The first 200 lines.
Ayah juga baru pulang.
Kamu pulang cepat.
Ayo turun, Gi Ppeum.
- Ayah menjemputnya? - Ya.
- Gi Ppeum. - Ayah.
Chi Woo?
Katanya, dia hendak pulang dan menawariku tumpangan.
"Chi Yoo"?
"Chi Yoo"?
Namamu Chi Yoo?
- Benar Chi Yoo? - Apa?
Ayah, sudahlah.
Namamu. Apakah Chi Yoo?
- Apa? - Sayang.
Apakah Choi Chi Yoo?
Bukan.
Namanya Chi Woo, bukan Chi Yoo.
Namanya Im Chi Woo.
Im Chi Woo?
Kita salah sangka lagi.
Kamu benar-benar sedang lelah.
Sayang, sudahlah.
Baik.
Maafkan aku.
Tidak apa-apa.
Tapi Anda baik-baik saja?
Ya.
Aku mengira kamu orang yang kukenal.
Kamu pasti terkejut. Maafkan aku. Selamat malam.
Ya, kalau begitu, sampai jumpa.
Selamat malam.
"Episode 25"
Sayang, kamu tidak apa-apa?
Chi Woo bukan nama yang biasa.
Nama itu sangat jarang.
Aku terkejut saat mengira dia mengatakan Chi Yoo.
Reaksimu wajar.
Aku bereaksi sama
saat melihat wanita yang mirip dengan sketsa itu.
Aku tidak bisa fokus.
Betapa beruntungnya kita
jika dia muncul di hadapan kita seperti ini.
Apakah Chi Yoo-ku hidup bahagia?
Akankah dia bahagia?
Namamu.
Apakah Chi Yoo?
Apakah Choi Chi Yoo?
Aku penasaran siapa Choi Chi Yoo.
Kamu sudah di rumah? Kamu pasti terkejut tadi.
"Kamu sudah di rumah? Kamu pasti terkejut tadi"
Kami harus bertahan hidup dengan ini sampai pinjaman datang.
Tidak kusangka aku bahkan tidak punya 2.000 dolar.
Kamu sudah di rumah? Kamu pasti terkejut tadi.
Reaksi ayahku itu wajar. Aku bisa menjelaskannya lewat SMS.
Akan kujelaskan saat ada kesempatan.
Aku akan menghargai pengertianmu.
Tentu saja. Aku mengerti.
Jangan pikirkan aku dan tidurlah yang nyenyak.
"Untuk Ayah"
"Ayah, aku sayang Ayah. Dari Chi Yoo"
Ayah, aku sayang Ayah.
- Ayah. - Ya?
- Ini. - Suap atau tidak?
Suap atau tidak?
- Suapi ayah. - Suap atau tidak?
Enak! Kini giliranmu.
Baiklah.
Ini dia. Suap atau tidak?
Suap atau tidak? Suap...
Ayah akan menangkapmu.
Ayah datang.
Kamu datang, Nak.
Ini enak.
Aku berdoa semoga tiap hari adalah ulang tahun Ayah.
Benarkah?
Maka umur Ayah akan bertambah tiap hari dan tua sangat cepat.
Benarkah? Kita harus bagaimana?
Entahlah. Kita harus bagaimana?
Aku tidak peduli lagi.
Hari ini bukan ulang tahun Ayah.
Kenapa bukan?
Aku tidak mau Ayah menua.
Aku tidak mau.
Ayah tidak boleh menua?
Tidak boleh? Benarkah?
Tapi sepertinya ayah akan menua.
Tidak boleh?
"Ayah, aku sayang Ayah. Dari Chi Yoo"
Tapi sepertinya
ayahmu sudah menua, Chi Yoo.
"Kedua pihak dipastikan sebagai ayah dan anak"
"Chi Yoo"?
"Chi Yoo"?
Chi Yoo... Jika kita menemukannya saat aku hidup atau sudah wafat,
kuharap kamu bisa menjadi seorang ibu baginya.
Tidak, Ibu.
Itu tidak akan pernah terjadi.
Tidak akan pernah kubiarkan itu terjadi.
Apa yang terjadi kepadanya?
Katanya akan pulang larut, tapi dia tidak pulang sama sekali?
Astaga, dingin.
Sayang, kenapa kamar kita dingin sekali?
Apa-apaan ini? Apa yang terjadi di sini?
Kami tidur bersama semalaman di sini?
Hei, bangunlah. Ayo, bangunlah.
Di mana rumahmu?
Astaga, dia membuatku gila. Bukan main.
