The first 200 lines.
Nusantara,
gugusan kepulauan terbesar di Bumi ini
telah lama menjadi incaran seluruh dunia,
karena kekayaan dan keindahan alamnya.
Surga di khatulistiwa yang tertera di sejarah,
sebagai awal perebutan bangsa-bangsa di Eropa,
yang hingga hari ini menjadikan Indonesia
dijajah,
dijarah,
dan ditipu melalui perjanjian politik
dan perdagangan.
Yang pada akhirnya menyisakan bangsa
dan rakyat yang tidak pernah memperoleh dan menikmati
kekayaan serta kemakmuran tanah Indonesia.
Ketika sebagian besar muka Bumi masih diliputi kegelapan,
rempah-rempah telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan
dari darah dan daging manusia.
Selama ratusan tahun,
pulau-pulau penghasil rempah-rempah diselimuti kabut,
dan hidup hanya dalam imajinasi para pendongeng.
Dalam Nathaniel's Nutmeg disebutkan,
pulau-pulau itu telah tercium baunya jauh sebelum tampak.
Bau yang bahkan bisa tercium dari dalam Kitab Suci Injil
dan Al Quran.
Para pedagang Cina membawa rempah-rempah dan menyembunyikannya
di balik timbunan sutera.
Para pedagang Arab menyembunyikan pulau-pulau penghasil rempah
di balik berita-berita bohong
tentang manusia-manusia kanibal pemburu kepala.
Persaingan antara Portugis dan Spanyol
dalam menemukan pulau-pulau penghasil rempah,
membawa dunia ke perjanjian diplomatis terbesar
yang pernah ada sepanjang masa.
Dunia dibagi menjadi dua bagian
dalam Perjanjian Tordesillas, 1494.
Sebelah barat untuk Spanyol
dan sebelah timur untuk Portugis.
Bartolomeu Diaz berputar-putar
mengelilingi Tanjung Harapan pada tahun 1488.
Christopher Columbus sebenarnya sedang mencari jalan menuju Hindia,
ketika tersesat dan menemukan
benua Amerika pada tahun 1492.
Di tahun 1497, Inggris turut mengambil bagian
dalam pencarian rute langsung.
Namun John Cabot hanya berhasil tiba di Amerika Utara.
Sementara Vasco da Gama dari Portugis,
berhasil sampai di Kalikut, setahun kemudian.
Jatuhnya pusat perdagangan rempah di India dan Malaka di tangan Portugis,
memperbesar kemungkinan Eropa
untuk menemukan pulau-pulau penghasil rempah.
Alfonso de Albuquerque memerintahkan dua armadanya
dibawah pimpinan Antonio de Abreu dan Fransesco Sarrao
untuk melakukan penelusuran ke timur.
Mereka berlayar dari Goa, India, ke Malaka.
Kemudian dari Malaka, melalui Madura,
Bali, Lombok, dan Aru, sampai ke Banda.
Pada tahun yang sama,
armada Portugis yang lain juga tiba di Ternate.
Penemuan atas pulau-pulau penghasil rempah, Banda
dan Ternate
memperuncing persaingan antara Spanyol dan Portugis.
Perseteruan ini selesai
dengan dibaginya kekuasaan Spanyol,
membentang dari Meksiko ke arah barat
sampai Kepulauan Filipina,
dan wilayah kekuasaan Portugis membentang dari Brasil
ke arah timur, ke Kepulauan Maluku, dalam Perjanjian Zaragoza.
Kurang dari 100 tahun setelah kedatangan Portugis dan Spanyol
di Kepulauan Rempah,
Belanda dan Inggris juga tiba
dan ikut menancapkan kekuasaannya.
Jalur laut inilah yang menjadi cikal bakal jalur maritim dunia hingga hari ini.
Menegaskan posisi jalur rempah
sebagai rute yang jauh lebih penting dibandingkan jalur sutera.
Berakhirnya Perang Salib menandai dimulainya
era penjelajahan paling spekulatif
yang pernah terjadi sepanjang sejarah manusia.
Keberadaannya yang misterius,
serta kebutuhan yang terus meningkat,
dan harga yang sangat mahal ketika itu
membuat pulau-pulau penghasil rempah
begitu diburu.
Eropa bermaksud mematahkan
monopoli pedagang Arab
selama ratusan tahun
dengan menemukan surga yang mereka khayalkan.
"Setelah tahun 1500,
tidak ada lagi rempah yang dimiliki tanpa adanya pertumpahan darah."
Ditulis penyair Perancis, Voltaire.
Repah-rempah yang lebih berharga dari emas saat itu
menjadi daya tarik utama perlombaan antar-bangsa
untuk menemukan wilayah-wilayah baru.
Hampir 500 tahun
sebelum pendaratan Apollo 11 di bulan,
penjelajahan mencari pulau-pulau pencari rempah
menjadi satu-satunya perjalanan terpenting manusia.
Sebelas pulau yang merupakan Kepulauan Banda terdiri dari:
Pulau Gunung Api,
Pulau Banda Besar,
Banda Neira,
Hatta, atau dulu namanya Rozengain,
Pulau Ay,
Pulau Rhun,
Pulau Syahrir,
sebelumnya namanya adalah Pulau Pisang.
