The first 200 lines.
Ada dimana kau, Dev?
Jadi kau bersembunyi.
Baiklah, jika kau tidak segera keluar...
...aku akan pergi sekarang.
Berhenti, Anjali!
Jangan pergi, Anjali.
Jangan pergi.
Kenapa tidak boleh? Apa boleh bersembunyi seperti itu dan menyulitkan orang?
Tidak, tapi apa boleh...
membuat orang menunggu cukup lama?
Tidak, tapi aku punya masalah.
Kau mungkin tidak akan mengerti masalahku.
Putri istana punya masalah?
Orang jalanan seperti akulah yang harusnya memiliki itu.
Mulai lagi, kau selalu meratapi nasibmu.
Kau tahu, kesedihan selalu menyertai bagi orang yang selalu meratapi nasibnya.
Nasibku tak bisa membuatku sedih.
Cintamu adalah milikku.
Itulah masalahnya.
Maksudku...
Pernikahanku sudah ditentukan.
Apa, apa yang kau katakan?
Ayahku sudah menentukan pernikahanku dengan orang yang sangat kaya.
Tanah, harta, kekayaan... dia punya semua itu.
Ayah menjodohkanku dengannya.
Lalu apa yang kau lakukan dengan pengemis ini?
Aku datang untuk mengatakan itu.
Ini akan menjadi pertemuan terakhir kita.
Kita tidak akan bertemu lagi setelah ini.
Aku pergi.
Kemana kau pergi?
Kenapa?
Kau takut?
Kau benar-benar takut!
Kenapa kau tertawa?
Karena aku bercanda!
Aku tidak suka lelucon ini.
Benarkah, lalu lelucon seperti apa yang kau suka?
Buatlah lelucon tentangku, tapi jangan pernah bercanda tentang perpisahan kita.
Lihat, jantungku berdetak sangat kencang.
Kau menanggapi semuanya dengan serius.
Bagaimana jika ini menjadi kenyataan?
- Akan kuhancurkan mereka! - Siapa, aku..?
Tidak, takkan kubiarkan kau tersakiti.
Aku akan mati sendiri.
Kau bicara cinta dan kematian dalam nafas yang sama.
Tidak baik.
Siapa juga yang ingin mati?
Siapa yang ingin mati?
Dan jika aku mati Anjali, Jika aku mati, nyonya...
Aku akan selalu hidup, dihatimu.
Sebagai detak jantungmu.
Apa kau sangat mencintaiku?
Kenapa kau tanya padaku? Tanyalah detak jantungmu.
Dan apa yang setiap detak jantungmu katakan?
Apa yang dikatakannya?
Tum dil ki dhadkan mein rehte ho, tum rehte ho Kau ada dalam tiap detak jantungku, ya.. kau ada
Tum dil ki dhadkan mein rehte ho, rehte ho Kau ada dalam setiap detak jantungku, ya.. kau ada
Meri in saanson se kehte ho, kehte ho Kau ada dalam setiap hembusan nafasku ya kau ada
Baahon mein aajao, sapnon mein khojaao Datanglah kedalam pelukanku, ayo kita menuju tanah impian
Tum dil ki dhadkan mein rehte ho, rehte ho Kau ada dalam setiap detak jantungku, ya.. kau ada
Dev, kau bilang kau sangat mencintaiku.
Seberapa besar kau mencintaiku? Katakan padaku.
Deewano sa haal hua, humko unse pyaar hua Aku jatuh cinta dengannya, aku menjadi seperti orang gila
Deewano sa haal hua, humko unse pyaar hua Aku jatuh cinta dengannya, aku menjadi seperti orang gila
Dheere se voh paas aaye, chupke se izhaar hua Perlahan lahan dia semakin mendekat padaku, diam-diam dia menyatakan dirinya
Ab naa kisise darna hai, sang jeena marna hai Sekarang tak ada satupun yang ditakuti, kita akan hidup semati
Baahon mein aajao, sapnon mein khojaao Datanglah kedalam pelukanku, ayo kita menuju tanah impian
Tum dil ki dhadkan mein, rehte ho, rehte ho Kau ada dalam setiap detak jantungku, ya.. kau ada
Hey, hey hey hey, aa haa haa Hey, hey hey hey, aa haa haa
Jangan terlalu mencintaiku, Dev.
Kau akan tersiksa dan merasakan sakit yang tidak perlu.
Apa istimewanya aku, ada apa denganmu?
Duniyaa ne thukraaya hai, Bas tumne apnaaya hai Dunia telah menolakku, Hanya kau yang membuatku jadi milikmu
Dil ko kitna chain milaa, Sabne itna sataaya hai Hati terasa damai saat bersama denganmu, Bersama yang lain hanya membuatku menderita
Apna hai ek sapna, ek tu hi ho apna Aku hanya punya satu impian aku ingin memilikimu
Aa aa aa, aa aa aa, sapnon mein khojaao Ayo kita menuju tanah impian
Tum dil ki dhadkan mein, rehte ho, rehte ho Kau ada dalam setiap detak jantungku, ya.. kau ada
Rehte ho, rehte ho Ya ... kau ada
Haruskah aku tetap bernyanyi, Saat kau tidak mengatakan apapun.
Aaahaa haa haa haa Haii ruu ruru ruu la laa
Baiklah.
Aaaha haa haaa aa aa
Benarkah?
Kehte ho, kehte ho Kau berbicara
Baahon mein aajao, sapnon mein khojaao Datanglah kedalam pelukanku, ayo kita menuju tanah impian
Tum dil ki dhadkan mein, Kau ada dalam setiap detak jantungku,
Sudah cukup, sekarang berhenti menyanyikanku.
