The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
Tolong percayalah kepadaku.
Kak Ji Sup!
"Episode 56"
- Aku akan menggendongnya. - Baik.
Hati-hati.
Terima kasih sudah menghabiskan seharian dengan Hae Sol.
Manfaatkan aku kapan pun kamu membutuhkanku.
Aku akan selalu bersiaga.
Sampai jumpa. - Akankah kamu
sungguh berhenti bekerja?
Aku mau berjuang
dan membuktikan Hae Rim menjebak kita.
Tapi sejujurnya, aku takut hanya akan
merepotkanmu.
Jangan khawatir hanya karena diriku.
Itu tidak penting denganku.
Beristirahatlah beberapa hari dan jernihkan pikiranmu.
Aku berjanji akan membersihkan namamu.
Jangan terlalu khawatir.
Saat kubilang aku akan menunggu,
aku tidak bercanda.
Dia tersenyum.
Ya.
Hai, Cha Ra.
Aku menemukannya. Kak Suh Ra, aku menemukannya!
Kenapa kamu bersemangat sekali?
Bicaralah dengan perlahan.
Kak Ji Sup. Ayah Hae Sol.
Aku menemukan Kak Ji Sup!
Apa?
Apa? Kamu menemukannya?
Kamu menemukan Jae Wook?
Di mana dia?
Kamu bisa santai sekarang.
Melihat kamu belum mendengar apa pun,
kemungkinan kecil dia masih hidup.
Kemungkinan kecil itu
selalu menampar wajahmu.
Terlalu dini untuk bersantai sebelum jasadnya ditemukan.
"Pak Joo"
Halo? - Kami menemukannya.
Kami menemukan Jae Wook.
Apa katamu?
Dia masih hidup?
Ya. Aku baru saja ditelepon dan kini meluncur ke sana.
Ada apa?
Jangan bilang...
Benar.
Mereka menemukan Jae Wook.
Apa? Di mana?
Di mana mereka menemukannya?
Mereka mendapat telepon dia berada di kantor polisi.
Apa? Itu konyol.
Bagaimana dia menyintas? Bagaimana?
Kak Suh Ra. - Di mana dia?
Dia mana dia? Di mana Ji Sup?
Kakak harus tenang dahulu.
Apa dia hidup?
Katakan di mana dia!
Ji Sup.
Ji Sup.
Apakah kamu
sungguh Ji Sup?
Ji Sup.
Apa yang terjadi?
Kamu ke mana saja?
Kenapa?
Kenapa tiba-tiba muncul sekarang?
Dia ditahan karena tidak membayar setelah makan di restoran.
Anda keluarganya?
Ya. Ini suamiku yang hilang.
Kami menerima telepon dari restoran sop buntut
dan dia tidak tahu nama, usia, atau alamatnya.
Sungguh?
Dia tidak mengingatku.
Apa?
Ji Sup.
Kamu mengenalku?
Ji Sup.
Ji Sup, ini aku, Suh Ra.
Kamu tidak mengingatku?
Lihat aku.
Lihat dengan saksama.
Aku Ki Suh Ra. Kamu tidak mengingatku?
Maaf,
tapi kurasa kita belum pernah bertemu.
Tidak.
Tidak, Ji Sup.
Tidak.
Ji Sup, apa yang harus kulakukan?
Ji Sup, apa yang terjadi?
Pak Joo...
Kenapa kita harus bertemu dengan mereka? Memalukan.
Tidak. Itu pasti terjadi cepat atau lambat.
Ini untuk yang terbaik.
Aku akan memberi tahu Suh Ra
dan melarangnya ikut campur... - Ya, aku mendapat Godori.
Berhenti. Baik.
Lima poin untuk Godori, enam, dan tujuh poin.
Dengan pibak milikmu, totalnya 14 poin.
Kemarikan.
Tidak. Aku kalah lagi.
Santai saja, ya? - Kemarikan.
Jangan bergerak.
