Release info

Mohalla Assi WEBRip Amazon id-id
A Commentary by indespensible

Tags

webrip
web
BRip
Published on: 2019-10-23
Downloads: 12
Hearing Impaired: No

Malay subtitle preview

The first 200 lines.

Hewan di film ini diperlakukan hati-hati

dan tak ada kekejaman terhadap mereka

selama syuting.

Pendapat yang diungkapkan individu di film ini

hanya pandangan pribadi dan tak bermaksud menyakiti

orang, kasta, komunitas, agama, lembaga, organisasi atau kebangsaan mana pun.

Pendapat yang diungkapkan individu dalam film ini

hanya pandangan sendiri dan tak bermaksud menyakiti

orang, kasta, komunitas, agama, lembaga, organisasi atau kebangsaan mana pun.

Halo...

Hotel, tempat wisata.

Halo...

Halo.

Halo.

Halo. Nyonya, kemarilah. Ya.

Selamat datang di Beneras.

Aku Kanni, pemandu wisatamu yang ramah.

Di sinilah dimulai perjalanan di kota Dewa Bholenath.

Negeri kesalahan.

-Kesalahan atau mistik? -Sama saja.

Kota para Sufi dan Pendeta.

Negeri Yoga dan Bhoga.

Guru dan Mahaguru.

Acar dan Para guru.

Kota Weda dan Kama Sutra.

Permisi.

Tak dibayar, tak masalah.

Tamu adalah Dewa kami.

Baiklah.

Terima kasih. Ayo...

Kota dengan berbagai kekontrasan.

Kau pasti suka.

Bajaj, kemari.

-Kawan. -Ya.

Dapat juga, ya?

Bagaimanapun aku adalah pemandu Kanni.

Bukan seperti Spiderman.

Memintal jaring, dan menangkap mangsa.

Berhenti.

Tunjukkan SIM-mu.

Pak, dia hanya ikut untuk bantu mendorong.

Bajajnya terus saja mogok.

Aku juga membawa turis asing.

Puja Dewa Siwa.

-Ayo. -Terus jalan.

Ayo cepat...

Empat hal yang sangat terkenal di Benares.

Sungai Gangga Benares. Pendeta Benares.

Daun sirih Benares, dan pepatah Benares.

Kalian akan melihat oksigen segar yang ada di Benares.

Di mana?

Di sini, di sana, di mana-mana, Nona.

Puja Dewa Sewa.

Berhenti di sini.

Guru Yoga kuno berada di sini, siang dan malam.

Aku tahu kenapa kau tersenyum.

Kau bisa saja mengalaminya

jika lulus Sastra India.

Puja Rama.

Puja Rama.

Puja Rama.

Puja Dewa Siwa.

Upadhyay, kudengar Tn. Pandey terpilih

sebagai anggota parlemen lagi.

Dia telah mengangkat semua orang tak berguna itu.

Dia juga membujukku dengan akar manis.

Siapa mau berdebat dengan pendeta?

Para Pandey akan hidup tersiksa untuk pendeta.

"Reservasi" ini membunuh Brahmana.

Juga Dharamnath Padwa.

Jangan bilang begitu.

Tn. Pandey sangat religius, terpelajar.

Jika terpelajar, kenapa dia menentang Brahmana?

Kau tak lihat?

Kemarin dia jelas berkata di depan Brahmana Kashi.

"Agama abadi kita terancam"

"oleh para Brahmana, daripada oleh asing."

Lihatlah.

Dia berjalan dengan angkuh.

Kemari.

Puja Dewa Siwa, Tn. Pandey.

Selamat, Tn. Pandey.

Puja Dewa Siwa.

Puja Dewa Siwa.

Perhatikanlah bantaran Sungai Assi ini.

Bantaran sungai terkenal.

Kau tahu Raja Rama?

Rama yang hebat. Putra Dashratha, saudara Lakshmana, Bharata,

suami Sita, yang membunuh Rahwana.

Buku kisah hidupnya ditulis oleh Tulsidas,

hatinya menyelesaikan kariernya di sini.

Dia menulis sebuah buku Ramcharitmanas di sini.

Inilah Bantaran Sungai Suci Gangga.

Orang berdatangan.

Mereka mandi, membersihkan dosa di tubuh mereka.

Melakukan dosa, lalu mandi di Sungai Suci ini.

Kau bisa lihat para pendeta. Pendeta hebat,

dan pertapa di bawah payungnya.

Maksud kami,

"Apa yang bisa Anda nikmati di Benares, takkan didapatkan di Paris atau Prancis."

