The first 181 lines.
Ada yang pernah mengatakan, kehidupan kuliah sangat pendek, harus dimanfaatkan dengan baik.
Aku sudah memutuskan, tidak akan membiarkan siapa pun
memusnahkan kehidupanku yang sangat bahagia.
Cepat jalan, para senior sudah memanggil.
Namaku Manaow, mahasiswa baru fakultas teknik tahun pertama.
Aku berjanji akan memanfaatkan baik-baik
momen kuliah sebagai mahasiswa baru, semangat, Manaow.
Gadis Tengik, Ibu menyuruhku membawa kudapan untukmu.
Mungkin takut putra kecilnya mati kelaparan.
Kak Faung, kamu...
Huh.
Aku pulang dulu, telepon aku jika ada masalah.
Kak Faung.
Apakah aku sungguh harus mengumpulkan semua tanda tangan senior di fakultas?
Ya.
Apakah tidak ada cara lain lagi?
Keluar dari kampus.
Hei, tunggu.
Aku masuk kampus dengan sulit, bagaimana boleh keluar? Pasti ada solusinya.
Kamu harus mendapatkan tanda tangan Ketua Dewan fakultas kalian, tahun ke berapa pun boleh.
Tapi, aku sarankan, kamu mencari anak tahun kedua, akan lebih mudah didapatkan.
Hei, Gadis Tengik.
Hanya mengumpulkan tanda tangan senior saja, apa sulitnya?
Hanya perlu mendapatkan tanda tangan Ketua Dewan, bukan?
Ya.
Mudah sekali, hal sepele.
Oh? Mudah?
Di seluruh universitas ini, hanya satu orang yang berhasil tahun lalu.
Jika kamu merasa ini mudah, lakukan saja, aku pergi dulu.
Aku menyukaimu dan mencintaimu begitu bertemu, boleh memberiku nomor ponselmu?
Ha?
Senior yang menyuruhku melakukan ini.
Ha? Inhaler, ada inhaler, tidak?
Ada apa ini?
Aku tidak akan memberikan nomor ponselku, tidak perlu berpura-pura menyatakan cinta lagi.
Bukan, aku bukan mau menyatakan cinta dan meminta nomor ponselmu.
Namaku Luktarn, masih ingat padaku tidak?
Kita adalah teman satu tim saat pelajaran kemarin.
Ingat, Luktarn, bukan?
Kamu sudah mendapatkan tanda tangan para senior? Aku...
Harus meminta nomor ponsel juga?
Tidak perlu.
Senior melihatku tidak punya kendaraan untuk kuliah, jadi menawarkan diri untuk mengantarku.
Tapi, menurutku, aku tidak akan meneleponnya.
Kamu pernah bertemu Ketua Dewan angkatan tahun kedua?
Pernah, tapi dia terlihat menakutkan.
Kelihatannya seperti ada aura yang muncul dalam dirinya, aku merinding meski hanya memikirkannya.
Mahasiswa baru, Ketua Dewan sudah datang.
Oh?
Ada apa? Kamu baik-baik saja?
Warang, itu Gyoza.
Aku harus pergi, sungguh maaf sudah menabrakmu.
Ketua dewan tidak boleh bolos pelatihan hari ini.
Ketua dewan, ya?
Senior.
Kamu adalah Ketua Dewan mahasiswa tingkat dua?
Bolehkah meminta tanda tanganmu?
Meminta tanda tanganku, kamu mau menukarnya dengan apa?
Junior Manaow.
Aku akan melakukan
apa pun yang kamu mau.
Demi mendapatkan tanda tanganku,
kamu sungguh bisa melakukan apa pun?
Ya.
Hei, Gyoza.
Gyoza, menyuruh Manaow ikut serta dalam kompetisi mahasiswa baru, apakah kamu serius?
Apakah kamu keberatan dengan kandidat yang aku pilih? Aku sudah memilihnya dengan saksama.
Dia cantik, bentuk tubuhnya bagus, kulitnya juga baik.
Ke mana kamu bisa mencari kandidat yang baik dalam setiap aspek seperti Manaow? Katakan, Sobat.
Aku tidak menentang apa yang kamu sebutkan, Sobat.
Tapi, dia sangat tinggi, ke mana kita harus mencari pria yang lebih tinggi darinya untuk ikut kompetisi?
Satu lagi, meski menemukan pria yang lebih tinggi darinya,
tidak akan bisa jika hanya mengandalkan tinggi badan.
Jangan terlalu cemas, Sayang, lihat...
Dahimu sudah keriput.
Gila, apakah ucapanmu benar?
Oh.
Huh, tidak ada keriput.
