The first 200 lines.
Alih Bahasa: Doyan_Nonton
Saat malam tiba, terasa sangat menakutkan di kampus.
Terutama di Fakultas Seni.
Mahasiswa senior bilang, ada seorang gadis yang gantung diri di sini.
Dia ditinggal kekasihnya dalam keadaan hamil.
Itu sebabnya sekarang dia gentayangan di tempat itu.
Ada seorang pemuda yang pernah melihat gadis itu di lokernya.
Tapi hanya kepalanya.
Dia terus mendatangi pemuda itu.
Aku merasa takut, saat membicarakannya.
Jangan khawatirkan aku, Ibu. Aku akan segera pulang.
Sampai jumpa nanti.
Pat! Pat...
Kenapa? Kau tidak mengenaliku?
Apa-apaan kau ini?
Bersihkan dirimu. Kau bisa buat orang terkena serangan jantung!
Bisa pinjam sabunmu?
Kau masih di sini? Matikan lampunya saat kau pergi!
- Ya. - Anak-anak ini.
Bisanya buat masalah saja.
Entah bagaimana cara kalian dibesarkan...
...tapi di sini kita menghormati orang yang lebih tua.
Kalian harus kerjakan semua perintah kami.
Menurut kalian, kalian sudah siap untuk kuliah?
Kalian tidak tahu itu!
Kalian tidak bisa apa-apa!
Apa kau tidak bisa bicara yang baik?
Kami manusia, bukan binatang.
Kami punya perasaan.
Kalau tidak suka, pulang saja!
Pulanglah ke Ibumu, dia tidak akan berteriak padamu.
Jangan berlagak jagoan!
Manis sekali.
Kami punya aturan di sini.
Kalian harus mematuhinya!
Laba-laba berjalan ke segala arah, mereka suka melompat dan bermain.
Makan. Makan!
Kunyah!
Laba-laba berjalan ke segala arah, mereka suka melompat dan bermain.
Laba-laba berjalan ke segala arah, mereka suka melompat dan bermain.
Laba-laba berjalan ke segala arah, mereka suka melompat dan bermain.
Laba-laba berjalan ke segala arah, mereka suka melompat dan bermain.
Laba-laba berjalan ke segala arah, mereka suka melompat dan bermain.
Ayamnya sudah masak. Ayamnya sudah masak..
Tak lama lagi akan ditusuk.. Tak lama lagi akan ditusuk..
Tusuk dari kiri, tusuk dari kanan. Panas sekali, panas sekali..
Oh, Sayangku yang mungil..
Aku tidak akan pernah pergi jauh darimu.
Aku mencintaimu dengan cinta yang tiada akhir.
La la la la la la..
Malaikat pelindungmu akan dijaga malaikat pelindungku.
Aku akan menjaga dan melindunginya dengan hidupku.
La la la la la la..
Semoga rasa sakitmu akan hilang, Sayangku.
SCARED
Ini sungguh keterlaluan!
Berita apa yang ibu baca?
Acara perploncoan itu. Mereka sudah keterlaluan.
Lihatlah perbuatan mereka terhadap para murid baru.
Kejam sekali!
Itu tidak sungguhan. Ibu yang berlebihan.
Aku tidak mau kau ikut.
Memulai kuliah saja sudah cukup berat.
Kenapa harus ada masa orientasi ke pedalaman?
Apa kau benar-benar harus ikut, Sayang?
Aku bukan anak kecil lagi.
Semua teman-temanku ikut. Aku juga harus ikut.
Lihatlah rokmu, itu terlalu pendek! Dan bajumu juga terlalu ketat.
- Jangan mengomel! Aku harus pergi. - Tunggu! Obatmu sudah kau bawa?
Aku sudah bawa semuanya.
Jaga dirimu, Nak. Ibu selalu khawatir terhadapmu.
- Baik, Bu, aku pergi sekarang. - Ya. Baiklah.
Pergilah, Sayang.
Sampai jumpa.
Semester Pertama!
Tahukah kau...
Ada seseorang, yang diam-diam...
...suka padamu.
Mengikutimu..
Memperhatikanmu..
Dan kalian bahkan bertemu setiap hari?
Semester Pertama!
Tahukah kau...
Siapa dia yang diam-diam mengagumi dirimu?
Pak Sopir, jangan ikuti mereka, mereka pasti sudah gila!
Halo.
Tampan sekali!
- Bagaimana dengan namamu? - Namaku Mai.
Wajahnya tampan, tapi namanya jelek?
Aku akan memberimu nama baru.
Bagaimana kalau "Moo Ping"? .
Terima kasih, namaku sudah cukup bagus.
Kau tidak suka? Baiklah..
Bagaimana kalau "Ting Tong"? (Gila)
Itu cocok dengan pria bertampang bodoh.
Ibu?
Halo?
Hei, lihatlah.
- Anjing kecil! - Itu anjingku
- Oh, dia lucu sekali! - Kau tahu siapa namanya?
Ting Tong!
Masa Orientasi Semester Pertama
Tenang saja, jangan panik!
Kita sudah sampai.
- Note? - Kalian mau ke mana?
