Release info

BBC Imagine 2014 Anselm Kiefer Remembering the Future 720p HDTV x264 AAC MVGroup org
A Commentary by Sugijo

Tags

HDTV
hdtv
x264
720p
720
HD
Published on: 2016-04-04
Downloads: 32
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

bayangkan... ANSELM KIEFER - MENGINGAT MASA DEPAN

Terimakasih

Aku telah mengerjakan karyaku ini dalam waktu yang lama,

dan menambahkan lapisan dan lapisan dan lapisan,

dan kini aku kembali ke permulaan lagi.

Kau paham, seperti di dalam semesta -

selalu ada konstruki, penghancuran, rekonstruksi.

Semua bintang yang telah mati, dan yang lainnya lahir.

Selalu begitu.

Siapa yang bertanggung jawab atas semua itu?.

Siapa yang memulai ini pada awalnya? Kita tak tahu.

Kita tak tahu kenapa kita di sini. Kita tak tahu kemana kita pergi.

Itu cukup membuat kita putus asa, bukan? Mm-mm.

Sebab kita punya intelektualitas untuk mencoba mengetahui itu, tapi kita tak bisa.

Ketika sebuah bintang meledak, semua materi menyebar ke semesta.

Mereka di sana. Itu bukan...

Tuhan tak kan melupakannya, kau paham.

Dan suatu hari semua itu akan di-rekomposisi. Itu akan...

Daya gravitasi akan me-rekoposisi bintang lainnya, dan jadi... Jadi kusimpan semua itu.

Kutaruh semua ke dalam salah satu kotak di atas sana, kau paham.

Jika kau ke sini, kau bisa lihat ini berbeda...

Apa itu bisa dipindahkan? Ya.

Ini, Lukisan yang berbeda-beda, kau lihat?

Keadaan yang berbeda-beda,

Sekarang lebih baik, aku kira.

Kiefer secara empatik adalah salah satu seniman yang paling signifikan di dunia

yang masih berkarya hingga saat ini.

Di dalam dunia seni, Kiefer adalah benar-benar raksasa.

Ada sejumlah orang yang kreatifitasnya berkutat pada hal-hal yang 'demonik',

dan dia adalah salah satunya.

Ketika aku anak-anak, aku menggali sebuah terowongan di kebun milik orang tuaku,

dan lalu aku tulis sesuatu atau membuat sebuah gambar diatas secarik kertas,

kutaruh ke dalam lorong itu, dan lalu kututup.

Aku berpikir, kau paham, "Kenapa kulakukan itu?"

Pasti ada keinginan yang begitu dalam hingga kau lakukan semua itu.

Aku pikir ketika kau lahir, tahun 1945,

dan, jelas, waktu yang bersejarah di Jerman.

Ketika aku masih anak-anak, rumah para tetanggaku hancur lebur.

Disekelilingku hanya ada puing-puing.

Dan itu adalah arena permainanmu?

Ya, aku tak punya apa-apa selain itu.

Aku bermain dengan batu bata reruntuhan gedung Donaueschingen, kau paham.

Ada banyak batu bata, aku bisa bermain dengan itu.

Kiefer adalah generasi yang dilahirkan pada akhir

masa perang, yang dibesarkan diantara puing-puing peperangan,

menyaksikan, pada tingkat tertentu tentang pemulihan Jerman, tapi, juga,

berurusan dengan rasa bersalah, luka sejarah dari Nazisme.

Kebanyakan sudah memendamnya, dan kukira Kiefer juga

merupakan bagian dari sebuah generasi yang mulai mempertanyakan itu.

Itu kini jadi hal yang luar biasa

sebab Jerman pernah nyaris mendapat kesempatan terbaik di dunia

untuk mendidik anak-anaknya tentang perang dan 'holocaust' dan Nazi.

Tapi bahkan sampai akhir tahun 60-an, bukan itu yang mereka lakukan.

Sesuatu yang mendalam dan mengerikan sedang terjadi,

Jerman menutup diri dalam kebisuan dan penyangkalan - semacam amnesia yang disengajaan

Nazi menguasai kesenian - mereka yang memutuskan mana yang bagus dan mana

yang buruk. Kiefer sepertinya ingin memurnikan, membersihkan peran itu lagi.

Dari permulaan, kau sangat berterus terang.

Ceroboh, bahkan, sebab, seperti katamu, Jerman belum siap untuk itu.