Apa yang Anda bisa nikmati di sini, tak ada di mana pun.

Lihatlah ke sana.

India kami yang cantik.

Ramdulare.

Akan kuhajar kau.

Lari! Itu guru Kanni.

-Lari selamatkan diri. -Tangkap mereka.

Tangkap mereka.

Jangan ampuni siapa pun, tangkap mereka.

Guru Kanni, tak bisakah kau jika tak mengganggu orang?

Mereka mencuci dosa dan semuanya di Sungai Gangga.

Lalu berkata Puja Dewi Gangga.

Tapi kau mengusir mereka dengan kejam.

Tak ada makanan gratis di negeri ini.

Korupsi telah menjadi karakter nasional kita.

Omong-omong, sedang apa kau di sini?

Belikan aku teh di kedai Pappu.

Aku tak mau pergi ke kedai Pappu.

Kedai itu menjadi sarang pecandu dan pemadat.

Semua orang mengomentari politik.

Tak usah belikan aku teh jika tak mau.

Tapi ingatlah, satu-satunya tempat di "Assi"

yang ada demokrasi adalah kedai Pappu.

Dua Parlemen di negara ini.

Satu di Delhi, dan yang lain di kedai Pappu.

Kau bisa bergabung denganku jika kau mau, jika tidak...

Pergi saja ke kedai Bachchan.

Gurudev, kau sudah baca koran?

Para pelestari budaya India telah mengumumkan

kan izinkan 'pertemuan puisi' di Holi tahun ini.

Mereka bilang itu vulgar, murahan, dan buruk.

Jika ingin mengadakannya, pergilah ke luar kota.

Ke seberang Gangga, di mana tak ada yang dengar.

Jika tidak, akan terjadi pertumpahan darah dan pembantaian.

Radheshyam, dengarkan aku baik-baik,

dan sampaikan pada pelestari budaya itu.

Yang mencari ketidaksopanan dan makian di suatu bahasa

kami sebut orang berengsek.

Kalian berusaha menentang arus.

Di Kashi, "Puja Dewa Siwa" sama terkenalnya

dengan bahasa gaul.

Apa bagimu ada perbedaan pada keduanya?

Ada.

Ucap yang pertama dengan semangat.

Yang kedua ucapkan biasa saja.

Kau pikir 'sial' itu makian, sedangkan itu adalah bahasa ibu Assi.

Katakan padaku.

Pernahkah lihat cinta dan restu

tanpa kata-kata makian?

Dengarkan Rajkishore.

Mari lihat siapa yang berani datang

dan menghentikan perkumpulan puisi.

Aku, Gaya Singh, Profesor Universitas Harischandra,

akan pertaruhkan hidupnya.

Aku takkan biarkan tradisi Kashi dirusak.

Radheshyam, belikan teh untuk semuanya

atas ditunjuknya kau menjadi kepala komite.

Puja Dewa Siwa.

Puja Dewa Siwa.

Siapa itu?

Siapa itu?

Siapa pemilik toko ini?

Berengsek, menjual tanpa izin.

-Izin? -Surat izinmu?

Tunjukkan.

Apa ini?

Ayo, semua keluar.

Cukup mendiskusikan negeri ini.

Semua keluar.

Aku harus menyegel toko ini.

Borgol semua, dan segel tempat ini.

Keluar. Jalan.

Jangan ada yang bergerak!

Tn. Sharma, kau lihat kepalaku.

Licin.

Tak ada rambut.

Kau bisa memukulku dengan tongkatmu.

Pukul aku jika kau bisa.

Tapi, Sharma, kau berengsek.

Kau ingin mengubah tradisi Kashi.

Kau pikir siapa dirimu mau mengubah tradisi Kashi

yang telah berjalan selama ribuan tahun?

Sudah banyak inspektur seperti kau datang dan pergi,

tapi tradisi Kashi masih utuh,

dan akan tetap begitu.

Sharma, kau buang air di toilet barat.

Bagaimana kau tahu kalau kanopi ini terkait dengan Dewa dan Dewi?

Ini juga terkait dengan jiwa dan raga.

Jiwa dan raga terkait dengan asal manusia.

Asal manusia terkait dengan "Assi."

Beraninya kau, Inspektur,

menghentikan sukacita dan Persembahan Dewa.

Puja Dewa Siwa.

Puja Dewa Siwa.

Puja Dewa Siwa.

Sebelum kekerasan beralasan agama,

ayo kita pergi.

Puja Dewa Siwa!

Puja Dewa Siwa!

-Semua baik? -Ya.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left