The first 196 lines.
"Semua Karakter Tempat Kejadian Dalam Drama Ini Sepenuhnya Fiksi"
Sudah Siap.
Selamat Menikmati.
[Episode 6: Setengah Bumbu, Setengah Goreng]
Tidak.
Dia tidak mau menjadi penyair.
Kau tidak tahu apa-apa.
Apa?
Favorit ayahku bukan Gomtang.
Ayah?
Apa maksudmu?
Produser Lee Yong-min
yang meninggal enam tahun lalu karenamu...
Dia ayahku.
Dan favorit ayahku adalah
ayam, seperti aku. Bukan Gomtang.
Kesalahanmu tidak boleh terulang.
Kesalahan yang kau buat enam tahun lalu.
Dia sudah meninggal.
Keluarganya pasti sangat menderita saat itu.
Ini hanya semangkuk Gomtang.
Kau tidak bisa membalasnya dengan ini.
Jangan bohongi dirimu.
Hei.
Ayahnya adalah mendiang Produser Lee Yong-min.
Benarkah?
dan tinggal bersama ibunya sekarang.
Sial!
Ada apa dengan putra MP Jung Chul-wook?
Aku menulis eksklusif untuk mengemudi mabuk dan bertukar tempat duduk,
dan Kepala langsung mematikan kisahnya.
Sayang sekali. Itu mungkin membantu tingkat baca kita.
Dia pasti menjilat MP.
Kau, keluar.
Hari-harimu sebagai kapten sudah berakhir.
Kenapa kau masih mengasuh anak?
Tempatku di lapangan, bukan di kantor.
Kenapa kau egois sekali?
Kau harus naik lebih tinggi agar aku bisa meninggalkan posisi ini.
Apa?
Aku harus dipromosikan.
Aku muak menjadi Redaktur Meja Kota.
Siapa yang akan mengambil alih posisiku jika bukan kau?
Perubahan lagi?
Harian Korea Digital? Apa itu?
Koran punya divisi digital untuk tiap meja.
Atau ada departemen digital independen,
yang sedang kita berusaha lakukan sekarang.
Departemen editorial daring akan terus menulis versi daring berita
dan kita akan...
Jadi, maksudmu kita bisa menulis kisah kami sendiri mulai sekarang?
Aku belum selesai.
Tidak bisa. Kita harus menulisnya.
Laporan dan kisah independen.
Bagaimana dengan tingkat baca salin dan tempel?
Kita, Meja Berita Digital...
Tidak, Harian Korea Digital tidak akan melakukan itu lagi.
Kecuali itu berita eksklusif.
Ini mencakup Politik dan Masyarakat
sampai Ekonomi, Kebudayaan, dan Internasional.
Ini wadah yang sepenuhnya terpisah.
Tunggu.
Kau sebut ini wadah independen?
Ini wadah iklan.
Iklan...
Setiap kisah ada iklannya.
Yang penting kita bisa menulis kisah sendiri.
Bukankah itu yang kalian inginkan?
Melawan?
Kemungkinannya setengah-setengah, bukan?
Kerja bagus menghasilkan sejumlah insentif .
Yang artinya Tanpa Derita, Tanpa Hasil...
Tidak.
Ini Derita untuk Hasil.
Derita untuk Hasil? Kedengarannya bagus.
Mereka ingin kita saling bersaing untuk tingkat baca!
Ini bukan kompetisi.
Kita ingin meningkatkan kualitas kisah kita.
Kau sungguh akan menghitung suka dan rekomendasi untuk menghitung insentif?
Tentu saja.
Makin banyak menulis, makin banyak insentif kalian.
Luar biasa!
Jika berpikir,
aku mungkin bisa menghasilkan biaya les privat anakku.
Bagus.
Omong-omong, rapat editorial besok pukul 10.00.
Bawakan kisah yang bisa diberitakan.
Rapat selesai.
Apa? Kau!
Aku tidak akan mengulang. Dengarkan dari mereka.
Meja Berita Digital Independen?
Independen apanya?
Mereka ingin kita saling bersaing demi keuntungan yang lebih besar.
Yang lain senang dengan kabar insentif
tanpa mengetahui konspirasi di baliknya.
Dasar bodoh.
