The first 190 lines.
Apa itu suara bel?
Siapa yang membunyikannya?
Pu!
Dari mana saja kau?
Kau tahu Ibu sangat mengkhawatirkanmu?
Aku pergi ke rumah temanku, Bu.
Kau mabuk! Ke mana saja kau? Kenapa mabuk berat?
Kenapa Ibu menggangguku?
Kau selamat dari kematian. Apa tak bisa introspeksi dirimu?
Kenapa kau makin menghancurkan dirimu sendiri?
Hal buruk apa yang sudah kulakukan dalam hidupku?
Kenapa aku punya putri seperti ini?
Dari mana saja kau?
Ayah tanya dari mana saja kau!
Bangun!
Ayah bilang bangun!
Kemari!
Lihat Ayah!
Kau pergi lagi dengan teman nakalmu, 'kan?
Ayah sudah bilang jauhi mereka!
Kenapa kau tak mendengarkan Ayah?
Kau mau melawan Ayah, Ngoh?
Kau mau dipukuli, kan?
Kau sama saja seperti Ibumu.
Kau tak pernah mendengarkan Ayah!
Ibu dan anak sama saja!
Lihat dirimu.
Kau masih mengenakan seragam
dan keluar di malam hari!
Kau mau orang berpikir kalau kau pelacur?
Begitu? Kau mau dipukuli!
Begitu, 'kan?
Kau merokok dan keluar malam.
Baik!
Di sekolah ini semua temanmu nakal, 'kan?
Baik! Kalau begitu, kau tak perlu belajar lagi.
Ayah akan membuatmu berhenti sekolah besok!
Berhenti sekolah! Tinggalkan bangku sekolah!
Ayah yang seharusnya instrospeksi diri.
Aku menjadi seperti ini karena Ayah.
Apa katamu?
Aku menjadi seperti ini karena Ayah!
Kau terlalu sombong, Ngoh.
Ayah seharusnya tak membawamu ke sini
agar tak bertemu mereka.
Kemari!
Toko itu mungkin mengadakan pesta semalam.
Ibu pasti bermalam di sana.
Setelah menjemput sekolah adik,
aku akan pulang untuk menemani Ayah dan menunggu Ibu.
Selesai. Berpamitanlah pada Ayah.
Aku pergi ke sekolah, Ayah.
Sampai jumpa, Ayah.
Ayo pergi.
Pu.
Apa yang menahan pintunya, Pu?
Buka pintunya.
Pu!
Pu!
Pu!
Pu!
Kenapa kau menahan pintu dengan meja?
Kau masih minum pil itu?
Di mana pil itu? Berikan pada Ibu.
Pil apa, Bu? Aku tak minum apa pun.
Aku hanya sakit kepala.
Kau sudah berhari-hari tak sekolah.
Cepat mandi dan ganti baju.
Aku mengerti, Bu.
Aku akan minta Paman Wasan mengantarmu ke sekolah.
Tak perlu. Aku bisa pergi sendiri.
Ibu pergilah.
Terserah kau. Cepat bersiap-siap.
Saat sedang bebas, aku akan kembali lagi untukmu.
Terima kasih banyak, Tuan.
Duean, kenapa kau belum ke sekolah?
Aku baru saja mengantar Dao ke sekolah.
Aku mau menunggu Ibu pulang lalu berangkat sekolah.
Cepat ambil tas sekolahmu. Kau sudah sangat terlambat
Ya.
Aku lapar. Ayo kita cari makan.
Kau mau makan apa?
Jangan khawatir.
Ayahmu sangat kuat.
Apa dia sangat ingin membunuhmu?
Tak apa-apa jika dia membunuhku.
Tapi dia mau aku pindah sekolah.
Aku tak mau pindah sekolah.
Alasan kau tak mau pindah adalah karena
takut tak akan dapat teman sebaik aku, 'kan?
Benar. Aku tak akan dapat teman yang baik.
- Aku akan memukulmu. - Jangan!
Kenapa kau tak coba trik ini?
Saat dia memarahimu, bantah saja.
Aku selalu membantah ibuku.
Dia tak pernah memukulku.
Ayahku tak seperti ibumu.
Makin kubantah, makin dipukuli.
Akhirnya, aku harus pulih di rumah sakit.
Kau dipukul sangat keras.
Kupikir kau tak akan bisa belajar apa pun hari ini.
Mau bolos sekolah?
Apa?
Mau ke mana?
Aku mau bertemu Louis.
Aku mau ke toilet.
Ya. Cepatlah.
Aku tahu.
Apa yang mau kau lakukan?
Menurutmu apa yang mau aku lakukan?
Ini hanya peringatan.
Jika kau tak berhenti mengganggu kami,
aku akan membuatmu mati mengenaskan.
Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?
Hei!
- Hei! - Apa?
Apa yang kau lakukan?
Lepaskan aku!
Lepaskan aku!
Hei!
Bagaimana bisa kau tak tahu wajahnya?
Karena dia selalu memakai topi dan kacamata hitam.
Aku tak pernah melihat jelas wajahnya.
Aku tak mempercayaimu.
Katakan dengan jujur. Siapa dia?
Aku sungguh tak tahu.
Aku baru dua kali melakukannya.
Lihat foto-foto ini.
Dia ada di foto mana.
Kau duduklah dulu.
Aku bisa pergi ke arena seluncur sendiri.
Yakin tak mau kutemani?
Tak apa-apa, masuklah.
Beranilah.
Sampai jumpa.
Ngoh.
Kenapa sekolah selesai cepat hari ini?
Atau pemutar kasetmu hilang lagi?
Tidak.
Aku tersesat.
Apa?
Aku bicara tentang "Pohon Jeruk Tersayang".
Aku mengerti.
Tunggu aku di sini.
Ayo pergi.
Ke mana?
Orang yang tersesat tak boleh bertanya.
Ayo pergi, kau akan tahu nanti.
Louis.
Aku tak punya hari ini.
Kenapa? Biasanya...
Sudah kubilang aku tak punya.
Kenapa kau menggangguku? Pergilah!
Ini bukan hanya tentang tak punya apa-apa.
Kenapa suasana hatimu buruk?
Pulanglah!
Louis.
Pu!
Kenapa kau di sini?
Kau menghilang selama beberapa hari.
Aku meninggalkan pesan di pagermu, tapi kau tak jawab.
Aku sangat sibuk.
Bagaimana kabarmu?
Apa dia masih melecehkanmu di rumah?
Apa lukamu sudah sembuh?
Sudah sembuh.
Mau pergi menonton film hari ini?
Tidak, aku sedang tak ingin pergi.
Ayo cepat.
- Kau dan sersan ke atas denganku. - Baik.
- Kalian berdua periksa sekeliling. - Baik.
- Cari di ruangan ini. - Baik.
Hei, apa yang kalian lakukan di sini?
Kalian mau merampokku?
Kami punya surat perintah penggeledahan.
Ini surat perintah penggeledahannya.
Untuk mencari apa?
Aku tak pernah melakukan kesalahan.
Pak, duduklah dulu.
Aku akan beri tahu apa yang kami cari.
Kau akan segera tahu.
Kau akan segera tahu.
- Duduk dulu, Pak. - Baik.
Kami akan terus mencari.
Terima kasih atas kerjasamanya, Pak.
Tak masalah.
Halo.
Ini sangat lucu, 'kan?
- Kau menyukainya, ya? - Tentu saja.
Aku ingin sekali memilikinya.
No comments yet. Be the first to leave one.