Song Kang yang menawarkan anggur. Apa kamu dia?
Itu bukan timur, barat, selatan, utara atau dimanapun.
Kalau bukan, kenapa semua syairmu dari Song Kang?
Tidakkah kau tahu semua sarjana Konfusianisme yang ada di sini berasal dari utara?
No comments yet. Be the first to leave one.