The first 200 lines.
Audzubillah
himinasyaitonirojim.
Bismillahirrahmanirrahim.
Wa lillahi
mulkus-samawati wal-ard,
Wa ilallahil-masir.
Audzubillah himinasyaitonirojim.
Bismillahirrahmanirrahim.
Fa qatilu auliya`asy-syaiṭan.
Astagfirullahaladzim. Ya, Allah.
Demi iblis,
aku bersumpah.
Kau akan tersiksa
atas rasa bersalahmu.
Alif.
Tolong Alif.
Tolong Alif.
Astagfirullahaladzim.
As Su'ala.
Laknatullah.
Alhamdulillah.
Di subuhlah, kau akan mendapatkan rezeki.
Di subuhlah,
kau menemukan jalan keluar.
- At… - At-Talaq.
Ayat dua sampai tiga.
Aku tahu itu.
Istigfar, Qodrat.
Hampir tiga tahun,
Allah memberikanmu berkah
untuk bangun tiap subuh.
Aku tak pernah meminta dibangunkan.
Aku juga tak pernah meminta dikeluarkan dari neraka ini.
Qodrat.
Puluhan tahun aku berada di sini.
Hanya kau,
napi yang mendapatkan remisi.
Sebentar lagi kau akan keluar.
Seharusnya,
berkat ini dapat mengingatkanmu,
- bahwa Allah… - Aku tak punya apa pun di luar sana.
Setelah Azizah,
lalu Alif.
Dia mengambil semua yang aku miliki.
Tolong!
Tolong!
Sudah kukatakan.
Kau akan menderita
sepanjang hidupmu.
Satu-satunya cara
untuk keluar dari neraka ini, Qodrat,
adalah di dalam kantong mayat.
As Su'ala!
Qodrat.
Tolong!
Tolong!
Astagfirullah.
- Tahan dia. - Lepaskan.
Cepat!
Bangun, Qodrat.
Bangun, Qodrat.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Asyhadu allaa
illaaha illallaah.
Asyhadu allaa
illaaha illallaah.
Asyhadu anna
Muhammadar rasuulullah.
Asyhadu anna
Muhammadar rasuulullah.
Hayya 'alashshalaah.
Hayya 'alashshalaah.
Hayya 'alalfalaah.
Hayya 'alalfalaah.
Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Laa ilaaha
illallaah.
Mama!
Mama!
Ayo!
Tanzilal 'azizir rahim.
Litunzira qaumam ma unzira
aba'uhum fa hum gafilun.
Laqad haqqal-qaulu 'ala
aksarihim fa hum la yu'minun.
Inna ja'alna
fi a'naqihim aglalan
fa hiya ilal-azqani fa hum muqmahun.
Wa ja'alna mim baini aidihim
saddaw wa min khalfihim
saddan fa agsyainahum fa hum la yubsirun.
Ibu, ayo cepat!
Ayo.
Terima kasih.
Bagaimana dengan Jihan?
Penyakitnya makin aneh.
Wajahnya makin pucat.
Badannya panas.
Dia tak pernah mau makan.
Dia selalu terbangun, dan berteriak kesakitan saat malam.
Jika bukan karena dibantu olehmu
dan ibu-ibu yang lain,
aku tak tahu harus melakukan apa lagi.
Tanti.
Aku
selain untuk mengikuti pengajian kemari,
aku ada perlu denganmu.
Maaf, Tanti.
Aku perlu menagihkan utangmu dengan almarhum suamiku.
Aku sudah tiga bulan tidak membayar uang sekolah anak-anakku.
Kebun juga tidak menghasilkan.
- Cuaca tidak panas. - Yasmin!
Bukan hanya kau.
Semua orang di desa ini juga tak ada yang panen.
Jihan!
Jihan, Bu!
- Jihan. - Jihan.
Jihan!
Jihan!
Jihan!
Astagfirullahaladzim.
Jihan.
Berhenti, Nak.
Lihat Ibu, Nak. Berhentilah. Kasihani Ibu, Nak.
Jihan, berhentilah.
Sudah, Nak.
Ini Ibu, Nak.
Sudah, Anak Ibu.
Sudah, Jihan.
Astagfirullahaladzim.
Jihan. Sudah, Nak.
Hentikanlah.
Sudah, Jihan.
Kasihani Ibu.
Ya?
Jihan?
Jihan.
Jihan.
Jihan.
Jihan!
Jihan.
Jihan!
Astagfirullah.
Satu,
dua.
- Terkena. - Bagaimana?
- Baik-baik saja, 'kan? - Baik-baik saja.
- Tentu saja. - Ayo bangun.
Lihatlah. Tak sakit, 'kan?
Asalamualaikum.
Siapa kau?
Sembarangan kau masuk ke sini.
Maaf jika aku mengganggu.
Ustaz Qodrat.
Masyaallah.
Jafar.
Kapan kau dibebaskan?
Aku dapat remisi.
Kalau begitu, syukurlah.
Jafar.
Kenapa pesantren seperti ini sekarang?
Di mana Kiai Rochim?
Semenjak kau pergi,
sebenarnya keadaan Kiai Rochim masih baik-baik saja.
Bahkan setiap kali kami mendengar tentangmu,
Kiai pasti tersenyum bangga.
Hingga
saat kematian Alif tiga tahun yang lalu.
Kami semua yakin,
itu bukanlah kecelakaan biasa.
Setiap hari Kiai Rochim berzikir.
Salat tahajud untukmu.
Hingga dia melupakan diri sendiri.
Lalu, suatu hari,
tanpa alasan yang jelas,
Kiai Rochim jatuh sakit.
Desa dan penduduk di desa juga mulai mengalami gangguan.
Mulai dari panen yang diserang hama,
banjir,
wabah penyakit,
hingga
gangguan gaib.
Apakah serangan-serangan ini berhubungan dengan penyakit Kiai Rochim?
Aku juga tak tahu.
Apa yang terjadi, Qodrat?
Kau dan kemampuanmu yang luar biasa.
Yang tak pernah gagal melakukan rukiah.
Bahkan sudah banyak orang selamat yang kau tolong.
Lalu, inikah hasilnya?
Dosa apa yang kau buat?
Hingga Alif yang harus jadi korban.
Ustaz.
Aku harus pergi.
Kau
tidurlah di pesantren.
Ya.
Maafkan aku, Guru.
Bu.
No comments yet. Be the first to leave one.