Release info

경우의-수-More-Than-Friends-E04-NEXT-iQIYI
A Commentary by ANANG2196

Tags

other
Published on: 2020-10-11
Downloads: 11
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 192 lines.

[Nama, bisnis, tempat, dan insiden yang disebutkan hanyalah fiksi.]

Silakan.

Ini dia.

Kau sudah bekerja keras selama 30 tahun terakhir.

Terima kasih.

Ayah. Terima kasih sudah bekerja keras selama ini.

Terima kasih, Nak.

Coba kulihat.

Ibu pikir kau punya pekerjaan tetap saat Ayah pensiun.

Jangan lakukan itu. Biarkan dia makan.

Makanlah.

[Aku tidak berpikir bisa berakhir seperti Ayah.]

[aku tidak pernah bisa mencapai tempatnya.]

Pak.

Kontrakku habis bulan depan.

Bisakah aku memperpanjang kontrakku?

Akan ada pelamar yang lebih muda dan cantik.

Bagaimana, ya?

Kau sungguh tidak akan bekerja?

Kau berhenti dari pekerjaanmu hampir dua tahun lalu.

Kau memenangkan satu kontes dan berpura-pura berhasil.

Kau banyak bicara dan bilang baik-baik saja dan jangan khawatir.

Kau menyebut bekerja di kafe "baik-baik saja?"

Ayolah.

Kau akan membuatnya sakit perut.

Ini sebabnya dia kularang mengambil jurusan menulis kreatif.

Sial.

Kau pikir hidup itu sastra?

Bukan hanya kau yang kesulitan.

Semua orang juga bertahan. Kenapa kau sangat tidak dewasa?

Salahku karena tidak dapat pekerjaan?

Apa ini salah anak muda?

Dua orang dipekerjakan untuk pekerjaan tiga orang.

Bahkan saat itu, hanya satu yang menjadi pegawai tetap.

Bagaimana bisa semua anak muda mendapatkan pekerjaan?

Kompetisi ini konyol.

Jika ingin melakukan apa yang diinginkan,

masyarakat memandang mereka sebagai sampah. Masyarakat yang salah.

Young-hee adalah asisten manajer

dan Jin-ju adalah jaksa.

Hanya putri kami yang hanya seorang putri.

Sayang. Makanlah.

Kau juga. Makanlah.

Makanlah.

Aku akan keluar.

Tunggu. Sebentar.

Ini.

Makanlah sesuatu dengan teman-temanmu.

Maaf Ayah tidak bisa bertahan lebih lama.

Maaf.

Hanya putri kami

yang hanya seorang putri.

Lihat?

Aku tidak melarikan diri.

Kenapa kau sangat bersemangat?

Buka kokleamu yang kau akui cantik dan dengarkan baik-baik.

Aku tidak tertarik dengan bedebah sepertimu lagi.

Dan aku tidak akan pernah menyukaimu lagi.

Tidak akan pernah.

Kau yakin?

Ya.

Bagaimana dengan cerita-cerita di Seoul?

Kita akan memberikan takarir di setiap kota.

Contohnya, untuk Yeonnam-dong dan Mangwon-dong

yang area komersialnya diperluas karena gentrifikasi Hongdae,

tambahkan "Kami mungkin digantikan, tapi kami tetap hidup"?

Aku menyukainya.

Bagaimana menurutmu, Pak Lee?

Tentu.

Aku berencana memotret 8 wilayah yang kusebut,

rel terbengkalai dekat Seoul,

dan taman bermain terbengkalai.

Aku akan melihat foto dan menulis sesuatu yang sesuai.

Kau tidak boleh melihat foto-foto itu. Kau harus ikut denganku.

Kenapa aku harus ikut denganmu?

Ini pertemuan kerja. Kau tidak perlu sekasar itu.

Nona Kyung.

Tidak ada alasan untuk pergi bersama.

- Aku tidak membutuhkan... - Sensitivitas adalah kunci buku ini.

Menulis dari meja, dan menulis setelah

melihat dan merasakan tempat itu akan berbeda.

Aku tidak berniat menulis dari mejaku.

Aku berniat pergi secara terpisah.

Itu tidak akan berhasil.

Meski tempatnya sama, akan terasa berbeda tergantung

waktu, musim, dan siapa dia.

Jika foto dan teksnya terpisah,

bagaimana buku ini bisa terasa tulus?

Jangan terpengaruh perasaan pribadi.

- Mari bersikap profesional... - Ini bukan pertemuan kerja.

