The first 123 lines.
Hari demi hari akan terus berlalu.
Dan itu berlaku bagi setiap orang.
Maka dari itu, keseharian dalam hidup adalah dirimu sendiri yang menentukan.
"Akankah hari ini terjadi hal bagus?"
Aku benci kata-kata itu.
Jangan bergantung seperti itu. Karena harus dirimu sendiri yang menentukan.
Bercanda, deh. Karena meskipun tahu hal itu,
berlalunya waktu itu tidak terlihat,
dan bila dibiarkan begitu saja, akan ada banyak hal yang tersia-siakan.
Dan di sinilah, tempatku menghabiskan waktu.
Bunyi bel.
Menjadi pertanda jam pelajaran selesai,
pulang sekolah,
dan masuk sekolah.
Aku benar-benar terikat di tempat ini, ya.
Anu ....
Maaf mengganggu.
Sesuatu yang paling kuingini ....
Sesuatu yang dapat melenyapkan kebosanan dalam hidupku ...
... adalah kebebasan.
Saya masih belum ...
... memberikan jawabannya, 'kan?
I-Iya.
Maka dari itu—
Sebetulnya ...
... bukankah kita masih belum saling mengenal?
Makanya ...
... apa Pak Kanai mau minum bareng?
Heh?
Ah, oke deh.
Sudah cukup lama, ya, sejak terakhir kali kamu ke mari?
Iya.
Sudah cukup lama.
Dasar bodoh, kenapa kamu malah malu-malu kucing begitu?
Aku enggak bodoh ....
Mugi ....
Mari lakukan.
Tak akan bisa melampauinya.
Diriku yang saat ini pasti takkan bisa melampauinya.
Kalau begitu, aku akan berubah.
Akan kutunjukkan perubahanku.
Tak peduli bagaimanapun caranya.
Saya sangat senang karena bisa berbicara seperti ini dengan Bu Minagawa.
Saya juga.
Karena saya juga menantikan kesempatan untuk dapat berbicara dengan Pak Kanai.
Rasanya jadi gugup, ya.
Dan,
bagian menariknya hanya di awal saja.
Ternyata memang untuk meningkatkan kemampuan siswa ...
... perlu dilakukan pendekatan, 'kan?
Sayang sekali.
Kalau menurut Bu Minagawa bagaimana?
Hari ini pun gagal juga.
Bu Minagawa.
Ah, aku sih berpikir kalau mereka harus lebih berjuang lagi ....
Iya juga, sih.
Bukan itu maksudnya ...!
Padahal tadinya aku enggak berniat minum sebanyak ini ....
Habisnya, orang ini sangat membosankan, sih!
Apa Anda sungguh tidak ingin minum?
Iya.
Soalnya, saya sangat lemah terhadap alkohol.
Saya pulang!
Heh?
Ah, tunggu, Bu Minagawa.
Percuma saja bila begini.
Aku sangat membenci orang-orang yang membosankan.
Bu Minagawa, tolong tunggu sebentar.
Anda masih belum memberi jawaban.
Jawaban ...?
Iya, makanya ...
... apakah Anda mau menjadi—
Duh, gawat!
Apa kamu baik-baik saja, Hana?
Ah, maaf, aku keceplosan.
Kutarik perkataanku yang sebelumnya.
Tampaknya, hari yang membosankan ini akan berubah jadi sangat menyenangkan.
Kamu juga melakukan ini dengan orang lain, 'kan?
Kamu pun demikian, 'kan?
Mugi ....
Tunggu dulu, Mugi!
Apa kamu tidak ingin bekas cupanganku ketahuan sama seseorang?
Enggak juga.
Tapi sebagai gantinya ...
... lakukanlah sampai akhir.
Eh, enggak, ah. Itukan melanggar peraturan kita.
Ada apa?
Apa ada yang terjadi?
Suka.
Karena itulah dia direbut darimu.
Aku tak mau.
Tak mau?
Kalau begitu,
cari toko yang lain saja?
Bukan itu maksudku, tapi yang "lebih".
Aku juga ingin melangkah maju!
Aku tidak mau begini terus.
Bawalah saya ke tempat yang lebih menarik.
Makanya ...
Bukan di sini, tapi di suatu "tempat".
Heh?
Anu, Bu Minagawa?
Ujung-ujungnya di hotel juga?
Apa Anda bilang sesuatu?
Enggak, kok.
Tempat yang Anda tunjukkan indah, ya.
Benarkah?
Terkadang saya ke mari.
Sangat indah, ya.
Si Yasuraoka dari kelas C itu sangatlah imut, 'kan?
Heh?
Kalian berdua tampaknya sangat dekat.
Hana ..., eh, Yasuraoka itu sudah tetanggaan dengan saya sedari dulu.
Jadi kami berdua sudah seperti saudara.
Jika saya seperti memberikan perlakuan khusus padanya ....
Bukan, bukan begitu.
Mungkin rasanya aneh
kalau aku cemburu padanya ....
Apa Anda tak keberatan?
Apa kamu tak keberatan?
Dengan ini?
Heh?
Tak akan bisa melampauinya.
No comments yet. Be the first to leave one.