The first 200 lines.
Diterjemahkan\Oleh\Laborc
RESYNC FOR ME THANKS TO ALL SUBBER
Unni !
Hey, yang benar saja...
Hari ini, aku tidak akan membiarkanmu lolos.
Unni!
Sial!
Hari ini saja!
Kita bisa lakukan ini sepanjang malam.
Taksi, taksi!
Apa kau sudah bosan hidup? /Apa?
Kau tahu jam berapa ini?
Pernah aku membuatmu menunggu seperti ini?
Aku... minta maaf, Chef.
Kau tidak demam. Ada apa lagi denganmu?
Apa kau merasa tertekan lagi?
Kau selalu bilang "maaf" berulang-ulang.
Tidak, bukan begitu... Yah, hanya sedikit.
Jadi, apa ini kau atau bukan dirimu?
Lupakan saja. Masuklah ke mobil.
Apapun yang sedang terjadi, kita harus makan.
Baik.
Ngomong - ngomong... Chef.
Ya?
Kau tahu syuting kemarin dan bermasalah dengan tepung?
Hal itu baik - baik saja 'kan?
Tentu saja.
Kenapa? Apa kau ingin menyombongkan diri saat ini?
Kau yang menyelesaikan masalahnya?
Bukan, tidak begitu.
Sejujurnya, tepung kedelai tidak buruk juga dalam keadaan mendesak
Jika terlalu banyak tepung kedelai, akan membuat adonan terlalu berair dan berantakan.
Dari situlah ungkapan " tepung kedelai rumahan " datang.
Kau harus tahu hal itu sebelum menyombongkan diri.
Ya, akan aku ingat. Maaf, Chef.
Baiklah, ingat hal itu. /Ya, Chef.
Carikan alamat di handphone-mu.
Cari Rumah pancake soba Hongjae-dong.
Ya, Chef.
Apa dia sudah pergi?
Astaga, Suhbingo itu pandai sekali melacak.
Bagaimana dia tahu aku terhubung dengan Na Bong Sun?
Sedikit lagi aku bisa menangkapnya.
Membuatku merinding saja.
Ku tangkap kau!
Unni, Unni! Jangan lakukan ini.
Jangan panggil aku Unni sialan.
Aku tidak suka ini. /Diamlah.
Kau membuatku sangat marah!
Kau tamat sekarang. /Baik, baik.
Baik, baik... ouch sakit au. Sakit, sakit...
Apa kau tahu biaya taksi yang aku habiskan karena kau?
Makanan bukan sekedar...
Silahkan dinikmati. /Ya, bibi.
Makanan bukan sekedar untuk dikonsumsi.
Sama seperti musik dan seni, orang harus sadar hal itu.
Apa kau tahu siapa yang mengatakan hal itu?
Chef? /Salah.
Kukira kau sudah memikirkannya. /Akan kulakukan.
Bukan aku yang mengatakannya. Tapi Leonardo Da Vinci.
Oh.
Itu artinya kau harus makan makanan dengan cara yang sama seperti saat kau menikmati musik dan seni.
Pikirkan minyak yang mereka gunakan.
Bahan yang mereka masukkan kedalam adonan.
Bumbu yang mereka campurkan disini.
Pikirkan itu dan jangan hanya makan.
Ya, Chef.
Memasak itu seperti menjadi dirigen sebuah orkestra di dapur, paham?
Ya.
Kutipan dirigen itulah yang aku maksud. Mengejutkan, bukan?
Membuatmu kagum, kan?
Itu keren sekali, Chef.
Kapan aku tidak keren? Makanlah.
Bagaimana? Apa kau merasakan sesuatu?
Tekstur sangat renyah.
Kenapa kau berpikir seperti itu?
Apakah ini menggunakan tepung maizena ?
Jika menggunakan maizena , adonannya akan lembek.
Rahasianya adalah... bawang.
Bawang?
Jika kau haluskan bawang dan mencampurnya, itu akan mengontrol kelembaban dan renyah.
Anggap bawang bertindak sebagai tepung goreng.
Aku mengerti.
Dengan bahan-bahan saja kau bisa membuat...
segala macam tekstur tanpa membuat mereka artifisial.
Contohnya, kau ingin membuatnya menjadi kenyal.
Kemudian, kau ingin menambahkan kentang.
Dan jika kau ingin sesuatu yang lembut, kau bisa menambahkan susu.
Kau membiarkan orang seperti dia mengurus saus?
Jika ingin menghidupkan rasa, kau harus tambahkan minyak wijen.
Apa kau tidak memperhatikan? /Tidak.
Saat ini, kau menerima pelajaran yang tidak bisa kau bayar.
Ya, aku tahu Chef. Terima kasih.
Apa yang akan kau tambahkan untuk menghidupkan rasa?
Minyak wijen? /Benar.
Silahkah dimakan. /Baiklah.
Ah, ini enak.
Segala sesuatu mengenai tempat ini bagus, tapi parkirnya tidak bagus.
Tidak bisakah kau berhati - hati saat sedang berjalan?
Maafkan aku, Chef.
Kau harus melatih kebugaranmu.
Kau terlalu lemah.
