Cross of Iron

Cross of Iron

Download Indonesian Subtitle

Release info

Cross Of Iron 1977 720p BluRay x264 999MB-Pahe in
A Commentary by Ikkyu San
Sesuai rilisan pahe.in

Tags

BluRay
x264
720p
720
Published on: 2022-03-30
Downloads: 71
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Diterjemahkan oleh : I K K Y U S A N

Di sini Markas Besar Resimen memanggil Kopral Steiner.

Bisa kau angkat telponku, Steiner?

Steiner, kau bisa mendengarku?

Steiner.

- Kerja bagus! - Keren.

Lihat, senjata baruku.

Ambil satu untukmu. Amunisinya juga.

- Bantu dia. - Tentu saja.

Lihat itu!

- Belum pernah kita lihat seperti ini. - Steiner.

Lihat apa yang kutemukan di belakang. Prajurit Rusia yang masih bayi.

Turunkan.

Cepat!

Kita pergi.

Kalau kau bisa menghubungi Meyer. Bilang padanya bahwa kita butuh transportasi dari pos pemeriksaan tujuh.

Baik, Pak.

Bawa dia bersama kita.

Dorong, dorong, dorong, dorong, dorong!

Ayo, ayo! Cepat!

Baik, berhenti.

Negara ini!

Saat itu merupakan petualangan baru,

tapi aku rasa suatu saat nanti, tanah ini akan menelan kita semua.

Kapten Stransky, Pak.

- Kolonel Brandt. Selamat datang. - Terima kasih, Pak.

Ini ajudanku, Kapten Kiesel.

Kapten, apa kabar?

Terima kasih sudah bertanya, Kapten. Aku merasa kacau. Aku sedang diare.

Apa kabar?

Kau harus temui ajudanmu sendiri. Letnan Triebig.

Dia juga baru tiba.

Mau bergabung dengan kami menikmati segelas anggur?

Oh, anda baik sekali, Pak. Tolong mantelku.

- Siap, Pak. - Hmm.

Hormatku, Kolonel. Sebotol Mosel tahun1937 di sudut paling selatan Rusia.

Luar biasa!

Sebotol Mosel tak lagi aneh di wilayah ini dibanding kita sendiri.

Demi kesehatan kita, saudara-saudara.

Aku tak mau minum untuk alasan kesehatanku.

Tak layak menurutku.

Demi akhir perang?

Kolonel, mengapa kehadiran kita di sini menurutmu sangat tidak masuk akal?

Kapten, mengapa kau meminta untuk dibebaskan dari tugas di Perancis?

Aku ingin mendapatkan Salib Besi.

Kami bisa memberimu salah satu milikku.

Tidak, tidak, aku cuma bercanda.

Sebenarnya, itulah yang ditanyakan atasanku di Perancis padaku.

"Aku tak bisa menghentikanmu," katanya.

"Karena aku yakin bahwa tanpamu Garis Pertahanan Timur"

"akan jatuh dalam hitungan hari."

"Lanjutkan, kau si dungu yang heroik."

"Si dungu yang heroik." Ucapnya.

Aku bersulang untuk berakhirnya peperangan.

Buat mereka si dungu yang heroik dimanapun.

Buat para dungu yang sabar juga.

Kolonel, ada hal yang ingin aku jelaskan pada Kapten Kiesel.

Alu mengajukan diri untuk tugas ini karena aku merasa bahwa di sini dibutuhkan orang-orang yang berkualitas.

Ini saatnya untuk menghancurkan mitos bahwa orang Rusia tak bisa dikalahkan.

Bagaimana caranya?

Perkuat moral, hukum mereka yang membangkang dan memberontak.

Tanamkan rasa hormat baru pada para perwira.

Moral rendah itu muncul seiring adanya kekalahan..

yang diikuti oleh kekalahan berikutnya.

Karena kau masih baru di garis pertahanan ini,

aku tak menyalahkanmu berbicara seperti orang bodoh.

Tentu Pak. aku belum mengenal tempat ini,

tapi aku sangat tidak percaya bahwa cita-cita para prajurit Jerman...

Prajurit Jerman sudah tak lagi punya cita-cita.

Dia bertempur bukan demi kebudayaan Barat,

bukan demi satu bentuk pemerintahan yang dia inginkan,

dan bukan demi partai tertentu.

Dia berjuang untuk kehidupannya sendiri. Semoga Tuhan memberkahinya.

Pak, aku seorang prajurit, dan sebagai seorang prajurit, kurasa sudah tugasku untuk menempatkan

cita-citaku di bawah prinsip-prinsip negaraku, benar ataupun salah.

Kolonel Brandt, Letnan Meyer, Pak.

Ah.

- Ya? - Steiner dalam perjalanan pulang.

- Seperti apa kondisi mereka? - Seperti biasa!

Bagus sekali, aku mengerti.

Aku mau memberikan pengarahan begitu mereka istirahat.

- Siap, Pak. - Dan, Meyer, Kapten Stransky ada di sini.

Pastikan dia dapat informasi tentang situasi kita.

Ya, Pak.

- Steiner kembali. - Tentu saja.

Siapa Steiner?

Buatmu, dalam beberapa hal, bisa jadi masalah.

Tapi dia seorang prajurit kelas satu.

Jadi, kita melihatnya dari sisi lain.

Ada yang mau kau tambahkan, Kiesel?

Steiner telah menjadi sebuah mitos.

Tapi orang-orang seperti dialah harapan terakhir kita.

Dan itu artinya, dia benar-benar seorang yang sangat berbahaya.

Baiklah, akan kucoba pahami.

Kolonel, mohon permisi.

