The first 200 lines.
Halo.
"Dia pewara tamu terbaik yang pernah kami lihat di acara ini"
"Ini akan menjadi pertemuan yang menyenangkan"
Kenapa aku yang masuk pertama?
"Pewara tamu spesial, Kim Hee Ae"
Apa caranya selalu seperti ini?
Aku seperti pewara utama saja.
"Mereka datang"
Halo.
- Halo. - Kamu cantik sekali.
Selamat datang. Aku seperti pemilik tempat ini, bukan?
- Halo. - Astaga.
Aku merasa sangat terhormat.
- Astaga. - Tidak, aku yang merasa terhormat.
- Aku menonton kalian di TV. - Benarkah?
Aku sangat...
Aku merasa sangat senang.
- Aku juga senang. - Benarkah?
Aku sudah menontonmu sejak kamu muda.
- Kamu keren di TV. - Aku sudah lama berakting.
- Kamu sangat elegan. - Kamu sangat memesona.
- Dia cantik, bukan? - Ya.
Jika dilukiskan sebagai makanan, menurutku dia rasa yang segar.
Dia juga pedas.
Dia sangat memesona.
Kalian tampak sangat muda saat dilihat langsung.
- Benarkah? - Ya.
Kalian tidak terlihat secantik ini di TV.
Aku juga seperti itu.
Itu karena kami memakai rias wajah.
Semuanya sama. Aku juga sama.
"Lelucon Hee Ae membuat suasana ceria"
Kamu banyak membintangi film yang tidak lazim, bukan?
Ya.
- Benar. - Sungguh?
Aku sering menontonnya.
Karena itulah aku membahasnya.
Dia sangat cantik di film-film itu.
Dia selalu cantik dan sangat tenang.
Kamu anggun.
Kamu tampak sangat cantik di trailer itu.
- Yang mana? - Film yang akan tayang itu.
- Kamu tahu film itu? - Ya.
- "Herstory". - Ya.
- Aku sudah menontonnya. - Aku dengar kamu membintangi itu.
Begitu rupanya.
Kudengar kamu sangat suka film.
Ya, aku sering menonton film.
Aku menonton semuanya, jadi aku banyak tahu.
Besok adalah penayangan perdananya.
- Benarkah? - Jika kalian mau,
aku bisa menyiapkan tiket kalian. Datanglah.
Aku akan datang.
Aku memang berencana menontonnya, bahkan sebelum kamu kemari.
Aku akan menontonnya begitu filmnya tayang.
Ya, terima kasih.
- Halo. - Halo.
- Halo. - Halo.
- Aku sedang mempromosikan film. - "Herstory".
- "Herstory". - Aku akan menontonnya.
"History"?
- "Herstory". - "Herstory".
Aku membacanya di sebuah artikel
bahwa kamu menaikkan berat badan untuk film itu.
Sutradara menyuruhku menaikkan sekitar 10 kg.
Aku senang sekali bisa makan sebanyak yang aku mau.
Saat beratku naik sekitar 5 kg, sutradara berkata,
"Kamu bisa berhenti menaikkan berat badan sekarang."
Jadi...
Aku menurut dan berhenti.
Apa beratmu sudah berkurang?
Ya, sedikit.
Aku terkejut karena kupikir
tubuhmu seperti ini dengan kenaikan berat badan itu.
- "Apa dia sekurus itu?" - Ya.
Aku ingin bertanya blak-blakan.
Para penulis di sini dan yang lain
ingin aku menanyakan sesuatu padamu.
"Para wanita ingin tahu!"
Berjanjilah kamu akan jujur.
- Jujurlah. - Baik.
Dia terlihat muda dan kulitnya luar biasa.
Apa rahasianya? Apakah berolahraga?
- Dia sering berolahraga. - Ya.
Apa karena olahraga atau produk kecantikan yang kamu pakai,
atau apa ada klinik kulit yang kamu kunjungi secara rutin?
Jika kamu pergi ke klinik kulit, beri tahu nama dan nomor teleponnya.
- Astaga. - Ya.
Aku melakukan segalanya.
- Kamu melakukan segalanya. - Ya.
Ya, andai ada jawabannya. Aku akan mengikuti itu.
Tapi aku tidak tahu jawabannya, jadi, aku berusaha sebaik mungkin.
Apa kamu berolahraga hampir setiap hari?
Ya.
- Itu pasti sulit. - Ya, kamu harus berolahraga.
Apa kamu pergi ke klinik setiap hari juga?
Tidak, tidak setiap hari.
Aku pergi ke klinik kulit setidaknya sekali dalam dua pekan.
Ya. Tentu saja, itu perlu.
Mereka menyebut putra-putra kalian si itik buruk rupa,
tapi setiap anak pasti mengalami masalah.
- Aku punya dua putra. - Ya.
Jarak usia mereka hanya setahun, jadi, aku sangat kerepotan.
- Tentu. - Hanya berjarak satu tahun?
