The first 200 lines.
Diadaptasi dari film "Black" oleh Sanjay Leela Bhansali
Namaku Ela.
Aku adalah putri keluarga kaya dari Buyukada.
Ini adalah kisah tentang aku dan guruku.
Kisah tentang dua orang yang dibiarkan cacat oleh Tuhan.
Kami yang melawan takdir dan membuat tidak mungkin menjadi mungkin...
Kisahku bercerita tentang dunia yang berbeda.
Bagiku, suara berubah menjadi keheningan, cahaya berubah menjadi kegelapan.
Dunia ini tidak terlihat ataupun mendengar.
Duniaku hanya memiliki satu nama: Hitam.
Inilah duniaku.
DUNIAKU
Berapa lama kau bisa hidup dalam kegelapan ini?
Berapa hari? Jam? Menit?
Aku sudah hidup dalam kegelapan selama 40 tahun.
Aku telah menunggu kedatangan guruku di dermaga setiap hari selama 12 tahun.
Setiap kepingan salju yang jatuh ke telapak tanganku, mengingatkanku akan dia.
Semua doaku berisikan bahwa dia kembali kepadaku suatu hari nanti.
Berhenti, berhenti, tunggu di sini.
Kakak!
Dia ada di sini. Tuan Mahir ada di sini.
Tidak, aku tidak bercanda. Dia ada di sini.
Berhenti, pelan-pelan.
Guru!
Guru!
Guru!
Guru! Guru!
Hari itu, guruku kembali kepadaku.
12 tahun kemudian.
Tapi dia lupa segalanya. Bahkan melupakanku.
Aku menulis cerita ini untuknya.
Untuk guruku. Untuk Tuan Mahir-ku.
Anda yakin kalau dia tidak mengingat apa-apa?
Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan? -Tidak ada, Nyonya Ayla.
Penyakit Alzheimer Tuan Mahir berada dalam tahap lanjut.
Dokter. Dia pasti mengingat sesuatu, apa saja.
Lagipula, setelah bertahun-tahun, bagaimana dia bisa menemukan rumah kami lagi?
Dia mungkin sudah lupa segalanya, tapi tidak dengan ingatannya akan Ela.
Nyonya Handan, penyakit ini telah menghapus semua ingatannya.
Sayangnya, belum ada obat untuk Alzheimer.
Apa yang Ela lakukan?
Dia membacakan cerita hidupnya, ditulis dalam huruf Braille.
Mungkin ini bisa mengingatkan dia pada sesuatu.
Putriku percaya pada keajaiban.
Dia tidak akan berhenti sampai gurunya ingat.
Ini tidak mungkin.
"Tidak mungkin". Guru Ela tidak pernah mengajarinya kata itu.
Apa yang Anda sebut "tidak mungkin" akan dibuat mungkin oleh putriku.
Gadis cantik Ibu, gadis manis Ibu.
Aku berusia dua tahun ketika aku bertemu kegelapan.
Pada malam itu, kebahagiaan meninggalkan rumah kami.
Apakah anak Ibu sudah baikan? Apakah anak Ibu sudah baikan sekarang?
Apakah anak Ibu sudah baikan sekarang? Ayahmu ada di sini.
Kita lihat apa yang telah dikatakan dokter kepada ayahmu.
Handan...
Dokter bilang...
Ela tuli dan buta.
Apa katamu?
Ela tidak bisa melihat dan dia tidak bisa mendengar.
Anak gadis Ibu.
Ela?
Ela.
Ela.
Anak gadis Ibu yang cantik!
Ibumu...
Ibumu ada di sini...
Ela!
Nyonya, Nyonya! Cepat! Rumah ini terbakar!
Tolong!
- Ela! - Apa yang terjadi?
- Ela! - Ambil air, Huriye!
- Ela! - Ela!
Dengar, Handan, Aku sudah bilang berkali-kali.
Sudah delapan tahun sekarang,...
... setiap hari selalu ada kecelakaan baru yang terjadi di rumah ini.
