The first 200 lines.
"Episode 31"
Kamu jauh lebih kejam
daripada dugaanku.
Aku juga
tidak butuh cintamu.
Aku mau minta tolong sekali lagi.
Kumohon
jadilah saksi.
Aku memang berencana begitu.
Lantas, kurasa
di sinilah kita harus mengakhirinya.
Kita berpisah saja.
Aku berniat mencintaimu.
Aku berniat
sangat mencintaimu.
Menikahlah denganku.
Kita menikah saja.
Lakukanlah sesukamu.
Manfaatkan aku sesukamu.
"'Alien di Bumi, Son Mu Han'"
Jangan bergerak.
Bangunlah.
Ayo, bangun.
Aku kalah di semua persidangan.
Aku diminta berhenti
dan mereka sudah muak denganku.
Mereka bilang melihatku saja membuat mereka sesak napas.
Tidak ada yang mendukungku.
Tidak seorang pun.
Alasanku bisa melaluinya sampai persidangan terakhir itu
mungkin karena hakim
adalah satu-satunya orang
yang mau mendengarkanku.
Tapi
bahkan persidangan terakhir itu pun berakhir.
Aku merasa kesepian.
Jadi,
tadinya aku ingin menyusul putriku.
Lalu
seseorang bilang,
"Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun."
"Itu bukan kesalahanmu."
Seseorang mengatakan itu kepadaku.
Orang asing.
Yang dia katakan menghiburku.
Aku ingin mengatakan hal yang sama
kepadanya.
Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.
Itu bukan kesalahanmu.
Aku marah
karena orang itu kamu.
Orang yang kukira berada di pihakku
ternyata...
Aku berharap
kamu tidak merasa bersalah lagi.
Yang aku inginkan darinya
bukan rasa bersalahnya.
Rawatlah luka-lukamu.
Aku akan
merawat lukaku sendiri.
Maafkan aku
karena membuatmu bingung.
Aku memang pernah mencintaimu.
Aku akan pergi.
Aku tidak bisa tinggal di sini lagi.
Aku akan bersaksi
di persidangan.
Jangan cemas.
Aku sudah memberikan semua informasi
yang bisa digunakan pengacaramu sebagai bukti.
Itu akan berguna.
Temui ayahmu sekarang.
Temani dia sampai ibu datang.
Sebaiknya kamu tidak pindah. Jangan datang.
Menurutku
kita tidak akan akur.
Ini akan
sangat sulit untuk ayahmu.
Aku harus bagaimana?
Entahlah.
Anda ingin pergi ke mana?
Anda akan pergi untuk selamanya?
Ya.
Apa?
Anda bertengkar dengan ayahku?
Ya.
Tidak bisa dipercaya. Jadi, dia mengusir Anda?
Tidak, aku memutuskan untuk pergi.
Tinggal dengan ayahku tidak mudah, bukan?
Kalian memang bukan pasangan yang cocok dari awal.
Anda membuat semua orang menangis
di pernikahan itu.
Aku tidak percaya kalian berpisah secepat ini.
Ini luar biasa. Tuhan memihakku.
Ternyata kamu datang.
Bagaimana mungkin aku melewatkan pernikahan ayahku?
Dia tidak pernah tersenyum kepadaku.
Tapi dia selalu tersenyum di pernikahan itu.
Kukira tadinya dia memang jatuh cinta.
Orang dewasa aneh sekali.
Bagaimana mereka bisa berpura-pura jatuh cinta sebagus itu?
Aku gagal,
tapi aku ingin kamu berhasil tinggal dengan ayahmu.
Meski dia berkata tidak,
tetaplah bersamanya dan temani dia.
Berikan dia makanan enak.
Ajak dia ke tempat yang bagus dan aku ingin
kamu melihat pohon sakura bersamanya.
Apa? Memberinya makanan dan mengajaknya ke tempat bagus?
Seharusnya dia yang melakukan itu untukku.
