The first 200 lines.
Acara ini berisi konten yang tak cocok untuk anak di bawah 15 tahun dan membutuhkan bimbingan orang tua
Drama ini berdasarkan fakta sejarah. Beberapa tokoh, kelompok, dan insiden hanyalah fiksi sebagai pelengkap cerita.
Bossam - Steal the Fate Episode 5 Takarir Indonesia
Ipar!
Mataku mulai perih saat mencoba melihatmu.
Jangan, Ipar!
Kamu udah gila, ya? Kamu pengen mati?
Kurang ajar! Beraninya kamu berbicara begitu santai kepada tuan putri?
Ipar, bisa kau sarungkan pedangmu dahulu?
Sebaiknya kau pergi dengan Cha Dol sekarang.
Kakak!
Ipar, bisa kau dengarkan perkataanku lebih dahulu?
Silahkan bicaralah.
Usai aku meninggalkan Hanyang,
Aku bermaksud untuk bunuh diri.
Aku berhutang nyawa kepada pria ini. Dialah yang menyelamatkanku.
Namun, bukankah gara-gara pria ini kau berada dalam kekacauan ini sekarang?
Jika bukan gara-gara dia, takkan ada alasan bagimu untuk melakukan semua ini.
Tidak, itu bukan hanya gara-gara dia.
Meski ini tak terjadi, sepertinya aku...
Kau juga paham betul, bukan?
Demi diriku, tolong anggaplah kau tak melihat dia.
Kumohon lakukanlah itu.
Cha Dol, cepat pergi bersama ayahmu sekarang.
Apa rencanamu?
Ayo ke tempat lain.
Kutanya apa rencanamu?
Ayah~
Dia menyuruh kita pergi.
Jadi, ayo.
Ayah~
EPISODE 5
Wajahmu menjadi sangat kuyu.
Bagaimana kesehatanmu?
Ipar.
Ya, Kakak.
Aku, orang yang pernah kau kenali...
tidak ada lagi di dunia ini.
Terserah kau berkata apa, aku berencana untuk mengantarmu pulang.
Aku tak bisa pulang tanpamu. Tidak... Aku tak akan pulang.
Jika kau ingin bersembunyi di Kuil Sangwon sejenak—
Berapa kali harus kukatakan?
Aku sudah mati.
Mungkin kau sudah mati bagi Ayah dan dunia,
namun, tidak bagiku.
Bagiku, kau senantiasa menjadi orang yang berharga...
yang tak tergantikan di dunia ini.
Jadi, tak bisakah kau ikut denganku demi diriku?
Bukan demi dirimu, tapi aku—
Ini demi dirimu.
Aku tak bisa kembali karenamu.
Kau ingat hari pertama kita bertemu?
Bahkan kini pun hari itu...
masih segar dalam ingatanku.
- Ayo. - Ya.
Ini teman bermainmu, Putra Mahkota.
Yang Mulia, aku menyapamu.
Ini membosankan.
Siapa namamu?
Aku Dae Yeop dari keluarga Yi di Provinsi Gwangju, Yang Mulia.
Baiklah. Mulai sekarang, kau teman bermainku. Paham?
Y-ya.
Namaku Su Gyeong. Jangan lupa, ya!
Tundukkan pandanganmu.
Biarkan saja. Dia kan temanku, ingat?
Kakakku sudah pergi,
jadi, mari singkirkan mainan ini dan memanah dengan busur dan anak panah sungguhan.
Kau tahu cara memanah, 'kan?
Nona, Anda tak boleh melakukan ini. Nona! Nona? Non-
Tepat sasaran!
- Kau melihatnya? Beginilah caranya. - Ya.
- Apa kau bisa melakukannya? - Ya.
Bisa-bisanya kau membiarkan ini selalu terjadi?
Maafkan aku.
- Ini, cobalah! - Aku akan membawa...
...Yang Mulia segera kembali ke dalam.
Tolong cepat akhiri ini.
Ya.
Pastikan tegakkan punggungmu. Turunkan sedikit lenganmu.
Tarik pergelangan tanganmu ke bibir. Tahan nafasmu. Seperti ini!
Tembak!
Benar-benar tepat sasaran!
Tak sia-sia mengajarimu seperti ini!
Maukah kau pergi ke sana bersamaku?
- Ya. - Ayo!
Apa yang kalian lakukan? Cepat susul mereka!
Nona, tolong jangan lari-lari!
Nanti Nona akan terjatuh!
Itu sangat jauh. Bisakah kau melakukannya?
Ya.
- Cobalah. - Ya.
Tegakkan punggungmu...
Bukankah itu sulit?
Tidak sulit sama sekali.
Jangan cemaskan aku dan lukis aku dengan santai, Yang Mulia.
Ini hukuman karena menipuku. Tapi melihat kau baik-baik saja,
Kurasa aku harus mulai dari awal lagi.
H-hukuman?
Kalau menghabiskan waktuku bersamamu, ini bukan hukuman, tapi hadiah.
Kenapa kau merayuku?
Orang bijak berkata,
aku harus perlakukan orang yang suka merayu sebagai orang jahat dan menjauh dari mereka.
