The first 200 lines.
RUMAH PEMAKAMAN RUMAH SAKIT UNIVERSITAS EONJU
UPACARA PENGHARGAAN WARGA LUAR BIASA BABAK PERTAMA 2020
Aku mulai. Dua, tiga!
Sekali lagi. Satu dua tiga! Baiklah.
- Lagi lagi. Mataku terpejam. - Lebih baik seperti itu.
- Berhentilah, Ibu. Butuh berapa foto? - Oh, Nak.
Bagaimana kami bisa berhenti berfoto? Dengan anak sepertimu di depan kami.
Kami amat sangat bangga kepadamu.
Tak ada lagi penyakit yang perlu dikhawatirkan nenekmu lagi.
- Dokter ini mengobati semua untuk Nenek. - Tentu saja.
Tak perlu berlebihan.
Tak ada orang lain yang cuti demi datang ke sini seperti kita.
Sama dengan kalian. Menutup toko hanya untuk datang ke sini?
"Penghargaan Warga Luar Biasa."
- Babak Pertama. - "Babak Pertama."
Ibu tak akan mengeluh jika punya punya seorang putra yang sukses.
Bu, bersiaplah untuk bergerak.
Aku akan segera membelikanmu apartemen di Gangnam.
Selain itu kuberikan 10 miliar won.
- Astaga. - Kau hanya pandai membual.
Kau belum pernah mendapatkan satu sen pun!
Aku yakin Hyang-bok akan segera sukses.
- Ibu, mau makan Jeongabokhari ini? - Tidak, kalian harus kembali kerja.
Kita harus makan bersama.
Ini tempat favorit Bok-soon.
Seperti yang diharapkan dari Choi Su-jong dari Distrik Bongsu.
Tidak heran mereka punya anak di usia setua ini.
Seperti ibu seperti anak!
Ibu, aku lapar.
Apa? Oh, anak kecilku yang manis.
Kau berkat bagi kami semua. Kau tumbuh begitu cepat!
Hyeong-a, kali ini kau akan menepati janjimu, 'kan?
- Ya. - Sungguh?
Jika kau berperilaku baik.
Ayolah.
Baiklah. Ada sesuatu di wajahmu.
Kurasa memang nasibku. Aku akan memotret kalian.
- Kalian berdua. Ibu, kemarilah. - Baiklah.
- Bersiaplah. - Bagus sekali.
Satu, dua, tiga.
Sekali lagi.
Senyum! Satu, dua, tiga!
EPS 8. JANJI YANG TAK DITEPATI
Ternyata lebih besar, lebih bersih, dan lebih bagus dari dugaanku.
Kau pikir di sini akan bau karena ditinggali dua pria?
- Ya. - Kami mengepel dan mengelap setiap hari.
- Apa itu? - Makaron.
Tunggu sebentar.
Haruskah aku membunuhnya?
Haruskah aku membunuhnya untukmu?
Aku akan membunuhnya. Katakan saja.
Aku akan pergi sekarang dan…
Mari kita lakukan ini lain kali saja.
Aku selalu tidak diundang, ya.
- Bukan begitu. - Apa yang bukan begitu?
Apa kau tahu bahwa
kau sungguh pandai membuat orang jadi gila?
Itu tidak masuk akal bagiku.
Kenapa harus kau yang menanggung beban?
Kenapa ini harus terjadi pada kita?
- Ini masalahku. - Kenapa itu masalahmu?
Kau tidak melakukan apa-apa!
Panggilan Anda tidak tersambungkan. Silakan coba lagi nanti.
PASAR BONGSU
Hyeong…
Hyeong-a…
POLISI
POLISI
Aku ingin dia mati.
Aku akan melakukannya.
Aku akan pergi membunuhnya sekarang.
Kau tahu bahwa itu tidak sulit.
Tentu.
Silakan.
Bunuh dia.
Jika itu bisa mengubah yang sudah terjadi.
Jika itu bisa memperbaiki segalanya, dari awal hingga akhir
pergilah membunuhnya.
Sekarang juga.
- Di mana kau… - Kau bangun… lebih awal.
Mau ke mana kau sepagi ini?
Berolahraga. Kupikir aku butuh beberapa.
Bagus untukmu.
Dong-joo.
Tidak apa-apa.
Sudahlah.
Apa acaranya? Biasanya kau tidak pernah datang.
Kau menyuruhku berolahraga.
- Aku sedang diet. Jadi sangat cantik. - Kenapa mendadak?
Kau tidak akan tahu perasaan ini meski aku beri tahu.
Apa dia benar-benar punya seseorang?
Ada pria yang aku sukai. Jangan beri tahu siapa pun.
Bukan kau. Dong Joo.
Rumah itu bukan satu-satunya rumah di Seoul. Kenapa dia kembali ke sana?
Aku tak paham urusan Dong-joo,
tapi bagiku
Aku rela melakukan apa saja untuk pria itu.
- Aku satu putaran di depan kau sekarang. - Wow.
Apa maksudmu?
Apa? Maksudnya apa?
Sungguh, apa saja untuknya?
Suka…
Haruskah aku membunuhnya untukmu?
Aku akan membunuhnya.
Membunuh seseorang, mungkin?
Aku tidak tahu tentang membunuh
tapi mungkin rela mati baginya. Setidaknya, aku merasa seperti itu.
