The first 200 lines.
"Home for Summer"
"Episode 27"
Dia mau pergi ke mana?
Ada yang mencurigakan. Pasti terjadi sesuatu.
Lantai tiga. Baik.
Ke mana dia pergi?
Astaga.
Bagus, bukan?
Katamu ini akan seperti tinggal di hotel. Apa-apaan semua ini?
Layanan kamar.
Apa?
Orang-orang memesan layanan kamar saat tinggal di hotel.
Aku memesan semua ini. Aku hanya menatanya di piring.
Duduklah. Aku sangat lapar.
Ayo. Duduklah.
Kelihatannya enak.
Aku tidak memasak ini, tapi semoga kamu menikmatinya.
Astaga, ini kelihatan sangat enak.
Enak.
Cobalah. Enak sekali.
Ayo. Cobalah.
Unit 308. Astaga.
Apa yang mereka lakukan? Aku tidak bisa mendengar apa pun!
- Ada apa? - Aku mendengar ponsel berdering.
- Kamu tidak mendengarnya? - Mungkin ponsel orang lewat.
Kamu sangat peka.
Bagaimana mungkin aku tidak peka sekarang?
Jangan cemas. Tidak ada yang tahu tempat ini.
Aku bilang jangan cemas.
Makanlah.
Enak.
Siapa yang menelepon?
Astaga, apa dia cenayang?
Kenapa dia menelepon sekarang?
- Ya, halo. - Ibu di mana?
Kenapa kamu perlu tahu di mana ibu?
Ibu menyelesaikannya tanpa masalah?
Itu alasanmu menelepon?
Aku ingin tahu apa itu berjalan lancar
dan aku juga takut Ibu ketahuan oleh Jun Ho.
Kamu tidak perlu mencemaskan ibu sekarang.
Apa maksud Ibu?
Bukan apa-apa. Intinya, aku selesai tanpa masalah
dan Jun Ho tidak tahu. Jadi, jangan cemaskan aku.
Begitu rupanya. Hati-hati di jalan. Sampai nanti.
Masuklah.
Sudah kubilang berkali-kali kamu harus berpakaian bagus.
Aku sudah menduga ini.
Omong-omong, siapa wanita yang memacari pria beristri ini?
Arlojimu terlihat tua.
Sepertinya istrimu tidak peduli dengan hal seperti itu.
Ini hadiah pernikahan dari istriku.
- Boleh kuminta nomor istrimu? - Apa?
Kenapa Ibu membutuhkan nomor ponsel istrinya?
Pasti terjadi sesuatu di antara mereka berdua.
Kakak sudah pulang.
- Su Cheol, kamu sudah pulang juga. - Ya.
Harimu menyenangkan, bukan?
Tentu saja.
Kamu tidak pulang bersama Sang Mi?
Kamu pernah melihatku pulang bersama Sang Mi?
Sang Mi belum pulang?
Dia meninggalkan kantor cukup awal.
- Benarkah? - Ya.
Dia pasti punya pacar.
Sungguh?
Kamu tahu sesuatu yang tidak kami tahu?
Tidak. Dia terlihat makin cantik
dan tampak gembira belakangan ini.
Bukankah itu berarti dia jatuh cinta?
Setelah kupikir-pikir, kamu mungkin benar.
Apa Sang Mi sungguh punya pacar?
Astaga, tidak.
Yong Soon asal bicara.
Omong-omong, cobalah cari pria baik untuk Sang Mi.
Ayo nikahkan dia lagi saat dia mempertimbangkannya.
Baiklah.
Tapi ada satu hal lagi.
Coba cari dokter bedah plastik
agar aku bisa menyerahkan klinik kepada mereka.
Astaga. Aku sangat kesal.
Kita berusaha keras mengembangkan klinik itu.
Kenapa kita harus menyerahkannya kepada anak orang lain?
Tidak perlu kesal.
Anggap saja menantumu anakmu juga.
Bagaimana bisa menantu kuanggap anakku?
Anakku hanya anak yang kulahirkan.
Astaga.
- Ini meja nomor dua. - Baik.
Ini pasta mawar dan pasta kimchi fermentasi yang kalian pesan.
- Selamat menikmati. - Terima kasih.
- Kalian menikmati makanannya? - Ya.
Kalian memesan piza dan risotto pasta kedelai boga bahari, bukan?
Aku akan menggeseknya.
Silakan.
Datanglah lagi.
- Terima kasih. Kami menikmatinya. - Sampai jumpa.
Mereka menghabiskannya.
Mereka pasti menyukai masakanmu.
Benar.
- Selamat datang. Untuk dua orang? - Ya.