Kurasa aku harus menjauh darimu.
Tapi Y-Yang Mulia...
Kemarilah.
Ah, ya.
Kenapa? Apa kau tak suka?
Bukan begitu...
Kurasa kau terlalu fokus pada wajahmu sendiri.
Aku tahu kau ingin terlihat cantik,
tapi kurasa ini terlalu berlebihan, Yang mulia.
Apa katamu? Kau sudah selesai bicara?
Mohon pengertiannya.
Kau sungguh mempermainkan perasaanku.
Dasar Yi Dae Yeop jahat, yang suka merayu. Terima kuasku!
Tunggu, Yang Mulia!
Beraninya!
Kau diam saja.
Kenapa kau menatapku seperti itu?
Tapi kau menyuruhku untuk diam...
Y-Yang Mulia...
Dasar kurang ajar.
Ipar,
Bagiku,
aku ingin mengingatmu sebagai pria yang menggetarkan hatiku sebagai seorang gadis...
untuk bertahun-tahun kedepannya.
Citramu sebagai orang yang berjuang dan menderita demi diriku,
adalah hal yang ingin kuhapus dari ingatanku.
Jadi, tolong bantu aku.
Mohon maafkan aku, Kakak.
Aku tak bisa mendengarkan permintaanmu.
Ipar.
Kau hidup seperti ini.
Kau berdiri di hadapanku sekarang seperti kau yang dahulu.
Bagaimana bisa aku melihatmu sebagai orang mati?
Kau ingin mengingatku bagaikan hari pertama kita bertemu?
Kau ingin aku membiarkanmu mengingat kenangan itu apa adanya? Tidak.
Aku tak menginginkan itu. Aku tak bisa melakukan itu.
Ipar.
Jika kau bersikeras hidup sebagai orang mati,
aku juga harus hidup sebagai orang mati. Jadi kumohon...
jangan katakan ini demi diriku.
Jika kau sungguh melakukan ini demi diriku, kumohon turuti permintaanku.
Kau paham betul aku tak bisa melakukan itu!
Tidak, aku tak tahu itu.
Jika pandangan dunia membuatku takut, maka aku bisa bersembunyi.
Jika pedang Ayah membuatku takut,
Aku hanya berharap akan dibunuh oleh pedang itu bersamamu. Itu saja.
Jika kau terus melakukan ini, apa yang harus kulakukan?
Kenapa kau terus mendorongku ke tebing yang lebih curam dan berbahaya?
Aku mengatakan itu di samping tempat kau kesepian di tebing itu...
Aku akan berdiri di sampingmu.
Bocah itu kemana, ya?
Ayah!
Barusan kamu di mana?
Ada yang ingin kutanyakan pada pria berpedang itu.
Kamu pengen mati? Kamu tau pria macam apa dia?
Aku merasa kasian pada tuan putri!
Ayah, Tuan Putri akan mati.
Dia bilang dia harus pergi bersamanya.
Dia bilang ada orang yang mencemaskannya...
dan menunggunya.
Jadi, kenapa kamu merasa kasian? Dan kenapa dia bakal mati?
Dia pergi dengan pria itu. Kenapa dia mati?
Pulang ke rumahnya berarti dia bakal mati!
Pulang ke rumahnya berarti dia bakal mati!
Siapa yang akan mati? Kamu bawel dikit-dikit mati!
Ayo cepat pergi!
Ayah~ Ayah~
Sialan.
Kalau ikutin jalan ini, nanti kamu sampe di rumah. Ayah akan-
Apa Ayah akan menyelamatkan Tuan Putri?
- Ya. - Ayah harus pastikan dia selamat!
Kamu gak percaya sama Ayah?
Gak gitu, aku percaya, kok.
Kalau begitu, lakukan yang Ayah suruh.
Ayah akan membawa Tuan Putri dan juga segera pulang. Oke?
Pergilah.
Ayah!
Ayah harus pulang bareng Tuan Putri. Pokoknya harus!
Ayah mengerti, Nak. Pergilah.
Bagaimana kau bisa sefrustasi ini?
Apa kau tak sadar kemurkaan macam apa yang akan muncul karena kecerobohanmu?
Aku tak peduli. Andai itu kematian, biarkan aku menggantikanmu.
dan andai itu mustahil, aku akan mati bersamamu.
Ipar!
Apa yang kamu lakukan?!
- Ipar! - Aku baik-baik saja.
Dasar bajingan. Belum lama ini kau terbang menyelamatkan kakakmu.
Tapi kini kau menyeretnya ke dalam liang kematian?
Ujung-ujungnya keluargamu lebih penting daripada hidup seseorang, 'kan?
Dasar bajingan tahi yang pantas mati!
Omong kosong apa yang kau katakan?
Pria ini berencana untuk mengantarmu ke ayahnya.
- Ini salah paham. - Jangan tertipu.
Ipar!
Kakak!
Aku akan menahan mereka di sini, jadi, pergilah.
Pergi selamatkan kakak iparku!
HIYAAAAT!!!
No comments yet. Be the first to leave one.