Green Mothers' Club

Green Mothers' Club (그린마더스클럽)

Download Indonesian Subtitle

Specials

Release info

ᆢᆢ그린ᆢ마더스ᆢ클럽ㆍGreen-Mothers-Club-E13 220518 NEXT
A Commentary by _ch_911_
NF Retail | RT 01:05:29

Tags

other
Published on: 2022-05-19
Downloads: 14
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Rhea, apa kau sudah bangun?

Aku sudah bangun sejak tadi.

Kau sedang apa? Apa kau sibuk?

Tidak, aku senggang.

Omong-omong…

Apa kau tahu…

betapa indahnya tempat ini?

Apa?

Aku sedang di Seoul.

Apa yang terjadi?

Aku hanya merindukanmu.

Ada apa?

Kau tak merindukanku?

Tentu saja aku merindukanmu.

Aku tak tahan lagi.

Aku benar-benar merindukanmu.

Profesor, tunggu sebentar.

Kau sungguh tak mau memberitahuku?

Sudah kubilang padamu.

Kenalanku yang mengirimnya dan dia punya alasan tersendiri.

Namun, aku tak mengirimnya ke yang lain selain dia.

Lalu siapa kenalanmu itu?

Aku tak bisa memberitahumu.

Kenapa tidak?

Kau melindungi seorang kriminal?

Apa maksudmu kriminal? Dia tidak seperti itu, Profesor.

Hapus itu sekarang.

Kau juga.

Kau kirim ke siapa lagi?

Tidak ada. Hanya dia.

Jika kau telah menyebarkannya, suruh mereka semua menghapusnya.

Aku tak akan tinggal diam jika kulihat foto itu lagi.

Kau mengerti?

EPISODE 13 DUA WAJAH KEBENARAN

Anak-anak, ayah pulang.

Ayah!

Astaga, putraku. Bagaimana harimu?

Kau jaga rumah dengan baik, Dong-seok?

Bagaimana kuliahmu?

Bau apa ini?

Ya ampun!

Astaga.

Kau tidak mencium bau ini?

Tidak.

Jae-ung.

Ya?

Kau tahu belakangan ini banyak foto orang yang bocor di internet, bukan?

Ya.

Apabila…

seseorang melihatnya dan lapor polisi,

apa polisi akan melakukan investigasi?

Tergantung.

Biasanya, jika korban melapor, tim kejahatan siber menyelidikinya.

Bagaimana jika korbannya telah mati?

Maka keluarganya bisa melapor.

Kenapa?

Ada seseorang yang kau kenal? Atau selebritas?

Bukan.

PUSAT KONSELING WECHILD

Halo.

Kau mengirim pesan, ya?

Maaf, aku sibuk dan lupa membalas.

Ada apa?

Apa ada masalah?

Kenapa? Apa yang terjadi?

Aku melihat foto ini kemarin dan aku sulit memercayainya.

Tanganku gemetar dan aku tak bisa melakukan apa pun.

Aku tak bertanya lebih lanjut dan hanya menyuruh mereka menghapusnya.

Seharusnya aku menanyakannya, tetapi aku sangat terkejut.

Namun, setelah pulang ke rumah, aku menjadi tak bisa tidur.

Aku tak bisa bilang pada Louis karena itu terlalu kejam.

Namun, aku bisa gila jika membiarkan hal itu.

Eun-pyo.

Lupakan saja itu.

Sejujurnya, kurasa sebaiknya kau jangan ikut campur menangani hal ini.

Bagaimanapun, itu kehidupan pribadi ibu Henry.

Kita tidak tahu

bagaimana foto itu diambil.

Menurutmu, bukankah suaminya ingin

mengingat kenangan indah saja tentang dia?

Lalu bagaimana dengan Jin-ha?

Dia mungkin sudah mati, tetapi nama baiknya layak dijaga.

Kau ingin melukai perasaan yang masih hidup

demi menjaga nama baik orang yang sudah mati?

Aku paham perasaanmu.

Namun, orang mudah bicara dan mudah melupakannya.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang akan melupakan itu.

Namun, akan lebih baik bagi semua orang jika kau membiarkannya.

Jangan terlalu dipikirkan. Semua pasti akan segera berlalu.

Hati-hati, Chun-hui.

- Baiklah. - Dah.

Ayo, Yu-bin.

Dah, Dong-seok.

Dah.

Maaf, ya.

