The first 200 lines.
KING THE LAND
Kamar mandinya lebih besar dari rumahku.
Sungguh menakjubkan.
Suara apa itu?
- Jangan lihat. - Tidak akan.
Serius jangan lihat.
Aku tak akan lihat meski kau paksa.
Kau anggap aku apa?
EPISODE 2
Lekas keluar.
Maaf, bisa tolong tinggalkan aku?
Aku harus mengambil ponselku.
Nanti kuantarkan.
Cepat buka. Aku sibuk.
Aku buka, ya.
Maafkan aku.
Mohon maaf sebesar-besarnya.
Kau kenal aku, 'kan?
Kita pernah bertemu, 'kan?
Tidak, tak pernah.
Maafkan aku.
Maaf.
Ini kamarku…
Mari bicara sebentar.
Apa-apaan? Kenapa dia mengikutiku terus?
Berhenti.
Kau tak dengar aku?
Apa kau memanggilku, Pak?
Kau yang menjatuhkanku
dari alat lari statis, 'kan?
Apa? Alat lari statis?
Kau menyebutku mesum tanpa alasan.
Kau tak ingat?
Mesum?
Dasar mesum!
Hei…
Kau akan mati di tanganku
jika hal ini terulang lagi.
Ingat itu, Pak Mesum.
Si kaus harimau itu?
Benar.
- Kau ingat sekarang? - Ya.
Pantas tadi
kau tidak langsung balik badan, malah menatapku.
Mesum itu lebih tepat
untuk orang yang duduk di toilet dengan kaca transparan.
Tetap saja aku tak separah kau.
Minta maaf kepadaku
soal kejadian hari ini dan waktu itu.
Maafkan aku soal kejadian hari ini.
Namun, seingatku kau yang salah waktu itu
dan aku yang mestinya menerima permintaan maaf.
Kenapa harus minta maaf?
Aku tak perlu bicara lagi
bila kau tak tahu salahmu.
Aku mohon pamit.
Selamat beristirahat, Pak.
Hei.
Hei!
Aku belum selesai bicara.
Maaf, kurasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Baik dahulu maupun kini,
aku tak tertarik kepadamu sepeser pun,
jadi, berhenti membuntutiku.
Kau sungguh tak cocok diajak bicara.
Kita tak akan cocok dalam hal apa pun.
Baiklah.
Dari sikapmu, kurasa aku pun tak perlu bersikap sopan kepadamu.
Biar kuperingatkan.
Jangan coba-coba muncul di hadapanku lagi.
Baik, Pak. Kuharap juga begitu.
Jangan tersenyum juga.
Staf Hotel King akan selalu menyambut tamu dengan senyuman manis sepenuh hati.
Bila tak suka melihat senyumku,
silakan pertimbangkan mencari hotel lain.
Aku mohon pamit.
Dahulukan tamu.
Dasar pria mesum kurang ajar!
Yang benar itu "sedikit pun," bukan "sepeser pun."
Apa?
Bukan, "aku tak tertarik kepadamu sepeser pun,"
tapi "aku tak tertarik kepadamu sedikit pun."
Itu pemilihan kata yang benar.
Aku takut kau diremehkan orang.
Dasar menjengkelkan.
RIWAYAT HIDUP GU WON
Tak kusangka kau mau membuat riwayat hidup.
Tampaknya kau sangat ingin bekerja di sini.
Aku harus ikut aturan.
Salinan identitasnya?
Kita keluarga. Masih butuh?
Aku harus ikut aturan.
Jangan bekerja jika malas mengurus dokumen.
Buat apa memaksakan diri, padahal kau tak peduli urusan kantor?
Nanti kuserahkan.
Menarik.
Salinannya dua lembar.
DIREKTUR PELAKSANA, GU HWA-RAN
Tiga puluh menit.
Selamat siang.
Kita bertemu lagi.
Aku yang akan menjadi pembawa acara pelantikan hari ini.
Begitu?
Tadinya aku malas tampil di depan banyak orang,
tapi para atasan bersikeras harus aku.
Aku paham perasaanmu.
