The first 200 lines.
"Episode 46"
Jae Hee,
orang akan mengira kamu baru tahu istrimu berselingkuh darimu.
Benarkah?
Maksudnya kamu yang paling dramatis.
Bagaimana bisa?
Ibu mengencani Profesor Son
dan Ayah juga punya hubungan.
Ibu tidak berpacaran dengan Profesor Son.
Dan ayahmu hanya terlalu cepat menyimpulkan.
Bagaimana aku bisa terlalu cepat menyimpulkan?
Meskipun aku mengencani Profesor Son,
kamu tidak boleh marah soal itu.
Kenapa begitu padahal kamu bukan suamiku?
Bagi kalian berdua...
Bagaimanapun, keluarga kita akan hancur.
- Itu sudah hancur. - Sudah.
Sudah?
Jae Hee, bisa kita tenang sebentar?
Baiklah.
Ayah, aku akan menanyakan ini lagi.
Ayah sungguh mengencani seseorang?
Tidak, bukan? Ayah mengatakannya karena dendam.
Tidak.
Ayah sungguh punya pacar?
Ya.
Kapan Ayah punya waktu... Di mana Ayah bertemu dengannya?
Begini...
Tunggu.
Kenapa ayah harus menjelaskan kehidupan percintaan ayah?
Aku putra Ayah.
Sebagai putra Ayah, aku ingin tahu.
Begitu pula dengan mantan istrimu.
Begini...
Saat ingatanku kembali,
hatiku terasa hampa.
Bercerai di usia ini
membuatku mempertanyakan keseluruhan hidupku.
Pemandangan pepohonan gersang seperti menusuk hatiku.
Saat itulah...
Saat itulah apa?
Begini,
kamu tahu rekan bisnis ayah, Pak Kim.
Yang istrinya meninggal 10 tahun lalu?
Ya, dan ayah kebetulan mendengar
bagaimana dia mengencani wanita baik-baik
yang diperkenalkan kepadanya melalui layanan kencan.
Tunggu. Tunggu.
Maksudmu kamu juga bergabung dengan layanan kencan?
Ya.
Astaga.
Perusahaan mungkin kecil, tapi sudah berdiri puluhan tahun.
Tujuannya bukan hanya untuk mendapatkan uang
dan kebanyakan klien sama lembutnya denganku.
Bagaimanapun, kami sudah berkenalan.
Astaga. Aku tidak percaya ini.
Tapi Ayah... Aduh!
Bu Min Jae, kamu baru kembali dari suatu tempat?
Ya, aku pergi menemui Jae Hee.
Kamu mau pergi?
Ya, untuk jalan-jalan. Ba Wi baru saja tidur.
Kamu mau ikut denganku?
Tunggu, kamu akan kedinginan memakai itu.
Bukan begitu.
Kalau begitu, pergilah. Aku akan masuk.
Tentu.
Bu Min Jae.
Apa kamu mungkin
masih memikirkan pertemuanku dengan mantan suamimu?
Begitu rupanya.
Maaf membuatmu merasa tidak nyaman.
Tidak perlu. Kenapa kamu meminta maaf?
Astaga.
Saat kita masih muda,
yang harus kita lakukan hanyalah bersemangat tentang banyak hal.
Tapi di usia ini, ada terlalu banyak variabel untuk dipertimbangkan.
Kurasa begitu.
Tapi ada satu hal yang tidak akan pernah berubah.
Kita harus selalu jujur pada perasaan kita.
Kalau begitu, selamat jalan.
Silakan masuk.
Jun A, dari mana saja kamu?
Ibu, aku...
Bu Kim,
halo.
Hae Deun?
Kenapa kamu datang selarut ini?
Kamu keluar untuk menemuinya?
Ya.
Apa
yang harus kamu katakan yang sangat mendesak?
Kamu bisa mengatakannya besok di kantor.
Kami pikir waktu adalah masalah mendesak.
Bu Kim. Maksudku...
Ibu.
"Ibu"?
Anda ibu Jun A.
Ibu, tolong izinkan kami berkencan.
Hae Deun.
Kukira kita sudah mencapai kesepakatan tentatif
bahwa kita akan meluangkan waktu untuk memikirkan ini.
Ibu benar.
Tapi aku tidak bisa menunggu lagi.
Kenapa tidak bisa?
Masalahnya...
Ibu, kami kini sangat saling mencintai.