Aku khawatir Kepala mengetahuinya.
Ini lebih baik daripada itu.
Mengetahui apa?
Hush!
Investigasi laporan salah kita.
Bagaimana menurutmu?
Apa yang kau pikirkan?
Apa? Bukan apa-apa.
Bukankah bagus kita bisa menulis kisah sendiri?
Kisah? Ini semua omong kosong.
Kalau begitu, mari kita tes.
Tes?
[Tidak ada peraturan dalam permainan menyintas bernama realitas]
Bagaimana reaksi mereka?
Sial!
Kita mengulangi kesalahan "Harian" di "Korea"
dalam gim ayam brutal.
Para ayah kita tidak membawa pulang ayam goreng lagi.
Petunjuk bagus, proposal bagus, dan kalimat bagus.
Apa seorang junior menulis ini?
Ya, Pak.
Siapa namanya?
Lee Ji-soo.
Benarkah? Lee Ji-soo?
Kisahnya bagus. Apa masalahnya?
Hapus beberapa bagian
dan unggah sebagai kisah pertama di Harian Korea Digital.
Apa?
Hanya kisah bagus yang bisa mengembalikan reputasi Harian Korea.
Han Jun-hyuk.
Kukira kau pemalas.
Bagus kau melatihnya dengan baik.
Ajari dia dengan baik.
Keluar sekarang, kalian berdua.
Anda dengan murah hati mematikan kisah eksklusifnya kemarin,
tapi hari ini, Anda sangat dingin.
Kini semua orang tahu dia bertukar tempat duduk.
Tidak akan ada yang membaca ulang.
MP Jung pasti mengawasi ini.
[Tolong tulis artikel yang menyanggah dia bertukar tempat duduk.]
Sudah cukup kita menghapus kisah eksklusif itu.
Kini dia menginginkan laporan palsu?
Sangat tidak sopan. Aku tidak mau melakukannya.
Dia memang tidak sopan,
tapi MP Go, dan sekarang MP Jung.
Anda punya kartu lain sekarang.
Bukankah sayang jika dibuang?
Aku tidak akan membuangnya.
Aku akan menyimpannya.
Kita tidak menjilatnya.
Kita punya informasi. Kita bisa memakainya untuk mengacaukannya atau bermurah hati.
Jadi...
Jadi, ini pemerasan?
Kita bukan preman.
Maksudku, kita tidak boleh melupakannya.
Selain itu, aku memupuk para junior.
Entahlah.
MP Jung mendamaikan CEO kita dengan MP Go.
Bagaimana jika dia marah dan mengadu kepada CEO?
Ini tidak akan baik untuk Anda, Kepala.
Redaktur Yoon.
Aku tahu kau banyak menemui orang penting belakangan ini,
jadi, kau pikir kau juga orang penting?
Apa?
Doa saja tidak cukup.
Kau harus bersikap baik untuk mencapai surga.
Jadi, perhatikan jalanmu, Sang-kyu.
Terutama,
jaga ucapanmu.
Apa?
Dia bahkan menyuruhmu mengajarinya dengan baik?
Kau mau ke mana?
Datanglah ke tempat biasa kita sepulang kerja.
Sampai nanti.
Apa ada masalah dengannya?
Dia tampak muram seharian.
Katakan saja.
Kepala memuji kisahmu.
Lalu?
Kau ingin impas denganku untuk itu?
Kau ingin pergi ke Meja mana?
Kau tidak perlu ke Meja Kota jika tidak mau.
Sekarang kita bisa menulis kisah di Meja Berita Digital.
Benar.
Aku tidak tahu kita bisa menulis apa saja,
tapi aku diberi tahu begitu.
Jadi, kau ingin tetap berada di Berita Digital?
Apa ini?
Aku kemari bukan untuk memeras uang...
Ini surat pengunduran diriku.
Surat pengunduran diri?
Ini idemu?
Tidak.
Aku sempat memikirkannya sebentar.
Jika melakukan kesalahan, aku harus meminta maaf.
Jika berutang, aku harus membayar.
Aku tidak bisa kabur begitu saja.
Pertama-tama, maafkan aku.
Aku tahu ini tidak cukup,
tapi aku sungguh minta maaf.
No comments yet. Be the first to leave one.