Dia menusuk seseorang dengan garpu,...
... dan memukul kepala seseorang dengan tempat lilin.
Dia hampir membakar rumah itu.
Gadis ini akan membunuh kita semua suatu hari nanti.
Selama Ela tinggal di rumah ini,...
... kita tidak akan pernah tenang.
- Apa maksudmu? - Dia tidak bisa tinggal di sini lagi.
Jadi, kita mengirimnya ke rumah sakit jiwa?
Teganya kau berpikir hal yang seperti itu?
Handan, Ela juga putriku. Aku mencintainya sama seperti dirimu.
Tetapi tidak mungkin kalau terus seperti ini.
Sebelum bencana yang lebih besar terjadi, Ela harus meninggalkan rumah ini.
- Dia tidak akan pergi ke mana pun. - Kesabaranku sudah habis.
- Ayla! - Cukup!
- Apa yang telah kau lakukan? - Lepaskan dia! Huriye, ambil anakku!
- Biarkan dia, lepaskan! - Dia akan meninggalkan rumah ini!
Anakku tidak akan pergi ke mana pun!
Dia tidak melakukan kesalahan! Tidak ada!
Anakku tidak tahu apa-apa! Dia tidak tahu!
Dia tenggelam di dalam kegelapan.
Dia tidak tahu.
Ada sekolah khusus di Ankara,...
... yang memberikan pendidikan untuk anak-anak seperti Ela.
Mungkin kalau kau mau ikut terlibat, mereka akan mengirimkan seorang guru.
Untuk mengajari anak yang tuli dan buta... kau memerlukan penyihir, bukan guru.
Demi Tuhan Refik, ayo kita coba untuk terakhir kalinya.
Mungkin seorang guru adalah harapan Ela yang terakhir.
- Siapa? - Ini aku, guru, Sumbul.
Sumbul. Pintunya tidak dikunci. Dorong saja dan masuklah.
Kau datang tanpa diundang,...
... setidaknya duduklah dulu dan bertindak seperti tamu sungguhan.
Jangan hanya mengambil barang-barang di sana sini dan mencampur semuanya.
Tuan Mahir...
Tidak seorang pun di luar rumah ini akan menyebut...
... hidup membusuk dengan botol kosong di rumah kumuh, sebagai sebuah kehidupan.
Aku menemani seseorang di sini.
Kau tinggal dengan hantu kakakmu di sini, bukan?
Luka masa lalu tidak bisa sembuh begitu saja, Sumbul-ku sayang.
Tapi aku bahagia di sini sendirian, di rumahku sendiri.
Seseorang sedang mencari seorang guru. Keluarga yang sangat prestisius.
Mereka mengajukan permohonan ke sekolah.
Hanya kau yang memenuhi syarat di seluruh negeri ini.
Aku pikir aku akan mampir untuk menemuimu dan sekaligus memberitahumu.
Mungkin kau akan tertarik, sehingga...
... aku berpikir, kau bisa menyelamatkan sebuah kehidupan.
Menyelamatkan kehidupan...
Menyelamatkan kehidupan...
Aku menciptakan bentuk baru dari bahasa isyarat untuk orang tuli dan buta...
... untuk menyelamatkan kehidupan mereka. Tapi aku tidak bisa melakukan itu pada siapapun.
Dengan upayamu dan dengan pengajaranmu,...
... kau telah membimbing ratusan orang.
Kau mau menciptakan keajaiban, tapi tidak pernah memberikan kesempatan.
Ada seorang gadis yang sedang menunggu, dia bisa meringankan rasa sakitmu.
Dia tuli dan buta.
- Mereka tidak bisa mengatasi dia. - Mereka tidak bisa mengatasi dia?
Kalau kau tidak pergi, mereka akan memasukkan dia ke Rumah Sakit Jiwa.
Sama seperti kakakku yang malang.
Jadi, mereka akan membawa gadis kecil ini ke rumah sakit itu...
