The first 200 lines.
Pada bulan Oktober 2018, seorang seniman jalanan anonim
yang dikenal sebagai Banksy mempublikasikan video ini secara daring.
Di dalam film itu, dia terlihat mempersiapkan bingkai khusus
untuk lukisannya, "Girl with Balloon".
Lukisan itu hendak ditawarkan untuk dilelang di Sotheby's,
salah satu rumah lelang paling eksklusif di dunia.
Saya tawarkan $30.000.
Apakah kita punya penawar $32.000?
Acaranya adalah lelang seni khusus.
'Lot' karya Banksy adalah 'lot' terakhir malam itu.
Karya itu terjual lebih dari satu juta Dollar AS.
Kesempatan terakhir di harga 850.000 Pound.
Palu itu diketuk, terjual, lenyap, terjual.
Terjual 860.000 Pound.
Begitu palu diketuk,
karya itu mulai melorot melalui bingkai.
Dan ketika hal itu terjadi, karya itu tercabik-cabik.
Dan semua orang menyaksikan dengan ngeri saat lukisan itu dihancurkan.
Aku teriak "What the fuck!"
Seniman jalanan Banksy berhasil melakukan
salah satu dagelan terbesar dalam sejarah dunia seni.
Hal itu menimbulkan kegemparan besar.
Maksudku, hal seperti itu belum pernah terjadi.
Aksi itu telah meningkatkan nilai jual
dari lukisan itu hingga $7 juta.
Itu memperainkan rasa takut dan emosi orang
dan apa arti sejati dari sebuah nilai.
Di mana kita menempatkan sebuah nilai dalam masyarakat?
Seni itu milik siapa?
Dia menciptakan momen sejarah seni
dan menulis ulang dirinya ke dalam buku-buku sejarah.
BANKSY dan bangkitnya seni di luar hukum
Aksi di Sotheby's bukan aksi yang pertama kali,
di bulan Agustus, Banksy menyelinap
ke beberapa institusi dunia seni.
15 tahun sebelumnya, pada musim dingin 2003,
sosok misterius memasuki 'Tate Britain',
salah satu museum seni paling bergengsi di Inggris
dan memasang sebuah lukisan di dinding.
Selama 18 bulan setelahnya, sebuah pameran palsu muncul
di 'London's Natural History Museum', 'Louvre' di Paris,
dan 'Museum of Modern Art' di New York,
semua secara diam-diam dipasang oleh seorang asing anonim yang sama.
Dia menyelinap ke tujuh galeri yang berbeda,
memasang tujuh karya seni yang berbeda di galeri-galeri ini.
Yang ada di 'Metropolitan Museum of Art'
hanya bertahan dua jam, ini bisa dimengerti,
karena itu adalah lukisan seorang perempuan yang tampak agak menyolok.
Dia memakai masker gas, dan itu bisa dikenali dengan sangat cepat.
Tapi yang ada di 'Museum of Art',
yang bertahan selama beberapa hari,
karena itu adalah lukisan kaleng sup Tesco,
dan itu tampak seperti kaleng sup karya Warhol,
dan tak ada yang memperhatikannya.
Itu adalah hal yang menantang untuk dilakukan.
Dia berhasil melakukannya, dia lolos begitu saja,
dan semua orang tiba-tiba mengenal namanya.
Tapi hanya nama yang diketahui publik.
Yang lainnya tetap menjadi misteri.
Siapa seniman penuh rahasia yang telah mampu menghindar
dari beberapa keamanan terketat di dunia
untuk memajang karyanya sendiri di samping karya Monet,
Picasso, dan Warhol?
Apakah dia hanya sendirian?
Atau apakah Banksy itu sekelompok orang?
Apakah dia menyembunyikan identitasnya karena dia sudah terkenal,
seseorang yang dikenal publik, mungkin musisi atau aktor?
Aksi-aksi itu sendiri mengandung beberapa petunjuk.
