The first 200 lines.
- Siapa namamu? - Gye Hyang-sim.
"Gye" bukan "Gae."
PANTI ASUHAN GUREUM
Nama anak perempuanmu?
Gye Ha-yun.
Namanya sangat keren, 'kan?
Aku memilih Ha-yun karena kudengar itu nama populer di Korea.
Nama belakangnya aneh.
Setidaknya namanya tidak menonjol agar dia bisa membaur.
Tidakkah dia berat? Mau baringkan di sofa sebelah sana?
Tidak.
Tidak usah.
Aku akan memeluknya.
TIdurnya sangat nyenyak. Padahal ini siang hari.
Aku memberinya obat.
Obat? Untuk anakmu?
Jika Ha-yun bangun,
dia pasti tidak mau berpisah dariku.
Begitu, ya.
Di mana alamatmu?
Aku tidak meninggalkan Ha-yun.
Jangan biarkan dia diadopsi.
Aku akan kembali untuknya.
Tentu.
- Namun, kami tetap butuh alamat… - Kau meremehkan ucapanku?
Aku tidak meninggalkan Ha-yun.
Aku hanya menitipkan sementara
untuk ke kamp pemasyarakatan.
Kamp pemasyarakatan?
Maksudku, penjara.
Penjara.
Apa kau pembelot Korea Utara?
Jangan pernah membedakan Ha-yun karena dia anak seorang pembelot,
atau menjahatinya karena dia anak seorang kriminal.
Aku akan kembali menjemput Ha-yun.
Baik.
Ibu!
- Ibu! - Ha-yun, jangan keluar sendirian.
- Ibu! - Kemarilah.
Ibu!
- Ha-yun. - Ibu!
- Ibu! - Ibu…
akan segera kembali.
Ibu, jangan pergi!
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Ibu!
Ibu!
KASUS 6 JIKA AKU ADALAH PAUS…
Ya, baiklah.
- Ya? - Pak Pengacara Jung memanggilku?
Ya. Pengacara Choi mendapat kasus kepentingan publik.
Pembelot Korea Utara yang didakwa perampokan.
"Pembelot Korea Utara yang didakwa perampokan."
Menurutku, tidak banyak yang bisa dilakukan pengacara untuk kasus ini.
Namun, kau tahu, Pengacara Choi terlalu bersemangat.
Aku merasa dia akan terlalu berempati kepada terdakwa.
Jadi, kupikir kau bisa menangani kasus ini dengannya
dan menenangkannya.
"Menenangkannya"?
Ya. Tenangkan Pengacara Choi agar tak menangani kasus ini dengan emosi.
Seperti ini.
Tenanglah.
- "Tenanglah." - Bagus.
- Tenanglah. - "Tenanglah."
Buat dia santai. Tenanglah…
Kau boleh pergi.
- "Tenang…" - Buat dia tenang.
Tenanglah.
"Tenanglah."
"Tenanglah."
Masuk.
Ini…
Kau tidak datang untuk bekerja atau belum pulang?
"Pulang"? Apa itu pulang?
Apa itu seperti "kehidupan setelah bekerja"?
Itu hanya dalam fantasi dan tidak nyata.
Itu…
Itu…
Kau baik-baik saja? Pekerjaanmu tak banyak?
Pekerjaan?
Tentu banyak.
Pergelangan tanganku sakit karena mengetik selama sepuluh jam kemarin.
Aku sudah mengidap sindrom Asperger.
Pada tingkat ini, mungkin aku akan menderita sindrom lorong karpal.
Bulu hidung putihku mulai tumbuh karena tidak bisa tidur.
Aku akan menangani kasus kepentingan publik denganmu.
Pembelot Korea Utara yang didakwa perampokan.
Apa? Kasus Hyang-sim?
Hyang-sim?
Nama terdakwa adalah Gye Hyang-sim.
Aku pernah bertemu sekali. Kepribadiannya keren.
Seperti perempuan tangguh.
Pengacara Jung berpikir kau terlalu bersemangat pada kasus ini.
Katanya kau bisa terlalu berempati dengannya.
- Sungguh? - Ya.
Dia memintaku untuk menenangkanmu.
Tenanglah.
Tenanglah.
Tenanglah.
Young-woo, kau pernah ke pusat penahanan?
Tidak. Belum pernah sekali pun.