Tolong jangan menilai diriku dengan perasaan pribadimu.

Karena kau menyerahkan tulisannya padaku, itu di bawah wewenangku.

Aku tidak mau dipaksa merasakan dan berpikir oleh fotografer.

Itu sebabnya aku ingin pergi sendiri.

Akan kubiarkan kalian memutuskan.

Baiklah.

Kau mudah tertipu.

Bagaimana kau bisa begitu mudah diprovokasi?

Jangan salah paham.

Aku hanya berusaha bekerja.

Pekerjaan ini lebih penting bagiku daripada yang kau bayangkan.

Aku tidak punya alasan menyerah karena hal tidak penting sepertimu.

"Tidak penting?"

Aku ragu aku "tidak penting" bagimu.

Kau tidak penting dibandingkan kesempatan sekali seumur hidup ini.

Selain itu,

memang kau tahu banyak tentangku? Jangan berpura-pura mengenalku.

Tentu saja aku mengenalmu.

Kita sudah berteman bertahun-tahun.

"Teman?"

Baiklah.

Mari berteman.

Setiap kali mengulurkan tanganmu, aku harus pergi atau hilang.

Biasanya untuk menyingkirkanku.

Bukankah munafik menjauhiku

dan berkata, "Mari berteman?"

Maksudku kita hanya harus bekerja.

Untuk itu, kita harus membuat batasan.

Aku tidak ingin bingung

atau berharap.

Menjadi teman akan mencegah hal itu terjadi.

Jadi,

mari kita benar-benar berteman.

Tidak mau jika itu bersyarat.

Kenapa dia sangat kekanak-kanakan?

Woo-yeon.

Aku ingin mengantarmu pulang karena sekarang hujan.

Aku "tidak penting?"

Dia tidak pernah membawa payung.

Dia hanya memelototiku.

Maaf karena tadi aku berlari.

Tidak apa-apa karena kau sudah kembali.

Tapi kau akan menyesali hal lain.

Apa?

Kancing di jaketku terlepas.

Begitu rupanya. Maaf.

Aku akan mengganti kerugiannya.

Aku sudah memperbaikinya.

Kau harus mentraktirku makan.

- Makan? - Kupikir kau menyesal.

Mari jadikan itu alasan untuk makan bersama.

Apa kegiatanmu hari Sabtu ini?

Aku belum punya rencana untuk hari Sabtu.

Mau makan siang?

Mari kita makan malam saja.

Kau pasti punya rencana untuk makan siang.

Benar. Kau pasti sibuk karena kau CEO.

Bukan karena aku sibuk.

Makan malam lebih seperti kencan.

Begini...

Maaf,

- tapi apakah ini... - Mungkin

ini seperti yang kau pikirkan.

Tapi kau tidak tahu apa yang kupikirkan.

"Apa pria ini tertarik padaku?" Apa dia mendekatiku?"

Bukankah kau berpikir begitu?

Jawabanku untuk semua pertanyaan itu

adalah ya.

Tunggu sebentar.

Bisakah kau menepi sebentar?

Kau menawariku pekerjaan

karena menyukaiku?

Kau menyedihkan sekali, Kyung Woo-yeon.

Kau tahu apa yang paling membuatku kesal?

Dalam waktu sesingkat itu,

kupikir aku harus memakai perasaanmu untuk mempertahankan pekerjaan ini.

Bagiku, pekerjaan ini adalah mimpiku.

Aku harus mendapatkan pengakuan.

Dengan begitu,

aku bisa dengan bangga melakukan keinginanku tanpa merasa malu.

Bukan itu alasannya.

Bagaimana aku bisa memercayaimu?

Ini aneh.

Aku tidak punya apa-apa

dan aku bukan siapa-siapa.

Tapi kau mau aku menerbitkan buku.

Menurutmu kenapa kau tidak punya apa-apa?

Menurutmu kenapa kau bukan siapa-siapa?

Bagaimana dengan mereka yang terhubung dan terhibur dengan karyamu?

Itu membuat mereka apa?

Saat aku melihat karyamu,

aku merasa kaligrafimu berbicara kepadaku.

Apa aku perlu menjelaskan lebih lanjut

alasanku menawarkan pekerjaan?

Aku sudah memproses kepulanganmu.

Kau pasti lapar.

- Halo. - Halo.

Kau punya rencana?

Tidak. Dia mendadak datang.

Aku tidak tahu dia kedatangan tamu.

Aku bukan tamu.

Aku walinya.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left