Anak-anak memanggilmu "Bong, Bong" dan mereka pikir kau akan terus seperti itu.
Kenapa kau tidak bisa bilang pada mereka...
"Aku bukan Bong. Aku Na Bong Sun!"
Percaya dirilah.
Ya, Chef. Aku akan pikirkan itu.
Baiklah, ayo pergi Bong. /Apa... apa?
Aku bisa melakukannya, hanya aku saja.
Ya, Chef.
Wow! Keren sekali.
Wow.
Apa hebatnya itu?
Apa kau tidak pernah menonton acara audisi?
Ada anak seperti itu dimana - mana.
Cepatlah. Aku lelah.
Baiklah.
Bong Sun. /Ya!
Masuklah. /Unni, Unni, Unni...
Kau sepertinya menderita.
Tolong lepaskan ini.
Hanya masalah waktu saja sampai aku menyelesaikan dendam keperawanan-ku.
Apa? Yang benar saja.
Kau pikir itu mudah.
Tidak mudah bagi hantu menyelesaikan dendam mereka.
Bukan begitu. Dengarkan aku.
Aku sudah menyiapkan makananku.
Permainan berakhir saat aku memasukan sendok-ku kedalamnya.
Astaga, makanan apa? Kenapa kau mencari makan untuk dirimu sendiri?
Kau sudah menemukan pria dengan vitalitas?
Ya!
Bukanlah kebetulan aku masuk ke dalam tubuh Na Bong Sun.
Orang mengatakan itu adalah sisi tergelap dibawah lampu. Dia tepat berada di hadapanku.
Maksudmu chef di restoran itu, kan?
Kau juga tahu, kan?
Ternyata dia pria bervitalitas!
Astaga, tidak! Tidak, tidak boleh!
Kenapa?
Ibunya adalah pelangganku.
Aku berteman dengannya.
Apa kaitannya denganku?
Apa pedulinya hantu dengan hal itu saat mereka akan menyelesaikan dendam mereka?
Bahkan jika itu anakmu, Aku tetap akan menidurinya.
Anak, anak apa? Aku wanita single!
Dan kau tidak bisa menyentuh anaknya. Kau tidak boleh!
Kenapa tidak? Dia bukan anakmu. Kenapa kau melindunginya?
Kau tidak seperti biasanya...
Kau pasti mendapatkan banyak uang... dari ibunya, huh?
Berapa banyak yang kau dapat? Berapa?
Apa maksudmu? Turuti saja perintahku.
Hey, aku akan mengirimmu pergi, jadi kenapa kau tidak pergi saja?
Akan lebih bagus jika kau bisa meraih damai dan pergi...
Tapi, kau tidak bisa melakukannya sendiri jadi apa yang bisa kita lakukan?
Aku menyiapkan meja yang bagus untuk ritual peringatan untuk orang mati.
Ritual untuk orang mati?
Tidak mau, aku takut.
Kudengar itu sangat menakutkan dan menyakitkan.
Semua orang mengatakan hal itu sangat menyakitkan.
Itu hanya sebentar saja.
Kau hanya perlu bertahan sebentar.
Tidak, aku tidak mau. Kubilang aku tidak mau.
Aku tidak mau. Tidak.
Aku menolak.
Aku seharusnya memotongmu!
Aku tidak biasa makan terlalu larut.
Semua ini karna karyawanku.
Maafkan aku, Chef.
Kau meminta maaf lagi?
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Selamat malam, Chef.
Aku tidak tahu jika aku akan tidur nyenyak malam ini.
Tidak ada yang tahu kau akan berubah dan menyerangku lagi.
Tidurlah. /Ya, Chef.
Tunggu dulu...
Siapa yang tidak pernah bermain gitar saat ini?
Aku sering bermain gitar. Aku memainkannya sampai aku bosan.
Hal seperti ini.
Hey, Na Bong Sung. Cepatlah.
Ya? /Cepatlah.
Tolong tunggu sebentar.
Ya, Chef?
Lihatlah waktu. Kenapa kau tidur lama sekali?
Maafkan aku. /Chef tidak seharusnya tidur terlalu lama.
Kau harus pergi ke pasar saat pagi. /Baik.
Cepat, ayo kita berolahraga.
Apa, olahraga?
Aku sudah bilang kemarin. Kau punya masalah dengan kebugaran.
Jika kau ingin bekerja di dapurku, kau harus menjaga kebugaran.
Lihat. Karna aku rajin berolahraga... Lihat, otot-ototku.
Itu keren sekali.
Jika kau bekerja keras, kau akan sehat mental dan jasmani.
Jadi, cepatlah.
Aku tidak punya baju olahraga... Tunggu sebentar.
Kau tidak bisa mengendarai sepeda?
Aku tidak bisa.
Apa yang kau lakukan saat masih muda?
Kau tidak mempelajari ini? Bukankah ini hal dasar?
Aku ingin, tapi aku tidak terlalu atletis.
Wah, apa yang kau pikirkan saat aku menyewa sepeda tambahan?
Kau seharusnya bilang kau tidak bisa bersepeda.
No comments yet. Be the first to leave one.