Banksy menyodorkan permainan kucing dan tikus yang berani.
Di Tate, dia mempertaruhkan diri ditangkap
karena membawa karya seninya ke publik.
Di Met, karyanya dengan segera disingkirkan oleh para kurator
yang merasa yakin bahwa karya itu bukan milik galeri.
Dan di Sotheby's, Banksy telah melakukan tindakan vandalisme.
Dan dengan aksi vandalisme semuanya dimulai.
SEMUA DIAWALI DARI GRAFITI
Grafiti biasa digunakan untuk memantik revolusi,
memantik perlawanan, dan pada umumnya adalah suara
dari orang-orang yang tidak didengarkan.
Grafiti adalah salah satu dari sedikit senjata yang kau miliki
saat kau nyaris tak punya apa-apa.
Dan bahkan jika kau tidak mampu tampil
untuk mengatasi kemiskinan dunia, kau mampu membuat
seseorang tersenyum ketika mereka sedang kesal.
Grafiti bukanlah sebuah bentuk seni.
Grafiti adalah sebuah reaksi,
sebuah impuls,
adalah seperti sebuah percikan.
Dinamis, eksplosif, tak terduga .
Sebagian orang bilang grafiti menghancurkan hidupku
dan sebagian lagi bilang grafiti menyelamatkan hidupku.
Sebuah tindakan buru-buru.
Itu adalah kecanduan.
Terburu-buru, kupikir, adalah semacam konsekuensi dari itu semua.
Kau ketakutan, dan darahmu terpompa,
dan adrenalinmu terpacu.
Tapi sesungguhnya kau melakukannya demi sebuah pengakuan
dan tidak terburu-buru.
Berlari-lari keliling kota dan mempopulerkan namamu
di sebanyak mungkin tempat yang mampu kau capai.
Semakin berisiko, semakin bagus.
Kau ingin namamu terlihat mencolok sebesar mungkin.
Itu sangat konyol, tapi.
Grafiti selalu menjadi detak jantung masyarakat.
Dia menangkap apa yang terjadi pada saat itu, pada momen itu.
Pada setiap karya Banksy yang ada permukaan tanah dan kentara,
terdapat ratusan karya yang mungkin ada di bawah tanah dan tidak terlihat.
Grafiti muncul di Philadelphia
dan lalu New York di akhir tahun 60-an dan awal 70-an.
Kota ini berada dalam sebuah "krisis".
Dia adalah kota yang tak memiliki banyak pendapatan.
Sering terjadi kejahatan,
banyak kasus narkoba, tingginya angka kemiskinan.
Menulis grafiti dimulai dari lingkungan seperti itu
seperti 'Upper West Side' Manhattan, Bronx,
'Flatbush Avenue' di Brooklyn, dan itu adalah sebuah gerakan
yang dimulai oleh anak-anak muda yang menuliskan nama-nama mereka
dengan nomor jalan mereka di dinding di sekitar kota
dengan maksud agar bisa dikenali.
Semacam permainan 'tag' (label).
Sebenarnya kau sedang memasang namamu di suatu tempat
dan memasangnya ke lebih banyak tempat lagi
dan mengekspos dirimu lebih banyak lagi,
dan kemudian orang lain masuk,
mengikutimu dan melakukan hal yang sama.
Permainan menjadi-jadi ketika anak-anak itu memutuskan
untuk meninggalkan jalanan mereka dan pergi ke jalanan lainnya
dan lainnya dan lainnya
dan lingkungan lainnya dan lingkungan setelahnya.
Dan itu menjadi begitu populer.
Orang-orang menyemprotkan nama-nama mereka lebih menjulang dan lebih melebar,
lalu seseorang datang dengan ide cemerlang
membubuhkan warna kedua pada nama mereka.
Dan tanpa kau sadari, tempelan nama
dengan huruf-huruf kecil di belakang kursi bus
telah berubah menjadi huruf setinggi tujuh kaki
di sisi kereta bawah tanah.
