The first 200 lines.
Dahulu kala, sangat sulit bagiku untuk memiliki anak.
Sekarang aku siap untuk lakukan yang mustahil
- untuk selamatkan nyawanya. - Berhenti!
Untuk memberinya masa depan yang tak kumiliki.
Aku tak akan menyakitimu.
Diam. Berikan tanganmu. Tidak!
Lidia!
Lidia.
Saat aku terbaring di tanah, aku hanya bisa berpikir:
cinta ibu bisa mengatasi apapun.
Tolong bawa kami ke rumah sakit lain. Kita harus ke rumah sakit lain!
- Tolong, kumohon! - Tapi apa benar bisa?
Apa itu bisa mengatasi semua kesulitan?
Dia jatuh. Dia tak bernapas.
Tenang. Dia di tangan yang tepat. Akan kami urus.
Ataukah itu kebohongan yang kita katakan pada diri sendiri?
Aku hamil.
- Tenang. - Selamatkan bayiku.
- Tenanglah. - Kumohon.
- Tidak, tidak. - Tenanglah.
Kadang, ketika kau merasa kau kehabisan waktu,
hidup baru mulai.
6 BULAN KEMUDIAN
Anakku...
Itu hanya mimpi buruk.
Oh, sayangku. Kemarilah.
Kemarilah.
Kau masih belum siap?
Sungguh, Lidia. Ayo, sudah tidak ada waktu.
Akan kuurus bayinya
- saat Carlota mengurusmu. - Aku?
Kurasa itu bukan ide bagus. Kau yang ahli.
Lalu maukah kau jaga bayinya? Dia selalu menangis bersamamu.
WAKTU
- Oke. Apa repotnya? - Tepat. Sudah tak ada waktu.
Ayo.
Baiklah, ayo.
Kau baik-baik saja?
Apa kau berubah pikiran?
Ya tuhan, dia memikirkannya. Apa kau punya brandy?
Alkohol adalah solusi terbaik untuk perasaan vertigo.
Aku mengalaminya.
Ini bukan vertigo.
Tak pernah kukira
setelah apa yang kita lalui, kita ada di sini bersama-sama.
Dan aku bahagia, sangat bahagia.
Ini hari besarmu.
Lidia, kau akan menikah.
- Lidia, apa masih lama? - Sebentar.
- Eva, ibumu selalu terlambat. - Lihat siapa yang bicara.
Kau membuat Pablo menunggu satu jam.
- Dia hampir terkena serangan jantung. - Salahkan Doña Lola.
Dia mau semua tetangga melihatku, semua temannya dan semua Chamberí.
Aku siap.
Kau terlihat luar biasa.
Pengantin pria akan tak bisa berkata-kata.
Kuharap tidak karena dia harus berkata "Aku mau."
Penipu itu sebaiknya melakukannya.
Aku akan ke gereja. Aku mau dapat tempat duduk yang bagus.
Kau cantik.
Itu pengiring pengantinnya.
Nona, keretamu menunggu.
Akan kita bawa Eva dan pergi naik taksi.
Kau harus buat mereka menunggu. Itu tradisi.
- Tapi mobilnya sudah datang. - Kau harus terlambat.
Pergilah berkeliling Madrid. Pemandangannya cantik.
- Ayo. - Sungguh?
Ángeles?
- Masuklah. - Ada apa?
- Sudah terlalu lama. Aku harus bertemu. - Kemana saja kau?
Kami berpindah-pindah, berusaha menghindari polisi.
Ini Eva.
- Dia cantik! - Ya, dan juga jahil.
- Dia bilang begitu karena aku favoritnya. - Itu tidak benar.
- Itu benar. Dia tak menangis denganku. - Tidak. Lidia!
- Ayo. - Ayo pergi.
- Jangan ada waktu terbuang. - Toh kita akan terlambat.
- Marga, hati-hati. - Aku datang. Tidak, lewat sini.
Aku senang kau di sini.
Permisi, nyonya. Kita saling mengenal.
- Tidak. - Ya, kau dari Valladolid.
Tidak. Kau mengira aku orang lain.
Maaf, tapi sesuatu yang aneh terjadi padaku denganmu.
- Denganku? - Ya, aku melihatmu dan...
Aku mengenalmu sejak dulu. Mungkin dari kehidupan lain.
- Oh ayolah. - Kau tak percaya hal-hal ini?
Kau harus. Aku percaya ada banyak hal
yang terjadi di sekitar kita
- yang ada di luar logika dan akal sehat. - Ya?
Itu mengapa aku yakin aku tak pernah lupa wajah sepertimu.
- Berikan tanganmu. -Tanganku?
Ya, tanganmu. Aku ahli dalam membaca tangan.
Oh?
Aku akan duduk di belakang. Aku tak mau dikenali.
Ya, itu yang terbaik.
Hei, bukankah itu Pablo?
Ambil bayinya.
Kulihat kau punya garis cinta yang sangat panjang.
Ini berarti kekasih hebat akan segera datang ke hidupmu.
Apa yang kau lakukan? Apa ini caramu hormati sumpah kita?
Sumpah? Kau sudah menikah?
Pablo, kuberi tahu kau sesuatu. Aku tak akan mengizinkan hal seperti ini.
- Tak tahu malu. - Marga, tidak! Itu bukan aku.
Dia kakakku, Julio.
Halo.