Hei! Ayo, cepatlah!
Kami sedang masa orientasi.
- Masa Orientasi sekolah? - Benar.
- Saat ini hutannya ditutup. - Tidak.
Itu tidak mungkin! Kami sudah datang jauh-jauh!
Kalian tak lihat hujan deras. Jalannya terlalu licin.
Bagaimana jika kalian kecelakaan?
Berapa yang akan jadi korban?
Aku tidak mau bertanggung jawab untuk itu.
Hutan ditutup!
Lalu kami harus tidur di mana? Nanti dulu.
- Hei! Kita bicarakan dulu! - Hei, Tua Bangka! Kuhajar kau nanti!
- Kita harus bagaimana sekarang? - Bagaimana ini?
Brengsek!
Dasar bajingan!
- Makanlah! Kau tidak lapar? - Aku haus, belum minum.
- Aku akan ambilkan minumannya. - Tidak apa-apa, biar aku saja.
Terima kasih.
Kau mau minum apa, Mai?
- Apa saja. - Baik, aku akan segera kembali.
Membosankan sekali!
Rasa mienya tidak enak sekali. Aom, kau mau coba?
- Ini membuatku kesal! - Kita tidak bisa masuk.
Sekarang hujan turun. Apa yang akan kita lakukan?
Ke pulau, Mai! Ke pulau Samet!
Aku bilang kita ke pulau saja, tapi tak ada yang mau.
Bomb benar. Jika kita ke pulau pasti akan lebih baik. Ini salahmu!
Aku mau pergi ke tempat menyeramkan. Kalian tidak suka tempat seram?
Kita bukan anak TK!
Ada yang tak beres di sini. Entah bagaimana semuanya bermasalah.
- Lalu, apa rencanamu? - Ya, apa?
Kita sudah mengerjai murid baru.
Kita akan ke pulau Samet. Kau bisa lakukan apa saja yang kau mau.
Aku akan mempertimbangkannya.
Kalian ingin pergi ke hutan?
- Ya, kenapa? - Aku ingin ikut.
Kami tidak bisa masuk Penjaga tidak izinkan kami lewat.
Jangan lewat rute yang biasa.
Ada rute lain. Sebuah jalan tua yang sudah tidak dipakai lagi.
- Aku akan tunjukkan pada kalian. - Jalan itu menuju ke hutan?
Ya.
Itu ada jalan keluarnya. Apa lagi yang kau tunggu?
- Kita sudah sejauh ini. - Hei!
Penjaga itu melarangnya! Apa kalian sudah gila?
Siapa yang bertanya padamu?
Kalau tidak suka, pulang saja!
Jia kau bawa mereka ke hutan dan terjadi sesuatu, itu salahmu.
- Jangan ikut campur. - Kau pikir kau siapa?
- Komandan? - Aku yang bawa kalian semua ke sini.
- Kalau tidak suka, pergi saja! - Mai! Aku tahu rencanamu.
- Kau ingin meniduri gadis-gadis ini! - Hentikan, kalian berdua!
Cukup, hentikan!
Hentikan!
Pat, tidak ada yang memaksamu ikut.
Kalau kau takut, pulang saja dan ajak yang lain bersamamu!
Hei, tunggu.
- Ada apa? Aku mau pulang. - Jangan begitu, Pat.
Kita datang bersama dan kita akan selalu bersama-sama.
Ini sudah tidak menyenangkan lagi.
Jangan khawatir, sebelumnya menyenangkan, bukan?
- Dia tertawa. - Tidak, aku mau pergi!
Ayolah!
Tetaplah bersama kami, Pat.
- Lucu sekali, menarik-narik tasku! - Jangan begitu.
- Tapi kalian harus baik padaku! - Nah, begitu!
Maaf, apakah itu?
- Gerbang hantu. - Untuk apa?
Warga sekitar percaya semua pengunjung harus melewati gerbang itu dulu.
Hentikan bisnya!
- Kenapa berhenti? - Ya.
Aku takut.
Aku ingin memberi persembahan untuk hantu hutan. Apa salahnya?
Hantu apa? Aku kepala hantu di sini!
Apa yang kau takutkan? Kau terlalu percaya tahayul!
Kita semua harus melewati gerbang itu.
Itu hanya buang-buang waktu.
Apa maksudmu?
- Apa itu? - Aku tidak tahu.
Bukan apa-apa. Hanya ranting pohon.
Ayo, jalan. Kita sudah banyak buang waktu.
Apa jembatannya kuat?
Tentu, bahkan kuat untuk pengangkut barang yang berat.
Bis kecil seperti ini tidak akan jadi masalah.
Jembatannya kecil sekali.
Jika kau ragu, aku akan pandu jalannya.
Ayo jalan. Apa yang kau takutkan?
Ada yang tak beres?
Ayo jalan!
Jembatannya aman. Jalan!
Hei, aku akan coba periksa ke belakang.
Alasan yang bagus, Aom!
Dasar banci pengecut!
- Terus jalan. - Ayo, jalan saja.
Kita terlalu sering berhenti.
Pegang tanganku, Pat. Genggam yang erat!
No comments yet. Be the first to leave one.