Terlampau populer itu malah membuat kita kewalahan.
- Mau makan berdua sepulang kerja? - Mau sekali!
- Kau tak apa? - Tak apa. Aku senang sekali.
Kalau begitu, sampai jumpa saat makan malam nanti.
Baik.
Semoga sukses membawakan acara.
Ya.
Lihat. Kau bisa.
Bagus, Sang-sik. Kau hebat.
- Kau mau ke mana? - Menyalin identitas.
Masalah itu biar suruh para staf. Semua sudah menunggu.
Menunggu siapa? Aku?
- Kenapa? - Acara pelantikan.
Setelah itu, ada jamuan makan malam bersama jajaran direksi
serta naratama.
Lupakan. Aku tak mau ikut.
Komisaris yang memerintah sendiri ke tim Humas.
Kenapa kau gugup begitu?
Kelak kau akan sering berpesta.
Mari.
Selamat siang, Hadirin.
Aku manajer yang bertugas membawakan acara hari ini, Kim Su-mi.
Sekarang mari kita mulai acara pelantikan
untuk menyambut manajer umum baru Hotel King.
Mohon beri sambutan kepada Pak Gu Won.
Kenapa si mesum itu ada di situ?
ACARA PELANTIKAN MANAJER UMUM GU WON
Lekas lanjut acara.
Aku baru pertama lihat…
Maksudku,
selanjutnya adalah sambutan dari Pak Gu.
Bagaimana ini?
Jangan tersenyum.
Jangan tersenyum.
Jangan tersenyum.
Jangan tersenyum.
Selamat siang, aku Gu Won.
Mohon bimbingan kalian.
- Tolong akhiri acaranya. - Apa?
Baik.
Kalau begitu, mari kita akhiri acara pelantikan ini
dengan penyambutan dari staf terbaik Hotel King,
- Nona Cheon Sa-rang. - Tamatlah aku.
Persembahkan karangan bunga.
Sial.
Kita…
bertemu lagi.
Selamat bergabung, Manajer Umum Gu!
Sungguh?
Senang menyambutmu di sini.
- Senang? - Benar, Pak.
Ini simbol perasaan kami.
Rencananya pekan depan akan ada syuting
video promosi bersama staf teramah tahun ini, Nona Cheon Sa-rang.
Tim Humas sendiri yang akan memberi naskahnya.
- Hanya itu? - Ya.
- Kau boleh keluar. - Baik.
Aku juga pamit.
Nona yang ramah tetap di sini.
Sudah kuperingatkan jangan muncul di hadapanku.
Aku berjanji akan berusaha keras menghindarimu.
STAF TERBAIK
- Kau paham arti ramah? - Ya, aku paham betul.
Menghindari orang yang kau segani itu ramah?
Aku hanya mengikuti larangan bertemu denganmu.
Omong-omong,
kenapa aku disebut mesum?
Selain berteriak aneh di pusat kebugaran
yang merupakan tempat umum,
kau memberikan kunci kamar berkedok tip kepadaku.
Ditambah memo bertuliskan,
"Aku bersedia menerima perasaanmu. Demi malam membara kita."
- Aku? - Kuakui aku tidak bertindak
sesuai prosedur karena masih baru kala itu.
Akan tetapi,
bukan berarti aku bisa direndahkan seperti itu
hanya karena tugasku adalah melayani tamu.
Apa maksudmu? Kapan aku memberi kunci kamar?
Aku tidak pernah memberi kunci kamar.
Apalagi kau sama sekali bukan tipeku.
Kau yakin aku yang memberikannya?
Kau pakai kaus gambar harimau waktu itu.
Kau bercanda?
Memang semua yang pakai kaus itu mesum?
Jelas-jelas kudengar orang berkaus harimau yang memberikannya.
Berarti kau
menyebutku mesum hanya dari kaus…
tanpa memastikan orangnya?
Bukan kau yang memberikannya?
Kau anggap aku apa?
Buat apa?
Kenapa aku memberimu kunci?
Sudah kubilang
kau sama sekali
No comments yet. Be the first to leave one.