Lakukan saja demi aku.
Mimpi saja.
Aku dan ayah akan hidup bersama dan bahagia.
Urus saja urusan Anda sendiri dan pergilah.
Selamat tinggal.
Baiklah.
Sampai jumpa.
Apa?
Sedang apa kamu?
Dia bilang ada kamar untukku. Dia menyuruhku datang.
Dia memintaku tinggal di sini
dan menyuruhku jangan terlambat datang.
Siapa yang bilang begitu?
Menurut Ayah siapa? Orang yang barusan Ayah usir.
Meski marah pun
seharusnya Ayah tidak mengusir orang saat selarut ini.
Kurasa Ayah tidak jahat kepadaku saja.
Aku boleh memakai kamar ini?
Apa? Kenapa kamar ini kosong?
Di mana piringan hitam dan pemutar milik Ayah?
Ada di mana?
Boneka kelinci apa ini?
Apakah ini kamarku?
Dia aneh sekali.
Dia menyuruhku pindah.
Setidaknya dia menyiapkan tempat tidur untukku.
Ini sudah larut.
Tidurlah di kamar Ayah.
Ayah akan mengganti seprainya.
Jangan di kamar Ayah.
Bawakan saja aku selimut.
Belikan tempat tidur untukku besok.
Aku akan tinggal dengan Ayah.
Aku akan berhasil melakukannya tidak seperti orang itu.
Satu domba, dua domba,
tiga domba,
dan
empat domba...
Kurasa dia kasihan kepadamu.
Tampaknya kamu menindihnya seperti batu
untuk waktu yang lama.
Batu tidak bisa berubah menjadi cinta.
Kenapa kamu tidak tahu malu sekali?
Teganya kamu menatapku seperti itu,
memelukku seperti itu,
dan bahkan mencoba mengambil hatiku?
Aku tidak bangga melakukannya.
Jika merasa seperti itu, aku tidak akan menemuimu.
Kamu yang terus datang tiap kali aku mau melupakanmu.
Kamu muncul entah dari mana dan mengacaukan kehidupanku.
Aku mau mengabaikanmu, tapi kamu tidak akan membiarkannya.
Selamat pagi.
Pagi.
Selamat pagi.
Aku terlalu banyak minum. Efek pengar ini membunuhku.
Sayang, kamu baik-baik saja?
Lihat ikan besar itu!
Aku menangkapnya.
Aku mengalahkan yang lain
dan berhasil menangkap pria mengesankan itu.
Dia milikku!
Kenapa kamu memakai jas hujan?
Kamu tidur dengan itu?
Jas hujan?
Aku memakai jas hujan.
Kurasa aku terlalu mabuk
dan berniat ingin membunuh bedebah itu lagi.
Apa? Kamu ingin membunuh bedebah itu lagi?
Siapa?
- Obat oriental. - Apa maksudmu?
Aku akan membelikanmu obat. Lepaskan jas hujan itu.
Satu tiket sekali jalan, satu tiket pulang pergi ke Swiss tanggal 14.
Tanggal dan waktu pulang belum ditentukan.
Ya. Hotelnya?
Tidak apa-apa. Aku akan tinggal dengannya saja.
Baiklah.
Kamu mendengar semuanya?
Berapa banyak yang kamu dengar?
Siapa jalang yang kamu kencani? Siapa dia?
Katakan yang sebenarnya. Aku akan membunuhnya.
- Apa? - Dia dari Zurich, bukan?
Kamu meminta satu tiket sekali jalan dan satu tiket pulang pergi.
Omong kosong apa ini.
Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.
Jangan berbohong kepadaku.
Kamu selingkuh karena aku sudah menopause.
Ajak aku.
Akan kucari tahu siapa yang kamu kencani dan kubunuh dia.
Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.
Ajak aku denganmu. Berikan alamatnya kepadaku.
No comments yet. Be the first to leave one.