- Yang sulung sedang kuliah. - Apa?
"Apa dia benar-benar ibu seorang mahasiswa?"
- Sudah kuliah? - Ya.
- Astaga. - Tapi kamu sangat awet muda.
Kamu pasti kerepotan membesarkan anak sambil bekerja.
Aku merasa baru kemarin kamu menikah.
- Putramu sudah sebesar itu? - Ya.
Para ibu yang membesarkan anak lelaki.
Aku tidak paham apa artinya itu sebelumnya.
Para ibu yang besarkan anak lelaki punya pendapat berbeda dibandingkan
- yang membesarkan anak perempuan. - Tentu.
- Mereka lebih berisik. - Apalagi
saat hanya berjarak satu tahun...
Punya satu putra dan dua putra sangat berbeda.
Jika ada dua, ada efek sinergis.
Jika ada tiga, situasinya sangat berbeda.
Aku tidak bisa membayangkan punya tiga putra.
Satu saja sulit, tapi dua lebih sulit.
Bukan dua kali lebih sulit,
- tapi empat kali lebih sulit. - Empat kali.
- Benar, bukan? - Ya.
Setelah membesarkan dua putra, aku sadar...
Aku mengatakan ini bukan karena mereka di sini.
Sulit sekali membesarkan anak-anak seperti anak kalian.
Mereka semua sukses dalam bidang mereka.
Aku iri.
- Aku ingin tahu cara mereka... - Kamu punya perspektif seorang ibu.
Aku ingin bertanya pada mereka, "Bagaimana kalian merawat mereka?"
Itu sangat sulit bagiku.
Seperti yang sudah kukatakan di acara ini sebelumnya.
Aku tidak pernah meninggalkan rumah
karena anak-anakku sangat unik.
"Dia sangat paham"
Aku sangat sedih saat membesarkan anak-anakku.
Aku sangat emosional.
Aku pernah menunggu putraku di jalan sampai larut malam.
Putraku sudah masuk SMA dan berkuliah.
- Kami sering berjauhan. - Ya.
- Ya. - Saat mereka pulang,
mereka bertanya kapan aku pulang.
Mereka suka jika aku berkata aku akan pulang larut.
"Putranya suka dia pulang larut"
Saat aku pulang cepat, mereka kecewa.
- Berjauhan... - Karena kamu memarahi mereka.
Aku tidak terlalu memarahi mereka.
Menurutku lebih baik bagi semuanya
untuk punya masa sendiri-sendiri.
- Ya. - Itu normal.
Itu normal saat anak tumbuh besar.
Kapan masa tersulit saat kamu membesarkan mereka?
- Pubertas? - Kamu seharusnya bertanya
kapan masa terbaik.
Karena itu sangat sulit.
- Itu sangat sulit. - Ya.
Apa kamu pernah memukul anakmu?
"Pernahkah dia memarahi putranya secara fisik?"
Aku bisa membayangkan dia memukul mereka.
Aku melihat ekspresimu yang galak dalam drama.
Kamu pasti sangat menakutkan saat memarahi mereka.
Jujurlah. Jika kamu bohong,
aku akan membuatmu membusuk di penjara.
- Garang. - Sangat garang.
- Seperti sikapnya pada Yoo Ah In. - Ya.
Seperti sikapmu pada Yoo Ah In.
Apa?
Perlakuan khusus.
Aku seharusnya tidak menahan diri sampai aku marah.
Aku harus sering memarahi mereka, tapi aku menahan diri.
- Tentu. - Kamu akan mengamuk.
Awalnya aku senyum dan mengangguk,
tapi di satu titik, aku tidak bisa mengendalikan diriku.
Anak-anak tidak dewasa, jadi, harus dimarahi saat itu juga.
- Kamu benar. - Jika kamu mengamuk pada mereka,
itu hanya membuatmu merasa bersalah.
Mereka hanya jera saat itu saja.
Aku coba bersikap sabar, tapi akhirnya aku mengamuk.
Kita menonton dia dalam drama dan film.
Melihatnya bicara dengan putranya
membuatku sadar bahwa dia seorang ibu juga.
Tentu. Semua ibu sama.
Apa kamu menyiapkan makanan untuk anak-anakmu?
- Ya. - Apa kamu memasak?
Tidak bisa dibilang memasak. Aku tidak semahir itu.
Tapi mereka lumayan suka.
Mereka suka bunyi talenan.
- Kurasa mereka suka itu. - Itu memeriahkan suasana.
Ya.
- Mereka suka kehangatan ibu mereka. - Benar.
Itu hal baik.
Tapi saat aku menyiapkan makanan,
mereka melihat isi kulkas dan bertanya, "Ada makanan lain?"
Aku marah.
- Kamu kerepotan. - Ya.
Kamu sudah menyiapkan makanan, tapi mereka tidak memakannya.
Astaga.
"Mereka bersatu dalam tema membesarkan anak"
No comments yet. Be the first to leave one.