Harap tunggu.
- Sudah kubersihkan meja ini. - Baik.
- Silakan duduk di sini. - Terima kasih.
- Santai saja. - Terima kasih.
Aku menikmati makanannya, tapi aku harus membereskan semua.
Akan kubereskan. Istirahatlah.
Kamu akan mencuci piring?
Kamu pernah melihat pria mencuci piring?
Pernah. Adikku melakukannya, tapi dia koki.
Kalau begitu, akan kulakukan bersamamu.
Ini tidak banyak. Aku bisa melakukannya sendiri.
Aku tetap ingin melakukannya bersamamu.
Kalau begitu, pakai ini.
Bagaimana denganmu?
Aku bisa melakukannya dengan tangan kosong.
Sang Mi.
Kenapa?
Kamu memang belum pernah melakukan pekerjaan rumah tangga.
Ini terlalu banyak?
Biar kulakukan sendiri.
- Jangan lakukan itu. - Tapi aku tidak akan berhenti.
Aku serius. Hentikan.
Apa yang kamu lakukan?
Astaga, mereka kasmaran.
Aku akan membuat mereka jera.
Tunggu, jangan. Kenapa?
Tunggu sampai mereka keluar untuk sekarang.
Kenapa kamu minum pada siang hari?
Jangan campuri urusanku.
Minum ini.
Ada banyak minuman sehat.
Berhenti menangis, Geum Ju.
Kamu pasti akan mendapat kesempatan lain nanti.
Kapan?
Orang sepertiku tidak pernah mendapat kesempatan lain.
Kenapa kamu bilang begitu? Kamu akan mendapat kesempatan lain.
Jadi, tenanglah. Berdirilah.
Kamu kabur dari rumah, bukan?
Apa yang kamu lakukan?
Jika kamu tidak mau pulang, tinggallah di rumahku.
Astaga. Apa kamu gila?
Kamu mungkin akan pergi ke spa atau motel.
Berbahaya bagi wanita pergi ke tempat itu sendiri.
Aku seharusnya sadar saat itu.
Menikahi kakak iparku adalah tindakan gila.
Astaga.
Halo?
Halo, Bu Na.
Ya ampun. Hai, Seok Ho.
Lama tidak bertemu. Apa kabar?
Aku baik-baik saja. Bagaimana
kabar Anda?
Aku baik-baik saja.
Sepertinya kamu hendak pergi.
Ada yang datang ke sini untuk menemuiku.
Tapi aku bermaksud mengunjungi Anda untuk berterima kasih, tapi lupa.
Berterima kasih untuk apa?
Apa lagi? Ibuku tinggal di rumah Anda.
Aku seharusnya mengunjungi Anda dan berterima kasih dengan benar.
Begitu rupanya.
Tapi sudah cukup lama dia pindah ke rumah kami.
Benar.
Sudah terlambat, tapi aku akan segera mengunjungimu.
Jika kamu memaksa.
Kalau begitu, pergilah.
- Ya. - Seok Ho.
Dia pasti pacarmu.
Bukan. Dia teman Geum Ju.
Dia bilang ada yang ingin dia katakan kepadaku.
- Dia teman Geum Ju? - Ya.
Begitu rupanya.
- Silakan. - Ya. Hati-hati di jalan.
- Lepaskan tanganku. - Kenapa?
Bisakah kamu... Lepaskan...
Lihat tanganmu.
Memang benar, semua orang berbakat.
Aku terkejut.
Astaga. Celanamu bagus.
- Aku pulang. - Hai.
- Harimu menyenangkan? - Ya.
- Halo, Nenek. - Hai.
- Kamu bersenang-senang dengannya? - Ya.
Ibumu akan datang sebentar lagi.
Kamu sudah memberi makan malam kepada Yeo Reum?
Tentu saja. Di mana Geum Dong?
Dia menemui temannya.
- Kamu sudah makan malam, bukan? - Ya.
- Ibu sudah pulang? - Hai.
Kamu pandai menggambar.
Hei. Kamu memperkenalkan temanmu kepada Seok Ho?
Tidak juga. Mereka kebetulan bertemu. Kenapa?
Ibu melihatnya bersama wanita, dan dia bilang wanita itu temannya.
Begitu rupanya.
Jangan perkenalkan temanmu kepadanya.
Kenapa?
Kenapa menurutmu? Kamu hanya akan mendengar keluhan
jika menjodohkan temanmu bersama pria yang seperti pengemis.
Dia memang terlihat lusuh, tapi bukan pengemis, Ibu.
Ibu tahu dia bukan pengemis, tapi penampilannya buruk sekali.
No comments yet. Be the first to leave one.