Hari ini ibu tidak fokus.

Bagaimana waktu bermainmu?

Tampaknya tidak buruk.

Baguslah, Nak.

Ayo.

Ibu, kita tidak berangkat?

Ya, kita berangkat.

Terima kasih.

- Dia mengambil foto ini diam-diam. - Sungguh?

- Hanya aku yang tahu soal ini. - Kirimkan padaku juga.

Sebentar. Akan kukirimkan nanti.

- Bukan yang ini. - Kau punya lagi?

- Yang ini dan… - Yang ini.

Ini sungguh…

Apa ini?

- Akan kukirimkan nanti. - Ya, harus.

- Yang lain sudah kuberi tahu. - Ini bagus.

- Ini sungguhan? - Ya.

- Ini gila. - Hebat sekali.

Permisi, apa yang kalian lihat?

- Apa? - Apa?

Lupakan saja.

- Makin lama, makin lucu. - Kirimkan yang ini.

Katakan saja dari mana kau dapat foto itu.

Sudah kubilang aku tidak bisa.

Memangnya dia pacar Seo Jin-ha?

Profesor.

Itu kehidupan pribadinya.

Kau sungguh tak mengirimnya ke siapa pun?

Ya.

Sungguh?

Ya!

Baiklah.

Aku akan percaya padamu.

Namun,

kau sadar ini tindakan kriminal serius, bukan?

Ini tindak pidana berat pencemaran nama baik mendiang.

Eun-pyo.

Kau ada kelas?

Halo.

Ini hari libur. Kenapa kau di sini?

Meskipun menjabat sebagai ketua, aku masih harus ikut rapat.

Apa lusa kau ada waktu?

Kau tahu tugasku adalah menyemangati profesor-profesor tua itu, bukan?

Kami selalu makan siang bersama setiap hari libur.

Kebetulan dekan fakultas seni rupa akan datang hari itu.

Aku hanya seorang dosen paruh waktu, jadi, tidak yakin boleh hadir.

Jangan khawatir soal itu.

Kau mendapat nilai bagus untuk evaluasi kuliahmu.

Ini saatnya bagimu mempromosikan diri.

Aku sudah siapkan jus stroberi di kulkas.

Jangan berikan minuman lain. Berikan saja jus itu.

Baiklah.

Jangan tidur sepanjang hari dan bermainlah dengan Dong-seok, mengerti?

Ya.

Coba berikan padanya.

Tunggu.

Dong-seok, ini Ibu.

Dong-seok, ibu akan pulang cepat,

lalu membacakanmu banyak buku.

Aku menyayangimu, Nak.

Sampai nanti.

Dah.

Masuklah.

Aku tidak terlambat, bukan?

Tidak.

Para profesor itu yang datang lebih awal untuk mengobrol.

Astaga, untuk apa repot-repot?

Ini bukan apa-apa.

Ini hari libur dan para profesor tua itu tak punya pekerjaan,

jadi, mereka datang lebih awal.

- Ambillah. - Astaga.

Semuanya.

- Ya. - Halo.

Ini Bu Lee Eun-pyo.

Dia mengajar menggantikan Profesor Jang yang sakit.

Senang bertemu kalian semua.

- Kemarilah dan silakan minum. - Ya.

- Silakan. - Kemarilah.

- Kemari dan duduk. - Baik.

- Kami sedang minum anggur. - Begitu.

- Kalian sudah mulai rupanya. - Benar.

- Ini. - Makan rotinya.

- Ini salad untuk Profesor Park. - Terima kasih.

Ini lezat sekali.

- Kalian menyukainya? - Lezat sekali.

Nikmati makanannya.

Terima kasih.

- Steik ini rare. - Ya.

Ya, ini lezat.

Bu Lee, di mana kau kuliah sarjana?

Sudah kubilang dia lulusan seni murni Universitas Geoseong.

Departemen Seni Murni sangat terkenal.

Itu benar.

Banyak lulusan berbakat yang hebat dalam seni rupa dan desain.

Aku hanya menuai keuntungan

dari pencapaian para senior sebelumku.

Aku berterima kasih pada mereka.

Rendah hati sekali.

Kau tidak ingin melukis lagi?

Kurasa aku tidak cukup berbakat.

Astaga.

Namun, aku senang aku punya pengalaman.

Jadi, aku bisa memahami kesungguhan yang dilakukan seniman dalam karya mereka.

Kau pandai sekali bicara.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left