Hei, Gyoza.
Hei.
Aku panik sekali, apakah ini waktunya bergurau?
Percayalah padaku, aku sudah merencanakannya dengan baik.
Masuklah.
Halo, Senior.
Halo.
Senior mencariku untuk urusan apa?
Aku tidak melakukan pelanggaran apa pun, seragam dan tanda pengenal,
semuanya sesuai peraturan.
Kamu tenang dulu.
Aku memanggilmu bukan karena kamu melakukan pelanggaran.
Gyoza, jangan katakan,
dia adalah kandidat yang kamu pilih.
Kamu coba saja dulu.
Alee tidak biasa.
Lepaskan.
Apakah Senior memanggilku kemari untuk...
Maksudku, lepas kacamatamu.
Oh, baik.
Coba angkat ponimu.
Wah.
Alee, wajah setampan ini, bagaimana boleh selalu kamu sembunyikan di balik kacamata kampungan dan poni tebal ini?
Lepas seragammu.
Tidak mau, kalian mau melakukan apa padaku?
Aku tidak mau.
Alee.
Apakah aku terlihat seperti orang seperti itu?
Akan aku lepas.
Penilaianmu sungguh bagus, Sayang.
Sudah kuberi tahu padamu, aku sudah mempersiapkannya dengan baik.
Selanjutnya aku menyerahkannya padamu, ubah penampilan Alee.
Demi menyambut kompetisi mahasiswa baru, Sobat.
Baik, Sobat.
Aku serahkan padamu.
Kapan Prang akan datang?
Aku sudah lapar.
- Kamu sudah lapar? - Ya.
Jika kamu lapar,
mau makan rumput laut Tao Kae Noi untuk mengganjal perut?
Wah.
Ini rasa baru Tao Kae Noi?
Bersulang.
Wah, enak sekali.
Kamu mau pergi makan bersamaku?
Tidak mau, lebih baik aku pulang dulu, sampai jumpa.
Kamu ada janji dengan siapa? Tidak mau makan bersamaku.
Aku ada urusan, seolah kamu sangat memahamiku saja, cepat pergi makan saja.
Kamu mengusirku? Dasar, Manaow Tengik.
Argh.
Kamu baik-baik saja?
Ya, tidak masalah.
Cepat, minta maaf padanya.
Maaf.
Sungguh tidak terluka?
Maaf.
Ayo jalan.
Maaf.
Maaf.
- Sudah hormat padanya belum? - Ya.
Maaf.
Senior Gyoza.
Mari, pakailah.
Menurutku, biar aku yang mengendarainya.
Aku sangat berat, Senior akan sangat kesulitan.
Apakah kamu merasa aku tidak layak dipercaya?
Bukan, aku hanya takut kamu lelah.
Mari, aku yang memboncengmu.
Aku sungguh bisa mengendarainya.
Sebenarnya, jika kamu memberiku tanda tangan sekarang, aku bisa selalu membawamu naik motor.
Jangan bergurau denganku.
Hanya bercanda saja.
Tapi, kita mau pergi ke mana?
Kita mau pergi ke Pattaya.
Kamu serius? Mengendarai motor dari tempat ini ke sana?
Aku sudah bersiap.
Menurutmu, motor merahku ini tidak bisa diandalkan?
Ia bisa dikendarai sampai ke sana, tidak masalah.
Mari berangkat.
Hei!
Hei!
Berkendara yang baik.
Maaf, aku belum terbiasa dengan motor ini.
Kamu boleh memelukku, perjalanan sangat jauh, sangat berbahaya.
Ayo, pegang yang erat.
Mari berangkat.
Kita harus bekerja bersama untuk satu semester selanjutnya.
Aku berharap kita bisa semakin akrab satu sama lain.
Aku tahu, mahasiswa baru tingkat satu sangat takut padaku.
Apakah kamu takut padaku?
Sebenarnya, aku tidak merasa takut padamu.
Mungkin karena aku pernah bertemu denganmu sebelumnya.
Benarkah? Kapan?
Kamu adalah wanita yang aku tabrak hari itu?
Aku harus pergi, sungguh maaf sudah menabrakmu.
Awas, aku akan memukulmu.
Kamu masih saja tersenyum.
Sebenarnya, saat kita hanya berdua, kamu tidak perlu memanggilku "Senior".
Kalau begitu, Gyoza, kamu lahir bulan berapa?
Wah, langsung mengubah nama panggilan.
Aku lahir bulan Agustus.
Kamu hanya lebih tua empat bulan dariku.
Oh, masih menyebut diri "Kakak", Anak Kecil.
No comments yet. Be the first to leave one.