Empat pulau terakhir ini tidak berpenghuni.
Nailaka,
Manukang,
Karaka
dan Pulau Batu Kapal.
Syahdan,
langit menjatuhkan buah pala untuk orang Banda.
Dalam legenda yang paling banyak dituturkan,
tersebutlah seorang pangeran yang ingin meminang
seorang putri bernama Cilu Bintang.
Si pangeran diminta untuk membawa 99 buah emas.
Namun karena tidak ditemukan,
si pangeran mengambil 99 buah berwarna keemasan
yang ditemukan dia di hutan
dan dijadikan upeti.
Raja murka.
Sang pangeran pun ditangkap dan dibunuh.
99 buah keemasan itu dibuang ke tengah hutan,
dan tumbuh sebagai pohon pala.
Banda telah disebut dalam Nagarakertagama,
yang ditulis pada tahun 1365, sebagai Wandan.
Gugusan pulau vulkanis
yang terbentuk akibat ledakan besar purbakala ini,
juga telah disebut dalam Buku Ke-16 dan 17
Babad Tanah Jawi,
lewat kisah seorang pangeran yang menderita penyakit kulit,
dan tidak akan sembuh sebelum menikahi perempuan dari Banda.
Banda menjadi pusat perdagangan rempah-rempah,
khususnya pala dan cengkeh ketika itu.
Orang Banda tidak saja menjual pala dan fuli,
tapi juga mereka pelaut-pelaut unggul,
sehingga mereka membeli cengkeh dari Ternate
dan menjual di Banda juga, begitu.
Transaksi perdagangan yang begitu luar biasa
menyebabkan terjadi apa yang disebut konflik di antara mereka.
Pengaruh Ternate, pengaruh Tidore masuk,
lalu muncullah
apa yang disebut dengan Kelompok Lima dan Kelompok Sembilan.
Kelompok Lima yang dikenal dengan istilah Orlima,
sedangkan Kelompok Sembilan dikenal dengan istilah Orsiwa.
Ini memang pembagian masyarakat secara sosiologis
yang ada di Maluku pada umumnya.
Yang menarik, di Banda,
ada satu kelompok penyeimbang
yang fungsinya mencegah konflik
dan mengkoordinir Kelompok Lima dan Sembilan,
yang disebut sebagai Kelompok Urtatang.
Setiap persoalan yang berhubungan dengan perdagangan itu diselesaikan
di dewan Urtatang.
Dewan Urtatang ini yang menentukan
harga pala sama untuk setiap pulau,
dengan demikian perdagangan pala itu sangat stabil
karena harganya ditentukan secara bersama.
Orang-orang Banda dalam perdagangan itu
walaupun mereka bertransaksi dengan pedagang dalam jumlah yang besar,
tapi tidak ada perjanjian tertulis.
Yang ada adalah sumpah di antara mereka.
Pedagang yang mau membeli rempah-rempah,
pala, atau fuli, atau cengkeh yang mereka datangkan dari Ternate,
itu cukup dengan mengangkat tangan ke langit
lalu menyepakati bahwa Tuhan bersaksi
bahwa saya bersedia menjual pala sekian
kepada pedagang ini dengan harga sekian.
Seperti halnya cengkeh yang berada di utara,
pala dan fuli
dibawa keliling dunia
ribuan mil jauhnya.
Armada kapal berbagai jenis dan ukuran hilir mudik,
menandakan bahwa rempah-rempah
merupakan komoditi yang sangat berharga.
Pala di Banda ini jenisnya Myristica fragrans ,
pala yang paling tajam aroma, rasanya juga.
Tapi kalau dari bentuk,
buah pala itu ada beberapa jenis, ya.
Ada pala jantah, toh? Ada pala betina.
Pala jantan itu juga, hasil buahnya itu, ya,
kadang-kadang lebih banyak dari pala betina,
cuma belum tentu dalam satu kali musim itu dia berbuah.
Jadi, cenderung banyak petani di Banda sini, ya,
dia kurang memanfaatkan pala jantan,
sebab mereka pikir terlalu lama jaraknya untuk bisa dipetik hasilnya, ya.
Untuk menghindari secara langsung sengatan matahari yang begitu tajam,
pohon-pohon pala di Banda ini perlu pelindung, ya.
Karena pala itu rentan dengan matahari langsung, ya.
Jadi seharusnya,
petani-petani pala itu juga harus menyiapkan pohon-pohon pelindung,
macam kenari, pohon yang lebih besar dari pada pohon pala.
Di Banda, memang pala sebagai tanaman endemik, ya.
Sebab, ada kecocokan dengan tanah
yang ada di Banda, yaitu vulkanis, ya.
Sebetulnya syarat utama itu vulkanis, ya.
Dan juga... apa... udara laut.
Sebab kalau kita tanam di daerah lain selain Banda,
atau di pulau yang lebih besar, yang mengandung vulkanik juga,
semacam di Jawa Tengah, ya, di daerah Ungaran,
No comments yet. Be the first to leave one.