The first 200 lines.
Astaga.
Ibu.
Ya?
Aku menyukai Sangjun.
Apa?
Aku menyukai Sangjun.
Untuk memberiku uang yang ditipu,
dia menyetujui peran yang tidak disukainya.
Dia bahkan mengirimiku uang.
Ibu ingat bagaimana dia melindungiku
dengan mengatakan aku rugi dalam investasi?
Aku harus menahan air mata.
Tetap saja, pikirkan saja ibunya.
Setidaknya dia lebih baik daripada Nenek.
Ibu.
Aku ingin punya hubungan serius dengannya.
Tapi aku tidak ingin kami menjadi besan.
Tidak, jangan begitu. Taeju menyukai Sangjun,
jadi, aku juga menyukainya.
Aku menyukai Lee Sangjun.
Sudah selesai.
Apa maksudmu?
Kurasa Sangjun dan Taeju sudah berakhir.
Tidak ada yang perlu kau cemaskan lagi.
Mau pesan apa? Aku yang bayar.
Bagaimana dengan es kopi moka?
Ini kopi yang dicampur dengan cokelat.
Kami pesan dua.
Apa yang sebenarnya dikatakan Sangjun?
Dia ingin fokus pada pekerjaannya untuk saat ini
dan pernikahan tidak ada di pikirannya.
Aku juga tak perlu cemas
karena dia tidak memberi Taeju uang.
Tapi baru beberapa hari lalu,
dia menyatakan cintanya di bawah sinar bulan.
Dia disadarkan oleh kenyataan.
Apa?
Disadarkan oleh kenyataan.
Itu saat kenyataan menghantammu dengan keras.
Dengan kata lain, dia akhirnya sadar.
Dia tahu dia dan Taeju tidak ditakdirkan bersama.
Jika dia bisa sadar,
tidak bisakah dia melakukannya lebih awal?
Bu Yoo, bukan ini reaksi yang kuharapkan.
Apa Taeju bilang
dia ingin berhubungan dengan Sangjun?
Apa maksudmu?
Kenapa Taeju menginginkan itu?
Jika tidak, syukurlah.
Jika aku harus menjelaskannya,
Taeju ditipu demi uang.
Sangjun berusaha membantunya dari kesulitan.
Beruntung, uangnya kembali.
Maka masalah berakhir sesuai keinginan kita.
Mari kita rayakan.
Bersulang.
Aku bisa saja berjalan.
Atau naik bus.
Aku harus mengantarmu di hari baik ini.
Sangjun sepertinya benar-benar mencintainya.
Dia serius dengan ucapannya malam itu.
Aku melakukannya untukmu.
Kenapa? Itu hanya membebaniku.
Karena aku mencintaimu!
Dia mengesankan.
Rasanya seperti menonton film.
Cinta sesaatnya untuk Taeju
akan membantu karier aktingnya.
Bisakah Sangjun berubah pikiran?
Aku khawatir, itu saja.
Aku ragu itu akan terjadi.
Saat syuting, dia hanya fokus pada pekerjaannya.
Cara dia mematikan semuanya
terkadang bisa kejam.
Aku menyukai Sangjun.
Ibu ingat bagaimana dia melindungiku
dengan mengatakan aku rugi dalam investasi?
Aku harus menahan air mata.
Ada apa?
Bu Yoo.
Ada apa?
Kenapa tiba-tiba menangis?
Bukan apa-apa.
Bukan apa-apa, tapi kau menangis?
Begini.
Semalam...
Semalam?
Aku tiba-tiba teringat
film sedih yang kutonton semalam.
Maaf soal itu.
Aku akan berjalan dari sini.
Apa judul filmnya?
Aku hanya penasaran.
Aku tidak ingat.
Sampai jumpa.
Apa-apaan itu?
Ada apa dengannya?
Sekarang aku sama sedihnya.
Wanita yang aneh.
Ibu baru pulang?
Aku ingin pergi ke salon untuk menata rambutku.
