The first 162 lines.
Meski tertusuk pedang dan isi perutnya berceceran ke tanah,
dia tetap berdiri tegak.
Kepala Desa Iwagakure benar-benar abadi.
Sepertinya itu karena obat yang dulu didapatnya dari negeri seberang lautan.
Raut wajah itu,
sepertinya kau tak berpikir itu benar-benar ada, 'kan?
Berarti...
Memang ada, Ramuan Kehidupan.
Buah Tokijiku itu ada.
Entah ada atau tidaknya di sini.
Kelemahan dan Kekuatan
Ini...
Sungguh diluar nalar.
Tak bisa dipungkiri, aku mulai yakin Ramuan Kehidupan mungkin ada di sini.
Tepatnya ini pemandangan mengerikan, 'kan?
Spesies tumbuhan di sini
tumbuh tidak beraturan.
Habitatnya tidak alami.
Selain itu...
Kita tak tahu apa yang ada di sini. Waspadalah.
Dilarang melepas ikatan tanganmu.
Tanganku harus tetap terikat? Itu gila.
Gila atau tidak, itu perintah shogun.
Tugasku adalah mengawasi terpidana sepertimu.
Aku tak bisa membiarkanmu melanggar aturan.
Ikat tanganmu.
Yah, kasih toleransi, dong.
Lagian, hal gilanya bukan hanya ini saja.
Persediaan makanan dan airnya hanya untuk tiga hari.
Petunjuk kita hanyalah gambar ini.
Para petinggi tidak serius ingin menemukannya, 'kan?
Ikat tanganmu.
Kalau kau salah paham, biar kujelaskan.
Aku adalah algojo, bukan sekutumu.
Kalau kau gagal menemukan Ramuan Kehidupan,
dan gagal mendapat pengampunan, itu bukanlah urusanku.
Kalau menolak mengikat tanganmu, lehermu itu akan kutebas.
Iya, iya. Terserah saja, deh.
Yang jelas, aku hanya ingin bertemu istriku lagi.
Kuterima syarat apa pun demi itu, tapi jangan menyuruh hal gila—
Ga...
Satu orang tumbang!
Dasar bodoh.
Bisa-bisanya lengah dalam situasi seperti ini.
Dia pantas mati—
Wah.
Bikin kaget saja.
Kau baik-baik saja?
Yah, tulang leherku terkilir.
Daripada itu, lihatlah dia.
Ya.
Si Menyimpang Keiun, salah satu terpidana mati.
Dia biksu petarung yang jatuh cinta dengan senjata selama pelatihannya.
Katanya dia mencuri lebih dari seratus senjata dari prajurit lain.
Tidak, bukan itu maksudku.
Tangannya tidak terikat, tuh.
Hah?
Saat ini, kesampingkan itu. Yah, kesampingkan itu, tapi...
Kenapa tangannya tak diikat, Kisho-dono?
Kau kaku seperti biasanya, Sagiri.
Tangannya bisa diikat ulang saat perjalanan pulang, 'kan?
Kau berdebat masalah itu dengan sampah itu? Bodoh sekali.
Tuh, 'kan?
Gara-gara kejujuran bodohmu itu,
saat ini pun kau masih di peringkat terendah, lo.
Kami semua, Asaemon diberikan peringkat.
Omong-omong, peringkat Sagiri—
Sekarang bukan waktunya membahas itu.
Hei!
Beraninya kau mengabaikanku, Gabimaru si Hampa.
Kau gagah dan tangguh seperti rumornya.
Pas sekali untukku.
Aku bisa menguji senjataku padamu sepuasnya.
Senjata mulai bersinar setelah bersimbah darah.
Biar kutancapkan keindahannya itu ke dalam tubuhmu.
Kau mesum, ya?
Lagian, kalau buang-buang waktu bertarung di sini, kita akan keduluan oleh yang lain, lo.
Justru lebih bagus.
Sejak awal, kita tidak diberikan petunjuk jelas.
Lebih bijak kalau membunuh terpidana lain terlebih dahulu,
kemudian dengan leluasa mencari Ramuan Kehidupan.
Dimulai dari dirimu dulu, si Hampa.
Heh?
Kami hanyalah pengawas.
