The first 200 lines.
Trims.
Halo.
Oh... hai.
Bagai... aku baru saja sampai.
Aku baru saja melangkah keluar. Belum masuk ke terminalnya.
Ada masalah?
Dasar bajingan! Dari mana saja kalian?
Kita baru saja ketinggalan pesawatnya. Dan kita akan ketinggalan yang berikutnya.
Kalian tahu kalo gue terancam? Gue bisa dipecat gara-gara ketololan kalian...
Hei, jadinya $30.
Ini dia. Simpan saja kembaliannya.
Ayo, jalan. Helo, bisakah jalan aja?
Baiklah, ayo, ayo, ayo, ayo.
Ayolah, kawan. Jangan berpencar. Jalannya kesini.
Oke, oke. Akan kuhubungi dia.
Janji, akan kuhubungi secepatnya setelah aku mengambil bawaanku.
Oh, tentu aku sedang mencarinya.
Terima kasih.
Sial.
Zona putih hanya untuk menaruh...
dan mengambil barang bawaan penumpang.
Bukan tempat untuk parkir.
Iya, disini Corky, mobil nomor 36. Bos bilang untuk membuat panggilan.
Halo, Victoria Snelling memanggil tuan Pitt.
Ya, saya akan menunggu.
Hei, Ray. Ini Corky memanggil.
Iya, gue lagi di bandara.
Enggak tahu, ini terminal eksekutif atau apalah.
Enggak tahu, gue belum pernah kemari.
Kagak, man semuanya baik-baik saja.
Dengerin, mobil ini jalannya kaya tai, man.
Gue udah ganti businya tadi siang.
Lu tahu, gue bukan ahlinya. Mending lapor ke Gonzalez buat benerin...
Jadinya, gue enggak harus mekanikin.
Larry!
Larry, ini Victoria.
Ya, aku berada di bandara. Maaf, disini berisik.
Aku sedang di tempat pengambilan barang.
Iya, aku... a...
Aku berharap ada kabar baik. Dari aktris yang telah kukirim.
Enggak, man. Semuanya baik.
Nyatanya, gue dapat tip gede dari abang-abang yang mirip musisi.
Eh, Ray. Lu pernah dengar Band bernama Utensil?
Jangan. Dengar, aku membawa tujuh rekaman...
Artis-artis yang paling sensasional dari setiap negara.
Bukan hanya dari New York, Chicago...
Minneapolis, Seattle...
San Francisco.
Hei, mereka semua masih belum diketahui.
Ya.
Oh, mereka mengagumkan. Sangat mengagumkan.
Aku...
Aku...
Aku menyukai mereka semua.
Tapi semuanya tergantung padamu.
Bagaimana jika aku bawa mereka.
Aku akan pulang dulu sebentar.
- Dan aku akan langsung berangkat... - Iya, gue ngerti Ray.
lalu kita duduk lalu menilainya bersama, melihatnya bersama, oke?
Oke, gue dapat penumpang yang mau ke kota.
Santai saja, kau pasti suka dengan salah satu anak ini.
Gausah khawatir, bos. Santai.
Bagaimana?
Segera kesana.
Hei, Ray. Gue bukan bocah, oke.
Hiyah...
- Sial. - Sial.
Hei, Anda butuh tumpangan, nyonya?
Sepertinya, ya.
Sebelah sini.
Kamu supir taksi?
Iya.
Oke, aku... ya, kenapa tidak?
Hati-hati. Dengan yang itu, bisa 'kan?
Aku menyukai barang bawaanku.
Enggak masalah, nyonya.
Aku akan membawa yang itu.
Terima kasih.
Terima kasih.
Aku masih butuh kakiku.
- Maaf. Maaf. - Sebentar saja.
- Anda sudah di dalam?. - Ya, sudah.
Oh, sial.
Apa? Ada apa?
Anjrit. Tidak ada.
Kemana?
Beverly Hills.
65-6549...
Sial.
Ada apa?
Aku meninggalkan buku teleponku, dalam koporku, dimana semuanya tercatat.
- Aku takut kita harus berhenti. - Apa sudah terdaftar?
Terdaftar? Ya, tentu.
Nomor hotel, aku sudah menghubunginya berjuta...
Terima kasih. Terima kasih.
Enggak masalah. Kembalikan saja kalau sudah selesai.