Aku bertanya di mana rumahmu.
Hei, Pengharum Udara. Jang Mi Hyang!
Kenapa kamu melepasnya?
Astaga, kuharap aku bisa menelantarkannya di jalanan.
Kenapa kamu minum banyak jika tidak kuat?
Hei!
Sial.
Baiklah. Aku akan menunggumu 30 menit lagi.
Jika kamu tidak bangun, aku akan menelantarkanmu di jalanan.
Hei!
Aku seharusnya membiarkan dia di jalanan.
Kenapa kamu tidur di sini? Aku bodoh sekali!
Istriku akan membunuhku saat aku pulang. Astaga, ini gila.
Ponselku.
"Sayang. Jawab ponselmu. Kamu baik-baik saja?"
Pesan teksnya terus berdatangan.
Tamat riwayatku. Astaga, tolong aku.
Kamu sangat menggemaskan, Wan Seung.
Kamu baru saja memberiku uang untuk taksi, bukan?
Ada masalah mendesak.
Pulanglah dengan taksi, ya?
Kamu naif sekali.
Bermalam bersama bukanlah hal besar.
Kenapa kamu tidak bisa menatap mataku?
Bermalam bersama? Astaga, berhenti mengatakan itu!
Naiklah taksi. Hei, itu dia!
Taksi! Kemarilah!
Hei, naiklah sekarang.
Cepat.
Hei, Mi Hyang! Kamu...
Sampai jumpa. Aku akan meneleponmu!
- Aku berangkat, Nenek. - Hei.
Bagaimana dengan Yi Yoo?
Tim Desain bekerja larut lagi kemarin. Dia akan berangkat nanti.
Bagus, Berangkat kerja lebih siang karena tiap tim berbeda-beda,
itu wajar.
Tim konstruksi dijadwalkan mempresentasikan mal.
Nenek akan datang, bukan?
Tentu saja.
- Nenek sedang membaca dokumennya. - Begitu rupanya.
Sayang, kamu akan baik-baik saja?
Kamu terlihat kurang sehat.
Jangan khawatir. Aku bisa menemanimu.
- Kamu akan ke stasiun hari ini? - Ya, Ibu.
Menurutku dia kurang sehat, tapi dia terus bilang tidak apa-apa.
Haruskah aku izin istirahat sore?
Tidak, ibu akan ikut denganmu.
Selagi kamu di sana, amati prosesnya dengan cemat.
Baik.
Jika hal seperti ini terjadi lagi,
aku akan menggugat pemerintah.
Suruh mereka tetap jeli.
Tentu.
Aku mengirimmu karena percaya kepadamu.
Jika orang lain, tidak akan mungkin
Meski orang bilang aku galak,
aku tetap ke sana dan memeriksanya sendiri.
Baiklah, Ibu.
Maafkan aku, Chi Woo.
Aku ketiduran.
Jangan meminta maaf.
- Kamu tidak sakit, bukan? - Tidak.
Aku tidak bisa langsung tidur semalam.
Aku tidur kemalaman.
Aku biasanya tidak ketiduran.
Omong-omong, Chi Woo,
meski berkali-kali kupikirkan,
- aku masih berpikir bahwa Ibu aneh. - Aneh? Kenapa?
Saat aku tidak di sini, kurasa dia menjaga Ha Neul.
- Benarkah? - Ya.
Pada saat itu, Ayah pergi seharian.
Aku yakin hanya Ibu yang ada di rumah pada hari itu.
Saat aku kembali, popoknya masih bersih.
Dan bayiku minum tiga bungkus susu formula.
- Kamu yakin? - Ya!
Awalnya, kukira Ha Neul tidak pipis.
Itulah dugaanku.
Tapi dia tidak mungkin minum susu formula seorang diri.
Bagaimana mungkin...
- Apa yang kalian bisikkan? - Selamat pagi.
Kalian terlihat sangat dekat.
Kamu.
Kamu sudah mendaftarkan kelahirannya?
Baiklah. Kamu akan terus keras kepala tentang hal ini?
Dengarlah.
Selesaikan dalam empat hari
atau tidak ada tunjangan anak, dan aku tidak mau menyekolahkannya.
Kamu tidak akan mendapat uang saat kuusir.
Jika kamu mau anakmu menderita, lakukan sesukamu.
Tunggu, Ibu.
Jangan ikut campur.
Jangan ucapkan pemikiranmu. Hitung saja hari untuknya.
Jika dia tinggal satu hari lagi...
No comments yet. Be the first to leave one.