Kalau mau saling bunuh, silakan saja.
Sependapat.
Merepotkan dan tidak ada gunanya.
Aku benci membunuh, soalnya istriku akan sedih.
Apa boleh buat. Kubunuh saja, deh.
Coba saja kalau bisa!
Ikat tanganmu.
Bohong, kan lu?
Sip, sudah terikat.
Pas sekali.
Aku akan menguji semua senjataku kepadamu.
Aku tak punya waktu meladenimu.
Dia menggunakan tombak itu untuk melemparkan tubuh besarnya.
Bertarung dengan tangan terikat memang sulit.
Sa-Satu serangan?
Sudah tertusuk langsung ke tubuhnya.
Ternyata benar, dia abnormal.
Nah, pertarungannya baru dimulai, si Hampa.
Buang-buang waktu saja.
Ayo segera mencari Ramuan Kehidupan.
Tanganku masih terikat, kok.
Eh? Ah, iya.
Baiklah, aku akan pulang.
Kita tak perlu bertarung, ya?
Sudah kubilang kan? Kita bukan musuh maupun sekutu.
Kalau terpidana yang diawasi mati, kami cukup mengambil kepalanya dan pulang.
Saatnya pulang, lalu mandi.
Kisho-dono.
Enam puluh orang hilang di pulau ini.
Hati-hati dalam perjalanan pulang.
Bukan waktunya mengkhawatirkan orang lain, 'kan?
Justru aku beruntung karena keluar cepat dari sini.
Kalau merasa aman hanya karena tangannya diikat, kau benar-benar naif.
Pria yang berdiri di sebelahmu adalah penjahat, lo.
Belum lama setelah tiba di pantai, aku sudah melihat banyak hal.
Orang yang berusaha mengurangi jumlah pesaing sebelum kami mendarat...
Orang yang merencanakan bekerja sama, dan orang yang berpura-pura setuju...
Orang yang sejak awal tak pernah mengikuti aturan masyarakat.
Orang yang tak peduli dengan tugas atau aturan.
Berusaha bertahan hidup dengan cara masing-masing.
Menghalalkan segala cara.
Tapi, bukankah surat pengampunannya tidak sah kalau melanggar aturan?
Itulah kenapa kusebut kau kaku.
Bagi samurai, perintah shogun adalah mutlak,
tapi yang penting adalah prioritas...
...yang saat ini adalah Ramuan Kehidupan.
Selain dari itu, maka jadi prioritas kedua.
Daripada mematuhi aturan dan gagal mencapai tujuan,
shogun lebih senang kita melanggarnya tapi berhasil, 'kan?
Lagi pula, aturan itu hanyalah ilusi belaka
jika semua orang tidak mematuhinya.
Bahkan ada yang tak pernah patuh dari awal.
Seperti pria itu.
Perlukah aku menebasnya sekarang?
Hentikan lelucon yang buang-buang waktu ini.
Kita sudah kehilangan banyak waktu.
Aku hanya ingin pulang menemui istriku.
Selain dari itu, aku tidak peduli.
Cepat bergegas.
Benar juga. Sebaiknya kalian bergegas.
Biar kuramalkan untukmu.
Dalam beberapa jam, situasinya akan berubah.
Kau kelaparan, Rokurota?
Hanya dalam beberapa jam saja, situasinya takkan terduga oleh siapa pun.
Lebih dari separuh terpidana akan mati,
dan tak lama kemudian, separuh lainnya juga mati.
Dalam waktu kurang dari sehari, hanya akan tersisa satu orang.
Kalian semua barang untuk dibuang.
Kalau jumlahnya berkurang, maka cukup kirimkan yang selanjutnya.
Selanjutnya?
Kudengar pembawa pesan Hattori telah terbang ke Ishu.
Tak salah lagi, keshogunan telah berkontak dengan kelompok baru Iwagakure.
Asaemon pun bukanlah satu kesatuan, Sagiri.
Rumornya pekerjaan ini akan menentukan penerus klan selanjutnya.
Entah itu benar atau tidak, tapi orang yang penuh ambisi pasti akan muncul.
Aku tidak tertarik, sih.
Sampai jumpa.
Jangan lengah di dekat terpidana, ya.
No comments yet. Be the first to leave one.