Halo.
Aku mau bilang senang bertemu denganmu, tapi kau mengacaukan kesempatanku tadi.
Aku ditampar dua kali.
- Aku tak tahu dia datang. - Aku juga tidak.
Atau kalian kembar.
- Dia baru datang. - Aku selalu suka efek terkejutnya.
Ayo masuk. Kita tak mau kehilangan tempat duduk kita.
- Kukira kau di Melilla, Julio. - Aku dipulangkan kemarin.
Aku muak tidur di ranjang itu.
Tugas jaga, dini hari... Kau tak tahu bagaimana rasanya.
Ibu pasti menunggumu dengan sepanci rebusan.
Kuasumsikan kau akan tinggal satu atau dua hari.
Sehari atau selamanya.
- Selamanya? - Aku berpikir untuk tinggal di Madrid.
Kudengar hidup di sini enak.
Jadi dari sekarang, kau yang akan buat rebusan untukku.
- Aku tak bisa memasak. - Apa maksudmu, kau menetap?
Ya, dan kau harus mencarikanku pekerjaan.
Tapi jangan angkat-angkat. Kau tahu punggungku.
Aku punya sakit kronis di sini. Membawa senapan menghancurkanku.
Kau mau aku merekomendasikanmu ke perusahaan?
Apa kau ingat terakhir kali aku merekomendasikanmu?
Kau bertahan dua hari bekerja.
Kalau kau mau tinggal di Madrid, itu hebat.
Tapi cari tipuanmu sendiri.
Anak ini tak akan pernah berubah.
Apa kau tak terlalu keras padanya?
- Setelah aku menamparnya. - Marga, kau tak mengenalnya.
Kakakku sangat berani. Dia meminta tanganmu,
dan sebelum kau tahu, dia dapat kakimu.
Dia tak bisa diandalkan, tak bertanggung jawab.
Ibu sangat mengkhawatirkannya.
- Seorang playboy, kan? - Sumber, Marga.
- Sumber? - Dari masalah.
Jadi aku beri tahu padamu, lebih jauh, lebih baik.
Ayo duduk.
Akhirnya kau tiba.
Wow. Doña Lola, jika kau kenakan putih, aku akan mengira kau pengantinnya.
- Aku tak pernah liat kau seperti ini. - Diamlah.
Jika temanku dari gereja dengar aku di pernikahan seorang wanita
yang tinggal bersama, mereka akan mengucilkanku.
Jangan jadi lebih Katolik dari paus.
Yang terpenting adalah mereka akan menikah.
Benar. Dan kita bisa merayakannya.
Kuharap kau menyimpan dansa untukku.
Maaf kami terlambat.
- Bagaimana bayinya? - Bersenang-senang. Benar kan?
- Carlota. - Carlota, sayang.
Akan kubawa Eva dan cari angin segar.
Tidak, tidak.
Apa yang akan kukatakan berhubungan denganmu juga, Nona Millán.
Tetap di sini, kumohon.
Ayahmu ingin mengatakan sesuatu padamu sejak lama.
tapi dia tak tahu bagaimana.
Maafkan aku, sayang. Maafkan aku.
Tak seharusnya aku mengusirmu.
Putriku sendiri. Aku berpaling darimu.
Seorang ayah tak seharusnya melakukan itu.
Dan kau juga, Nona Millán. Aku tak adil pada kalian berdua.
Ayahmu sudah berubah banyak.
Kita semua berbuat salah. Kita bisa perbaiki dengan mengakuinya.
Aku tahu kau tak bisa maafkan aku,
tapi bisa meminta maaf sudah cukup untukku.
Ayah.
Jika kau mau, kau bisa duduk dengan kami. Kursi di belakang kami kosong.
Dan siapa gadis cantik ini?
Dia putrinya Lidia.
Dia datang terlambat.
Itu tradisinya.
Sepertinya tradisinya membuat pengantin pria gelisah.
Tenanglah. Semua pengantin wanita datang terlambat.
Itu menambah kegembiraan ke momen "Aku mau."
- Lidia bukan pengantin biasa. - Itu benar.
Butuh keberanian untuk menikah setelah bayinya lahir,
hiraukan semua gosip.
Dia dan aku tak peduli tentang opini orang lain.
Aku lega karena ada badai datang.
Badai yang sangat besar.
- Sedang apa kau di sini? - Menghadiri pernikahan, Carlos.
Kami kira ada kesalahan dengan undangannya.
Tidak, kau tahu betul kau tak diundang.
Kukira hal sudah lebih baik di antara kita, nak.
Uang yang kupinjamkan membantumu dapatkan lisensi radio.
Apa berjalan baik? Ada keuntungan?
Ya, mengenalkan panggilan pendengar ke progam
membuat kita sangat populer. Terima kasih atas perhatianmu.
Aku senang kau sukses. Aku senang untuk kalian bertiga.
- Tanpa lisensi itu-- - Satu lisensi radio
tak menebus yang kau perbuat ke Lidia dan anakku.
Aku salah,
dan aku minta maaf sebanyak yang dibutuhkan.
Lidia tak akan senang melihatmu di sini.
Jika seorang ibu mau melihat anaknya menikah, itu bukan kejahatan, kan?
Carlos, jangan khawatir. Kami akan duduk di sudut sana.
Halo. Selamat sore.
No comments yet. Be the first to leave one.