Kau tidak ada masalah disitu?
Enggak usah khawatir.
Kamar nomor 216, tolong.
Carol, ini Victoria.
Ya, Aku...
Aku sudah berbicara dengannya.
Dia gila seperti biasanya. Memukul-mukul tembok.
Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.
Aku sudah bilang sepuluh artis. Penampilannya bagus...
enam diantaranya sempurna.
Tetapi dia terus berteriak. Minta yang mudaan, berumur 18-an
Yang belum berpengalaman.
Tapi kekeraskepalaan dia.
Dia bukan manusia.
Dia sepertinya Android .
Dengar.
Aku harus kesana membawa rekamannya.
Carol, aku... aku... aku akan...
Aku seharusnya makan malam dengan Peter dan Sheran.
Tapi.... Kamu bisa menunggu sebentar?
Nyonya...
Maukah kamu, mematikan musiknya?
- Iya, ma. - Terima kasih.
Beginilah hariku.
Oke, kita sampai dimana tadi?
Bisakah kamu menghubunginya? Dan menjelaskan saat aku tidak bisa...
Bagus.
Apa ada pesan untukku?
Carol.
Apa tuan Kincade menghubungi?
Kamu yakin?
Oke.
Oke.
Okelah, aku akan...
aku akan menghubungi besok.
Bagus. Da-dah.
Apa tuan Kincade pacar Anda?
Ya, benar.
Kupikir begitu.
Cowok, kita enggak bisa hidup tanpa mereka kita enggak bisa matiin mereka.
Ya, kamu boleh bilang begitu.
Buku teleponmu. Terima kasih banyak.
Tentu saja.
Astaga, di musim dingin malam lebih cepat, ia 'kan?
Berjalan di malam hari sepertinya tidak jadi masalah untukmu.
Kenapa harus.
Aku tidak bisa. Karena mataku gelap saat malam.
Apa itu yang terjadi kalau sudah tua?
Tidak... bukan karena itu.
Tidak ada urusannya dengan umur. Aku sudah begini dari lahir.
Iya aja ,dah. Parah.
Oh, terima kasih.
Ini memang bukan urusanku. Tapi kamu merokok seperti kereta.
Oke, ma.
Kamu suka jadi supir taksi?
Ya iyalah.
Maksudku, ya.
Ini kerjaan yang keren.
Apa ini jadi tujuan hidupmu?
Jadi supir taksi?
Terus jadi masalah?
Tidak, tidak. Maafkan aku, aku... aku...
Aku tidak bermaksud begitu...
Iya, akan saya jelaskan...
saya tidak ingin selamanya menjadi supir taksi.
Kamu memang sebenarnya mau jadi apa?
Jadi mekanik.
Mekanik?
Sebenarnya, saya sudah jago.
Abang saya dua-duanya jadi mekanik.
Tapi karena saya cewek...
sama karena masih muda. Jadinya masih... pahamlah.
Apa mau menikah dan punya keluarga?
Tentu saja. Tentu saja mau berkeluarga.
Punya anak cowok, cowok semua.
Tidak mau cewek?
Anak cewek menyenangkan, tahu?
Iya, mungkin, ada ceweknya juga.
Iya, itu bukan intinya.
Intinya mencari cowok yang pas buat jadi bokapnya.
Cerita saja.
Aku ini orangnya pilih-pilih...
saya ini orangnya sabar, walaupun enggak sesabar itu.
Anda pahamlah...
Memang harus menunggu.
Karena memang enggak gampang nemuin cowok yang pas.
Cowok yang benar-benar pas.
Tidak.
Apa mekanik juga?
Saya tidak peduli pekerjaannya apa.
Selama dia benar-benar cinta...
denga seluruh jiwanya...
menerima saya apa adanya.
Aku paham maksudmu.
Kaya yang bokap bilang, "Aku ya aku."
- Benar? - Kamu benar sekali.
Halo. Oh, hai Marty.
Ya, aku sudah berbicara dengannya.
Tentu, aku tahu yang dia inginkan. Aku sudah mendengarnya ratusan kali.
Marty, silakan katakan lagi.
Woi, les nyetir lu sana, dasar gendeng!
Marty...
aku sepertinya menemukan calonnya di dalam taksiku.
Ya, aku sedang naik taksi.
No comments yet. Be the first to leave one.