Enemies from the Past

Enemies from the Past (전생에 웬수들)

Download Indonesian Subtitle

Release info

전생에 웬수들-Forever Enemies E 22 NEXT
A Commentary by SULTAN_KHILAF
Sub by VIU, Synced for NEXT Version. Selamat menonton :):) Kunjungi www.sultankhilafsub.wordpress.com

Tags

other
Published on: 2017-12-27
Downloads: 9
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

"Episode 22"

Halo? Ada orang di dalam?

Tolong bicara jika kamu ada di dalam.

Di dalam tidak ada siapa pun?

Apa?

Hei, kamu di dalam bukan?

Hei!

Halo? Kamu bisa mendengarku?

Aku tidak bisa bernapas.

Permisi, seseorang terjebak di lift. Tolong panggil bantuan.

- Baiklah. - Tolong cepat.

Aku tidak bisa bernapas.

Astaga.

Tenanglah. Kamu harus tenang.

Kalau begitu, tolong lakukan apa yang kuinstruksikan.

Tarik napas perlahan.

Lalu embuskan.

Lalu tarik napas lagi.

Lalu embuskan.

Kamu mendengarku?

Halo? Kamu harus tetap sadar.

Halo? Kamu bisa mendengarku?

Astaga, dia berisik sekali.

Ya, aku bisa mendengarmu.

Aku bisa mendengarmu.

Bertahanlah.

Aku sudah meminta bantuan, mereka akan segera tiba.

Jadi, pastikan kamu tetap sadar.

Jangan pergi.

Jangan khawatir. Aku tidak akan ke mana-mana.

Aku akan tetap di sini.

Astaga, sulitkah untuk tetap sadar?

Kalau begitu, ingin bermain rantai kata?

Atau mari gunakan imajinasi kita.

Bayangkan kamu sedang di pantai.

Astaga, ini tidak berhasil.

Mau kunyanyikan?

"Hatiku sakit dan aku tidak bisa bicara"

"Jadi, aku berusaha yang terbaik"

"Tapi aku tidak bisa melepaskan diri"

"Aku pun tidak bisa memutar waktu agar kita tidak berpisah"

"Aku amat terkejut dan takut"

"Jadi, aku berusaha tertawa"

"Tapi air mataku"

"Mengalir deras"

"Aku pasti terlalu mencintaimu"

"Kamu pergi dariku begitu cepat"

"Mungkin mereka iri dengan kebahagiaanku"

- "Sebaiknya aku melepaskanmu" - Suaranya jelek sekali.

"Aku merindukan cinta yang kubagi bersamamu"

"Seisi dunia seperti berputar"

"Kenangan indah kita"

"Memudar seakan-akan dilupakan"

"Dalam dirimu"

Hei, jangan pergi.

Ada orang di luar?

Bangunlah!

Kamu bisa mengenaliku?

Apa?

Sekarang sudah baik-baik saja.

Semua akan baik-baik saja.

Ayo masuk.

Anda baik-baik saja?

Ji Seok!

Kamu datang rupanya.

Apa yang terjadi?

Apa yang terjadi kepadanya?

Jangan cemas. Dia tidur setelah diberi obat penenang.

Astaga.

Dia terjebak di dalam lift saat listrik padam.

Dia sendirian dalam kegelapan?

Ya.

Semuanya salahku.

Seharusnya aku membawanya kemari saat dia mulai mimpi buruk lagi.

Tidak, ini salah paman.

Paman pikir dia sudah lebih baik, jadi, paman tidak memperhatikannya.

Untungnya,

kesulitan bernapasnya tidak parah.

Seseorang membantunya dari luar agar tetap sadar.

Dia baik-baik saja berkat penyelamat yang terus mengajaknya bicara.

- Penyelamat? - Ya.

Ji Seok.

Kamu sudah merasa lebih baik?

Di mana wanita itu?

Sadarlah!

Kamu bisa mengenaliku?

Apa?

Terima kasih

telah menemaniku.

Kenapa dia setakut itu?

Choi Go Woon! Hitung dengan benar.

Kakak sudah membuatkan sarapan seperti janji kakak.

Kakak juga memperlakukan Kak Go Ya seperti kakak tertua.

Tapi kenapa kamu hanya memberi satu stiker?

Sarapan tidak masuk hitungan.

Kenapa tidak?

Kakak harus menyeret tubuh yang lelah ini

dengan mata setengah tertutup untuk membuat sarapan.

Apa gunanya? Seharusnya itu bisa dimakan.

Aku memuntahkannya,

jadi, sarapan tidak dihitung.

Apa? Kakak tidak mau membuatkan sarapan lagi.

Jika Kakak tidak penasaran soal pria itu, terserah.