Cepat ajukan kunjungan. Mari menemui Hyang-sim.
Astaga.
Pengacara Choi.
Apa kabar?
Ini Pengacara Woo.
Dia akan menangani kasus ini denganku.
Halo, aku Woo Young-woo dari Firma Hukum Hanbada.
Dibaca dari depan atau belakang tetap Woo Young-woo.
Tamat, katak, taat, malam, Woo Young-woo.
Begitu, ya.
Woo Hyang-woo?
Apa?
- Bukan… - Mengapa kita
tidak duduk dahulu?
Ya.
Bagaimana kabarmu di sini? Pasti sulit bagimu.
Tinggal di sini?
Mereka memberiku makan dan tempat tinggal.
Ini seperti hotel.
Aku hanya merindukan anakku, Ha-yun.
Itu yang membuatku sedikit sedih.
Bu Gye, kau pembelot Korea Utara.
Mengapa tak bicara dengan dialek?
Kamerad Woo Young-woo.
Aku sudah lama membelot. Mengapa bicara begitu padaku?
Astaga! Pusat penahanan di Korea Selatan terlihat seperti hotel!
Apa sudah seperti pembelot Korea Utara?
Ya, maaf.
Mari kita bahas kasusmu.
Karena ini pertama bagi Pengacara Woo, kita mulai dari awal.
Apa kau dan korban, Lee Sun-yeong, sudah saling mengenal?
Tidak. Lee Sun-yeong bukan pembelot Korea Utara.
Kami tak mengenal satu sama lain.
Aku menemuinya untuk uang di hari itu.
Ibu yang memberitahuku tentang dia.
Ibu?
Maksudmu broker pembelot Korea Utara, Choi Yeong-hui?
Dia bukan ibu kandungku, tetapi ibu angkatku.
Kami semua memanggilnya Ibu.
Andai saja Ibu mengembalikan uang yang dia pinjam dariku…
Biar kusimpulkan.
Lima tahun lalu,
kau meminta kepada Ibu, broker pembelot Korea Utara, Choi Yeong-hui,
sepuluh juta won yang dia pinjam darimu.
Bukannya membayarnya kembali secara langsung kepadamu,
Choi Yeong-hui bilang bahwa uangnya masih ada di Lee Sun-yeong,
sehingga memintamu mengambilnya.
Benar.
Utang dia kepada Ibu, sepuluh juta won, dialihkan kepadaku dan Jeong-hui.
Jeong-hui?
Kim Jeong-hui, kaki tanganmu?
Kamerad Woo Hyang-woo.
Kau bingung karena terlalu banyak orang yang terlibat?
Tidak.
Kau berteman dengan Kim Jeong-hui, 'kan?
Kami tidak benar-benar berteman.
Kami mengenal satu sama lain melalui Ibu.
Bisa disebut teman.
Dia juga pembelot Korea Utara. Seumuran denganku.
Setelah dapat uang dari Sun-yeong, kau berencana membagi dengan Jeong-hui?
Benar. Masalahnya, mengapa Sun-yeong
bersedia memberikan kami uang yang bahkan tidak dia berikan kepada Ibu?
Kalau saja kami menangkapnya berbohong saat itu,
Jeong-hui dan aku seharusnya tidak dianggap remeh.
Dia bahkan tak mengunci pintu.
Apa dia tidak takut?
Dia pemberani.
Jeong-hui, waspadalah.
Dia tidak akan mudah memberi uang.
Kau tahu betul dia sangat gigih memakan uang Ibu.
Urus dirimu sendiri. Kaulah yang terlalu polos.
Tidak ada orang sejahat diriku di Semenanjung Korea.
Ayo pergi.
Ambil satu.
Lee Sun-yeong!
Keluar sekarang!
Keluar!
Di mana kau?
Kau!
Serahkan uang Ibu!
- Uang apa? - "Uang apa"?
Kau masih berutang sepuluh juta won kepada Ibu.
Kau!
Di mana kau sembunyikan uangnya?
Apa di dalam kamar?
Tidak.
Lepaskan aku kali ini. Situasiku tengah sulit.
Sial!
Hei, Jalang Pencuri!
Kau pikir situasi kami lebih baik?
Benar. Cepat minggir!
Tidak, jangan masuk!
Lepaskan!
No comments yet. Be the first to leave one.