Dan lalu benar-benar meledak dan menjadi sebuah gerakan seni.
Melukisi, atau pembombardiran, sistem kereta bawah tanah New York
segera menjadi fokus utama bagi para penulis grafiti muda
yang terobsesi agar nama mereka dikenal seluas mungkin.
Gerakan seni yang baru lahir ini mengembangkan tata bahasa ,
aturan, dan budayanya sendiri, semua berbasis pada seputar
mempermainkan bentuk huruf, dari sebuah 'tag',
tanda tangan yang ditulis dengan cepat dengan kaleng semprot atau spidol,
hingga mengarah ke sebuah karya, yang berukuran besar,
yang menggambarkan nama si seniman yang distilisasi.
Pada tahun 1983, untuk pertama kalinya publik melihat sekilas
grafiti bawah tanah, dalam film karya Tony Silver
dan Henry Chalfant: "Style Wars".
Bagi banyak orang, "Style Wars" menggambarkan
sebuah subkultur yang aneh, jahat dan berbahaya.
Tetapi bagi yang lain lagi, film itu terbukti menjadi inspirasi.
Itu adalah sebuah dunia baru yang sedang dipertontonkan.
Dan itu, "Ya Tuhan, aku harus bisa melakukan itu."
Itu menjadi buku panduan bagi banyak orang.
Itu sepertinya
inilah cara melakukannya.
Orang tidak tahu seperti apa diriku
hingga kini, hingga mereka mulai menonton ke bioskop.
Mereka mau melihat wajahku.
Hebat.
Bepergian keliling kota dengan transportasi, dan seperti,
"Itu 'tag'-ku, itu 'tag'-ku, itu 'tag'-ku."
Itu membuatmu merasa seperti kaulah yang punya kota.
Ini seperti, ketika kau melukisi kereta api
dan kau melihat keretamu berjalan,
hanya sebuah terminologi: Aku melihat keretaku berjalan.
Itu bukan kereta yang diburu seseorang untuk bekerja,
itu keretaku dengan namaku padanya, dan sedang berjalan.
Grafiti memberikan individu muda ini
semacam rasa memiliki di saat mereka tak memiliki apa-apa.
Ini adalah 'pembombardiran', menyadari bahwa aku bisa melakukannya.
Setiap kali aku naik kereta, hampir setiap hari
aku melihat namaku, dan aku bilang, "Ya, kau tahu,
"Aku ada di sana, aku 'membombardirnya'."
Ini bagiku, bukan apa yang dilihat orang lain.
Aku tak peduli apa yang orang lain lihat
atau wajah mereka, apakah mereka bisa membacanya atau tidak.
Ini bagiku dan penulis grafiti lainnya yang bisa kita baca.
Semua yang tidak berhak ini, mereka dikecualikan.
Aku tidak peduli pada mereka.
Mereka tidak penting bagiku.
Tapi para penulis muda ini segera mendapati
bahwa perburuan atas seni mereka
berarti berhadapan langsung dengan kemurkaan hukum.
Seiring dengan meningkatnya keluhan dari masyarakat,
Pemerintah kota New York mencanangkan perang terhadap grafiti,
yang menggambarkan para seniman itu sebagai para penjahat,
dan menghubungkan prevalensi 'tag' dengan peningkatan
dalam beberapa bentuk kejahatan lain yang lebih serius.
Menurutku, itu hal yang paling memuakkan
yang dialami kota New York.
Stasiun ini baru saja dicat
beberapa minggu yang lalu, dan orang-orang itu sepertinya tahu
ketika mereka akan mengecat stasiun, dan malam itu
stasiun, berakhir hampir seperti ini.
Graffiti di New York telah menjadi
masalah sosial yang mengakar kuat
yang bergolak dari bawah tanah
No comments yet. Be the first to leave one.