Tapi... Aku juga belum siap.

Titik awal adalah bagian 'innocent'.

Bagian bodohnya, jika kau ingin katakan begitu.

Salam 'Sieg Heil' telah dilarang di Jerman sejak tahun 1945.

Berpakaian seragam 'Wehrmacht' ayahnya

dan menampilkannya di depan kamera adalah protes Kiefer melawan lupa.

Ketika ia membawa foto-foto itu ke guru-gurunya, mereka kebanyakan ketakutan.

dan salah satu yang memahami apa yang hendak dilakukan seniman muda pintar

usia 24 tahun ini

adalah salah satu guru, bernama Kuchenmeister,

Yang sebenarnya, aku yakin, pernah masuk ke sebuah kamp konsentrasi.

Dan ia mendukung Kiefer untuk maju terus dengan caranya itu.

Ich weiss nicht Was soll es bedeuten

Dass ich so traurig bin

Ein Marchen aus uralten Zeiten

Das kommt mir nicht aus dem Sinn...

Sebagai seniman muda,

Anselm Keifer senantiasa bangga atas luka terbuka sejarah Jerman.

Lukisannya pada masa itu

dipenuhi dengan kata-kata yang berhubungan dengan

pahlawan-pahlawan mitos Jerman -

Siegfried, Hermann, Parsifal -

legenda-legenda penuh darah jauh di masa lalu.

Ini adalah pahlawan-pahlawan yang sama yang digunakan Nazi ketika membangun kultus.

Hal ini membuat para kritikus tak nyaman,

dan mengarah pada kemarahan ketika ia mewakili Jerman

pada Venice Biennale, dengan beberapa orang yang menuduhnya seorang fasis.

Apakah ia sedang menebus para pahlawan Jerman ini dan menghapuskan dosa-dosa mereka?

Jika orang-orang bilang, "Oh, siapa yang membuat ini? Apakah ini 'neo-Nazi'?

Lalu, mm...

Lalu aku tak akan bilang apa-apa, sebab aku kembali ke masa awal,

yang waktu itu, aku tak tahu apa aku ini.

Kau paham?

Tidak jelas apa aku ini di usia 30-an, atau 39-an.

Tidak jelas apa yang terjadi denganku di saat ini,

dan kebanyakan para intelektual, tidak menanyakan hal ini -

apa yang sudah mereka lakukan, apa yang mereka benar-benar rasakan.

Kesuksesan Kiefer datang pada tahun 1980-an, dan dia gunakan

untuk membeli dan merenovasi sebuah pabrik batu bata di Buchen, Jerman.

Di sini ia mengembangkan

patung dan instalasi.

Dia mulai menciptakan

dunia bagi dirinya sendiri.

Aku datang ke Buchen untuk melihat sendiri studio pertamanya,

dan untuk menyaksikan Kiefer meng-instal beberapa karya baru.

Kupikir kita harus ke... sana. Ya, kita ke atas sana.

Hati-hati dengan kepalamu. Ya.

Ini satu pesawat utuh tapi tidak kulanjutkan.

Ini terlihat janggal.

Pengalaman yang penuh teka-teki dan sedikit membingungkan,

dan Keifer sendiri sulit bertahan -

dan tidak hanya secara fisik.

Kadang kumasukkan berlian ke dalamnya. Lalu Valentinus-nya.

Kau tahu, ee..

Perancang busana?

BUKAN! Bukan, bukan, bukan. / Siapa yang kau bicarakan?

Valentino dari cerita-cerita lama.

Oh... Bukan, dari... Dia dari... dari...

abad kedua sesudah masehi.

Aku melihat kebawah sini dan menyaksikan kotak-kotak ini.

Tentunya, kau mengumpulkannya. / Ya. / Dari mana kau dapatkan itu semua?

Di bangunan ini ada banyak material benda-benda kerajinan kuno.

Ya. / Ya. / Dulu ini adalah sekolah yang terbakar. Kutemukan banyak benda.

Aku selalu bisa melihat apa yang bisa cocok dimasukkan dalam karyaku.

Tapi kau tak butuh tahu kemana benda itu nantinya akan cocok?

Tidak, sering kali tidak. Ayo kebawah sini.

Ketika aku mengerjakan lukisan-lukisan jerami tahun 80-an, lalu aku kadang

aku mengambil kapak, dan kupotong jerami itu dari kanvas jika kebanyakan,

atau ketika yang kuinginkan cuma sisa-sisa jerami pada lukisan,

dan lalu... Aku tidak membuangnya, dan aku bawa kesini.