- Kenapa? Apa ada orang seperti itu? - Sama sekali tidak.
- Kau mencurigakan. - Aku bilang tidak ada.
Entah siapa dia, tapi kedengarannya seperti cinta yang gila.
Apa?
Apa kau ingin membunuh Byeong-su ketika dia putus denganmu?
Tidak, tidak sama sekali.
Atau relakah kau mati untuk Byeong-su?
Tidak, 'kan?
Tidak sesederhana itu. Tidak semua orang bisa hidup dan mati demi cinta.
Sudah kubilang tidak seperti itu.
Ayo, kita berolahraga.
Seakan ada tulisan "seperti itu" di seluruh wajahnya.
Aku tidak akan pernah menduga Kau belum pernah berkencan sebelumnya.
Aku tak akan pernah menduga kau juga belum pernah berkencan.
Ada acara apa? Kau membersihkan.
Paman lihat makaron di dalam. Dari mana kau mendapatkannya?
Seseorang memberikannya padaku.
Siapa? Siapa yang memberinya?
Siapa itu?
- Siapa yang bisa memberimu makaron? - Hentikan.
- Apa ini? Hentikan itu, kau aneh. - Seong-nim, selamat pagi.
- Ternyata Seo Hae-an! - Hei.
- Kau terlihat mengerikan! - Baru pulang kerja sekarang?
Ya. Aku lelah sekali.
Benjamin Franklin pernah berkata
"Di dunia ini, tidak ada yang pasti kecuali kematian dan pajak."
Selalu ingat. Gajimu berasal dari pajakku.
Astaga, aku sangat muak dan bosan mendengarnya.
Apa kau tidak tahu bahwa pejabat sipil paling benci mendengarnya?
Sudah mendengarnya dua kali semalam. Seorang pria mengencingi tiang listrik
dan seorang pemabuk saat dia memintaku mengantarnya pulang dengan mobil polisi.
Aku mengerti. Maaf!
Dia bilang lelah, biarkan dia istirahat. Kenapa Paman menahannya di sini?
Wow, Tae-hee yang terbaik.
Ya, aku pergi sekarang.
- Baik. Istirahatlah dengan baik. - Pasti.
- Kerja bagus hari ini. - Terima kasih.
Benar.
Pekerjaanmu hari ini tak banyak, 'kan?
Kenapa gereja?
- Tae-hee, apakah kau ingat? - Apa.
Hari Paman ketinggalan bus terakhir dan akhirnya 15 tahun belajar ujian pengacara.
Pada hari Paman gagal ujian CPA karena overdosis cheongshimhwan.
Atau itu ujian penilai?
Hari Paman sakit karena cumi sukhoe dan ada di toilet Bongsu Middle seharian.
Apa lagi…
Jadi, pada hari-hari putus asa, yang sangat sulit.
Paman selalu datang ke sini.
Langsung ke intinya.
Tak banyak gunanya.
Keinginan Paman tidak pernah dikabulkan. Bahkan tidak dianggap.
Di antara 8 miliar manusia di Bumi, aku pasti berada di urutan terakhir.
Keinginan orang lain terkabul lebih dulu, lalu mungkin keinginanku.
Jadi, itu sebabnya Paman berhenti ke gereja.
Paman membawaku ke sini dalam cuaca panas untuk monolog yang tak berarti ini?
Tae-hee. Sebuah gereja
bukan tempat kau pergi untuk berdoa.
Awal dari hitungan mundur.
Ada sembilan orang yang tersisa.
Akhir sudah dekat.
Dia.
Apa cinta pertama
seindah itu?
Kau bilang cinta pertama?
"Iman, harapan, dan cinta. Namun, yang terbesar cinta pertama."
Itu tahun 1995
pada hari trio HeoDongTaek memenangkan Festival Bola Basket.
Paman sedang menuju ruang belajar, saat seorang gadis SMA Kyeongshim…
Seorang gadis SMA Kyeongshim menjatuhkan tiket busnya
dan itu mendarat tepat di kaki Paman. Sama seperti takdir.
Rasanya sedikit berbeda dari saat Paman pertama kali bertemu bapa surgawi kita.
Bagaimana Paman mengatakan ini?
Tiket bus merah muda itu terbang tertiup angin seperti kelopak bunga…
Akankah cinta pertama mengembalikan hati yang goyah?
Tidak! Paman tidak akan goyah. Paman menikah dengan Tuhan.
Paman tidak akan pernah.
- Bukan kau, Pastor. - Lalu? Siapa?
Cinta pertama yang mana maksudmu?
Kau harus bertanya dengan baik agar Paman menjawab dengan baik.
Apa yang ingin kau tanyakan dan cari tahu?
Tidak ada.
Jika kau ingin tahu tentang cinta pertama seorang pria…
Kenapa aku ingin tahu tentang itu?
Apakah cinta pertama seseorang tiba-tiba kembali…
Aku bilang tidak seperti itu.
Jadi…
Jika kau ingin tahu tentang cinta pertama seorang pria…
Biarkan saja.
Biarkan saja, untuknya.
Tidak ada alasan untuk masuk terlibat.
Itu kotak Pandora.
Namun, kemudian…
Apa yang harus aku lakukan dengan hatiku yang terus ingin tahu dan membukanya?
No comments yet. Be the first to leave one.