... yang pada dasarnya hanya untuk mengubur dirinya ke tempat bau itu, ya?
Ya, guru.
Kalau kau tidak membantu, bidadari kecil ini akan menghilang.
Takdirlah yang telah menyatukan dua jiwa.
Tuhan telah meninggalkanku dalam kecacatan. Kau adalah seorang prajurit yang kelelahan.
Aku sedang menunggu di dalam kegelapanku.
Kau dalam perjalananmu untuk membawakanku secercah cahaya.
Kita lihat dulu anak gadis kita, oke?
Yang belum ada di rumah ini pecandu alkohol, sekarang dia di sini, rumah kita sudah lengkap.
Dia mau bermain. Kita akan bermain.
Oh, kau benar-benar cantik sekali.
Ayo, biarkan aku melihatmu. Ayo.
Ya, orang yang baru. Tangan yang baru.
Wajah yang baru. Bentuk tubuh yang baru.
Mungkin kau suka dengan kacamataku?
Ini dia. Begitu.
Guru. Guru.
Ajarkan...
-Apakah dia mengerti perkataanmu? -Tidak, dia hanya menirukanku.
Bagus sekali, Nak. Bagus sekali.
- Apa yang dia lakukan? - Isyarat untuk Ibu.
Maaf.
Maaf. Aku benar-benar minta maaf.
Tidak apa-apa, Nyonya.
Ini lonceng. Untuk apa lonceng ini?
Itulah cara kami menemukannya kalai dia hilang, Tuan Mahir.
Jadi, kau diperlakukan seperti binatang di rumah ini, ya, Nak?
Kalau kalian menganggap anak kalian sebagai binatang,...
... menurut kalian apa yang dipikirkan oleh orang lain tentang dia?
Kami tidak terlatih secara profesional di sini.
Itu tugasmu untuk membuatnya menjadi manusia, Tuan Mahir.
Tapi aku bertanya-tanya, bagaimana caramu untuk melakukannya?
Dengan jari-jari...
Mata untuk yang buta, suara untuk yang bisu,...
... dan puisi untuk yang tuli.
Kau mengerti?
Ini tidak semudah seperti penglihatanmu, Tuan Mahir.
Putriku keras kepala, sama seperti aku.
Sombong!
Bukan kau, yang kumaksud adalah putrimu.
Makan malam hampir siap.
- Kalau kau mau, ayo kita turun. - Dengan senang hati, Nyonya.
Terima kasih, Nona Huriye.
- Sama-sama, sekali lagi. - Ini, nikmatilah.
Selamat makan.
Waktu itu kami pergi makan malam di Restoran Madame Theodora.
- Makanannya sangat lezat... - Aku belum pernah ke sana.
- Suatu hari, kami akan mengajakmu. - Tentu saja. Aku akan mengundangmu.
-Tentu, aku akan merasa senang. - Nona. Huriye.
Ela.
Nona Huriye.
Tolong bawakan makanan dingin.
Tidak! Tidak.
- Tuan Mahir. Biarkan dia. - Dia harus belajar bagaimana cara berperilaku.
Tolong lepaskan tangannya.
Inilah sebabnya mengapa sejauh ini dia tidak belajar apa-apa.
- Sudah cukup. - Ela.
Tuan Mahir, Ela selalu makan seperti ini.
Ela mungkin selalu makan seperti ini sampai sekarang,...
... tapi itu akan berubah mulai dari sekarang.
Dia akan duduk dan makan dari piringnya sendiri, atau dia akan dibiarkan kelaparan.
Ini bukan sebuah pendidikan.
Apakah ini caramu memperlakukan semua murid cacatmu?
Tidakkah kau merasa kasihan pada mereka?
Jangan pernah memanggil anak ini "cacat" lagi.
Tolong dicatat bahwa kau adalah pekerja di rumah ini.
Aku bukan pekerja, Tuan Refik. Aku seorang guru, seorang guru!
No comments yet. Be the first to leave one.