Rehte ho, bas tum rehte ho Ya.. kau ada
Sampai jumpa besok jam 12 tepat, kali ini jangan membuatku menunggu.
Kau mau mengeluarkanku dari sini juga?
Aku ingin bertemu ibumu.
Akan kukenalkan, nanti...
Tidak, aku ingin menemuinya sekarang.
Kau memaksa?
Ya.
Ayo.
- Benar? - Ayo.
Lihatlah nyonya, ini rumahku.
Lebih kecil dari mobilmu.
Kenapa ukuran rumah dipermasalahkan?
Hatilah yang terpenting.
Begitu?
Itu pintunya, masuk dan bertemulah dengannya.
Tapi kau mau kemana?
Masuk dan temuilah dia.
"Kau akan tinggal bersamakku, nak."
"Jadi yang kau lihat..."
"Seberapa sering kau menginjak-nginjak hati ibumu ini"
"Seberapa banyak kau menusukkan pisau ke mata dan telingaku"
"Kau akan tinggal denganku, sayang"
Ibu.
Siapa?
Ibu, aku...
Aku...
Siapa?
Ibu, aku... Dev...
Tunggu, biar kutebak...
Kenapa berdiri disini? Masuklah.
Masuk.
Duduk disini.
Kenapa jauh-jauh? mendekatlah.
Kau sangat cantik.
Tak secantik dirimu.
Tapi bagaimana kau cepat mengenaliku?
Aku tidak mengenalmu? Aku selalu melihatmu dimata Dev.
Dev sudah menceritakanmu tentangku?
Dia tidak bicara padaku.
Dia sulit bicara dengan siapapun selain denganmu.
Tapi aku ibunya.
Aku tahu setiap detak jantung anakku.
Dan di setiap detak jantungnya hanya terdengar satu nama.
Kemana Dev pergi?
Bukankah dia aneh? Menyuruhku bertemu denganmu sendirian.
Dia sering emosi, kenapa dia selalu begitu?
Dia marah padaku.
Marah padamu, kenapa?
Aku tak mau memendamnya.
Dan tidak seharusnya kututup-tutupi semuanya darimu.
Hidup lama berdampingan tak akan berhasil jika didasari dengan memendam rahasia.
Aku ibu diluar nikah, Anjali.
Dan aib bagi hidupku ini...
membekaskan luka yang tak pernah hilang pada anakku.
Dia tidak mengatakan apapun.
Tapi luka ini sangat menyakitinya.
Aku tidak malu atas apa yang kuperbuat.
Yang kupikirkan hanyalah jatuh cinta.
Tapi apa yang terjadi jika seseorang tertipu dengan orang lain.
Dan orang lain yang mendapatkan hukuman.
Kau tahu dunia memandang anak haramku?
Dan sekarang hatinya sendiri yang memanggilnya begitu.
Bagaimana aku menjelaskan padanya...
Cinta tidak pernah terlarang.
Mungkin kau bisa menjelaskan ini padanya.
Sembuhkan tiap luka yang dirasakannya.
Hapus semua noda yang ada padanya.
Berikan kata-katamu Anjali.
Kau akan selalu ada disampingnya.
Berjanjilah padaku.
Berjanjilah...
Ya bu, aku berjanji untuk selalu ada disampingnya.
Aku takkan pernah meninggalkannya sendiri.
Aku berjanji padamu.
Bagaimana mengungkapkannya, betapa baiknya mereka mengurusku?
Sudah kubilang aku sudah makan, tapi mereka memaksa...
Kau kembali dari London lebih awal.
- Aku bahkan ke Delhi. - Delhi?
Kenapa tidak menelpon? Aku akan menjemputmu di bandara.
Itu juga kalau kau punya waktu, kemana saja kau sejak pagi?
Ibu tidak mempercayai putrinya sama sekali.
Terserah ibu percaya atau tidak, tapi aku percaya padamu.
Sekarang aku ingin tahu seberapa besar kau mempercayaiku.
- Kau ragu? - Tidak sama sekali.
Itu sebabnya aku mengambil keputusan besar tanpa sepengetahuanmu.
- Keputusan? - Harus kuberitahu?
- Ya, katakan padanya. - Kau tahu kenapa aku ke Delhi?
- Kenapa? - Untuk mengatur pernikahanmu.
Pernikahanku?
Pernikahanmu.
- Aku sangat gembira - Dia malu-malu.
Anaknya luar biasa.
Dia tampan, idealis, dan dari keluarga baik-baik.
Aku tak bisa menikahinya.
Kenapa sayang?
Aku berjanji pada seseorang.
Siapa dia?
Siapa?
Kenapa kau tertawa seperti orang gila?
Aku tidak bercanda, ini kenyataan!
Aku sudah mengatakan pada ayahku dan dia ingin bertemu denganmu!
Dan kau tahu apa yang ayahmu lakukan jika bertemu denganku?
- Apa? - Mengusirku dari istananya.
Ayahku bukan orang yang kejam!
Dan kau harus terlihat sopan bertemu dengannya.
Pakai-pakaian yang rapih, bercukur, dan jangan pakai sendal ini!
Masukkan bibirmu!
Dan minta restu ayah dengan rendah hati.
Kenapa? kenapa aku harus meminta pada orang?
Aku bisa membawamu kapanpun aku mau!
Aku takkan pergi kemanapun denganmu.
No comments yet. Be the first to leave one.