Itu mungkin sudah ada di sini selama berapa tahun?

Kapan kau kerjakan lukisan-lukisan jerami itu? / Oh, itu ada di sini selama... sejak '84.

Jadi itu ada di sini selama kira-kira...

30 tahun, hingga kini. / 30 tahun, ya. / yah, ini... dan ini tidak berubah.

Mereka bertahan dengan sangat, sangat baik!

Apakah kau suka membuang semua hal? / Tidak, tak pernah. tak pernah semuanya.

Kupikir semua dapat...

digunakan lagi atau dirubah.

Benar di sini, di Buchen karya Kiefer mulai berkembang

ke arah yang baru.

Begitu dia menapak lebih jauh ke dalam rasa bersalah dan rasa takut sejarah Jerman,

bagaimana pun itu sepertinya lukisan konvensional

tak lagi cukup.

Dia mulai mencampurnya dengan abu, tanah

dan jerami - sisa-sisa dunia.

Kedua lukisan ini karya Kiefer

yang menanggapi 'Death Fugue' (Todesfuge)

sebuah puisi tentang Holocaust

yang ditulis penyair Yahudi Paul Celan.

Susu hitam siang hari kita minum kau saat malam

Kita minum kau saat siang dan pagi

Kita minum kau saat matahari terbenam

Kita minum dan minum

Ada seorang lelaki di rumah ini

Rambut emasmu Margaret

Rambut putihmu Shulamith

Jika kisah seram dunia

bisa diekspresikan oleh para seniman,

lalu itu bisa disebut sebagai pencapaian, bukan?

Kata "pencapaian" itu sangat sulit.

Itu... seseram perasaan si subjek, seni menjadi indah.

Itu... Itu bahkan sebuah kutukan. / Sebuah kutukan?

Itu kutukan. Bahwa seni menjadi keindahan, kau paham. Tapi...

Em... itu bukan berarti bahwa kau telah menemukan pemahaman tentang dunia.

Kau harus mengkonstruksikan sebuah rasa.

Kau bisa saja tergoda untuk berpikir bahwa seni mampu menebus dunia.

Tak bisa.

Kau lihat itu? / Ya. / Itu adalah tungku...

Tungku batu bata. / Tungku batu bata.

Ini benar-benar, bagiku, sangat mengejutkan, ini,

Aku tak pernah mengubah apa pun aku hanya menaruh bola lampu ke dalamnya,

sebab ini sudah... aku tak bisa membuatnya lebih bagus, kau paham. / Mm.

Seperti ini, kau paham.

Yah, tentu, tanpa mengatakannya, ini.. / Tentu.

... sangat mengganggu ketika kau menyaksikannya.

Ini... Untuk alasan itu, Aku tak pernah melakukan apa-apa lagi di sini.

Ini sudah cukup. / Ya.

Dein goldenes Haar Margarete

Dein aschenes Haar Sulamith...

Julien, ca va?

Alasan Kiefer kembali ke Buchen bersama para pembantunya

adalah untuk memasang karya-karya barunya ini.

Ini lagi-lagi adalah karya foto 'Occupations',

kini digunakan lagi dan diubah seperti halnya dengan jerami.

Foto-foto itu telah diperbesar, ke atas lembaran timbal yang besar.

Di tahun 60-an, aku tak bisa melakukannya,

sebab aku tak punya cukup uang memperbesar foto segede ini,

jadi aku tinggalkan banyak kemungkinan untuk ditindaklanjuti.

Aku ketika muda dan gagah

Timbal adalah bahan yang sangat mudah bereaksi dengan udara.

Maksudku, bahan itu beracun, itu bahan dasar, itu kimiawi

dan Kiefer menyukainya.

Kukira dia menyukai kenyataan bahwa bahan itu mengkontaminasi.

Aku pikir, kau paham, kontaminasi sejarah oleh bermacam rejim

adalah sesuatu yang dia eksplorasi.

Aku kira kenyataan kebanyakan buku-bukunya terbuat dari timbal,

kau paham - interpretasi secara harfiah -

beban sejarah, yang masih menggaung

'Sejarah adalah sebuah benda'

Ia seprti tanah liat, kau paham.

Kau bisa membentuknya sesuka hati.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left