Apa pendapat Ibu tentang ini?
Naskah tak menjelaskan tentang gaya rambutnya.
Tapi mengingat karakter Dokter Ma,
kurasa dia harus terlihat rapi dan terkendali.
Benar sekali. Aku sangat setuju.
Jadi, kupikir sisinya harus disisir ke bawah.
Ini yang dikatakan sutradara saat rapat.
Dokter Ma penuh karisma
dari atas sampai kaki.
Jadi, kami punya ide memakai wig.
Ini menegangkan.
Sangjun.
Kau harus lebih menganalisis karakternya.
Youngsik.
Hei.
Apa itu tadi? / - Bukan apa-apa.
Sedang apa kau di sini?
Aku ingin melihat fotoku.
Maksudmu foto di sana?
Saat aku berfoto di sini.
Aku harus mengingat resolusi awalku saat itu.
Ada apa?
Sudah 20 tahun, tapi masih sulit.
Syuting drama baru akan dimulai, tapi aku gugup.
Tapi kau sudah bekerja keras
memperluas filmografi selama 20 tahun.
Kau pasti bisa, Pak Aktor Bintang.
Kau tahu
betapa kerasnya aku bekerja, bukan?
Tentu saja.
Alkohol, wanita, atau pesta.
Aku selalu menahan godaan seperti itu.
Benar. / - Benar.
Itulah kau.
Kurasa kau sangat kesulitan.
Jangan khawatir. Kau pasti bisa.
Menurutmu begitu? / - Ya.
Aku Lee Sangjun.
Tentu. Itulah Lee Sangjun.
Aku senang datang ke sini untuk melihat foto itu.
Astaga.
Sangjun.
Kau punya uang untuk kupinjam?
Berapa?
Begini Sekitar 30.000 dolar.
Untuk apa?
Bisakah kau meminjamiku uang tanpa bertanya?
Tentu.
Tapi, Youngsik, setelah menikah,
akan kuberi tahu istriku berapa penghasilanku.
Maka aku tidak akan bisa
meminjamimu uang seperti ini lagi.
Aku tahu. Terima kasih.
Aku akan mentransfer uangnya saat pulang.
Terima kasih.
Tunggu, Sangjun.
Dan aku tidak mau ibumu khawatir.
Tolong jangan beri tahu dia.
Baiklah.
Kau tidak melakukan hal gila, bukan?
Hei, bukan begitu.
Sampai nanti. / - Baiklah.
Terima kasih. / - Tidak masalah.
Astaga.
Hei.
Astaga.
Sudah berapa lama?
Aku senang sekali.
Ayah harus mengatakan sesuatu.
Apa? Baiklah.
Aku bersyukur bahwa kita
berkumpul untuk makan malam seperti ini.
Itu saja?
Hei, jika bicara lagi, aku akan menangis.
Ibu rasa ayahmu sedang melalui menopause.
Mari makan saja.
Terima kasih makanannya. / - Terima kasih.
Taeju, aku suka rambutmu.
Rambutku hanya dipotong sedikit.
Dia benar. Terlihat cantik.
Selamat menikmati, Taeju.
Kaki Nenek baik-baik saja?
Berkatmu, aku merasa jauh lebih baik sekarang.
Ibuku sangat beruntung.
Sorim, berat badanmu turun.
Kau sedang diet?
Tidak.
Kau sudah menetapkan tanggal pernikahanmu?
Saat ini, kami ingin lebih fokus pada pekerjaan.
Taeju, jika kau ingin memperkenalkan seseorang,
ajak dia ke rumah.
Baik.
Carikan aku film sedih.
Film haru yang akan membuatku menangis.
Aku menemukan film mengharukan untukmu.
Hei, itu sama sekali tidak sedih.
Itu tidak benar. Perpisahan selalu menyedihkan.
Siapa yang menelepon?
Siapa yang mengeluh kepadamu?
No comments yet. Be the first to leave one.