The first 173 lines.
Ja-rim. Ini kesalahpahaman.
Dia bukan pacarku.
Aku sudah dengar semuanya.
Kau mengencaniku karena kasihan kepadaku.
Aku hanya terkejut. Aku tidak jujur.
Aku sungguh amat menyukaimu.
Aku terus berusaha mengakhiri hubunganku dengannya saat mengencanimu, tapi...
Aku merasa tidak enak.
Maafkan aku. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi.
Ja-rim. Kau juga menyukaiku.
Akan kuakhiri hubunganku dengannya dan fokus kepadamu.
Maafkan aku.
Ja-rim.
Bukankah kau juga menyukaiku?
Apa semuanya hanya lakon?
Aku mendatangimu sebelum menemuinya. Apa lagi yang kau inginkan?
Cukup.
Astaga.
Hei. Bisakah kau melakukan ini kepadaku?
Lepaskan.
Aku kehabisan kata-kata. Sial.
Aku ingin memacarimu karena kau cantik,
tapi kenapa semua gadis cantik seperti ini?
Kalian menggoda sesuka kalian,
tapi saat aku mencoba menggandengmu,
kau terkejut.
Kau bahkan bersikap jual mahal.
Kau pikir aku mengencanimu karena sangat menyukaimu?
Kau amat andal berkhayal.
Hei. Lupakan saja.
Aku bodoh karena memacarimu.
Aku sangat tidak beruntung. Sial.
Kau mungkin sudah melupakan semuanya,
tapi aku ingat kau sampah.
Astaga, kau menakutkan sekali.
Astaga, Ja-rim.
Kau menjadi sangat keren.
Apa kau gadis sama yang malu setelah menciumku?
- Siapa yang menciummu? - Hei.
Pacarmu datang.
Sampai jumpa lagi.
Hei.
Kudengar kalian putus.
[Episode 14, Aku rindu pacarku, tapi tak bisa bilang. Aku Go Gil-dong]
Sial.
Apa? Kau rasa kalian akan putus? Apa maksudmu?
Seperti itulah.
Apa dia ingin putus?
Tidak, bukan begitu.
Jika bukan itu masalahnya, kenapa kau bilang begitu?
Kau mau putus?
Entahlah.
Tapi saat aku melihat Gong Ju-young,
terkadang sikapnya seperti si berengsek, jadi, itu membuatku gugup.
Kurasa aku pernah mengatakan ini,
tapi jangan samakan Gong Ju-young dengan Choi Joong-ang.
Bayangkan betapa tidak adilnya itu bagi Gong Ju-young.
Siapa Choi Joong-ang?
Namanya Choi Jung-woo. Berhentilah salah menyebut namanya.
Aku belum pernah bertemu dengannya, jadi, siapa peduli dia kupanggil apa.
Omong-omong, A-ram benar.
Gong Ju-young berbeda darinya.
Kenapa kau ingin putus?
Kurasa Gong Ju-young ingin putus denganku.
Apa? Tidak ada alasan baginya untuk melakukan itu.
Ada alasan dia mau putus.
Lalu apa yang ingin kau lakukan?
Kau tidak keberatan semuanya berakhir begini?
Jangan bersikap seperti, "Itu tidak penting karena bukan aku,"
dan tetap diam seperti itu.
Kau harus bilang agar dia tahu. Bagaimana dia bisa tahu?
Kau ingin dia membaca pikiranmu?
Benar. Kalian harus berbincang.
Ini menyebalkan sekali.
Lupakan. Akan kubantu sejauh ini saja.
Aku lapar karena sangat frustrasi.
Ayo makan.
Kenapa frustrasi membuat lapar?
- Kau tidak lapar? - Tidak. Kau?
Ya.
Hei, gelangmu keren sekali.
Kupakai ini sejak SMP, kenapa baru sekarang?
Hei, apa Buddha menyuruhmu bermain biliar seperti ini?
Dia bilang cintai sesamamu.
Dasar bodoh.
Aku tidak memakainya karena aku Buddha.
Lagi pula, bukankah itu yang dikatakan di gereja?
Aku yakin Buddha mengatakan hal yang mirip.
Tapi sungguh. Jika seseorang yang bermain 120
mendapatkan lima pukulan berturut-turut,
bahkan Buddha pun akan marah.
Jika akan bermain begini, seharusnya bermain 150.
Aku hanya beruntung. Aku tak bisa bermain 150.
Jika kau mau bermain, cepatlah.
Tiga, dua, satu.
Kau harus mengurusnya.
Ini buket. Siapa berikutnya?
Apa Gong Ju-young? Kau seperti memberikan kemenangan.
Kau melewatkan ini?
Kau sangat payah dalam hal ini.
Aku tidak berniat mengawasinya. Apa kau punya banyak uang?
Tentu saja aku senang.
Aku tidak mau bermain, tapi kalian menyeretku kemari.
Jika kami tak menyeretmu keluar, kau akan menangis di suatu tempat.
Pada saat seperti itu, estrogenmu
harus tetap aktif.
Yang benar astrenalin, Bodoh.
Itu adrenalin.
Kalian selalu menyuruhku tetap diam.
Apa kau akan bermain basket besok?
Kudengar dia juga datang.
Berhenti bicara omong kosong. Tentu saja dia tidak akan datang.
Haruskah kita semua lewatkan saja?
Kau ingin mereka memaki kita?
Jika mereka tak bisa bermain karena kita tak datang...
Astaga.
Kalian pergilah.
Tidak perlu melakukan itu karena aku.
Sungguh.
Tidak apa-apa.
Halo?
Apa?
Gong Ju-young?
Kau mau bermain basket?
Kenapa berpakaian seperti itu?
Kau sungguh akan bermain?
Lantas, setidaknya lepaskan kemeja itu.
Halo?
Ja-rim belum menghubungimu?
Belum.
Apa kau bilang mengenal Choi Jung-woo?
Sedikit.
Aku hanya mengatakan ini karena takut kau salah paham.
- Oper. - Ayo!
Gong Ju-young. Pelanggaran.
Maaf.
Tidak apa-apa.
Maaf.
Oper.
Astaga.
Hei.
Bedebah!
- Hei! - Hei!
Hei. Hentikan. Hentikan.
Lepaskan aku!
Apa kau gila? Kenapa kau bertingkah?
Kau melakukan ini karena pacarmu?
Apa aku melakukan sesuatu kepadanya?
Kau bertingkah karena aku memacarinya?
Aku hanya bicara dengannya, kenapa reaksimu berlebihan, Berandal?
Hei! Kau sudah gila?
- Ada apa denganmu? - Lepaskan aku!
- Sial. - Maafkan aku soal dia.
- Dia pasti kepanasan. - Benar.
Lihat pakaiannya.
Benar. Dia kehilangan selera gaya dan pikirannya.
Kau tahu dia tidak biasanya seperti ini.
Dia bermain begitu bersemangat sampai melakukan itu.
Astaga.
Astaga, dasar bodoh.
Kau tidak lihat suasana menjadi kacau karenamu?
Meskipun membencinya,
kau tidak boleh melakukan itu di depan orang lain.
Kau tidak mau bermain dengan mereka lagi?
Tidak, aku tidak mau bermain.
Dia hanya datang untuk berkelahi dengannya.
Apa karena Wang Ja-rim?
Apa yang dia lakukan kepadanya?
Biasanya kau banyak bicara,
tapi selalu diam di saat seperti ini.
Terima kasih sudah menghentikanku.
Jika bukan karena kalian, dia akan memukuliku.
Setidaknya kau tahu itu.
No comments yet. Be the first to leave one.