Katakan saja keberadaannya. Ayolah.

- Pria apa? - Ibu.

Siapa lagi kali ini?

Belum lama sejak kamu bermasalah karena mengencani pria beristri.

- Masalah dengan pria lagi? - Apa?

Bukan, Kak Go Ya. Tidak seperti itu.

Kak Go Bong tidak sengaja menarik cincin seorang pria di bus.

Dia ingin tahu keberadaan pria itu.

Lalu?

Kenapa dia menanyakan keberadaannya kepadamu?

Apa?

Kurasa aku tahu siapa pria itu.

Itulah alasannya.

- Sungguh? - Ya!

Pokoknya, jika kamu bermasalah dengan pria lagi,

kamu akan dihajar sampai mati.

Dasar...

Jangan memelototi Kak Go Ya.

Baiklah, suasana hatiku sedang bagus.

Menyebalkan sekali.

Bagaimanapun juga, akan kutemukan pemilik cincin itu.

Ji Seok, kamu sudah mandi?

Kupikir aku sudah memberi tahu Kakak sepuluh menit lalu.

Tidak bisa begini.

Sebaiknya kakak tidak meninggalkanmu sendiri. Kakak akan ke sana.

- Sebaiknya kakak menemanimu. - Jangan kemari.

Kakak mau semua orang tahu aku dilarikan ke UGD?

Tidak.

Tidak usah dikatakan. Akan terlihat dari wajah Kakak.

Kamu sungguh baik-baik saja?

Harus berapa kali kubilang?

Aku tidak akan menjawab jika Kakak menghubungiku lagi.

Kalau begitu, kakak akan ke sana besok pagi.

Tidak usah. Paman memintaku datang ke rumah sakit.

Aku takut membayangkan akan ditanyai banyak hal.

Bisakah Kakak tidak menggangguku juga?

Baiklah. Kamu harus beristirahat.

Tunggu, saat terjebak di dalam lift,

katamu ada yang membantumu.

Ya, seseorang yang Kakak kenal.

Apa?

Tidak mungkin.

Mungkinkah dia lagi?

Berarti

ini memang takdir? Atau takdir buruk?

Sekarang sudah baik-baik saja.

Semua akan baik-baik saja.

Ya, Ji Seok. Kamu sudah ke rumah sakit?

Baiklah, nenek tidak akan cemas.

Ya, sampai jumpa.

Ibu, ini mantel Ibu.

Sudah kucuci kering.

Sebaiknya dikenakan saat keluar agar Ibu bisa menilainya.

Baiklah, terima kasih.

Apa itu?

Pedoman pemeriksaan untuk seleksi tahap kedua.

Ibu keren sekali bahkan saat di usia ini.

Aku muak dengan diriku karena amat menyedihkan.

Ada apa? Ibu pikir kemarin kamu menghadiri kelas.

Tidak berjalan dengan baik?

Apa gunanya?

Orang di sekitarku tidak membantu.

Aku makan bersama teman sekelasku di sebuah restoran,

lalu berpapasan dengan adikku.

Lalu? Kalian bertengkar lagi?

Inginnya begitu.

Aku tidak tahu siapa yang bilang,

tapi katanya kita akan bertemu dengan musuh di jembatan.

Situasinya pas sekali.

Dokter Han juga ada di sana.

Aku tidak bisa berpikir.

Yang terpikirkan hanyalah menghentikan adikku

agar tidak berpapasan dengan Dokter Han.

Itu sebabnya aku langsung mengusirnya.

Bagus.

Itu semua sudah berlalu,

tapi tidak ada gunanya saling bertemu lagi.

Benar.

Dia selalu bersikap angkuh dan sok hebat,

tapi saat kusebutkan mantan suaminya, wajahnya langsung pucat.

Lalu dia kabur.

Aku membencinya,

tapi aku lebih membenci diriku karena mencemaskannya.

Tidak heran kamu amat lemah.

- Ya. - Dokter Han tampak sehat?

Dia tidak tampak begitu berbeda.

Dia mendekat untuk menyapaku lebih dahulu.

Lalu aku teringat masa lalu saat kami masih akrab.

Aku tidak bisa menyapanya dengan pantas.

Ibu tahu benar betapa kamu menyukainya.

Kukira hubungan mereka akan baik-baik saja.

Tapi ternyata takdir mereka buruk.

Itu sebabnya kita tidak bisa yakin dengan masa depan kita.

Siapa yang tahu?

Orang yang kamu anggap musuh bisa menjadi temanmu.

Karena sedang membicarakan ini, bagaimana jika kita berteman?

Kamu boleh pergi.

Enemies from the Past subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for Enemies from the Past

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left