Release info

키스 먼저 할까요?---Should We Kiss First? E11 NEXT
키스 먼저 할까요?---Should We Kiss First? E12 NEXT
A Commentary by SULTAN_KHILAF
Sub by VIU, Synced for NEXT Version. Catatan: Episode 11 di menit 00:03:00.001 - 00:03:54.612

Tags

other
Published on: 2018-03-07
Downloads: 9
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Angka keberuntungan tujuh.

Tidurlah denganku tujuh kali.

"Episode 11"

Apa?

Tidur denganmu tujuh kali, lalu apa?

Untuk sekarang,

kita berciuman saja.

Astaga.

Astaga.

Dia pasti sudah gila.

Aku tidak merasakan apa pun. Jantungku tidak berdebar.

Astaga, jantungku sama sekali tidak berdebar.

Tidak. Kita tidak bisa melakukan ini.

Tapi aku hampir sampai. Jangan sampai keberuntunganku rusak.

"Permen di bibirku"

"Apakah semanis madu?"

"Melelehkan hatiku"

"Dengan suara manismu"

Kamu gugup?

Kamu gemetar.

Aku gemetar karena kedinginan.

Jujur saja, aku juga gugup.

Wanitaku.

Wanitaku mungkin miskin, tapi dia tulus dan dia milikku.

Sekuriti bisa melihat kita.

Aku tidak peduli.

Penghuni 501. Itu penghuni 401.

Astaga.

Mau mandi dahulu?

Mandi?

Apa-apaan?

Mendadak sekali.

Kukira dia herbivor.

Dia benar-benar mengejutkanku.

Maaf, tapi yang kubutuhkan tidur,

bukan pria.

Aku akan tidur dan minum obat tidur.

Baiklah, aku akan menyergapnya.

Pertama, aku akan mencoba ulang tahunku.

Dua, tiga.

Astaga.

Berarti tadi itu karena seorang wanita?

Siapa itu?

Entahlah.

Siapa yang tahu kode sandinya?

Hanya In Woo yang tahu.

In Woo?

Aku malu sekali.

Ayah, ini aku, I Deun.

Ayah ada di rumah?

- Lepaskan itu! - Tidak.

Lepaskan!

Mau mengenakan sesuatu?

Kurasa kamu harus menemui putriku.

Menemui putrimu?

Aku akan sembunyi saja. Jangan mencariku.

Buat putrimu pergi. Pergilah.

Kita pergi bersama saja.

Yang benar saja.

Di mana pacar Ayah?

Di mana dia?

Di mana pacar Ayah?

Apakah karena seorang wanita?

Karena wanita tidak penting...

Aku ingin melihatnya.

Biar kulihat agar tahu demi siapa Ayah mengabaikan putri Ayah.

Biar kulihat dia.

Wanita yang tidak penting?

Jangan menyebutnya itu.

Bagi ayah, kamu anak tidak penting.

Apa?

Ayah tidak perlu mempertemukannya denganmu dan menjelaskan.

Biarkan saja seperti itu.

Jalani kehidupan kita masing-masing.

Katamu kamu kemari untuk melupakan ayah.

Ayah ingin kamu melupakan ayah.

Siapa dia? Siapa kamu?

Keluar.

Aku tahu kamu ada di sini, jadi, keluarlah!

Aku tahu kamu ada di sana. Kubilang keluar!

Kenapa anak kurang ajar itu?

Beraninya dia berteriak kepadaku.

Seharusnya kutampar saja dia.

Jika dia memergokiku, aku akan sangat malu.

Mulutnya tidak akan berhenti bicara.

Astaga.

Byeol.

Kamu Byeol, bukan?

Hei, Son Byeol. Ini aku, I Deun. Kamu mengingatku?

Kamu tidak ingat? Hei.

Lihat ini.

Ini kamu dan ini aku.

Kamu sekarang ingat, bukan?

Tidak apa-apa.

Tidak apa-apa karena aku mengingatmu.

Astaga, aku bisa gila.

Rasanya sepertinya tikus terjebak di kandang.

Aku ingin sembunyi di lubang jika memang ada.