Jadi bagaimana menurutmu tentang kapten kita yang baru ini?

Kupikir dia merasa sedang menjalankan satu misi khusus,

yaitu mencapai dominasi spiritual atas batalionnya,

yang melambangkan kemurnian Angkatan Bersenjata Jerman yang Agung itu sendiri.

Di saat sedang mengalami kekalahan sekalipun.

Jika mereka bagian terakhir dari kita, Stransky dan Steiner, maka Tuhan tolonglah kami.

Medis!

Medis! Medis!

Kapten Stransky, selamat datang di Peleton Kedua.

- Letnan. - Meyer, Kapten.

Saya mau tunjukkan pada anda baraknya,

dan menjelaskan pada anda situasi kita sekarang.

- Di mana bunker-ku? - Di bawah sana, depan pabrik, Pak.

- Peleton Kedua menjaga posisi anda. - Di mana mereka?

Mereka baru kembali dari tugas pengintaian Pak.

- Siapa pemimpinnya? - Kopral Steiner, Pak.

Oh.

Apa yang istimewa dari Kopral Steiner ini?

Dulu waktu serangan Novorossiysk, Kopral Steiner berhasil menyelamatkan nyawa Kolonel Brandt.

- Ah! - Dan saya juga.

Menarik.

Kopral Steiner!

Aku Kapten Stransky. Komandanmu yang baru.

Siap, Pak.

Siapa ini?

Kopral Schnurrbart, Pak.

Dan satunya lagi?

Itu tawanan Rusia, Pak.

Kita semua tahu ada perintah bahwa kita tak boleh membawa tawanan Rusia.

Singkirkan dia.

Caranya Pak?

Tembak dia!

Anda saja yang menembak Pak.

Baik. Langsung di tempat.

Dan setelahnya aku berurusan denganmu.

Tak usah. Saya lihat sudah ada yang mengurusnya Pak.

Aku mau ketemu kau di bunker-ku. Sejam lagi.

Dengan laporan lengkapmu.

- Jelas? - Tentu Pak.

- Kau sudah minum kedua botol vodka itu. - Aku memakainya untuk memasak.

Oh, sialan.

- Kopral Steiner? - Aku Lily Marlene.

Kemari Nak.

Steiner!

Aku mau tunjukkan padamu bagaimana tampilan AD kita yang baru.

- Namamu siapa Nak? - Prajurit Dietz, Pak.

Sekarang mereka mengirimi kita bocah ingusan.

Halo bocah.

Prajurit Dietz.

Sudah berapa lama jadi prajurit?

6 minggu Pak. Saya mengajukan diri Pak.

Jangan mau jadi sukarelawan untuk apapun di sini.

Awasi saja Kruger, dan aku.

Lakukan persis apa yang kami katakan atau kau akan memakai sepatu bot-mu untuk waktu yang lama.

- Jelas? - Siap, Pak!

- Dan jangan panggil aku Pak. - Maaf.

Ikuti pria bau yang satu ini.

Antar dia ke tempatnya Schiller.

Kern, coba periksa apakah ada jaket atau selimut,

buat anak ini.

Ambil jaketnya Schiller. Pasti ada barangnya yang bisa dipakai di sana.

Siap, Pak! Oh, maaf.

Istirahat di tempat.

Terima kasih Pak.

- Laporanku. - Terima kasih.

Aku menyesal dengan insiden tadi sore, Kopral.

Tapi perintah tetaplah perintah.

Tanpa adanya tawanan, kita sudah cukup bermasalah dengan penyediaan makanan buat kita sendiri.

Lagipula, hal itu sangat berbahaya buat keamanan.

Aku sudah membaca laporan pendahuluanmu,

dan dengan senang hati aku katakan padamu bahwa

Kolonel Brandt dan aku setuju untuk merekomendasikanmu

mendapat promosi menjadi Sersan Senior yang berlaku saat ini juga.

Promosimu sepertinya tak membuatmu berkesan.

Ya memang.

Baiklah.

Aku sudah baca laporanmu. Ada yang mau ditambahkan?

Tentara Rusia, Pak. Tampaknya kita akan segera mendengar kabar mereka, Pak.

- Mereka akan menyerang? - Ya, kupikir begitu, Pak.

- Kapan mulainya? - Segera.

- Bagaimana dengan peletonmu? - Dua terbunuh, satu hilang.

Dua terbunuh, kok bisa?

Peluru. Mortir. Artileri. Serangan berat. Kesialan.

Terkena sifilis. Hal-hal biasa Kapten.

Yang hilang, sudah kau cari Steiner?

- Tidak Pak. - Mengapa tidak?

Kurasa bukanlah tanggungjawabku untuk mempertaruhkan keselamatan seluruh peleton

demi satu orang.

Kau rasa apa?

Seorang bintara tidak mengijinkan adanya orang hilang dalam kasus seperti ini, dalam kasus apapun!

Aku akan berusaha lebih baik lagi lain kali Pak.

- Akan kumasukan itu dalam laporanku. - Kalau itu yang kau mau.

Kau tahu Kopral... Sersan,

Aku rasa kau agak menganggap tinggi arti dirimu.

Saat ini, aku tak punya ilusi seperti itu Pak.

Kalau boleh kusarankan, kau jangan meremehkan kesatuanmu saat ini.

Segala yang ada pada dirimu kini dan nanti tergantung pada mereka.

Ya, tak akan kulupakan itu Pak.

Tapi boleh kutambahkan bahwa umumnya lelaki sejati itu tahu dia akan jadi apa nantinya.

Tentu.

Tentu saja.

Silakan keluar.

Aku segera kembali Pak.

Itukah sikap hormatmu?

Siap, Pak.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left