Kami sangat saling merindukan.
Sangat sulit bagi kami untuk jauh dari satu sama lain.
Astaga.
Kalian bisa bertemu di kantor.
Tapi kami selalu memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan.
Ibu, aku sangat tertekan.
Aku tidak berselera makan. Aku hanya makan setengah apel.
Benarkah? Aku pun sama. Aku hanya makan dua jeruk hari ini.
Benarkah? Bagaimana kamu bisa bertahan dengan dua jeruk?
Kamu harus makan lagi.
Bi Ju.
Beri mereka camilan.
Baik, Bu. Mau apa?
Tidak perlu, Bi Ju.
Aku tidak makan saat malam. Aku mudah bengkak.
- Kamu membengkak setelah makan. - Aku tahu.
Itu tidak penting.
Ibu, tolong izinkan kami berkencan. Aku akan baik dan berusaha keras.
Tolong biarkan kami jatuh cinta.
Aku tidak bisa hidup seperti ini.
Jang Jun A.
Ada apa denganmu?
Ibu. Ibu!
Ibu.
Jun A.
Kamu menganggap ibu sebagai ibumu?
Tentu saja.
Tidak.
Kamu hanya asal bicara.
Ibu merasa tidak pernah menjadi ibumu di dalam hatimu.
Itu sebabnya kamu pergi dari rumah selama ini.
Sekarang kamu ingin pindah lagi setelah melihat Hae Deun.
Ibu sangat kecewa.
Ibu, bukan begitu.
Ini terlalu sulit bagiku.
Ini juga sulit bagi ibu.
Kamu hanya memedulikan perasaanmu.
Kamu tidak peduli ibu kecewa dengan kalian?
Sebagai ibu tirimu,
ibu mencoba mengikuti keputusanmu untuk menghormatimu.
Jadi, Ibu mengikuti keputusanku padahal tidak menyukainya?
Ya.
Tapi...
Kurasa itu membuat kita makin menjauh.
- Nona Hae Deun. - Ya.
Kudengar Anda tidak makan apa pun hari ini.
Makanlah ini.
Terima kasih banyak untuk makanannya.
Apa yang mereka bicarakan?
Aku lapar. Apa aku akan terlihat menyedihkan jika memakannya?
Bagaimana jika aku mencoba satu saja?
Bagus.
Lee Hae Deun.
Hae Deun.
Na Ro.
Sedang apa kamu di sini, Hae Deun?
Aku datang untuk menjemput Jun A.
Kak Jun A bukan anak kecil. Dia tidak mematahkan kakinya.
Seo A, aku akan menaruh ini di kamarmu.
Kamu sudah membiarkannya masuk ke kamarmu?
Ya. Kami akan segera menikah.
Kamu sudah mendapatkan restu Bu Kim? Aku ragu dia merestuinya.
Jangan ikut campur.
Direktur Jang, jujurlah.
Kamu memacari Na Ro karena dendam
karena kakak iparku, maksudku, Jae Hee mencampakkanmu.
Beraninya kamu!
Jangan seperti itu.
Tadinya aku mau membelanya, tapi dia menginjak-injakku sekarang.
Menginjakmu? Bagaimana bisa? Kamu bukan wajah batu.
Seo A. Hae Deun.
Hentikan, kalian berdua.
Kami berusaha membelamu. Kamu tidak boleh seperti ini.
Dan kamu tidak boleh melakukan ini.
Kamu sangat menyukai kakakku saat tinggal di Vila Samgwang.
Jadi, dia pilihan keduamu?
Hae Deun, itu tidak benar...
Lihat. Dia tampak terkejut.
Na Ro, benarkah itu?
- Itu benar. - Tidak, Seo A.
Hae Deun, kenapa kamu mengatakan lelucon itu?
Itu bukan lelucon.
Apa?
Na Ro, sedang apa kamu di sini?
Direktur Jang membawa banyak berkas, jadi, aku membantunya.
Hae Deun, aku akan mengantarmu pulang. Ayo.
Mengantarku pulang?
Kalau begitu, kamu akan kembali setelah mengantarku pulang?
Apa?
Aku menyuruhnya melakukan itu.
Karena kalian di sini, aku ingin mengatakan ini.
Aku tidak menyukai kalian berdua.
Jadi, aku
tidak ingin kalian keluar masuk rumahku.
No comments yet. Be the first to leave one.