Balkon?

Lebih aman sembunyi di luar ketimbang di dalam.

Byeol, bagaimana kabarmu selama ini? Kamu tidak merindukanku?

Kita sering bersenang-senang dahulu.

Kamu ingat, bukan?

Ini. Berjabat tangan.

Berjabat tangan.

Baiklah, aku akan memaafkanmu karena kita sudah bertemu lagi.

Byeol.

Ayah sudah memanggil taksi.

Lima menit lagi datang.

Kembalilah ke hotelmu.

"Pemakaman Hewan Peliharaan"

Apa ini?

Apakah Byeol

akan mati?

Apakah dia akan mati?

Kenapa?

Karena sudah waktunya.

Waktunya untuk pergi.

Waktunya untuk pergi?

Saat waktunya datang,

semua orang harus pergi.

Seperti bunga-bunga yang layu,

hal seperti itu selalu terjadi.

Semua orang melaluinya.

Tapi aku baru saja tahu.

Apa maksud Ayah sudah waktunya untuk pergi?

Jika aku datang terlambat,

aku pasti tidak bisa menemuinya.

Byeol tidak mengenalimu.

Dia tidak bisa melihat atau mendengar.

Menurutnya kamu menyebalkan karena dia merasa sangat kesakitan.

Dia akan menganggapmu sebagai ancaman, bukan kenangan indah.

Apa?

Kita tidak bisa menghiburnya.

Siapa pun yang ada di sisinya.

Pada akhirnya, saat kamu mati, kamu sendirian.

Semua orang

mati sendirian.

Kenapa Ayah tega kepadaku?

Kenapa Ayah tega berbuat sesuka hati Ayah?

Seharusnya Ayah memberitahuku.

Setidaknya izinkan aku mengucapkan selamat tinggal.

Perpisahan tidak ada yang indah.

Sopir taksi sudah menunggumu. Ayo pergi.

Kamu bahkan memiliki bayi.

Kamu membesarkan seorang anak.

Kamu bisa memeluknya.

Kamu bisa melihatnya.

Kamu bisa menyentuhnya.

Ada apa?

Kamu marah karena aku membuat I Deun pergi?

Orang yang masih hidup harus tetap hidup.

Kamu tidak boleh marah karena hal semacam ini.

Aku tahu.

Aku tahu kamu kesal bahkan saat kamu makan,

bernapas, dan meminum obatmu.

Tapi setidaknya kamu masih baik dan hidup

seperti ini.

Byeol, ada apa?

Kamu ingin aku membukakan pintu?

Soon Jin, bangunlah.

Soon Jin.

Aku akan membantumu berganti pakaian.

Biarkan aku tidur.

Berhentilah menyentuhku.

Kenapa kamu terus menyentuhku? Kamu cabul sekali.

Berhentilah menyentuhku

dan berbaringlah di sisiku.

Aku kedinginan.

Aku kedinginan.

Aku sangat kedinginan.

Letakkan lenganmu di bawah kepalaku.

Aku kedinginan.

"Tutup"

Soon Jin

bersama denganku semalam.

Dia tidur denganku,

bukan dengan suamimu.

- Kamu datang. - Hei.

Nenekmu akan segera datang. Cucilah tanganmu.

Baik.

Pria itu kelihatannya baik.

Menurutku dia pria baik.

Dia sepertinya pintar dan percaya diri.

Tidak banyak pria seusianya yang seperti itu.

Dia itu sampah.

Apa?

Jika dia tinggal di sana, itu berarti dia sangat kaya.

Pakaiannya juga terlihat sangat mahal.

Tidak peduli betapa kayanya dia, tetap saja dia itu sampah.

Dia hanya sampah yang terlihat keren.

Dia bedebah.

Fakta dia terbuka soal sudah tidur dengan Soon Jin,

dia pasti sangat menyukainya.

Aku bisa melihat itu di matanya.

Dia tampaknya perhatian terhadap Soon Jin.

Tatapannya penuh cinta.

Itu yang kulihat di matanya.

Semua itu hanya tipuan.

Dia hanya berpura-pura.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left