Kurasa tulangmu patah.
Kamu amat kuat.
Teganya kamu.
Memangnya sakit? Biar kulihat.
Kemarikan. Biar kulihat.
Astaga.
Apa?
Kamu menangis karena sakit?
Apakah sesakit itu?
Bukan begitu.
Aku merasa kekuatanmu kini sudah kembali.
Aku menangis bahagia.
Kamu tidak punya tenaga saat kali pertama siuman.
Tapi sekarang kamu bisa memukul amat keras.
Aku amat bahagia.
Jangan menangis.
Semuanya berkatmu.
Anda mengunjungi kakekku?
Ya, tapi biar kutanya sesuatu.
Ya, silakan.
Kamu sungguh menyukai Suh Ra?
Ya. Aku amat menyukainya.
Anak muda, biar kutanya sekali lagi.
Kamu kurang apa sampai menyukai orang seperti dia?
Aku berkata seperti ini karena merasakan koneksi denganmu.
Pikirkan matang-matang.
Sekarang juga.
Anda menyukai kakekku?
Apa? Ya.
Bukan begitu...
Kenapa kita tidak bersepakat agar saling menguntungkan?
Saling menguntungkan? Maksudnya?
Aku akan membantu Anda dengan kakekku
dan Anda membantuku dengan Suh Ra.
Apa? Lantas, bagaimana hubungan Suh Ra dan aku?
Bagaimanapun, Anda berjanji, ya?
Tidak. Aku tidak bisa berjanji.
Akan kupikirkan di rumah dan kubicarakan lagi denganmu.
Astaga. Anda baru tiba di rumah?
Apakah sesulit itu mengakuiku?
Dia mengalami hari yang buruk. Tolong mengertilah.
Siapa di dunia ini
yang harinya tidak buruk sesekali?
Terserahlah.
Kami menemukan Ji Sup.
Apa? Ji Sup?
Ini sungguh dirimu?
Ya. Ini sungguh Ji Sup.
Ada apa ini? - Ini bukan mimpi.
Ji Sup sungguh kembali.
Ini sungguh Ji Sup kita.
Tapi apa yang terjadi dengan wajahmu?
Kenapa kamu pincang?
Kamu ke mana saja?
Tahukah kamu sekeras apa Suh Ra mencarimu?
Astaga, kamu sungguh jahat.
Tapi Ji Sup,
ada apa?
Dia tidak bisa mengingat apa pun.
Apa? - Kenapa?
Dia pasti hilang ingatan saat tercebur ke laut.
Dia amnesia?
Kurasa begitu.
Astaga. Malang sekali.
Tapi setidaknya dia kembali hidup-hidup.
Aku amat bersyukur sampai kehabisan kata-kata.
Tentu saja.
Kamu tidak perlu memikirkan hal lain dan bersyukur saja.
Apa yang kupikirkan? Ji Sup pasti lapar.
Apa yang kamu lakukan? Masuk dan masakkan sesuatu.
Baik. Berikan aku waktu.
Astaga. Kamu ke mana saja? Apa yang sudah kamu lewati
sampai tampak seperti ini?
Suh Ra. Bawa dia ke dalam dan bersihkan dia.
Baunya...
Siapa...
Dia ibu mertuamu.
Ibu mertua?
Benar. Ibuku.
Bu Mo Jin Ja. Mertuamu.
Begitu rupanya.
Halo, Ibu.
Senang bertemu dengan Anda.
Astaga, malang sekali.
Makanlah. - Enak.
Ibu pasti koki andal. Ini enak.
Itu bukan masakan Ibu. Ayah yang memasak.
Ayah yang mengurus keperluan rumah ini.
Sungguh? Ini enak, Ayah.
Bagus. Ayah membuatkan semua makanan kegemaranmu.
Selamat menikmati.
Masakanmu pasti amat enak.
Lihat bagaimana dia memegang
sumpit dan sendok bersamaan?
No comments yet. Be the first to leave one.